Suara motor Supra tua milik Aris batuk-batuk sebelum akhirnya mati tepat di depan gerbang sekolah. Aris menghela napas, menyeka keringat yang membasahi dahi di bawah terik matahari jam tujuh pagi yang mulai menyengat. Ia tidak punya waktu untuk memeriksa busi. Lima menit lagi bel berbunyi, dan sebagai guru PPPK paruh waktu, ia tahu benar bahwa kedisiplinan adalah harga mati yang selalu didengungkan dalam setiap rapat koordinasi.
"Pagi, Pak Aris! Motornya mogok lagi?" sapa Pak Satpam dengan nada setengah bercanda.
Aris memaksakan senyum, "Cuma minta dimanja sedikit, Pak."
Ia melangkah cepat menuju ruang guru, merapikan kemeja batiknya yang mulai pudar warnanya di bagian bahu. Di meja kerjanya, tumpukan berkas administrasi sudah menanti. Ada RPP yang harus diperbarui, jurnal kelas yang harus diisi, dan laporan kinerja bulanan yang formatnya baru saja berubah lagi—tiga kali dalam satu semester. Aris duduk sejenak, menatap layar laptopnya yang lemot. Di sudut hatinya, ada beban yang jauh lebih berat daripada tumpukan kertas itu: tagihan listrik yang sudah lewat jatuh tempo dua minggu dan pesan WhatsApp dari istrinya semalam tentang susu anak mereka yang tinggal dua sendok takar.
"Aris, sudah cek grup?" tanya Bu Ratna, guru senior di sebelahnya. "Kabarnya honor bulan ini mundur lagi sepuluh hari. Ada kendala di sistem pusat, katanya."
Jantung Aris serasa berhenti berdetak sesaat. Ia hanya mengangguk pelan, seolah informasi itu tidak meluluhlantakkan rencana keuangannya yang sudah disusun seketat mungkin. Sepuluh hari. Baginya, sepuluh hari adalah sepuluh kali putaran otak untuk mencari pinjaman atau sekadar memastikan dapur tetap mengepul.
Saat bel berbunyi, Aris berdiri. Ia menarik napas dalam-dalam, membuang segala sesak di dada, lalu melangkah menuju kelas 9B. Begitu melewati pintu kelas, Aris seolah memasuki dunia yang berbeda. Wajah-wajah polos, tawa renyah, dan teriakan "Selamat pagi, Pak!" menjadi penawar racun sesaat. Di depan kelas, Aris bukan lagi pria yang pusing karena tagihan listrik. Ia adalah pelita. Ia adalah sumber ilmu.
"Hari ini kita belajar tentang keadilan sosial dalam struktur masyarakat," ujar Aris sambil menuliskan judul di papan tulis. Ada ironi pahit yang ia telan sendiri saat menulis kata 'keadilan'.
Ia mengajar dengan penuh semangat, menjelaskan bagaimana sebuah sistem seharusnya melindungi yang lemah. Di tengah penjelasannya, seorang murid bernama Budi mengangkat tangan. "Pak, kalau kita sudah kerja keras tapi tetap miskin, itu salah sistem atau salah kita yang kurang pintar?"
Aris terdiam sejenak. Ia menatap mata Budi yang bening. Ia teringat dirinya sendiri—kuliah keguruan dengan harapan tinggi, lulus dengan nilai memuaskan, dan kini terperangkap dalam labirin birokrasi yang menghargai dedikasinya dengan angka yang bahkan tak cukup untuk membeli ban motor baru.
"Budi," suara Aris melembut. "Dunia memang tidak selalu memberikan apa yang kita berhak dapatkan tepat waktu. Tapi, kecerdasan dan ilmu adalah modal supaya kamu punya suara untuk menuntut keadilan itu. Jangan pernah berhenti jadi pintar, supaya kamu tidak bisa dibohongi oleh sistem yang rusak."
Sore harinya, Aris tidak langsung pulang. Ia mengenakan jaket kusamnya dan menyalakan aplikasi ojek online di ponselnya. Inilah "profesi kedua" yang menyambung nyawanya. Di kota kecil ini, pesanan tidak sebanyak di ibu kota, tapi lumayan untuk membeli bensin dan sedikit lauk.
Pesanan pertama membawanya ke sebuah perumahan elite di pinggir kabupaten. Ironisnya, rumah yang ia tuju adalah milik salah satu pejabat dinas pendidikan setempat. Aris menurunkan pesanan makanan cepat saji dengan tangan sedikit gemetar. Sang pemilik rumah keluar, menerima makanan tanpa melihat wajah Aris, hanya menyerahkan uang pas tanpa kembalian atau ucapan terima kasih. Aris kembali ke motornya, menatap rumah megah itu, lalu menatap motor tuanya. Ada rasa perih yang menjalar, tapi ia segera menepisnya. Ia harus mengejar target.
Ia baru pulang ke rumah kontrakan kecilnya saat jarum jam menunjuk angka sembilan malam. Di meja makan, istrinya, Ratih, sudah menunggu dengan sepiring nasi dan tumis kangkung.
"Bagaimana di sekolah, Mas?" tanya Ratih lembut.
Aris duduk, melepaskan lelahnya. "Honor mundur lagi sepuluh hari, Tih."
Ratih terdiam. Ia meletakkan sendoknya pelan. "Listrik sudah bunyi tit-tit sejak sore tadi. Ibu di kampung juga telepon, obat darah tingginya habis. Aku sudah bilang ke Ibu tunggu sebentar, tapi..." suara Ratih mengecil.
Aris meraih tangan istrinya. Tangan yang dulu halus, kini mulai kasar karena sering menerima pesanan jahitan tetangga demi membantu ekonomi keluarga. "Aku tadi narik ojek dapat lima puluh ribu bersih. Besok pagi aku belikan pulsa listrik dulu. Sisanya kita pakai buat beli susu adek."
"Mas, apa tidak sebaiknya cari kerja lain?" Ratih bertanya dengan sangat hati-hati, seolah takut melukai harga diri suaminya. "Mas punya ijazah bagus. Teman Mas yang di bank itu bilang ada lowongan administrasi. Gajinya jelas, cairnya pasti."
Aris menatap langit-langit ruang tamunya yang mulai berjamur karena bocor. Pertanyaan itu sudah ribuan kali muncul di kepalanya. Setiap kali ia melihat saldo ATM yang nol, setiap kali ia merasa lelah karena administrasi yang tak masuk akal, ia ingin berhenti.
"Aku belum bisa, Tih," jawab Aris lirih. "Tadi di kelas, Budi tanya soal keadilan. Kalau aku menyerah sekarang, aku merasa mengkhianati apa yang aku ajarkan ke mereka. Anak-anak itu... mereka satu-satunya alasan aku merasa masih punya martabat."
Puncak dari segala kelelahannya terjadi pada hari Selasa berikutnya. Hari itu, cuaca mendung seolah mewakili suasana hati Aris. Ia baru saja selesai mengikuti rapat sosialisasi aplikasi baru untuk pelaporan kinerja guru. Selama dua jam, ia mendengarkan pejabat birokrasi bicara tentang "digitalisasi pendidikan" dan "profesionalisme tanpa batas", tanpa sekalipun menyinggung soal kesejahteraan guru yang honornya masih mengendap di entah mana.
Setelah rapat, Aris kembali ke kelasnya yang sudah kosong. Murid-murid sudah pulang. Ia duduk di kursi guru yang kayunya sudah mulai lapuk. Ia membuka tasnya, mencari sisa roti yang ia bawa dari rumah, tapi ternyata sudah habis. Perutnya melilit. Ia teringat pagi tadi ia harus merelakan sarapannya untuk anaknya.
Tiba-tiba, ia melihat tumpukan tugas esai murid-muridnya. Ia membukanya satu per satu. Di lembar terakhir, ada tugas milik seorang siswi pendiam bernama Siti. Tugasnya adalah menulis tentang tokoh idola. Aris mengira Siti akan menulis tentang artis K-Pop atau pemain bola. Namun, matanya terpaku pada baris-baris tulisan tangan yang rapi.
"Tokoh idola saya adalah Pak Aris. Pak Aris tidak punya mobil mewah seperti bapaknya teman-teman saya, tapi Pak Aris punya waktu untuk mendengarkan saya yang sering diejek karena sepatu saya bolong. Pak Aris bilang, ilmu akan membawa saya ke tempat yang lebih tinggi daripada sekadar sepatu baru. Saya ingin jadi guru seperti Pak Aris, yang tetap tersenyum meskipun saya tahu Pak Aris pasti capek."
Aris terdiam. Tulisan itu seperti tamparan keras sekaligus pelukan hangat. Pertahanannya runtuh. Di ruang kelas yang sunyi itu, di tengah aroma debu kapur dan kayu tua, Aris menundukkan kepala di atas meja. Bahunya terguncang. Ia menangis diam-diam. Ia menangisi kemiskinannya, menangisi sistem yang tidak adil, namun ia juga menangis karena merasa tidak layak mendapatkan pujian setinggi itu dari seorang anak kecil yang hidupnya mungkin lebih sulit darinya.
Lelah yang ia rasakan bukan sekadar lelah fisik, melainkan lelah batin karena terus-menerus mencoba menjadi "pahlawan" saat dirinya sendiri sedang sekarat. Ia merasa seperti lilin yang dipaksa menerangi ruangan besar, tapi tak ada yang peduli jika sumbunya mulai habis dan lelehannya menyakiti dirinya sendiri.
Sepuluh hari kemudian, notifikasi di ponselnya berbunyi. Honor yang dinanti akhirnya cair. Aris segera menuju ATM terdekat. Begitu melihat angka di layar, ia langsung menghitung cepat.
"Bayar utang di warung Bu Haji, kirim ke Ibu di kampung, bayar kontrakan yang nunggak sebulan, beli obat Ratih, cicilan motor..."
Hanya dalam waktu lima belas menit, saldo itu kembali ke angka minimal. Honor yang datang terlambat itu hanya sekadar mampir untuk kemudian menyebar ke tangan orang lain. Tidak ada sisa untuk membeli baju baru atau sekadar makan enak di restoran bersama anak istri. Aris keluar dari ruang ATM dengan perasaan hampa. Inilah realitas yang harus ia telan setiap bulan.
Namun, saat ia berjalan kembali ke motornya, ia melihat Budi dan beberapa murid lainnya sedang duduk di pinggir jalan, menunggu angkot. Mereka melihat Aris dan melambaikan tangan dengan semangat yang luar biasa.
"Pak Aris! Besok jangan lupa ya, Pak, lanjutin cerita soal sejarah dunia!" teriak Budi.
Aris menghidupkan motor Supranya. Mesinnya masih batuk-batuk, suaranya masih kasar. Tapi saat ia menatap wajah-wajah itu, ada sesuatu yang kembali tegak di dalam dirinya. Ia sadar, kesejahteraannya mungkin memang akan selalu datang terlambat, atau mungkin tidak akan pernah benar-benar datang dalam bentuk tumpukan uang. Namun, ada harga diri yang tak bisa dibayar oleh birokrasi mana pun: kepercayaan bahwa di tangannya, anak-anak ini punya peluang untuk memiliki masa depan yang lebih baik darinya.
Aris memutar gas motornya, perlahan menyusuri jalanan kabupaten yang berlubang. Ia akan pulang, mencium kening anaknya, dan besok pagi ia akan kembali lagi ke kelas. Bukan sebagai pegawai yang tunduk pada angka, melainkan sebagai seorang guru yang tahu bahwa di ruang kelas sederhana itu, harapannya—dan harapan murid-muridnya—masih tetap hidup.
Dunia mungkin tidak adil, tapi Aris memilih untuk tidak kalah oleh ketidakadilan itu. Ia tetap menjadi guru, bukan karena ia tidak punya pilihan lain, tapi karena ia menolak membiarkan kegelapan memenangkan pertarungan di hati anak-anak didiknya.