Rendra selalu percaya satu hal: dunia hanya menghormati orang yang punya uang.
Keyakinan itu tidak lahir dari buku motivasi atau seminar mahal. Ia tumbuh dari dapur sempit berasap, dari suara ibunya yang menghitung receh sebelum membeli beras, dari tatapan tetangga yang kasihan sekaligus meremehkan. Dan terutama, dari ruang kosong di meja makan—tempat seorang ayah seharusnya duduk.
Rendra tak pernah mengenal ayahnya. Pria itu pergi sebelum ia bisa mengingat wajahnya. Yang tersisa hanya kalimat orang-orang: “Ayahmu tidak bertanggung jawab.” Kalimat yang menempel seperti label murah di bajunya.
Ia bersumpah dua hal waktu masih remaja: ia akan kaya, dan ia tidak akan pernah menjadi ayah yang gagal.
Bertahun-tahun kemudian, Rendra memang berhasil. Ia punya perusahaan properti, rumah besar dua lantai dengan pagar tinggi, dan mobil yang mengilap setiap pagi. Orang-orang menyalaminya dengan hormat. Mereka memanggilnya “Pak Rendra” dengan nada yang berbeda dari dulu.
Namun di ruang tamunya yang luas itu, ia sering duduk sendirian.
Putrinya, Alya, tumbuh menjadi perempuan yang lembut dan cerdas. Mata Alya selalu mengingatkannya pada ibunya—hangat tapi tegas. Sejak kecil, Rendra memastikan Alya tidak pernah kekurangan apa pun. Sekolah terbaik. Les bahasa asing. Liburan ke luar negeri.
Ia memberi semuanya. Kecuali satu hal yang tak pernah ia pelajari: cara mendengar.
“Ayah, Alya mau bicara,” suatu sore, suara Alya terdengar hati-hati.
Rendra menutup laptopnya. “Tentang apa?”
“Alya kenal seseorang.”
Rendra mengangkat alis. “Siapa?”
“Namanya Arga. Dia teman satu kampus. Dia baik, Yah.”
Kata “baik” terdengar terlalu ringan di telinga Rendra.
“Orang tuanya siapa?”
“Bukan siapa-siapa, Yah. Ayahnya pensiunan guru.”
Rendra tersenyum tipis. Senyum yang tidak pernah sampai ke matanya. “Alya. Hidup itu bukan dongeng. Baik saja tidak cukup.”
Alya menelan ludah. “Tapi Alya nyaman sama dia.”
Rendra berdiri, berjalan ke jendela besar ruang tamu. Ia melihat halaman luasnya sendiri, pohon-pohon yang ditanam rapi. Semua ini dibangun dengan darah dan harga diri yang ia telan bertahun-tahun.
“Ayah tidak bekerja seumur hidup untuk melihat kamu kembali ke titik nol.”
“Alya tidak merasa di titik nol.”
“Kamu belum tahu dunia,” potong Rendra. “Dunia itu kejam pada orang yang tak punya apa-apa.”
Alya ingin menjawab, tapi ia tahu nada suara ayahnya sudah berubah menjadi dinding.
---
Beberapa minggu kemudian, Rendra mengundang keluarga Wijaya ke rumahnya.
Hendra Wijaya adalah rekan bisnisnya—konglomerat muda dengan jaringan luas. Putranya, Kevin, lulusan luar negeri, rapi, sopan, dan… terlalu percaya diri.
“Alya cantik sekali,” ujar Kevin sambil tersenyum lebar. Tatapannya menelusuri wajah Alya lebih lama dari yang seharusnya.
Rendra melihat itu. Tapi ia memilih menafsirkan sebagai ketertarikan yang wajar.
“Kevin sedang mencari pasangan yang sepadan,” kata Hendra santai. “Kita kan sudah lama kerja sama, Ren.”
Rendra mengangguk pelan. Dalam kepalanya, ia melihat masa depan yang aman: bisnis yang makin kuat, jaringan makin luas, dan putrinya hidup dalam kemewahan yang tak pernah ia rasakan waktu kecil.
Alya duduk kaku di sampingnya.
“Ayah tidak pernah tanya Alya mau atau tidak,” bisik Alya malam itu di kamar kerja Rendra.
Rendra menghela napas panjang. “Ayah tahu yang terbaik.”
“Terbaik untuk siapa?”
Pertanyaan itu menggantung.
“Untuk kamu.”
“Atau untuk rasa takut Ayah sendiri?”
Rendra menoleh cepat. Tatapan Alya tajam, berbeda dari biasanya.
“Kamu tidak mengerti apa yang Ayah lalui.”
“Justru karena Alya mengerti, Alya takut.”
Rendra terdiam.
“Ayah tidak punya ayah,” suara Alya bergetar, “tapi kenapa Ayah juga merampas kebebasan anaknya?”
Kalimat itu seperti retakan halus di dinding kokoh yang ia bangun bertahun-tahun.
Namun ia tetap berkata, “Ini keputusan Ayah.”
---
Pernikahan berlangsung mewah. Lampu-lampu kristal, gaun mahal, tamu-tamu penting. Semua orang memuji Rendra.
“Beruntung sekali Alya,” kata seseorang.
Rendra tersenyum bangga.
Beberapa bulan pertama, semuanya terlihat baik. Kevin membelikan Alya mobil baru, apartemen mewah, dan perhiasan mahal. Foto-foto mereka tampak sempurna di media sosial.
Namun yang tidak terlihat adalah pesan-pesan Kevin yang penuh kontrol.
“Kamu tidak perlu ketemu teman lama. Mereka bukan level kita.”
“Kamu pakai baju itu? Terlalu terbuka. Ganti.”
“Kamu tidak perlu kerja. Fokus saja jadi istriku.”
Setiap kali Alya mencoba membantah, Kevin tersenyum dingin. “Aku cuma mau yang terbaik untuk kamu.”
Kalimat yang terasa familiar.
Suatu malam, Alya pulang ke rumah ayahnya tanpa pemberitahuan. Wajahnya pucat, matanya sembab.
Rendra terkejut. “Ada apa?”
Alya terdiam lama sebelum membuka lengan bajunya. Bekas cengkeraman merah keunguan terlihat jelas.
“Dia tidak memukul,” kata Alya cepat, seolah membela. “Cuma… menahan.”
Rendra merasa darahnya mendidih.
“Kenapa kamu tidak bilang dari dulu?”
“Ayah tidak pernah mau dengar.”
Kalimat itu lebih menyakitkan daripada apa pun.
“Ayah bilang uang itu segalanya,” lanjut Alya pelan. “Tapi Ayah tidak pernah tanya, Alya bahagia atau tidak.”
Rendra duduk perlahan. Ia melihat tangan putrinya yang gemetar. Tangan yang dulu ia genggam saat belajar berjalan.
Tiba-tiba ia teringat ibunya yang menangis diam-diam di dapur. Teringat dirinya kecil yang berharap ayahnya pulang dan berkata, “Aku di sini.”
Ia selalu marah pada ayah yang pergi. Tapi tanpa sadar, ia juga pergi—dengan caranya sendiri.
Bukan meninggalkan rumah, tapi meninggalkan hati anaknya.
“Alya…” suaranya serak.
“Ayah takut miskin,” kata Alya, “tapi Alya lebih takut kehilangan diri sendiri.”
Rendra menutup wajahnya dengan kedua tangan. Untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, ia membiarkan dirinya merasa kecil lagi.
Ia sadar, semua yang ia bangun bukan benteng untuk melindungi anaknya—melainkan tembok untuk menutup lukanya sendiri.
“Ayah minta maaf,” katanya pelan.
Kata yang asing di lidahnya.
Alya menangis.
“Kalau kamu mau keluar dari pernikahan itu,” lanjut Rendra, “Ayah akan berdiri di belakangmu. Bukan di depanmu. Bukan mengaturmu.”
Alya memeluknya. Pelukan yang selama ini jarang terjadi.
Rendra menyadari sesuatu yang sederhana dan menyakitkan: menjadi ayah bukan soal memastikan anak tidak jatuh miskin. Tapi memastikan ia tidak jatuh sendirian.
---
Perceraian itu tidak mudah. Kevin mengancam, keluarga Wijaya marah, gosip beredar. Bisnis Rendra sempat terguncang.
Tapi untuk pertama kalinya, Rendra tidak peduli pada bisik-bisik orang.
Suatu sore, ia duduk di teras rumah bersama Alya. Tanpa ponsel. Tanpa agenda rapat.
“Ayah masih takut,” katanya jujur.
“Takut apa?”
“Takut gagal lagi.”
Alya tersenyum kecil. “Semua orang takut, Yah. Bedanya, sekarang Ayah tidak lari.”
Rendra menatap langit senja. Ia tahu luka masa kecilnya tidak hilang begitu saja. Tapi ia juga tahu, siklus itu bisa berhenti di tangannya.
Ia tidak bisa memilih ayah seperti apa yang dulu ia miliki.
Tapi ia bisa memilih ayah seperti apa yang akan ia jadi.
Dan kali ini, ia memilih hadir.