Sinopsis:
Kota: Amsterdam, Belanda (abad ke-19 hingga awal abad ke-20).
Pada akhir abad ke-19, di kawasan tua Amsterdam yang terletak di seberang kanal Prinsengracht, berdiri sebuah rumah tua bergaya Gotik yang pernah menjadi kediaman seorang wanita Belanda bernama Elsabeth van der Meer. Pada tahun 1897, Elsabeth menghilang tanpa jejak bersama anak perempuannya yang berusia 7 tahun, Sophia. Sejak saat itu, setiap malam tepat pada pukul 00.00, suara nyanyian lagu rakyat Belanda "De Bloemen Van Amsterdam" terdengar dari dalam rumah kosong tersebut. Namun, nyanyian itu bukanlah yang manis seperti biasanya—suaranya serak, merengek, dan disertai dengan tangisan anak yang menusuk hati.
Pada tahun 1922, seorang wartawan muda bernama Lucas de Vries yang sedang menyelidiki kasus misterius hilangnya orang di kawasan tua kota tersebut, memutuskan untuk tinggal semalam di rumah itu. Apa yang dia temukan tidak hanya mengungkap rahasia kelam tentang Elsabeth dan Sophia, tetapi juga mengungkapkan bahwa teror nyanyian malam tersebut adalah pesan yang belum selesai disampaikan—sebuah permintaan keadilan yang terlambat selama lebih dari dua dekade.
***
Kanal Prinsengracht mengkilap seperti kain sutra gelap di bawah bulan purnama yang bersinar redup melalui kabut tipis. Sorotan cahaya dari lampu gas jalanan yang jarang menjalar perlahan ke permukaan air, mencerminkan bayangan rumah-rumah tua yang berdiri rapat di seberangnya. Salah satunya adalah rumah bertingkat dua dengan tembok bata gelap yang sudah mengelupas, jendela kayu yang menganga kosong, dan pagar besi yang berkarat yang berderak pelan setiap kali angin menerpa. Orang-orang di sekitar menyebutnya "Rumah Van der Meer", tempat yang sudah lama di tinggalkan dan di hindari seperti penyakit mematikan.
Lucas de Vries berdiri di depan pagar tersebut, mencubit ujung koran yang dia pegang. Headline besar di halaman depan masih terlihat jelas meskipun cahaya minim: "KORBAN HILANG KE-5 DI KAWASAN PRINSENGRACHT – APAKAH ADA KONEKSINYA?" Sebagai wartawan muda di surat kabar Amsterdam Nieuws, dia telah menghabiskan tiga minggu terakhir untuk menyelidiki kasus hilangnya warga di kawasan ini. Semua orang yang hilang pernah melintas atau bahkan pernah singgah sebentar di dekat rumah Van der Meer pada malam hari. Yang paling mengganggu adalah setiap korban terakhir kali dilihat sedang berdiri diam di depan rumah itu, wajah mereka akan kosong seperti sedang merespon panggilan yang hanya bisa mereka dengar.
"Kamu tidak seharusnya berada di sini, Wahai anak muda."
Suara yang kasar membuat Lucas terkejut. Dia menoleh dan melihat seorang wanita tua dengan rambut putih kusut dan gaun wol tua yang berwarna abu-abu berdiri di sudut jalan. Wajahnya penuh dengan kerut dan mata hitam yang mengkhawatirkan.
"Bu, saya sedang melakukan penyelidikan untuk surat kabar," jawab Lucas dengan sopan. "Apakah Anda tahu sesuatu tentang rumah itu?"
Wanita itu menggeleng perlahan, tangan kanannya yang keriput menggenggam tali tas yang dia bawa. "Sudah lebih dari dua puluh tahun sejak rumah itu menjadi sumber kutukan. Saya masih ingat saat itu, tahun 1897. Elsabeth van der Meer dan anak perempuannya, Sophia, tinggal di sana. Mereka adalah keluarga yang tenang, damai. Elsabeth sering menyanyikan untuk anaknya di malam hari, lagu De Bloemen Van Amsterdam. Suaranya sangat manis,dan lembut, membuat semua orang di sekitar akan merasa tenang."
"Kemudian apa yang terjadi?" tanya Lucas, mulai menarik buku catatan dari kantong jasnya.
"Waktu itu, suaminya, Hendrik van der Meer, bekerja sebagai pegawai di sebuah perusahaan perdagangan rempah-rempah. Dia pergi ke Jawa untuk urusan bisnis dan tidak pernah kembali. Beberapa bulan kemudian, kabar datang bahwa dia telah menikah lagi dengan seorang wanita lokal di sana dan tidak akan kembali ke Belanda. Mendengarkan berita itu, Elsabeth hancur hati. Dia mulai menjadi tertutup, jarang keluar rumah. Hanya suara nyanyiannya yang masih terdengar setiap malam." Wanita itu mengerutkan kening, seolah sedang menghapal kenangan yang menyakitkan.
"Pada malam 17 November tahun itu, suara nyanyiannya tidak terdengar lagi. Keesokan harinya, orang-orang menemukan rumah itu kosong. Tidak ada jejak Elsabeth dan Sophia. Hanya sebuah boneka kain yang masih terbaring di atas ranjang Sophia, dan selembar kertas dengan beberapa baris lirik lagu yang belum selesai ditulis."
"Dan sejak saat itu, nyanyiannya kembali terdengar?"
"Belum," jawab wanita itu dengan suara pelan.
"Nyanyian itu mulai terdengar sekitar setahun kemudian, tepat pada malam hari ulang tahun Sophia yang ke-8. Tapi suaranya tidak sama lagi. Tidak ada kelembutan seperti dulu. Suaranya serak, seperti dia sedang menangis sambil menyanyi. Dan terkadang bisa terdengar tangisan anak yang menyiksa hati. Banyak orang yang berusaha masuk ke rumah itu, tapi tidak ada yang keluar dengan kondisi baik. Beberapa kehilangan ingatan, yang lain menjadi gila. Dan ada pula yang paling mengerikan adalah mereka yang hilang tanpa jejak."
Setelah mengatakan itu, wanita tua itu berbalik dan pergi dengan langkah yang lambat, menyisakan Lucas sendirian dengan kabut malam dan kesunyian yang menusuk. Lucas melihat ke arah rumah itu lagi. Jam di menara kota jauh di kejauhan mulai membunyikan pukul sebelas malam. Dia telah mempersiapkan segala sesuatu untuk tinggal semalam di sana dengan berbekal senter, makanan ringan, buku catatan, dan bahkan sebuah pistol kecil untuk berjaga-jaga. Dengan hati yang berdebar, dia menarik pagar besi yang berkarat dan masuk ke halaman kecil yang penuh dengan rerumputan tinggi dan semak belukar.
Pintu utama rumah itu terbuka selebar celah, seolah mengundang dia untuk masuk. Udara di dalam sangat dingin dan penuh dengan bau debu, kayu lapuk, dan sesuatu yang tidak bisa Lucas identifikasi, seperti bunga yang sudah membusuk dan tanah basah. Dia menyalakan senternya, menerobos kegelapan yang pekat. Ruang tamu di depan penuh dengan furnitur tua yang tertutup kain putih tipis, seperti mayat yang diletakkan di dalam peti mati. Lukisan-lukisan dengan bingkai kayu besar tergantung di dinding, sebagian sudah terkelupas dan menampakkan cat yang telah pudar.
Lucas berjalan lebih dalam, menaiki tangga kayu yang berderak setiap kali diinjak. Di lantai atas, dia menemukan dua kamar tidur. Salah satunya jelas kamar anak, dengan ranjang kecil masih ada di sana, dengan boneka kain yang disebutkan oleh wanita tua itu terbaring di atasnya. Bulu dari bantal sudah keluar dan berserakan di lantai. Di atas meja kecil di sisi ranjang, ada sebuah buku lagu tua dengan kulit kayu yang sudah lapuk. Lucas membukanya dengan hati-hati. Halaman depan tertulis dengan tangan yang rapi: "Untuk Sophia – dengan cinta dari Ibu." Di dalamnya, lirik lagu De Bloemen Van Amsterdam ditulis dengan jelas, tetapi beberapa baris di akhir halaman terakhir dicoret-coret dengan kasar, seperti penulisnya sedang marah atau sedih saat itu.
Jam di saku Lucas menunjukkan pukul 23.59. Dia duduk di tepi ranjang Sophia, menunggu. Suara angin menerpa jendela kaca yang pecah terdengar seperti bisikan. Kemudian, tepat saat jarum jam menunjukkan angka 00.00 malam, dia mendengarnya. Sebuah suara nyanyian yang lemah dan serak dari arah kamar utama di seberangnya.
"Di tepi kanal yang tenang... bunga-bunga merah mekar indah..."
Suaranya tidak seperti suara manusia yang normal. Ada nada merengek dan menangis di dalamnya, seolah penyanyi sedang mengalami rasa sakit yang luar biasa. Lucas berdiri perlahan dan bergerak ke arah suara itu. Kamar utama tampak lebih luas, dengan ranjang besar yang masih tertutup tirai renda yang sudah kusut. Suara nyanyian semakin jelas saat dia mendekati ranjang.
"...Ayah berkata kita akan selalu bersama... tapi dia pergi dan tidak kembali lagi..."
Tangisan anak tiba-tiba menyertai nyanyian itu. Suara tangisan yang menyakitkan hati, seolah seorang anak sedang terjebak dalam rasa sakit yang tak berkesudahan. Lucas menarik tirai renda dengan hati-hati. Cahaya senternya menerangi ranjang yang kosong, tetapi kemudian dia melihatnya. Sebuah bayangan samar seorang wanita dengan gaun putih yang panjang berdiri di sudut kamar, menghadap jendela. Di dekatnya, ada bayangan anak kecil yang sedang menangis sambil meraih tangan wanita itu.
"Elsabeth?" ucap Lucas dengan suara yang sedikit bergetar.
Bayangan wanita itu perlahan berbalik. Wajahnya tidak jelas, tapi Lucas bisa merasakan pandangan yang penuh dengan kesedihan dan kemarahan menatapnya. Suara nyanyian berhenti, digantikan oleh suara bisikan yang dingin seperti angin musim dingin.
"Dia mencuri apa yang milikku... dia membunuh apa yang kubuat..."
"Siapa? Siapa yang melakukan itu?" tanya Lucas, menggerakkan senternya ke sekitar kamar untuk melihat lebih jelas.
Kemudian dia melihatnya kearah di dinding belakang kamar, ada sebuah bagian yang tampak berbeda, seperti ada pintu tersembunyi. Dia mendekati dan mengetuknya dengan jempolnya. Suara yang terdengar menunjukkan bahwa di baliknya adalah ruang kosong. Dengan menggunakan bahu, dia menyerangnya dengan keras. Pintu kayu yang lapuk patah dan terbuka, mengungkapkan lorong sempit yang mengarah ke bawah.
Bau yang menyengat keluar dari lorong itu, tercium bau darah dan daging yang membusuk. Lucas menurunkan diri dan masuk ke dalam, senternya menerangi tangga tanah yang licin. Di bagian bawah lorong, ada sebuah ruang bawah tanah yang kecil dan gelap. Di tengah ruangan, ada dua peti kayu yang sudah lapuk. Di dekatnya, sebuah meja kecil dengan beberapa benda di atasnya: cincin pernikahan dengan batu permata yang sudah kusam, sebuah foto keluarga dengan wajah yang sudah pudar, dan sebuah buku catatan tua yang tertutup rapat.
Lucas mengambil buku catatan dan membukanya. Tulisannya rapi dan jelas, dimulai dari tanggal 1 September 1897.
______________________________________
"Hari ini, Aku menerima surat dari teman suamiku, Jan. Dia mengatakan bahwa Hendrik tidak pernah pergi ke Jawa, dia telah mati dalam kecelakaan kereta bulan lalu. Dia juga mengatakan bahwa seorang pria bernama Gerard van Houten, rekan kerja Hendrik, telah mengambil semua harta keluarga kami dan menyatakan bahwa Hendrik telah menyerahkannya kepadanya sebelum mati. Aku sangat takut. Gerard telah datang ke rumah beberapa kali sejak Hendrik hilang, memaksa aku untuk menyerahkan surat-surat penting. Dia berkata jika aku tidak menuruti, dia akan mengambil Sophia dariku."
"15 November 1897, – Gerard datang lagi malam ini. Dia mengancam akan membunuhku jika aku tidak diam. Aku menyembunyikan Sophia di ruang bawah tanah dan memberinya boneka milikku untuk menghibur dia. Kemudian aku menyanyi untuknya agar dia tidak takut. Tapi Gerard mendengarnya. Dia menemukan kita..."
"17 November 1897 – Dia membunuhku dengan pisau di dada. Sebelum aku mati, aku melihat dia membawa Sophia pergi sambil dia menangis. Dia berkata tidak akan ada yang tahu apa yang terjadi. Tetapi aku akan memastikan dia mendapatkan hukuman yang layak. Aku akan menyanyi setiap malam sampai dia di adili..."
---
______________________________________
Kata-kata terakhir di buku catatan itu ditulis dengan tangan yang goyah, dan ada noda darah yang mengotori halamannya. Lucas merasa dada terasa sesak. Dia melihat ke arah peti kayu dan dengan hati-hati membukanya. Di dalam peti pertama, ada sisa-sisa tulang seorang wanita dewasa. Di peti kedua, sisa-sisa tulang seorang anak kecil.
Suara langkah kaki yang berat tiba-tiba terdengar dari arah lorong. Lucas menoleh dan melihat seorang pria tua dengan jas gelap berdiri di pintu ruang bawah tanah, wajahnya penuh dengan ketakutan dan kemarahan. Dia mengenalnya dari foto yang pernah dia lihat di kantor surat kabar yaitu Gerard van Houten, yang sekarang menjadi seorang pengusaha kaya dan dihormati di kota ini.
"Kamu tidak seharusnya datang ke sini," kata Gerard dengan suara yang kasar.
Dia memegang pisau panjang di tangannya. "Saya telah menghabiskan bertahun-tahun untuk menyembunyikan kebenaran itu. Elsabeth seharusnya sudah diam. Tapi dia terus menyanyi, terus menarik orang-orang ke sini. Saya terpaksa harus menghilangkan mereka agar mereka tidak menemukan kebenaran."
"Kamu membunuh mereka semua?" tanya Lucas dengan suara penuh kemarahan. "Kamu membunuh Elsabeth dan Sophia, lalu membunuh orang-orang yang hanya ingin mencari tahu apa yang terjadi?"
"Jika mereka tidak mencampuri urusanku, mereka akan tetap hidup!" seru Gerard sambil berlari ke arah Lucas dengan pisau diayunkan.
Pada saat itu, suara nyanyian kembali terdengar tetapi kali ini lebih keras dan lebih jelas dari sebelumnya. Cahaya putih redup muncul dari arah peti kayu, dan bayangan Elsabeth dan Sophia muncul di tengah ruangan. Elsabeth mengangkat tangannya, dan Gerard tiba-tiba terhenti di tempatnya, wajahnya penuh dengan ketakutan yang luar biasa.
"Kamu berpikir kamu bisa bersembunyi selamanya, Gerard," bisik Elsabeth dengan suara yang jelas dan penuh dengan kebencian. "Kamu telah membunuh kami dan mengambil apa yang milik kami. Sekarang waktunya kamu mendapatkan hukuman yang layak."
Tangisan Sophia semakin keras, dan Gerard mulai berteriak sambil mencoba berlari. Tapi dia tidak bisa bergerak, seolah-olah ada kekuatan tak kasat mata yang menjebaknya di tempatnya. Kemudian, suara sirene polisi terdengar dari kejauhan, semakin dekat. Lucas menyadari bahwa wanita tua yang dia temui di jalan pasti telah memanggil mereka.
"Kita tahu apa yang kamu lakukan, Gerard van Houten!" teriak suara seorang petugas polisi dari arah atas lorong. "Kamu ditangkap atas tuduhan pembunuhan berantai!"
Gerard akhirnya bisa bergerak, tetapi dia tidak berlari. Dia jatuh bersimpuh lutut dan mulai menangis, menyadari bahwa kejahatannya telah terbongkar setelah lebih dari dua puluh tahun. Petugas polisi turun ke ruang bawah tanah dan menangkapnya, membawa dia keluar dari rumah.
Lucas berdiri di tengah ruangan, melihat bayangan Elsabeth dan Sophia yang perlahan mulai memudar. Sebelum hilang sepenuhnya, Elsabeth memberikan senyuman yang lembut dan seolah rasa bebas akhirnya datang kepadanya. Suara nyanyian terakhir terdengar lembut di udara:
"...Bunga-bunga akan tetap mekar... bahkan jika kita tidak bisa melihatnya lagi..."
Keesokan harinya, kasus pembunuhan yang terjadi lebih dari dua puluh tahun lalu akhirnya terbongkar. Semua bukti yang ditemukan di rumah Van der Meer beserta buku catatan, sisa-sisa tulang, dan barang-barang pribadi Elsabeth dan Sophia telah menjadi bukti yang kuat terhadap Gerard van Houten. Dia diadili dan di hukum penjara seumur hidup.
Rumah Van der Meer akhirnya di bongkar beberapa tahun kemudian untuk membangun gedung baru. Namun, sampai sekarang, setiap malam tepat pada pukul 00.00 malam di kawasan Prinsengracht, beberapa orang masih mengklaim bisa mendengarkan suara nyanyian yang lembut dan manis—seolah Elsabeth dan Sophia akhirnya bisa menyanyi dengan damai, tanpa rasa sakit dan dendam yang mengikat mereka selama bertahun-tahun.
***
***
TAMAT