Lampu neon merah bertuliskan ON AIR berpijar di ruang kedap suara yang didominasi warna hitam. Di depan mikrofon Shure SM7B yang mahal, sosok pria bernama Genta memasang ekspresi tegang, matanya melotot ke arah kamera seolah-olah ia baru saja melihat maut.
"Kalian dengar itu?" bisik Genta, suaranya parau, penuh vibrasi ketakutan yang dilatih selama tiga tahun terakhir. "Suara seretan rantai di belakang pintu studio ini... bukan bagian dari rencana kami malam ini."
Di kolom komentar siaran langsung YouTube "Misteri Tengah Malam", ribuan penonton menuliskan ketakutan mereka: 'Anjir, merinding!', 'Gue denger jelas!', 'Kabur Bang Genta, itu penunggu gedung lama!'
Padahal, di balik meja operator yang gelap, seorang kru bernama Rendy hanya sedang menggesekkan rantai kapal karatan ke permukaan lantai beton sambil menahan tawa. Ia memakai headphone, memantau gain suara agar terdengar "jauh tapi mengancam". Di sudut lain, seorang aktor bayaran berpakaian compang-camping dengan riasan latex yang menjijikkan sedang bersiap-siap melintas di celah pintu yang terbuka sedikit.
Inilah industri ketakutan. Bagi Genta, hantu adalah angka. Kuntilanak adalah saldo ATM. Dan jeritan penonton adalah dividen.
"Oke, kita break iklan dulu," ucap Genta datar begitu lampu ON AIR mati. Ekspresi ketakutannya hilang seketika, digantikan oleh wajah bosan seorang pria yang merindukan kopi panas.
"Gila, Ren. Rantainya kurang kencang gesekannya. Kurang low frekuensinya di mixer," kritik Genta sambil menyulut rokok.
"Sori, Bos. Rantainya licin kena minyak. Tapi tenang, viewers tembus 50 ribu tadi pas bagian 'suara tangisan bayi' yang pake sound effect dari aplikasi itu," jawab Rendy santai.
Genta tersenyum sinis. "Orang-orang itu bodoh. Mereka ingin ditakuti, dan kita menjualnya. Besok kita bikin judul: 'Podcast Berdarah: Kru Kami Kerasukan Massal'. Siapkan si Siti buat akting kayang di atas meja, ya?"
Cerita-cerita di podcast Genta selalu sama: rumah tua berhantu, tumbal proyek, atau janin yang hilang secara gaib. Semuanya adalah karangan tim kreatif yang mengumpulkan potongan berita kriminal lalu dibumbui dengan bumbu mistis. Pelaku "hantu" dalam setiap kejadian yang diceritakan Genta sebenarnya hanyalah manusia-manusia serakah yang bersekongkol demi konten.
"Target malam ini apa, Bos?" tanya Rendy.
"Kita panggil 'Noni Belanda' yang mati gantung diri. Siapkan lampu yang bisa flicker lewat remote. Pas gue bilang 'datanglah', lu mati-nyalain lampunya, terus si Siti lari lewat belakang kamera pake baju putih," instruksi Genta.
Rekaman berlanjut. Suasana kembali dibuat mencekam. Genta mulai membacakan "mantra" yang sebenarnya hanya potongan lirik lagu daerah yang ia ucapkan dengan nada berat.
"Datanglah... tunjukkan eksistensimu di ruangan ini..."
Lampu studio mulai berkedip-kedip secara ritmis. Rendy menekan tombol di bawah meja. Siti, sang aktris, sudah bersiap di balik tirai hitam.
"Saya mencium bau melati yang sangat menyengat!" seru Genta, sambil diam-diam menekan diffuser parfum aroma melati di bawah mejanya.
Tiba-tiba, sebuah bayangan putih melesat cepat di belakang Genta. Sesuai rencana. Penonton di kolom komentar menggila. Gift berupa "Paus" dan "Singa" berdatangan, mengalirkan uang jutaan rupiah ke dompet digital mereka dalam hitungan detik.
Namun, sesuatu yang aneh terjadi. Rendy di meja operator mengerutkan kening. Ia melihat ke arah tirai hitam. Siti, sang pemeran hantu, justru baru saja keluar dari toilet di pojok ruangan sambil membetulkan daster putihnya.
"Lho, Ti? Tadi yang lari siapa?" bisik Rendy lewat interkom telinga.
"Apaan sih, Ren? Gue baru mau keluar nih, perut gue mules," jawab Siti lewat radio komunikasi.
Wajah Rendy memucat. Ia melihat kembali ke layar monitor. Di sana, di belakang Genta yang masih asyik berakting ketakutan, berdiri sosok wanita dengan wajah hancur. Bukan riasan latex, tapi daging yang membusuk secara nyata.
"Bos... Genta... lihat belakang," suara Rendy bergetar. Kali ini bukan akting.
Genta, yang mengira ini adalah improvisasi brilian dari Rendy, tertawa kecil dalam hati. "Wah, nampaknya rekan saya di ruang operator melihat sesuatu! Mari kita arahkan kamera ke pojok ruangan!"
Kamera berputar otomatis. Namun, di layar monitor yang dilihat penonton, tidak ada apa-apa. Kosong. Hanya Genta yang duduk sendirian di ruangan luas itu.
"Kok nggak ada?" gumam Genta heran. Ia menoleh ke belakang. Kosong.
"Ren, jangan becanda. Mana hantunya? Siti mana?" Genta berbisik pelan, mulai kesal karena merasa flow kontennya terganggu.
"Bos... di layar gue nggak ada siapa-siapa... tapi di depan mata gue langsung... dia lagi megang pundak lu," suara Rendy hilang timbul, ia mulai merangkak mundur dari meja operator.
Tiba-tiba, suara tawa melengking terdengar. Bukan dari sound effect laptop Rendy. Suara itu muncul langsung dari mikrofon Genta, menggema di seluruh studio. Penonton di rumah mendengar suara itu dengan sangat jernih, namun mereka masih mengira itu adalah bagian dari settingan yang sangat niat.
‘Terima kasih...’ bisik sebuah suara di telinga Genta. ‘Cerita kalian bagus sekali... tapi bagian kematianku salah. Mau aku tunjukkan cara yang benar?’
Genta membeku. Ia merasakan tangan dingin, sedingin es kutub, melingkar di lehernya. Ia melihat ke arah monitor di depannya. Di sana, ia melihat dirinya sendiri sedang dicekik oleh bayangan hitam yang tidak kasat mata secara fisik, tapi nyata secara visual di kamera.
"Matikan... matikan siarannya, Ren!" teriak Genta panik.
Rendy mencoba menekan tombol stop stream, tapi tombol itu macet. Semua peralatan elektronik di studio itu seolah memiliki nyawanya sendiri. Lampu merah ON AIR kini tidak lagi merah, melainkan berubah menjadi hitam pekat.
Penonton tetap bersorak di kolom komentar: 'Gila, aktingnya juara!', 'Totalitas banget!', 'Kasih Singa lagi, guys!'.
Mereka tidak tahu bahwa di saat mereka mengetik pujian tentang betapa "seramnya" settingan tersebut, Genta benar-benar sedang meregang nyawa. Podcast yang dibangun di atas kebohongan itu akhirnya mendapatkan satu-satunya hal yang selama ini mereka palsukan: kenyataan.
Esok paginya, video tersebut menjadi viral sebagai "konten horor terbaik sepanjang masa". Genta ditemukan terduduk kaku di kursinya dengan ekspresi ketakutan yang luar biasa. Polisi menyatakan ia terkena serangan jantung.
Hingga saat ini, podcast itu masih menghasilkan uang dari iklan yang terus berjalan di video tersebut. Ironisnya, honor terbesar yang pernah diterima Genta justru datang saat ia sudah tidak bisa lagi menikmatinya—dan penonton tetap yakin bahwa kematiannya hanyalah bagian dari marketing tingkat tinggi untuk musim terbaru.
Dunia tetap menganggapnya settingan, bahkan ketika hantunya sudah tidak lagi berakting.