Angin berhembus kencang.
Hujan turun deras.
Aku berdiri menatap sebuah apartemen.
Tubuhku kuyup.
Senyum kecil terlihat dari wajahku.
“Aku menemukannya.”
Aku berjalan pelan. Mulutku terus bergumam tak jelas.
Aku masuk ke dalam lift.
Dan memencet tombol lantai dua puluh delapan.
“Hah, lama.”
Aku terus menatap ke atas.
Kulihat sebuah angka.
Delapan.
Aku tersenyum melihat angka itu.
“Infinity,” ucapku.
Air terus menetes dari bajuku. Lantai di dalam lift menjadi basah.
Lampu lift terus berkedip tanpa henti. Aku hanya menatap datar ke depan.
Saat lampu menyala.
Kulihat bayangan.
Tubuhku merinding.
Hawa di dalam lift terasa dingin.
Lidahku kelu.
Bibirku bergetar.
Aku mendengar suara gigi beradu dari belakangku.
“Kenapa sampainya lama banget?" batinku.
Suara itu terasa semakin dekat denganku.
Aku melirik ke belakang.
Aku membeku saat melihatnya.
“Kamu menyadarinya," bisiknya.
Jantungku berdetak cepat.
Nafasku terasa semakin cepat.
Ting.
Pintu lift terbuka.
Aku langsung berlari.
Aku mengetuk pintu dengan keras.
Aneh…
Tidak ada yang membukanya.
“Tolong buka pintunya!" histerisku.
Tapi.
Tetap tidak ada yang membukanya.
Aku terduduk menangis.
Bayangan itu semakin mendekat ke arahku.
Aku menutup mata.
Tiba-tiba.
Ting.
Terdengar suara pintu lift terbuka.
Aku membuka mata.
Seseorang keluar dari sana.
Ia hanya menatap lurus ke depan dan berjalan melewatiku.
Aku terdiam menatapnya.
Orang itu langsung masuk ke unitnya.
“Kenapa dia gak peduli sama aku?" batinku.
Aku terus mengetuk pintu tanpa henti.
“Kenapa gak dibuka?" histerisku.
Tiba-tiba.
Pintu terbuka.
Seorang wanita tua keluar.
"Bunda,” gumamku.
Senyumku mengembang.
Mataku berbinar melihat Bunda.
Bunda hanya menatap kosong ke depan.
Matanya terlihat sembab.
"Bunda, aku minta maaf,” ucapku menangis.
"Maaf aku udah ngelawan Bunda,” histerisku.
Bunda hanya berjalan lurus ke arah lift.
Langkahnya terlihat lemah.
"Bunda masih marah sama aku,” gumamku.
Aku duduk meringkuk.
Menangis histeris.
Flashback.
“Aku gak butuh Bunda! Bunda cuma beban buat aku!" bentakku.
Air mata Bunda menetes.
Bunda terpaku. Tubuhnya gemetar hebat. Bibirnya bergetar menahan tangis.
Aku berjalan cepat ke kamar.
Tiba-tiba Bunda menarik rambutku.
Ia menyeretku keluar rumah.
“Jangan pernah kembali ke rumah ini lagi!" bentak Bunda.
Wajah Bunda memerah.
Matanya terlihat penuh amarah.
Bibir Bunda bergetar.
“Kamu…,”
"Kamu bukan anak Bunda lagi,” ucapnya.
Suaranya parau saat mengatakannya.
Brak.
Suara pintu terdengar keras.
Aku terduduk membisu di depan pintu.
Hatiku terasa langsung kosong.
“Bunda," gumamku lemah.
Aku berjalan gontai di tepi jalan raya.
Tanpa alas kaki.
Hanya baju tidur yang menempel di tubuhku.
Hujan turun deras.
Angin berhembus kencang hingga menembus tulang.
Aku menangis keras di bawah guyuran hujan.
Beberapa hari setelahnya, aku kembali ke rumah.
Tapi…
Rumah itu kosong.
"Loh Reva kok kesini? Bukannya kalian sudah pindah rumah?" tanya tetangga saat aku sedang mengelilingi rumah.
Aku menatap bingung.
“Ah ya, ada yang ketinggalan," jawabku canggung.
“Bunda pindah kemana?" batinku.
Aku terus mencari tempat tinggal Bunda.
Tanpa alas kaki dan hanya mengenakan baju tidur.
Tampilanku saat ini sudah lusuh.
Flashback selesai.
Saat aku duduk di halte. Aku melihat Bunda yang mengenakan pakaian olahraga.
Dia berlari.
Aku mengejarnya.
Jarakku tertinggal jauh dengan Bunda.
Aku melihat Bunda dari kejauhan, dia masuk ke sebuah apartemen.
Aku tersenyum.
“Aku menemukannya," gumamku bahagia.
Saat aku akan berjalan.
“Reva!" panggil seseorang.
Aku melihat ke arahnya. Dan aku tersenyum ramah.
“Ayah," gumamku.
Aku berlari memeluk Ayah.
“Kenapa kamu sangat lusuh?" tanya Ayah.
Aku tidak menjawabnya dan hanya menangis.
Ayah menyuruhku naik ke mobilnya.
Aku menurutinya.
“Kita mau kemana Yah?" tanyaku.
“Ke rumah Ayah," jawab Ayah datar.
Aku tersenyum canggung.
Kulihat jalanan semakin terjal.
“Hutan?!" batinku.
Aku menatap curiga.
“Yah, rumah Ayah di mana?" tanyaku gugup.
Ayah hanya diam.
Wajahnya datar.
Mobil berhenti.
Ayah melihat ke arahku dengan senyum mencurigakan.
“Ayah…" ucapku terbata.
Aku mencoba membuka pintu mobil.
Tapi.
Ayah langsung memukul wajahku dengan sangat keras, hingga kepalaku membentur dashboard.
Tubuhku limbung.
Mataku buram.
“Ayah," gumamku lemah.
Nafasku menjadi lemah. Penglihatanku perlahan menggelap.
Ayah membopong tubuhku ke dalam hutan.
Aku dibaringkan di tanah basah yang terguyur hujan.
Tiba-tiba suara petir menggelegar, membangunkanku dari pingsan.
Aku mengerang.
Mataku perlahan terbuka.
Kulihat Ayah menatap datar ke arahku.
Senyum tipis terlihat dari wajahnya.
Aku berusaha bangkit.
Tapi.
Ayah menarik rambutku.
“Bundaaaa!!" teriakku.
Ayah memukulku tanpa ampun.
Aku berusaha berlari.
Tapi.
Ayah menarik kakiku hingga aku terjatuh.
“Kamu yang sudah menghancurkan mimpiku!" Suara Ayah terdengar penuh amarah.
“Kamu yang membuat bundamu pergi meninggalkanku!" bentak Ayah.
Aku tidak bisa melihat wajah Ayah dengan jelas.
Wajahku membengkak hingga tak bisa dikenali.
Air mataku menetes.
Aku tidak bisa bicara.
Tubuhku lemas.
Detak jantung dan nafasku terasa semakin melemah.
Ayah membanting tubuhku.
Dia berjalan membelakangiku.
Ayah mengambil sebatang kayu.
Saat aku berusaha bangkit.
Tak.
Suara kayu dan tengkorak terdengar beradu.
Aku ambruk.
"Bunda…," suaraku tercekat.
Tak… tak… tak…
Suara kayu dan tengkorak terus terdengar di telingaku.
Hingga akhirnya…
Suara itu menghilang.
......
Malam ini aku berada di depan sebuah apartemen.
"Aku menemukannya,” gumamku tersenyum.
Hujan turun deras.
Angin berhembus kencang.
Tampilanku lusuh.
Aku berjalan masuk ke dalam.
Aku masuk ke dalam lift.
Dan menekan tombol lantai dua puluh delapan.
Kulihat ke atas tertera angka delapan.
Dan bayangan itu muncul kembali.
"Kenapa semuanya terus berulang?” gumamku.
Tapi kali ini aku bisa masuk ke rumah Bunda.
“Aku bisa masuk?" gumamku.
Tiba-tiba.
Aku mendengar suara tangisan.
Bunda terlihat menangis di meja makan.
“Reva kenapa kamu…," ucap Bunda terputus.
Aku melihat TV menyala dengan suara keras.
“Jasad seorang wanita tanpa identitas yang ditemukan di hutan sudah dikembalikan kepada pihak keluarga dan telah dimakamkan tiga hari yang lalu"
“Reva kenapa kamu ninggalin Bunda dengan cara seperti ini!" histerisnya.
Tubuhku membeku.
Nafasku memburu. Jantungku berdetak cepat.
"Ah, gak mungkin itu aku” gumamku tersenyum kecut.
TV itu kembali memberitakan hal yang sama.
“Tersangka pembunuhan wanita di hutan sudah tertangkap. Pelaku adalah Ayah kandung dari wanita tersebut"
Mataku bergetar gelisah.
"Ayah!” gumamku.
Air mataku menetes.
Aku berjalan mendekati Bunda.
Bunda menatap ke arahku.
Tapi entah kenapa tatapannya tidak ke arahku.
Aku melihat arah pandang Bunda.
Mataku membulat.
Aku melihat pigura fotoku dikelilingi bunga.
Di depan fotoku ada sebuah lilin menyala.
“Aku!?" gumamku lemah.
Air mataku menetes berbarengan dengan tetesan air dari bajuku.
Setiap malam.
Aku berdiri di sana.
Menemui Bunda.
Seperti biasa.