“Pelangi?" batinku.
“Hahahaha," tawaku terdengar berat.
“Bahkan aku tidak pernah melihat pelangi seumur hidupku!" ucapku.
“Aku tidak tau seberapa indah pelangi itu," ucapku mendelik.
Kata orang-orang pelangi itu indah.
“Hmmm… tapi tidak menurutku!" ucapku tegas.
Aku Hani.
Saat ini aku tinggal di sebuah desa yang terpencil.
"Hmmm… sangat terpencil. Mungkin… tidak ada di peta,” sindirku.
Para orang tua langsung melihatku dengan mata tajam.
“Loh! Emang bener kok desa ini gak pernah tersentuh dunia modern," ucapku tertawa.
Mereka langsung memasang wajah datar.
Aku memiringkan kepalaku dengan ekspresi meledek.
Tiba-tiba…
Ada sebuah benda asing menghantam tubuhku.
Mataku melotot hingga hampir keluar.
Nafasku terhenti.
Jantungku tiba-tiba berhenti berdetak.
Tubuhku ambruk.
Para orang tua melihatku dengan wajah datar.
Lama kelamaan.
Wajah datar itu berubah menjadi senyuman.
Mereka mengelilingi tubuhku yang kaku.
Anehnya.
Aku bisa mendengar setiap tindakan mereka.
“Ada apa ini?!" batinku.
Para orang tua itu membentuk formasi lingkaran.
Dan aku berada di tengah-tengah mereka.
Perlahan mereka mengangkat tangan ke atas dan bergoyang tak terkendali.
“Mereka kenapa?" batinku.
Aku tidak mengerti apa yang mereka gumamkan.
Lama kelamaan, gerakan mereka menjadi semakin cepat.
Entah kenapa aku merasa kesakitan di sekujur tubuhku.
“Tapi kenapa aku tidak bisa memberontak?!" batinku.
Mataku masih terbuka lebar.
Dan aku…
Bisa melihat kegiatan yang mereka lakukan.
Anehnya aku bisa menggerakan bola mataku.
Kulihat sebuah tanda aneh mengelilingi tubuhku.
Dan tubuhku tertekuk kaku seperti seekor udang.
"Sebenarnya siapa para orang tua ini?” batinku.
Aku bahkan tidak bisa menggerakkan mulutku sama sekali.
Mulutku terasa kering dan berdebu.
Aku juga tidak bisa merasakan lidahku.
Tiba-tiba.
Sebuah tangan keriput membelai wajahku.
“Sempurna," ucapnya lembut.
Senyum lebar tampak dari wajah tuanya.
“Apa maksud wanita tua ini?" batinku.
Wanita tua berbalik.
Dia berdiri sambil mengangkat tangannya.
“Kita mendapatkannya!" teriaknya.
Terdengar sorak sorai mereka.
Desa yang awalnya hening berubah menjadi ramai.
“Pelangi?!" batinku.
Kulihat pelangi membentang dengan indah.
Wajah para orang tua itu berseri melihat pelangi muncul.
“Kita berhasil!!!!" seru wanita tua tadi.
“Huuu… haaa… huuuu… haaaa… huuuu… haaaa," seru mereka.
Tiba-tiba udara terasa sangat dingin.
Hampa.
Sepi.
Mereka duduk bersila mengelilingiku dengan formasi segitiga.
Tiba-tiba.
Tubuhku terasa panas.
Mulutku terasa terbakar.
“Aaaakkkkkkkkk!!!!!!!!" teriakku.
Suara tawa bahagia terdengar memenuhi desa itu.
“Tanganku," batinku.
“Kakiku," batinku.
Air mataku menetes.
Kupandangi pelangi itu.
“Pelangi itu terlihat indah," batinku menangis.
“Tapi…."
“Kenapa hidupku tidak terasa indah?" gumam batinku.
Tiba-tiba.
Pelangi itu berubah warna menjadi hitam.
“Ah, ternyata pelangi tidak seindah itu," ucap batinku.
Tapi, entah kenapa tubuhku seperti tertarik.
“Sebenernya gue kenapa?" tanya batinku.
Tiba-tiba.
Wanita tua itu mendekatiku dan berbaring di sampingku.
“Mari kita lakukan dengan cepat Nak," bisiknya.
Mataku mendelik.
Wanita itu hanya tersenyum hangat padaku.
Tapi.
Senyumnya terlihat hangat tetapi sorot matanya terlihat kejam.
Para orang tua melanjutkan kembali ritual itu.
Wanita tua itu tiba-tiba mengerang.
Aku merasa seperti tertarik.
“Aaaaaaakkkkkkkk!" teriakku.
………
………
Tiba-tiba suasana menjadi hening.
Aku terbangun.
“Aku bisa berdiri?!" gumamku.
Ku lihat sekeliling.
Para orang tua itu memejamkan mata dengan tangan menjulur ke atas.
"Para orang tua ini sangatlah bodoh!" gumamku, tersenyum pahit.
Lalu aku berjalan melewati mereka.
Aku tiba-tiba terhenti.
Mataku terbelalak.
Jantungku berdebar cepat.
Nafasku memburu.
"Kenapa daun itu menembus tubuhku?” gumamku dengan suara bergetar.
Aku membalikkan tubuhku perlahan.
Aku berusaha mengatur nafasku.
Kupejamkan mata.
Aku berhitung agar bisa tenang.
Satu.
Dua.
Tiga.
Kubuka mataku perlahan.
Aku menarik nafas berat.
Aku langsung jatuh terduduk.
"Tubuhku,” gumamku lemah.
Air mataku jatuh.
"Jiwa dan tubuhmu sangat berguna untuk desa ini,” ucap sebuah suara.
Aku melirik pelan.
Wanita itu tersenyum.
"Selamat datang,” ucapnya.
Aku menggigit bibirku yang terus bergetar.
Kutarik nafas panjang.
Aku langsung bangkit berdiri dan berlari ke arah tubuhku.
Aku berusaha masuk ke tubuhku.
“Aaaaaaaaaaa!!!!!!" teriakku frustasi.
Seseorang tadi mendekat ke arahku.
“Sudah kubilang tubuh dan jiwamu sangat berharga untuk desa ini!," bentak orang itu.
Aku menangis histeris.
Aku memukul-mukul tanah.
Tapi anehnya tanganku selalu menembus tanah itu.
"Aku masih hidup!” teriakku histeris.
"Wanita tua sialan itu!” teriakku.
Aku melihat ke arah tubuh wanita tua yang berbaring disampingku.
Nafas dan jantungku seperti terhenti.
“Kenapa?!" gumamku gemetar.
“Setelah dia mengorbankanmu, dia akan menjadi mumi," ucap orang itu datar.
Aku terdiam beberapa saat.
“Kamu tidak akan bisa mengambil alih tubuhmu lagi."
“Karena….”
"Tubuh dan jiwa kita sudah diserahkan kepada desa ini,” ucapnya dengan wajah datar.
Tapi.
Kulihat matanya berkaca-kaca.
Ia menatap kosong.
Aku tertegun.
"Aku jadi tumbal?” gumamku pelan.
"Lalu pelangi itu berwarna hitam?” tanyaku.
"Pelangi adalah simbol keberhasilan mereka.”
"Tapi… yang mereka lihat pelangi itu berwarna warni, sedangkan pelangi yang kita lihat berwarna hitam,” jawabnya
"Kenapa hitam?” tanyaku.
"Karena tubuh kita sudah mati.”
" Tapi… jiwa kita tetap hidup di desa ini,” ucapnya.
Ia menarik nafas sangat dalam.
"Desa ini bisa bertahan karena orang-orang seperti kita.”
"Dan kita tidak akan pernah bisa pergi dari desa ini untuk selamanya,” ucapnya berkaca-kaca.
Matanya melihat ke segala arah.
Aku mengikuti arah pandangnya.
Dan.
"Kenapa begitu banyak wanita muda?” gumamku
"Saat aku datang kesini, hanya ada para orang tua,” ucapku sambil memandangi mereka.
Ia dia sejenak.
"Karena para wanita muda itu bernasib sama sepertimu."
“Dan wanita tua yang ada disampingmu bukanlah manusia seutuhnya."
“Dia hanya datang disaat ritual ini akan dilaksanakan," jawabnya
Aku terdiam.
Wajahku basah oleh air mata.
………
……….
Tiba-tiba pelangi itu muncul kembali.
Suara tawa para orang tua terdengar sangat gembira.
"Kita memang harus mengorbankan wanita muda agar bisa mendapatkan pelangi,” teriaknya.
Para orang tua langsung bersorak.
"Bahkan mereka bersorak gembira," ucapku menangis.
“Itulah hidup."
“Kita akan tersingkir kalau kita terlalu mempercayai manusia.”
"Dan ketika kita menghilang, itu tidak ada artinya bagi mereka.”
"Karena manusia hanya memikirkan kebahagian mereka sendiri.”
"Walaupun harus ada orang lain yang dikorbankan,” ucapnya berkaca-kaca.
Aku menggenggam tanganku erat.
Aku berteriak sekeras mungkin.
"Kapan pelangi indah akan muncul dikehidupanku?” gumamku lemah.
"Bahkan jiwaku.”
"Akan terus terkurung di desa ini.”
"Seperti para wanita muda itu,” ucapku
Para orang tua itu langsung berpesta dan berdansa.
Aku.
Hanya duduk diam disamping tubuhku.
Dan para wanita muda itu.
Memandangi para orang tua dengan tatapan murka.