SCBD itu kalau dilihat dari Instagram kayak surga LinkedIn.
Gedung-gedung tinggi, outfit kerja aesthetic, kopi delapan puluh ribu yang katanya “notes of caramel and hope”.
Padahal aslinya? Notes of cicilan and nope.
Nama gue Arga.
Umur 28.
Status: single.
Gaji: UMR Jakarta.
Mental: lagi buffering.
Setiap pagi gue naik MRT dari kosan 3x3 meter yang kalau buka pintu langsung ketemu kasur. Kamar mandi di luar, sharing sama tiga orang yang vibes-nya beda-beda: satu anak startup crypto, satu sales asuransi, satu lagi katanya trader tapi tiap hari cuma scroll TikTok.
Di MRT, semua orang pakai baju rapi. Kemeja disetrika, sepatu kinclong, parfum mahal. Kalau dilihat sekilas, kita semua kelihatan sukses. Kayak poster “Indonesia Emas 2045”.
Padahal saldo e-wallet banyak yang emasnya tinggal 0,45.
Gue kerja di salah satu perusahaan konsultan yang kantornya full kaca. Dari luar kelihatan keren. Dari dalam? Targetnya kayak dikejar setan KPI.
Jam 08.30 udah duduk manis di meja. Laptop nyala. Slack bunyi. Email masuk.
“Reminder ya, deck untuk klien sore ini harus revisi total.”
Revisi total.
Itu kalimat paling horor setelah “kita perlu bicara”.
Atasan gue, sebut saja namanya Mas Yoga. Umur 34. Rambut klimis. LinkedIn-nya inspirational banget.
Kalau meeting selalu bilang, “Kita di sini bukan cuma kerja, kita bertumbuh.”
Gue pengen jawab, “Mas, yang tumbuh cuma tekanan darah saya.”
Siang hari, anak-anak kantor turun ke coffee shop bawah gedung. Harga kopi di situ cukup buat beli makan gue dua hari. Tapi kalau nggak ikut, takut dibilang nggak solid. Budak korporat itu bukan cuma kerja, tapi juga jaga citra.
“Ga, lo nggak nikah-nikah?” tanya Dito sambil aduk americano.
Nah.
Topik wajib.
Lebih rutin dari stand up meeting.
“Belum ada modalnya, To. Cinta doang nggak bisa bayar catering.”
Mereka ketawa.
Gue juga ketawa.
Padahal hati kayak disetrika tanpa air.
Masalahnya bukan cuma duit.
Tapi duit adalah akar dari hampir semua overthinking.
Gaji gue habis buat kos, makan, transport, kirim ke orang tua di kampung, dan sedikit cicilan motor. Sisa? Cukup buat jajan cilok premium.
Orang tua gue di Bekasi sering telepon.
“Ga, kamu kan sudah kerja di Jakarta, masa belum ada calon?”
Setiap dengar itu, gue langsung pasang mode comedian.
“Iya Bu, lagi proses tender.”
Ibu ketawa.
Tapi setelah itu pasti ada jeda.
Jeda yang isinya harapan.
Bapak lebih singkat.
“Kamu jangan terlalu lama sendiri. Umur nggak nunggu.”
Iya Pak, umur nggak nunggu.
Tapi tabungan juga nggak numpuk.
Di kantor, tekanan beda lagi.
Klien minta revisi, atasan minta perform, HR kirim email soal “evaluasi kuartal”.
Semua serba target.
Sore itu, presentasi gue di depan klien zonk. Slide udah bagus, data lengkap, tapi klien bilang, “Kurang tajam.”
Kurang tajam.
Padahal hati gue udah kayak silet.
Mas Yoga habis meeting cuma bilang, “Arga, kamu harus lebih lapar.”
Lapar?
Mas, saya tiap akhir bulan juga lapar.
Malamnya gue lembur. Jam 10 baru keluar gedung. SCBD malam itu indah banget. Lampu kota, jalanan bersih, mobil-mobil mewah lewat kayak parade keberhasilan orang lain.
Gue duduk di trotoar Sudirman.
Ngelepas sepatu sebentar.
Narik napas panjang.
Kadang gue mikir, hidup gue ini lagi dites apa sih? Pressure test? Stress test? Atau cuma test mental tanpa kisi-kisi?
HP gue bunyi. Notifikasi Instagram.
Temen kuliah gue, Fajar, upload foto lamaran. Caption-nya: “Finally with my forever.”
Forever.
Gue lihat story berikutnya: mereka beli rumah di pinggir Jakarta.
Gue buka aplikasi bank.
Saldo gue cukup buat beli pintu rumahnya mungkin.
Ada rasa iri?
Ada.
Ada banget.
Tapi gue bungkus pake humor.
Gue update close friends:
“Selamat buat yang lamaran. Saya lamaran kerja aja masih probation.”
Temen-temen close friends reply ngakak.
Gue juga ketawa.
Padahal dada sesek.
Hidup jadi budak korporat itu unik.
Kita kelihatan sibuk, tapi kadang nggak yakin lagi sibuk ngejar apa.
Besoknya, HR umumkan restrukturisasi kecil-kecilan.
Tiga orang dari divisi lain kena PHK.
Kantor langsung sunyi.
Semua pura-pura kerja, tapi aslinya update LinkedIn.
Gue buka laptop, tapi tangan dingin.
Kalau gue kena, gimana?
Tabungan cuma cukup buat survive dua bulan.
Nikah? Jangankan nikah, beli galon aja mikir.
Jam makan siang, gue ke toilet kantor.
Ngaca.
Muka capek.
Mata panda corporate edition.
Tiba-tiba dada sesek.
Air mata keluar.
Gue nangis pelan di toilet gedung kaca yang toiletnya lebih mahal dari kosan gue.
Lucu ya.
Gedungnya tinggi, tapi mental penghuninya sering lagi rendah-rendahnya.
Gue cuci muka.
Lihat bayangan sendiri.
“Ga, lo kuat kok. Cuma lagi dites.”
Kalimat klise.
Tapi cuma itu yang bisa gue pegang.
Sore itu Mas Yoga manggil gue.
“Arga, kamu tahu kenapa kamu belum naik level?”
Wah.
Ini pasti serius.
“Kamu terlalu aman. Takut ambil risiko.”
Gue pengen jawab, “Mas, risiko terbesar saya tiap bulan adalah saldo minus.”
Tapi yang keluar cuma, “Siap, Mas. Saya akan improve.”
Keluar dari ruangan, kepala gue penuh.
Apa iya gue terlalu main aman?
Atau memang sistemnya aja yang bikin kita segini-gini aja?
Malamnya gue nggak langsung pulang. Gue jalan kaki sampai Bundaran HI. Lihat orang-orang lari sore, pasangan foto-foto, turis senyum-senyum.
Jakarta itu kejam tapi cantik.
Kayak mantan.
HP gue bunyi lagi. Ibu video call.
“Ga, ibu lihat di Facebook, anak Bu Rini sudah punya cucu.”
Serius.
Ini pressure test level dewa.
“Iya Bu, nanti Arga juga punya. Sabar ya, lagi nabung dulu.”
Ibu diam.
Terus bilang pelan, “Ibu cuma takut kamu kesepian.”
Nah itu.
Itu yang bikin dada gue nyesek bukan main.
Karena jujur, kadang gue juga takut.
Takut sendirian.
Takut gagal.
Takut jadi cerita “dulu kerja di Jakarta” tapi pulang tanpa apa-apa.
Beberapa hari kemudian, gaji masuk.
Notifikasi yang paling ditunggu budak korporat.
Lima menit pertama: bahagia.
Menit keenam: bayar kos.
Menit ketujuh: cicilan.
Menit kedelapan: kirim ke orang tua.
Menit kesembilan: saldo kembali realistis.
Gue ketawa sendiri.
“Hidup kok kayak game survival.”
Di kantor, gue mulai coba beda.
Ambil proyek tambahan.
Ngajuin ide walau deg-degan.
Bukan karena pengen jadi CEO, tapi karena gue nggak mau selamanya jadi penonton.
Suatu hari, presentasi gue diapresiasi klien.
Mas Yoga cuma bilang, “Nah, gitu dong.”
Kalimat sederhana.
Tapi buat gue rasanya kayak dapet medali.
Malam itu gue nggak lembur.
Gue beli nasi goreng pinggir jalan. Duduk di trotoar, makan sambil lihat lampu kota.
Gue sadar sesuatu.
Mungkin hidup gue nggak se-glamor Instagram.
Mungkin gue belum bisa nikah tahun ini.
Mungkin gaji gue belum dua digit.
Tapi gue masih berdiri.
Masih berusaha.
Masih bisa ketawa walau pahit.
Pressure test itu bukan buat bikin kita pecah.
Kadang cuma buat lihat seberapa lentur kita.
Gue belum sukses.
Belum mapan.
Belum punya rumah.
Tapi gue mulai berhenti bandingin timeline gue sama orang lain.
Karena ternyata, tiap orang punya versi struggle masing-masing.
SCBD tetap gemerlap.
Gedung kaca tetap berdiri.
Mas Yoga tetap ngomong soal growth.
Tapi sekarang tiap kali ada yang nanya, “Kapan nikah?”
Gue jawab santai,
“Doain aja. Sambil saya upgrade diri dulu. Biar nggak cuma ganteng doang, tapi juga siap.”
Mereka ketawa.
Gue juga ketawa.
Bedanya, sekarang ketawanya nggak terlalu pahit.
Hidup mungkin masih pas-pasan.
Tapi mental gue nggak boleh ikut pas-pasan.
Dan kalau suatu hari nanti gue benar-benar lulus dari pressure test ini,
gue mau bisa bilang:
“Gue pernah hampir nyerah di trotoar Sudirman.
Tapi gue milih lanjut.”
Karena kadang, yang bikin kita kuat bukan karena nggak sakit.
Tapi karena kita tetap jalan meski sakitnya nyata.
Dan sebagai budak korporat SCBD yang gajinya UMR tapi mimpinya internasional,
gue cuma punya satu mantra:
“Pelan-pelan aja. Yang penting nggak berhenti.”
Walau ya…
Kadang sambil nangis dikit di toilet kantor.