Aku Hani, aku pernah mengagumi seseorang dalam diam. Semua ini bermula saat aku masih duduk di kelas VII SMP. Saat itu, kelas ku merupakan petugas upacara di hari Senin. Aku mendapatkan bagian untuk menerjemahkan ayat Al-Qur'an yang dibacakan oleh temanku, sebut saja namanya Zainal.
Zainal itu menurutku orangnya pendiam, sama seperti aku yang tidak banyak berbicara, bahkan kami tidak pernah berkomunikasi secara langsung.
Awalnya, upacara berlangsung dengan baik dan khidmat. Saat pembacaan ayat suci Al-Qur'an, aku dan Zainal duduk di kursi yang disediakan. Al-Qur'an dibukanya, menampilkan surah An-Naba. Aku memegang mic yang mengarah langsung ke arahnya.
Semua berlangsung dengan baik, lantunan ayat suci Al-Qur'an yang dibacanya membuat hatiku terasa terenyuh. Di tengah-tengah ia membaca surah tersebut, tiba-tiba saja tanganku bergetar hebat. Jujur saja, aku merasa gugup saat itu.
Aku menoleh, dengan maksud untuk melihat tanganku yang bergetar. Namun, secara tidak sengaja aku menangkap wajahnya yang terlihat begitu serius saat membacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Suaranya yang terdengar begitu menenangkan, serta wajah tampannya membuat jantungku langsung berdegup kencang.
Aku menundukkan pandanganku, tubuhku bergetar hebat. Saat tiba giliranku untuk membaca terjemahan ayat, aku merasa suaraku terdengar bergetar. Aku mencoba untuk menenangkan diri dan melanjutkan tugasku sebagai petugas upacara hari itu. Untung saja aku bisa mengendalikan perasaan aneh yang menguasai diriku saat itu.
Sejak saat itu pula, aku mulai merasakan sesuatu yang aneh setiap kali melihatnya. Langkahnya yang santai, tatapannya yang dingin benar-benar membuatku terpesona.
Aku sering mencuri-curi pandang ke arahnya, berharap ia menyadari bahwa aku mengaguminya. Tapi ia sama sekali tidak menyadari hal itu.
Tidak ada percakapan, tidak ada basa-basi, kami hanya sebatas teman sekelas yang terlihat biasa saja. Aku sering menuliskan namanya di dalam buku catatan ku, tidak ada yang tahu bahwa aku menyukainya.
Aku memendam perasaan itu sendiri, dan hanya mengaguminya dalam diam. Setiap kali ia lewat di sampingku, aku selalu menundukkan pandanganku. Aku sama sekali tidak berani melihatnya secara langsung. Aku menyimpan erat perasaan itu, hingga akhirnya perasaan ku bertambah.
Aku memutuskan untuk curhat dengan sahabatku, Dea, sahabat masa kecilku. Hanya dirinya orang yang menjadi temanku saat aku masih duduk di kelas VII SMP. Aku mengatakan pada dirinya bahwa aku mengagumi seseorang, ia mendengarkan dengan baik.
Bulan berganti tahun, dan aku sudah duduk di kelas VIII SMP. Aku dan Zainal berbeda kelas, dan aku merasa ada sesuatu yang kurang saat ia tidak ada di kelas yang sama dengan ku.
Setiap jam istirahat tiba, aku selalu menoleh ke arah kelasnya. Melihatnya dari kejauhan saja sudah membuat jantungku berdegup kencang. Jujur, aku tidak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya. Ingin rasanya aku mengatakan bahwa aku menyukainya, tapi itu mustahil aku lakukan.
Setiap kami bertemu, tidak ada sepatah katapun yang terucap. Zainal yang terkesan cuek, sementara aku yang pendiam dan pemalu, hingga membuatku merasa bahwa mungkin diam adalah bahasa terbaik. Di setiap kegiatan sekolah, orang yang pertama aku cari adalah dirinya. Aku memang tidak berkata-kata, tapi pandangan ku selalu saja mencari kemana ia berada.
Perasaan itu terus berlanjut hingga aku duduk di kelas IX SMP, dan lagi-lagi kami berada di kelas yang berbeda. Oh, jujur saja aku merasa frustasi dengan perasaan terpendam ini. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk menuangkan perasaan ini ke dalam buku diary.
Setiap kali aku lewat depan kelasnya, aku diam-diam mencuri pandang ke arah dalam kelas. Ia tidak terlihat cuek seperti yang aku duga, ia justru bercanda tawa dengan beberapa teman sekelasnya. Tapi, aku tidak berani melihatnya terlalu lama, karena aku takut perasaan ini terus berlabuh tanpa arah.
Aku memutuskan pergi ke arah lain, bersama teman-teman ku. Kami berbincang-bincang, membahas tentang banyak hal. Tapi aku tidak bisa mengalihkan pikiran ku dari Zainal, dan aku tidak tahu alasannya apa.
Hatiku seakan tertarik untuk memandang Zainal di setiap kesempatan, meskipun hanya sesaat tapi benar-benar membuatku merasa bahagia. Dan benar saja, tiba-tiba ia lewat dengan langkah santainya tepat di hadapan ku. Ia bersama kedua orang teman laki-lakinya yang aku tidak tahu namanya siapa.
Degup jantungku langsung berdegup kencang, dan aku langsung mengalihkan pandangan ku ke arah lain. Saat itu, aku benar-benar tidak tahu bagaimana perasaan ku untuknya. Apakah sekedar mengagumi atau mungkin cinta? Ah, rasanya aku tidak ingin memikirkan hal itu lebih lanjut.
Suatu hari, ketika aku sedang menunggu teman pulang ku yang kebetulan sekali teman sekelas Zainal, mataku tidak sengaja melihatnya begitu dekat dengan seorang gadis. Hatiku terasa sakit, dan aku tidak tahu kenapa tiba-tiba rasa cemburu itu muncul. Tapi aku tidak bisa berkata apa-apa, karena memang pribadi ku yang sedikit introver.
Sejak saat itu, aku mencoba untuk melupakan Zainal di dalam benakku. Tapi, setiap kali aku mencoba untuk melupakannya, mengapa perasaan ini kian bertambah?
Hari-hari berlalu, dan kami sudah bersekolah di tingkat selanjutnya. Aku dan dirinya lulus di sebuah SMK, dengan jurusan yang berbeda. Aku lulus di jurusan tata boga, sementara Zainal lulus di jurusan akuntansi.
Aku terus mencoba untuk melupakannya, melupakan perasaan aneh yang sudah terpendam sejak lama ini. Namun, tetap saja aku tidak bisa melupakannya.
Di SMK, kami juga tidak pernah berbicara walau hanya sekedar kata 'hai'. Kami juga jarang bertemu atau sekedar berpapasan, tapi pikiranku tetap saja tertuju padanya.
Hingga suatu hari, aku melihatnya. Aku melihatnya begitu dekat dengan gadis yang sama, aku langsung berpikir bahwa mungkin mereka berpacaran. Rasa cemburu itu kembali muncul, tapi aku tidak tahu harus melakukan apa.
Aku perlahan mencoba untuk melupakannya secara paksa. Aku tidak ingin perasaan ini terus berlanjut, terlebih tidak memang tidak ada hubungan di antara kami, jelas saja membuat hati ku terasa sakit.
Aku sempat melupakannya, bahkan tidak mengingatnya lagi. Tapi tiba-tiba saja perasaan itu kembali, padahal saat itu aku sudah mempunyai seorang kekasih. Perasaan ini sungguh membuatku gila, lagi-lagi Zainal yang muncul di dalam benakku.
Hubunganku dengan sang pacar juga tidak berjalan baik, kami sering putus nyambung karena kebohongan dirinya. Aku memutuskan hubungan kami, dan memilih untuk memendam perasaan ini sendirian. Aku merasa serba salah, di satu sisi aku merasa sakit hati dengan kebohongan sang mantan, sementara di sisi lain hatiku terasa sakit setiap mengingat Zainal. Perasaan aneh apa sebenarnya ini?
Hari kelulusan pun tiba. Dan sejak saat itu, aku tidak pernah melihatnya lagi. Bahkan, aku tidak tahu sekarang dimana dirinya berada. Aku memang berteman dengan dirinya melalui sosial media, tapi aku sama sekali tidak berani untuk menanyakan kabarnya.
Setelah lulus, kami sibuk dengan urusan masing-masing. Dan aku berhasil untuk melupakan dirinya dengan pekerjaanku. Tapi, tanpa diharap, tiba-tiba ia datang di mimpiku. Ia mengatakan bahwa ia menyayangiku, bahwa ia memiliki perasaan yang sama dengan ku. Ia memegang tanganku, bahkan membelai rambut ku penuh kasih sayang.
Aku terbangun dengan nafas yang tersengal-sengal, mimpi itu terasa begitu nyata. Dan saat terbangun, tiba-tiba perasaan itu kembali lagi. Aku mengacak rambutku frustasi, mengapa harus dirinya yang muncul di dalam mimpiku terlebih di saat aku telah melupakannya?
Hari-hari berlalu, dan mimpi tentang dirinya muncul kembali. Mimpi yang kali ini tentang kami yang sudah memiliki hubungan, kami berjalan bersama melewati jalanan yang biasa dilalui semasa SMP. Saat terbangun, hatiku terasa sedih. Aku berusaha keras untuk melupakannya, tapi kenapa rasanya begitu sulit?
Suatu hari, tiba-tiba saja aku merindukannya. Aku menscroll sosmednya, ingin tahu kabarnya tanpa bertanya. Namun, aku langsung berhenti ketika melihat story nya dengan sang kekasih, seorang gadis yang berbeda saat masa sekolah.
Mungkin memang nasibku hanya menjadi seorang gadis yang mengangumi dalam diam. Aku tersenyum, merelakannya bahagia dengan yang lain, meskipun rasa ini masih ada.
Aku hanya berharap bisa bertemu dengannya lagi di lain kesempatan, berharap ia bisa bahagia dengan pilihannya, dan begitu juga harapanku untuk diriku sendiri.
Mengagumi dalam diam itu memang terasa sangat menyakitkan. Perasaan yang hadir tanpa diduga terasa tersimpan di dalam hati, bahkan untuk sekedar melupakannya pun begitu sulit. Perasaan yang hilang dan muncul kembali membuatku benar-benar merasa bingung, seolah-olah ia mempunyai ruang tersendiri di dalam hati ini. Aku hanya berharap, semoga ia tidak melupakan ku sebagai teman sekelasnya dulu.
***
Author note: Makasih ya yang udah baca, semoga menjadi hiburan yang bermanfaat :)
Tamat...