Sore itu, langit di atas Jakarta berwarna jingga pekat, seolah ikut merasakan ketegangan yang merambat di lantai 50 gedung Mahendra Group. Giselle baru saja menyelesaikan sebuah sketsa untuk kampanye sosial terbaru perusahaan ketika pintu ruangannya dihantam terbuka. Bukan diketuk, tapi didepak oleh kekuatan yang berasal dari kemarahan kelas atas.
Victoria Sarasvati Hartoyo melangkah masuk dengan aura yang sanggup memadamkan lampu ruangan. Di belakangnya, Maurine Felicya Soemarmo berdiri dengan senyum simpul yang lebih tajam dari sembilu. Keduanya tampak seperti dewi Olympus yang turun ke bumi untuk menghukum manusia fana yang dianggap lancang.
"Cukup, Giselle! Cukup dengan sandiwara 'gadis lugu berhati emas' ini!" suara Victoria menggelegar, bergetar karena emosi yang tertahan di balik kalung mutiara bernilai miliaran rupiah.
Giselle berdiri perlahan, meletakkan pensilnya. "Tante Victoria? Maurine? Ada apa ini?"
"Ada apa?" Maurine melangkah maju, melempar sebuah map tebal ke meja kerja Giselle. "Ini adalah draf kontrak kerja sama Mahendra-Soemarmo yang kamu sabotase dengan sketsa-sketsa provokatifmu semalam. Karena tindakan sok pahlawanmu itu, Papa Bramantyo menunda investasi senilai triliunan rupiah! Kamu tahu apa artinya itu untuk dunia jet set? Kamu baru saja membakar uang yang bahkan tidak bisa kamu bayangkan bentuk fisiknya!"
Victoria mendekat, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari Giselle. Aroma parfum Le Lion de Chanel miliknya terasa mencekik. "Kamu pikir karena Adrian mencintaimu, kamu punya hak untuk mengatur arah bisnis keluarga kami? Kamu hanyalah staf pemasaran, Giselle! Kamu adalah 'karyawan', bukan 'penentu kebijakan'. Beraninya kamu mempermalukan Maurine dan keluarga Hartoyo di depan kolega kami!"
"Tante," suara Giselle tetap tenang, meski jantungnya berdegup kencang. "Saya tidak merusak bisnis. Saya hanya menunjukkan risiko sosial yang selama ini ditutupi oleh Maurine. Adrian berhak tahu bahwa merger itu akan memakan korban ribuan pekerja."
"Pekerja?" Maurine tertawa sinis, suaranya melengking tinggi. "Mereka itu statistik, Giselle! Mereka bisa diganti! Tapi prestise keluarga Mahendra dan Soemarmo tidak bisa diganti oleh sketsa sampahmu itu. Kamu itu cuma parasit SCBD yang kebetulan beruntung mendapatkan perhatian Adrian. Jangan merasa dirimu setara dengan kami!"
Victoria menyambar buku sketsa kesayangan Giselle yang tergeletak di meja. "Dan benda ini... benda murahan inilah yang meracuni pikiran putraku?"
"Tante, tolong kembalikan. Itu milik saya," ucap Giselle, suaranya mulai bergetar.
"Milikmu?" Victoria menatap buku itu dengan jijik. "Ini adalah bukti kegilaanmu! Kamu menggambar kami seolah-olah kami adalah monster. Kamu menggambar kemiskinan seolah-olah itu adalah sebuah pencapaian!" Dengan gerakan kasar, Victoria merobek satu halaman sketsa—gambar Adrian yang sedang tersenyum tulus—lalu melemparkannya ke lantai.
"Hentikan!" Giselle mencoba meraih bukunya, tapi Maurine menghalanginya, mendorong bahu Giselle kembali ke kursi.
"Dengar, Gadis Kecil," Maurine berbisik di telinga Giselle, "Di dunia ini, ada predator dan ada mangsa. Kamu itu mangsa yang salah masuk ke wilayah predator. Kalau kamu tidak segera menghilang dari kehidupan Adrian dan dari kota ini, aku akan pastikan tidak ada satu pun perusahaan di Negeri X yang mau menerima pengemis sketsa sepertimu."
Victoria melemparkan sisa buku sketsa itu ke keranjang sampah. "Besok pagi, aku ingin surat pengunduran dirimu sudah ada di meja HRD. Jika tidak, aku sendiri yang akan memastikan keluarga Hartoyo mencabut seluruh dukungan finansial untuk yayasan seni yang sedang kamu rintis. Pikirkan itu, Giselle. Idealismemu tidak akan bisa memberimu makan."
Mereka berdua berbalik dengan angkuh, meninggalkan Giselle yang terpaku di tengah ruangan yang kini terasa sangat luas dan hampa. Giselle berlutut di lantai, memunguti robekan kertas yang berserakan. Air matanya jatuh mengenai sketsa Adrian yang sudah terbelah dua.
Ironinya begitu menyesakkan; di gedung megah ini, di mana setiap jengkalnya adalah simbol kesuksesan, Giselle justru merasakan kemiskinan yang paling dalam—kemiskinan hati nurani dari orang-orang yang menguasainya.
Namun, saat ia memegang robekan kertas itu, ia melihat sesuatu di bawah mejanya. Sebuah alat perekam suara kecil yang tidak sengaja menyala saat map Maurine menghantam meja tadi. Semua makian, semua ancaman, dan pengakuan Maurine tentang "pekerja adalah statistik" terekam dengan jelas di sana.
Giselle menghapus air matanya. Ia tidak lagi melihat dirinya sebagai mangsa. Jika Victoria dan Maurine ingin bermain dengan cara yang kotor di dunia jet set, maka Giselle akan melawan dengan cara yang paling ia kuasai: mengungkap kebenaran di balik garis-garis yang mereka coba hapus.
"Tante Victoria, Maurine..." gumam Giselle pelan, "Kalian lupa satu hal. Seorang seniman tidak akan pernah berhenti menggambar hanya karena kertasnya dirobek. Mereka akan menemukan media baru."
Giselle bangkit, mengambil ponselnya, dan mengirimkan pesan singkat kepada Adrian: "Adrian, ada sesuatu yang harus kamu dengar. Dan sepertinya, Papa Bramantyo juga perlu tahu siapa sebenarnya rekan bisnis pilihannya."
Badai di Menteng mungkin baru dimulai, tapi kali ini, Giselle tidak akan membiarkan pensilnya patah begitu saja. Ia adalah bukti bahwa di tengah kepalsuan kaum fashionista dan jet set, satu rekaman kebenaran lebih berharga daripada seribu gaun haute couture.
---
Suasana di ruang rapat utama Mahendra Group pagi itu terasa mencekik. Ruangan itu adalah saksi bisu keputusan-keputusan triliunan rupiah, namun hari ini, ia akan menjadi saksi sebuah pengadilan moral. Di kursi utama, Bramantyo Soekotyo Wiryo duduk dengan wibawa yang tak tergoyahkan. Di samping kanannya, Victoria Sarasvati Hartoyo tampak anggun dengan balutan blazer sutra, meski matanya menyiratkan kegelisahan yang coba ia sembunyikan di balik kacamata hitam. Di seberangnya, Maurine Felicya Soemarmo duduk dengan dagu terangkat, siap merayakan kemenangannya atas "si pengganggu" dari SCBD.
Adrian Mahendra masuk paling terakhir. Wajahnya datar, namun matanya memancarkan kemarahan yang tenang—jenis kemarahan yang paling berbahaya dari seorang pemimpin. Ia tidak datang sendirian. Di belakangnya, Giselle berjalan dengan langkah mantap. Ia tidak lagi mengenakan gaun dari Victoria, melainkan kemeja putih sederhana dan celana bahan yang tajam—seragam tempur seorang profesional.
"Adrian, kenapa gadis ini ada di sini? Bukankah kita akan membahas finalisasi merger?" tanya Maurine dengan nada manis yang dibuat-buat.
Adrian tidak menjawab. Ia memberikan isyarat pada operator sistem untuk menyambungkan perangkatnya ke layar raksasa di depan ruangan. "Papa, Mama, dan Maurine. Sebelum kita bicara tentang angka, saya ingin kita bicara tentang budaya perusahaan yang selama ini kita banggakan. Budaya yang seharusnya menghargai kemanusiaan di atas segalanya."
Victoria berdehem. "Adrian, jangan mulai dengan retorika idealismemu. Kita di sini untuk bisnis."
"Benar, Ma. Ini memang soal bisnis. Bisnis tentang kejujuran," ujar Adrian dingin. Ia menekan sebuah tombol di tabletnya.
Seketika, suara Victoria yang melengking memenuhi ruangan: "Kamu hanyalah staf pemasaran, Giselle! Kamu adalah 'karyawan', bukan 'penentu kebijakan'!"
Disusul suara Maurine yang dingin dan tajam: "Pekerja? Mereka itu statistik, Giselle! Mereka bisa diganti! ... Kalau kamu tidak segera menghilang, aku akan pastikan tidak ada satu pun perusahaan di Negeri X yang mau menerima pengemis sketsa sepertimu."
Ruangan itu mendadak senyap. Suara itu menggema, memantul di dinding kaca yang menghadap ke gedung-gedung pencakar langit Jakarta lainnya. Victoria tampak pucat, tangannya gemetar hingga menjatuhkan pena berlapis emasnya. Maurine, sang predator dari Kanada, kehilangan kata-kata. Masker kesempurnaannya retak seribu.
Bramantyo Soekotyo Wiryo perlahan menoleh ke arah istrinya, lalu ke arah Maurine. Tatapannya kini bukan lagi sekadar tajam, melainkan penuh kekecewaan yang mendalam. Sebagai seorang pria jet set yang membangun kerajaan bisnis dari kepercayaan, rekaman itu adalah penghinaan bagi nama besar Wiryo.
"Jadi, ini adalah cara kalian menangani masalah?" suara Bramantyo rendah namun menggetarkan meja rapat. "Mengancam karyawan saya sendiri? Menganggap ribuan orang yang menghidupi perusahaan ini hanya sebagai 'statistik'?"
"Papa, itu... itu hanya emosi sesaat. Gadis itu memprovokasi kami!" bela Victoria, suaranya parau.
Adrian melangkah maju ke depan Maurine. "Maurine, kamu bicara tentang efisiensi dan prestise. Tapi perusahaan yang memperlakukan manusia seperti angka tidak akan pernah bertahan lama. Hari ini, saya secara resmi membatalkan merger dengan Soemarmo Group. Saya tidak bisa membiarkan Mahendra Group tercemar oleh mentalitas kolonial yang kamu bawa dari Kanada."
Maurine berdiri, matanya berkilat marah. "Kamu akan menyesal, Adrian! Ayahku akan menarik semua sahamnya!"
"Silakan," jawab Adrian tenang. "Pasar akan jauh lebih menghargai perusahaan yang berintegritas. Dan mengenai ancamanmu pada Giselle..." Adrian menoleh pada Giselle, lalu kembali pada Maurine. "Kamu baru saja mengancam orang yang paling berharga bagi masa depan perusahaan ini. Saya sudah menyiapkan tim hukum jika kamu atau siapa pun berani menyentuh kariernya."
Bramantyo berdiri, menandakan pertemuan berakhir. "Victoria, pulanglah. Kita perlu bicara secara pribadi. Dan Maurine, sampaikan salamku pada ayahmu. Katakan padanya, bahwa di Negeri X, kita tidak lagi menjalankan bisnis dengan cara merendahkan martabat manusia."
Maurine melangkah keluar dengan langkah terburu-buru, harga dirinya hancur berkeping-keping. Victoria mengikuti suaminya dengan pundak yang merosot, kehilangan aura kebanggaan sebagai fashionista yang akut.
Kini tinggal Adrian dan Giselle di ruangan luas itu. Adrian menghampiri Giselle, memegang tangannya yang sedikit dingin. "Maaf kamu harus mengalami itu kemarin," bisiknya.
Giselle tersenyum, kali ini senyum yang penuh kemenangan namun tetap rendah hati. "Tidak apa-apa, Adrian. Itu justru memberi saya inspirasi untuk seri sketsa terbaru."
"Tentang apa?" tanya Adrian penasaran.
"Tentang bagaimana sebuah mahkota emas tidak akan bisa menandingi kekuatan selembar kertas yang berisi kebenaran," jawab Giselle.
Adrian tertawa kecil dan memeluknya. Di puncak tertinggi SCBD, di tengah kerumunan kaum jet set dan ambisi yang meluap, mereka membuktikan bahwa cinta bukan hanya soal romansa drakor yang manis, tapi soal berdiri tegak membela nilai-nilai yang benar. Giselle bukan lagi pengagum rahasia; ia adalah pilar kekuatan yang mengubah arah sejarah sebuah dinasti.
Dan dari balik jendela kaca, Jakarta tampak lebih cerah, seolah ikut merayakan kemenangan hati nurani di atas ego yang setinggi langit.
---