Langit Batavia pada tahun 1893 tidak pernah benar-benar bersih. Selalu ada selapis kabut tipis yang membawa bau amis lumpur Kali Besar, aroma rempah yang membusuk di gudang-gudang VOC, dan bau pesing kemiskinan yang menguar dari gang-gang sempit di balik tembok kota. Di dalam sebuah landhuis—rumah bicara yang megah dengan pilar-pilar putih setinggi pohon kelapa—Nyai Sarmi berdiri terpaku. Ia menatap pantulan dirinya di cermin besar buatan Venesia yang bingkainya dihiasi ukiran malaikat-malaikat kecil bertelanjang dada.
Sarmi menyentuh pipinya. Kulitnya yang kuning langsat, yang dahulu dipuja Tuan Willem sebagai "emas tropis", kini terasa dingin seperti porselen retak. Di usianya yang menginjak tiga puluh tahun, ia tahu masa berlakunya sebagai penghuni rumah ini telah habis. Sebelas tahun lalu, ia didatangkan dari sebuah desa di kaki Gunung Salak, diserahkan oleh ayahnya yang terlilit hutang pajak kepada seorang pejabat urusan agraria bernama Willem van der Boor. Saat itu, ia hanyalah gadis kecil yang hanya tahu cara menumbuk padi. Kini, ia adalah Nyai Sarmi—perempuan yang mengatur sepuluh pelayan, pemegang kunci gudang anggur, dan ibu dari dua anak berkulit gandum dengan mata sebiru langit Belanda.
"Sarmi, kemasi barang-barangmu. Tapi jangan sentuh barang-barang anak-anak," suara itu datang dari arah pintu, datar dan tanpa emosi.
Willem berdiri di sana, mengenakan setelan linen putih yang licin. Pria itu akan pulang ke Delft. Ia telah mendapatkan medali kehormatan, masa pensiun yang gemilang, dan yang paling penting: sebuah tiket pulang untuk "darah dagingnya". Namun, tidak ada tiket untuk Sarmi. Di mata hukum kolonial yang kaku dan dingin, Sarmi hanyalah bijwijf—seorang gundik. Ia adalah mesin pencetak anak dan pengurus rumah tangga yang efisien, namun secara hukum, ia tidak lebih berharga daripada kursi jati di ruang tamu.
Dilema itu menghantam dada Sarmi seperti hantaman alu di atas lesung. Di atas meja marmer di samping cermin, sebuah kantong kulit berisi seribu gulden tergeletak. Willem menyebutnya "uang jasa". Dengan uang itu, Sarmi bisa membeli seluruh sawah di desanya. Ia bisa menjadi ratu di tanah kelahirannya. Ia bisa hidup tanpa perlu lagi tunduk pada telunjuk pria kulit putih. Namun, harganya adalah Hendrik dan Maria.
Hendrik baru berusia sembilan tahun, dan Maria tujuh tahun. Mereka adalah segalanya bagi Sarmi. Ia ingat bagaimana ia mempertaruhkan nyawa saat melahirkan mereka tanpa kehadiran bidan Eropa, hanya ditemani dukun bayi dan doa-doa yang ia bisikkan dalam bahasa Sunda. Ia yang menyusui mereka, ia yang mengobati demam mereka dengan rempah-rempah rahasia, dan ia yang mengajari mereka kata-kata pertama. Namun kini, Willem hendak merenggut mereka untuk dibawa ke sebuah negeri yang hanya ada dalam cerita-cerita fiksi—negeri dingin yang tak akan pernah memaafkan warna kulit anak-anak itu.
"Tuan," suara Sarmi keluar, parau dan gemetar. "Hendrik masih butuh saya. Maria... dia sering mimpi buruk jika saya tidak ada di sampingnya."
Willem tertawa kecil, suara tawa yang kering. "Mereka akan punya ibu baru di Belanda, Sarmi. Seorang wanita yang pantas, yang bisa mengajari mereka cara berdansa dan bicara bahasa Prancis dengan benar. Kau? Kau hanya akan membuat mereka malu dengan bau jamu dan bahasa pasarmu."
Kata-kata itu menusuk tepat di jantung Sarmi. Ego dan harga dirinya sebagai perempuan bergejolak. Ia ingin berteriak, ingin mencakar wajah pria yang selama sebelas tahun ini tidur di sampingnya namun tak pernah benar-benar mengenalnya. Ada kebencian yang mendidih di bawah kebaya rendanya. Selama ini ia diam, ia patuh, ia menelan semua hinaan dari nyonya-nyonya Belanda yang meludah saat ia lewat di Pasar Baru. Ia bertahan demi anak-anaknya. Tapi sekarang, benteng pertahanannya runtuh.
Sarmi masuk ke kamar anak-anak. Ruangan itu berbau harum sabun impor dan bedak. Hendrik sedang asyik bermain dengan kereta api kayu, sementara Maria menyisir rambut boneka porselennya yang bermata beku. Melihat mereka, dilema itu mencapai puncaknya. Jika ia membawa mereka lari, ia akan menjadi buronan. Polisi-polisi kolonial, para oppas, akan mengejarnya sampai ke lubang semut. Ia tidak punya hak asuh. Secara hukum, anak-anak itu adalah properti Willem karena Willem telah mengakui mereka dalam akta erkenning. Mencuri mereka sama saja dengan mencuri kuda atau perhiasan perak perusahaan.
Tapi jika ia membiarkan mereka pergi? Bayangan Hendrik dan Maria yang tumbuh besar tanpa mengenalnya, yang mungkin suatu hari nanti akan kembali ke Hindia sebagai pejabat kolonial dan memandang rendah perempuan pribumi seperti dirinya, membuat perut Sarmi mual. Ia tidak bisa membiarkan darahnya sendiri berbalik menjadi penjajah bagi jiwanya.
"Hendrik, Maria, ikut Ibu," bisik Sarmi. Suaranya mengandung getaran mistis yang membuat kedua anak itu mendongak serentak.
"Kita mau ke mana, Ma? Papa bilang lusa kita naik kapal besar," tanya Hendrik polos.
"Kita akan naik kapal yang lebih indah, Sayang. Kapal yang tidak punya nakhoda berwajah dingin," jawab Sarmi sambil mulai memasukkan pakaian anak-anak ke dalam buntelan kain batik. Tangannya bergerak cepat, seolah-olah dikejar oleh hantu masa lalu.
Logika Sarmi berperang hebat dengan instingnya. Satu sisi otaknya berteriak bahwa ini adalah tindakan bunuh diri. Ia tidak punya tempat tujuan. Keluarganya di desa mungkin akan menolaknya karena takut pada Belanda. Ia akan hidup di hutan, di rawa-rawa yang penuh nyamuk malaria, atau bersembunyi di gang-gang gelap Batavia yang sarat dengan kekerasan. Namun, sisi lain jiwanya—jiwa seorang Nyai yang selama ini tertindas—berteriak bahwa lebih baik mati sebagai manusia bebas daripada hidup sebagai bangkai yang bernapas di atas tumpukan emas gulden.
Ia berjalan melewati ruang kerja Willem. Pria itu sudah tertidur di kursi malasnya, dengan botol jenewer yang setengah kosong di sampingnya. Sarmi menatap pria itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada sisa cinta, namun lebih banyak muak. Ia melihat kunci lemari besi yang tergantung di pinggang Willem. Selama bertahun-tahun, ia tahu di mana Willem menyimpan surat-surat penting, termasuk surat pengakuan anak-anak itu.
Dengan keberanian yang lahir dari keputusasaan, Sarmi mendekat. Napasnya tertahan. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia merasa pilar-pilar rumah itu ikut bergetar. Tangannya yang halus, yang biasa membelai rambut Willem, kini bergerak dengan presisi seorang pencuri. Klik. Kunci itu berpindah tangan.
Ia membuka lemari besi, mengambil surat-surat itu, dan dengan gerak cepat ia membakarnya di atas lampu minyak yang masih menyala di atas meja. Ia melihat kertas-kertas yang menentukan nasib anak-anaknya itu berubah menjadi abu hitam yang terbang tertiup angin malam dari jendela yang terbuka. Tanpa surat itu, klaim Willem atas Hendrik dan Maria di tanah ini akan menjadi rumit secara birokrasi, setidaknya untuk beberapa hari ke depan. Itu memberinya waktu.
"Ayo," ajak Sarmi pada anak-anaknya.
Mereka keluar lewat pintu belakang, melewati dapur di mana para pelayan lain sudah terlelap. Sarmi tidak mengambil sekeping pun dari seribu gulden di meja marmer itu. Baginya, uang itu adalah upeti kematian. Ia hanya membawa perhiasan kecil yang ia beli dari hasil berjualan kain secara sembunyi-sembunyi selama bertahun-tahun—modal untuk bertahan hidup di dunia luar.
Di luar, Batavia sedang tidur dalam kemunafikannya. Kereta kuda sewaan yang sudah ia pesan melalui seorang kusir langganan yang menaruh simpati padanya telah menunggu di bawah pohon asam yang rimbun.
"Nyai, yakin?" tanya si kusir dengan suara rendah, matanya melirik ke arah rumah besar yang masih megah berdiri.
Sarmi menatap ke arah balkon rumah itu untuk terakhir kalinya. Ia melihat bayangan dirinya yang lama—seorang gundik yang patuh, yang memakai konde tinggi dan parfum mahal, yang hidup dalam sangkar emas namun jiwanya kering kerontang. Ia meludah ke tanah, sebuah tindakan pembangkangan yang selama sebelas tahun ia pendam.
"Jalan, Bang. Ke arah Tangerang. Jangan berhenti sampai matahari terbit," perintah Sarmi tegas.
Di dalam kereta yang terguncang-guncang di atas jalanan berbatu Batavia, Sarmi memeluk Hendrik dan Maria. Anak-anak itu tertidur pulas, tidak tahu bahwa malam ini ibu mereka baru saja mendeklarasikan perang terhadap sebuah kekaisaran. Sarmi merasakan air mata mengalir di pipinya, namun itu bukan air mata kesedihan. Itu adalah air mata pembersihan.
Dilema itu belum selesai. Ia tahu esok hari namanya akan terpampang di papan pengumuman sebagai buronan. Ia tahu Willem tidak akan tinggal diam. Ia tahu dunia luar akan sangat kejam bagi seorang Nyai yang lari tanpa perlindungan pria kulit putih. Namun, saat ia mencium bau tanah basah dan hutan yang mulai mendekat, Sarmi merasa untuk pertama kalinya ia benar-benar memiliki dirinya sendiri.
Ia bukan lagi gundik Willem. Ia bukan lagi pajangan di rumah pilar putih. Ia adalah Sarmi. Seorang perempuan, seorang ibu, dan seorang manusia yang memilih untuk hancur berkeping-keping daripada utuh namun dalam keadaan terjajah. Di bawah langit Batavia yang perlahan mulai memucat karena fajar, sebuah legenda baru sedang lahir—legenda tentang seorang Nyai yang membakar masa lalunya demi masa depan yang, meski gelap, adalah miliknya sendiri.
Kereta kuda itu terus melaju, menembus kabut, meninggalkan kemegahan Batavia yang dingin dan angkuh, menuju ketidakpastian yang lebih jujur daripada kemewahan palsu yang selama ini membelenggunya. Sarmi menutup matanya, membiarkan angin pagi menyapu wajahnya, bersiap menghadapi badai yang pasti akan datang dengan kepala tegak.
---
Willem terbangun dengan kepala yang berdenyut hebat. Sisa-sisa jenewer semalam masih mengendap di rongga matanya, menciptakan selapis kabut yang membuat pilar-pilar kamar tampak bergoyang. Namun, bukan pening itu yang membuatnya tersentak, melainkan keheningan yang tak wajar. Biasanya, ia akan mendengar gemericik air mawar yang dituang Sarmi ke dalam baskom perak, atau aroma kopi Preanger yang diseduh dengan ketelitian seorang alkemis.
Pagi ini, kamar itu hampa. Hanya ada aroma melati yang mulai layu dan bau hangus kertas yang ganjil dari arah lemari besi yang terbuka.
Willem jatuh terduduk di kursi malasnya. Matanya nanar menatap ranjang besar berkelambu yang kini kosong. Di atas bantal putih itu, ia seolah masih bisa melihat lekuk kepala Sarmi. Pikirannya mendadak terlempar jauh ke belakang, ke sebelas tahun yang lalu, saat ia pertama kali menginjakkan kaki di kadipaten kecil di kaki Gunung Salak.
Saat itu, Willem adalah opsir muda dengan ambisi yang meluap-luap. Ia datang untuk urusan tanah, namun matanya justru tertambat pada seorang gadis yang sedang membawa bakul di pinggir parit. Itu adalah Sarmi. Ia tidak mengenakan kebaya renda, hanya kain lurik sederhana yang melilit tubuhnya yang kencang. Namun, saat Sarmi mendongak dan mata cokelat gelapnya bertemu dengan mata biru Willem yang sedingin es, ada sesuatu yang retak di dalam dada Willem.
Itu bukan sekadar nafsu seorang penjajah; itu adalah tarikan magnetis yang purba. Willem melihat kecantikan yang liar, yang tidak bisa dijinakkan oleh etiket Eropa. Baginya, Sarmi adalah personifikasi dari tanah Hindia yang misterius: panas, lembap, dan menjanjikan surga sekaligus neraka.
Malam pertama mereka di sebuah pesanggrahan kayu kecil adalah memori yang paling dijaga Willem dalam kotak hitam jiwanya. Sarmi masuk ke kamar dengan gemetar, namun ada binar menantang di matanya. Saat Willem menanggalkan kemeja linennya, Sarmi terpaku. Ia belum pernah melihat kulit seputih itu—putih susu yang kontras dengan rambut-rambut halus berwarna pirang keemasan yang tumbuh di dada tegap sang Tuan.
Sarmi, yang awalnya mengira ini adalah hukuman atas hutang ayahnya, mendadak merasakan sensasi yang asing. Jemari tangannya yang gemetar memberani diri menyentuh dada Willem. Ia merasakan kehangatan yang menjalar, sebuah kekuatan maskulin yang asing namun memikat. Tekstur bulu dada Willem yang halus terasa seperti sutra di bawah telapak tangannya yang kasar karena kerja di sawah.
Pada malam itu, di bawah rembulan Hindia yang mengintip dari celah atap nipah, Sarmi menemukan bahwa pria kulit putih ini bukan hanya seorang penguasa, tapi juga seorang lelaki yang bisa membuatnya merasa berdaya melalui gairah. Ia menikmati setiap inci tubuh tegap itu, menyesap aroma tembakau dan sabun mahal yang melekat pada kulit Willem, seolah-olah dengan bersatu dengan pria ini, ia juga ikut mencicipi dunia yang lebih besar, lebih megah, dan lebih berkuasa.
Willem pun sama. Ia tenggelam dalam kelembutan Sarmi yang seharum kemuning. Ia merasa menjadi raja yang benar-benar memiliki mahkotanya. Cinta pada pandangan pertama itu adalah racun yang manis; sebuah ikatan yang seharusnya hanya urusan jual-beli, namun berubah menjadi obsesi batin yang mendalam.
Kini, di tahun 1893, Willem menatap tangannya yang mulai keriput. Kenangan akan malam pertama yang penuh gairah itu terasa seperti ejekan. Ia menyadari satu hal yang terlambat: selama sebelas tahun, ia memang memiliki tubuh Sarmi, ia memang memiliki gairah perempuan itu, tapi ia tidak pernah benar-benar memiliki jiwanya.
Sarmi telah mengambil kembali semua yang ia berikan pada malam itu. Ia membawa lari "darah" Willem—anak-anak itu—dan meninggalkan Willem hanya dengan serpihan abu surat-surat hukum yang kini tak berguna.
"Sarmi..." bisik Willem, suaranya pecah di tengah kemegahan rumah pilar putih yang mendadak terasa seperti kuburan.
Di luar, matahari Batavia mulai meninggi, membakar segala sisa romansa masa lalu. Willem tahu, ia bisa mengerahkan seluruh garnisun untuk mengejar. Namun jauh di dalam lubuk hatinya, ada rasa hormat yang muncul secara tragis. Perempuan yang dulu ia beli dengan beberapa keping perak, kini telah membayarnya kembali dengan keberanian yang bahkan tidak dimiliki oleh Willem sendiri.
---
Tiga minggu telah berlalu sejak Sarmi melarikan diri dari tembok angkuh Batavia. Hutan di pinggiran Tangerang yang rimbun dan lembap menjadi saksi bisu bagaimana sang Nyai menanggalkan kebaya rendanya, menggantinya dengan kain lurik kumal, dan membiarkan kakinya yang halus koyak oleh duri semak. Ia bersembunyi di sebuah gubuk tua pembakaran bata, memeluk Hendrik dan Maria dalam kegelapan yang pekat, sementara suara burung hantu terdengar seperti vonis mati yang tertunda.
Namun, Batavia tidak pernah melepaskan mangsanya begitu saja.
Sore itu, langit berwarna ungu lebam. Bunyi derap sepatu lars militer memecah kesunyian hutan. Willem datang. Ia tidak datang dengan kereta kuda mewah, melainkan menunggang kuda jantan hitam dengan seragam perwira lengkap yang berkilat. Di belakangnya, selusin serdadu KNIL dengan bayonet terhunus mengepung gubuk itu.
"Sarmi! Keluar!" suara Willem menggelegar, namun ada nada patah yang terselip di sana.
Sarmi melangkah keluar. Rambutnya yang biasa tersanggul rapi kini terurai awut-awutan, namun matanya—mata yang dulu membuat Willem bertekuk lutut di bawah kaki Gunung Salak—masih memancarkan api yang sama. Ia berdiri tegak, menghalangi pintu gubuk dengan tubuhnya yang ringkih.
Willem turun dari kudanya. Langkahnya berat menapaki tanah becek. Saat jarak mereka hanya tinggal sejangkauan lengan, dunia seolah berhenti berputar. Para serdadu menahan napas.
Willem menatap perempuan di depannya. Ia melihat luka-luka di kaki Sarmi, ia melihat kelelahan yang luar biasa, dan ia melihat cinta yang telah berubah menjadi belati. Tanpa aba-aba, Willem menarik Sarmi ke dalam pelukannya.
Itu adalah pelukan yang liar dan penuh kerinduan. Sarmi terisak, menyembunyikan wajahnya di dada tegap Willem yang masih beraroma sabun mewah dan tembakau—aroma yang dulu begitu ia puja di malam-malam panas Batavia. Ia merasakan bulu dada halus itu di balik seragam linen Willem, sebuah tekstur yang membangkitkan memori malam pertama mereka yang penuh gairah. Untuk sesaat, mereka bukan lagi penjajah dan gundik; mereka hanyalah sepasang manusia yang saling mencintai namun dipisahkan oleh jurang hukum yang tak terjembatani.
"Pulanglah, Sarmi. Aku akan memaafkanmu. Aku akan mengatur agar kau bisa ikut ke Delft sebagai pelayan pribadi anak-anak," bisik Willem di telinga Sarmi, air matanya jatuh ke bahu sang Nyai.
Sarmi melepaskan pelukan itu perlahan. Ia menatap mata biru Willem yang basah. "Sebagai pelayan, Tuan? Menonton anak-anakku memanggil wanita lain 'Ibu' di negeri yang tidak menginginkanku? Tidak. Aku lebih memilih mati di tanah yang melahirkanku."
"Sarmi, jangan keras kepala! Hukum akan menghancurkanmu!"
"Hukummu, Tuan. Bukan hukumku."
Tiba-tiba, Hendrik berlari keluar dari gubuk, berteriak memanggil ayahnya. Refleks salah satu serdadu yang gugup membuat ia mengangkat senapan. Willem berbalik, mencoba menghalau anak buahnya, "Jangan tembak!"
Namun, dalam kekacauan itu, seorang Schout (kepala polisi) yang merasa otoritasnya ditantang oleh seorang gundik buronan, menarik pelatuknya ke arah Sarmi yang dianggap hendak menyerang.
Duar!
Peluru itu tidak mengenai Sarmi. Ia mengenai dada kecil Hendrik yang mencoba memeluk ibunya. Dunia seketika menjadi sunyi. Suara kepak sayap gagak terdengar menjauh. Hendrik jatuh ke tanah dengan lubang merah di dadanya yang mungil.
"Hendrik!" raungan Sarmi memecah langit Tangerang.
Willem terpaku. Ia melihat putra kebanggaannya, pewaris darah Van der Boor, meregang nyawa di atas tanah becek yang ia anggap rendah. Kehancuran batin yang akut menghantamnya. Ia mencabut pistolnya, namun bukan untuk menembak Sarmi. Ia menembak kepala serdadu yang melepaskan tembakan tadi hingga tewas seketika.
Sarmi memangku kepala Hendrik yang mulai dingin. Ia tidak lagi menangis. Matanya kosong. Ia menatap Willem dengan tatapan yang membunuh sisa-sisa kewarasan pria itu.
"Kau ingin membawa mereka ke Delft, Tuan? Kini kau hanya bisa membawa jasadnya," bisik Sarmi lirih, suaranya lebih tajam dari bayonet.
Dalam keputusasaan yang paripurna, Sarmi mengambil keris kecil yang ia sembunyikan di balik pinggangnya. Sebelum Willem sempat mencegah, Sarmi menghunjamkan keris itu ke jantungnya sendiri. Ia ambruk di atas tubuh anaknya.
Willem jatuh berlutut. Ia memeluk kedua jasad itu dalam satu dekapan yang mengerikan. Darah Sarmi yang hangat merembes ke seragam putihnya, menyatu dengan darah Hendrik. Di bawah langit yang kini sepenuhnya gelap, Willem van der Boor kehilangan segalanya. Ia memiliki kekuasaan, ia memiliki emas, tapi ia mengubur jiwanya sendiri di dalam lumpur Hindia.
Tragedi Nyai Sarmi berakhir di sana. Tidak ada kemewahan, tidak ada kemenangan. Hanya ada aroma melati yang bercampur anyir darah, dan seorang pria Eropa yang meraung sendirian di tengah hutan, meratapi cinta yang ia hancurkan dengan tangannya sendiri atas nama martabat bangsa yang kaku.
---
Kematian Sarmi dan Hendrik tidak membawa kedamaian bagi Batavia. Justru, ia menjadi luka terbuka yang membusuk di jantung kota yang angkuh itu.
Willem van der Boor tidak pernah kembali ke Delft. Pria yang dulunya tegak dan penuh wibawa itu kini hanyalah sesosok bayangan yang menghantui pelataran rumah besar di tepian Kali Besar. Ia menolak mencuci seragam putihnya yang telah mengering dengan noda darah Sarmi. Baginya, warna merah kecokelatan yang mengerak itu adalah satu-satunya jembatan yang menghubungkannya dengan perempuan yang ia cintai sekaligus ia hancurkan.
Namun, tragedi yang sesungguhnya baru saja dimulai bagi Maria, satu-satunya yang tersisa.
Enam bulan setelah malam berdarah di Tangerang, sebuah kapal uap besar bersiap angkat sauh dari Pelabuhan Tanjung Priok. Maria, yang kini berusia tujuh tahun, berdiri di dek kapal yang tinggi. Ia mengenakan gaun wol tebal yang gatal dan menyesakkan, pakaian yang sama sekali tidak cocok dengan hawa tropis yang lembap. Rambutnya diikat kencang hingga matanya tertarik ke atas, mencitrakan wajah seorang nona kecil Eropa yang sempurna.
Willem berdiri di dermaga. Ia tidak diizinkan ikut oleh keluarganya di Belanda karena dianggap telah gila dan mencoreng nama baik klan Van der Boor. Maria akan dikirim ke sebuah panti asuhan ketat di Utrecht untuk "dibersihkan" dari sisa-sisa pengaruh pribumi.
"Mama..." Maria berbisik, suaranya hilang ditelan deru mesin kapal.
Ia merogoh saku gaunnya yang dalam. Di sana, ia menyembunyikan sebuah benda kecil: sebuah kantong kain batik lusuh yang sempat ia pungut dari gubuk sebelum para serdadu membawanya pergi. Di dalamnya terdapat sisa bedak dingin milik ibunya yang sudah mengeras dan seikat rambut hitam Sarmi yang terpotong saat mereka berpelukan terakhir kali.
Maria mendekatkan kain itu ke hidungnya. Ia menghirup dalam-dalam. Bau itu—bau keringat ibunya, bau kunyit, dan bau cinta yang murni—adalah satu-satunya hal yang membuatnya merasa hidup. Namun, seorang perawat Belanda yang ketat tiba-tiba mendekat dan merenggut kantong itu dari tangan Maria.
"Benda kotor ini tidak boleh ada di sini, Meisje," ucap perawat itu dengan nada dingin. "Kau harus melupakan hutan. Kau harus melupakan perempuan itu. Kau adalah seorang Van der Boor sekarang."
Dengan sekali ayun, perawat itu melemparkan kantong batik milik Sarmi ke laut.
Maria menjerit, namun suaranya tenggelam oleh peluit kapal yang melengking panjang, seolah-olah kapal itu sendiri sedang meratap. Ia melihat kantong batik itu terapung sejenak di atas air laut yang keruh, sebelum akhirnya tenggelam perlahan, tertelan pusaran air yang diciptakan oleh baling-baling kapal.
Kapal itu bergerak menjauh. Maria menatap garis pantai Batavia yang perlahan menghilang di balik kabut. Di dermaga, ia melihat sosok ayahnya yang semakin mengecil, berlutut di atas kayu-kayu pelabuhan, memukuli dadanya sendiri dalam kehancuran yang tak bersuara.
Maria menyadari satu hal yang paling menyakitkan: ia tidak hanya kehilangan ibu dan kakaknya. Ia kehilangan identitasnya, bahasanya, dan jiwanya. Ia akan tiba di Belanda sebagai orang asing dengan kulit yang dianggap terlalu gelap, namun di hatinya, ia membawa sebuah ruang hampa yang tak akan pernah bisa diisi oleh apapun.
Di tengah samudra Hindia yang luas, Maria duduk meringkuk di sudut kabinnya yang gelap. Ia mulai menggumamkan lagu nina bobo bahasa Sunda yang sering dinyanyikan Sarmi untuknya. Namun, di tengah lagu, ia berhenti. Ia menyadari bahwa ia mulai lupa kata-katanya.
Air matanya jatuh, membasahi gaun wol mahalnya yang dingin. Ia menangis bukan karena takut akan masa depan, tapi karena ia tahu, saat kapal ini tiba di tujuan nanti, ia bahkan tidak akan ingat lagi bagaimana cara menyebut nama ibunya sendiri dengan benar.
Sarmi telah mati untuk menyelamatkannya, namun bagi Maria, hidup yang ia jalani mulai saat ini adalah kematian yang lebih lama dan lebih sunyi. Sebuah elegi yang tak akan pernah selesai, terkubur di dasar laut bersama kantong batik yang membawa wangi terakhir ibunya.
---