Disebuah desa, seorang anak perempuan sedang berlari sambil menangis menuju ke rumahnya. Gadis kecil itu terlihat cantik dan sangat menggemaskan, meski hidup di desa. Namun kulit gadis kecil itu tetap bersih dan terawat, karena kedua orang tuanya sangat menyayanginya.
"Huuuu... Uuuu... Huuu... Ibu... Ayah...!" Seru gadis kecil itu sambil memasuki rumah dan memanggil kedua orang tuanya.
Kedua orang tuanya yang saat itu sedang berada di kebun belakang rumah pun segera bergegas menghampiri.
"Kok seperti suara Alika itu mas, kenapa ya?" Lirih Vira pada sang suami.
"Iya, itu suara anak kita! Ayo kita lihat sekarang!" Jawab sang suami yang bernama Yudha sambil bergegas menuju ke rumahnya.
"Alika...! Kamu kenapa sayang?" Seru Yudha sambil mencari keberadaan sang anak.
"Huuu.... Huuuu... Uuuu'' suara Alika yang masih menangis tersedu-sedu.
"Sayang kamu kenapa?" Tanya Yudha setelah menemukan sang anak dan langsung memeluknya erat untuk menenangkan.
"Iya sayang, kamu kenapa nangis? Apa ada orang yang mengganggu kamu?" Tanya Vira juga ikut khawatir.
"Hiks... Hiks... Hiks... Ayah, ibu, kata Eli aku anak haram. Makanya nenek sama kakek nggak pernah suka sama Alika" jawab Alika yang masih terisak.
"Huft... Memang mulut anak itu nggak pernah di sekolahin ya. Sama persis seperti ibunya yang seneng banget menyebarkan gosip!" Kesal Vira sambil mengepalkan tangannya setelah mendengar jawaban dari sang anak.
"Ssssttt... Alika jangan percaya sama omongan dia ya. Karena Alika itu anak ayah, mana mungkin Alika anak haram? Alika itu anak ayah, anak kandung ayah. Jadi apapun yang dikatakan orang itu nggak usah di percaya, mereka hanya iri melihat Alika yang menjadi kesayangan ayah" ucap Yudha mencoba menenangkan anaknya.
"Iya benar banget itu sayang. Kamu itu harus kuat, jangan pernah perduliin perkataan jelek mereka. Mereka hanya iri melihat yang jauh lebih baik dari mereka" tambah Vira sambil tersenyum dan mengusap kepala anaknya dengan penuh kasih sayang dan kelembutan.
"Mereka memang benar-benar keterlaluan, anak kecil saja masih di hina dan di jelek-jelekin" lirih Vira dalam hati yang kesal pada keluarganya.
"Tapi... Kenapa kakek sama nenek sangat membenci Alika Bu? Padahal Alika nggak pernah menyusahkan mereka. Dan Alika juga nggak pernah minta apapun sama mereka p" tanya Alika penasaran dengan tatapan polosnya.
Vira dan Yudha pun hanya bisa saling pandang, sebenarnya mereka juga bingung harus menjawab apa pada Alika. Karena Vira memang dari dulu kurang kasih sayang mereka. Vira sering mendapatkan perlakuan yang kurang adil dari keluarganya. Namun Vira selama ini tidak pernah protes apapun perlakuan mereka.
"Sayang, maafin ibu ya. Gara-gara ibu sama ayah belum bisa memberikan kamu hidup yang lebih baik. Jadi mereka memperlakukan kamu seperti ini..." Lirih Vira dalam hati yang langsung memeluk anak semata wayangnya.
Kedua mata Vira pun berembun, dia tidak tau harus bagaimana menjelaskannya pada sang buah hati. Yudha yang melihat dan menyaksikan sendiri anak dan istrinya yang selalu dihina dan diremehkan orang pun mulai murka.
"Ini nggak bisa dibiarkan, mereka harus diberi pelajaran. Agar nggak seenaknya saja menghina anakku seperti ini. Selama ini aku sudah berusaha sabar, karena cuma aku yang dihina mereka. Tapi kali ini mereka sudah keterlaluan sekali. Aku harus mulai bertindak sekarang, kalau nggak istri dan anakku akan selalu menjadi bahan gunjingan mereka" lirih Yudha sambil mengepalkan tangannya dan tatapan mata elangnya.
"Kamu tenangin Alika dulu ya sayang, aku pamit sebentar" ucap Yudha pada sang istri.
"Tapi kamu mau pergi kemana mas? Pliss... Tolong jangan macem-macem sama mereka. Aku yakin mereka akan semakin menjadi jika kita melawan" ucap Vira dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Iya yah, mereka bukan orang yang bisa kita lawan. Alika nggak mau mereka menyakiti ayahku, Alika nggak mau ya!" Tegas Alika sambil menangis lagi.
"Ssssttt... Princess ayah jangan nangis lagi ya, ayah pergi bukan untuk menemui mereka kok. Ayah pergi untuk masalah kerjaan, ayah lupa kalau hari ini ada janji sama orang" ucap Yudha menenangkan anaknya.
"Janji...?" Ucap Alika sambil mengacungkan kelingkingnya pada Yudha.
"Janji, ayah janji sama kalian. Dan ayah juga janji akan segera pulang sambil membawa makanan kesukaan kamu sama ibu, oke!" Jawab Yudha sambil tersenyum dan menautkan jari kelingkingnya pada kelingking sang anak.
"Oke!" Jawab Alika yang ikut tersenyum juga.
"Kamu hati-hati di jalan ya mas, ingat jangan sampai kamu terpancing emosi jika bertemu salah satu dari mereka" ucap Vira menasehati sang suami.
"Iya sayang, kalian juga harus hati-hati ya di rumah. Tunggu sampai aku pulang" jawab Yudha sambil mengusap pipi istrinya.
Yudha pun pergi meninggalkan rumah, tujuan utamanya adalah sebuah rumah makan. Namun sebelumnya dia mencoba menghubungi seseorang dan mengajaknya untuk bertemu.
"Halo, temui saya di restoran biasa" ucap Yudha pada orang di seberang telepon.
"Siap tuan, saya segera datang" jawab seseorang itu.
Yudha mengakhiri panggilan telfon itu sepihak, dia kemudian mengendarai motornya menuju ke tempat tujuan. Sampai di tempat tujuan, Yudha segera menghampiri orang yang tadi di telfonnya.
"Selamat siang tuan, apa ada pekerjaan penting yang harus saya selesaikan?" Tanya orang itu segera setelah Yudha duduk di depannya.
"Iya, saya mau kamu bereskan orang-orang yang selalu menghina istri dan anakku!" Jawab Yudha dengan tatapan elangnya.
"Baik, siapa yang harus saya bereskan tuan?" Tanya orang itu lagi.
"Han, apa kamu tau saudara-saudari dari istri saya?" Tanya Yudha balik pada orang yang bernama Rehan.
"Selama bertahun-tahun saya menjadi asisten pribadi tuan Yudha, tapi belum pernah melihat tuan semarah ini pada orang. Baru kali ini aku melihat kilat amarah besar di mata tuan. Sebenarnya apa yang sudah dilakukan orang itu pada tuan?" Lirih Rehan dalam hati yang sangat penasaran.
"Tentu saja tuan, saya sudah tau semuanya. Apa mereka yang sudah mengganggu anda dan keluarga?" Tanya Rehan penasaran.
"Iya, saya ingin mereka di keluarkan dari kantor dan pabrik cabang kita yang ada di sini! Saya ingin melihat mereka juga jatuh miskin semua!" Jawab Yudha tegas.
"Baik tuan, saya akan segera membereskan mereka. Maaf tuan apa saya boleh tau, apa sebenarnya alasan tuan ingin membereskan mereka?" Jawab dan tanya Rehan yang semakin penasaran.
"Mereka yang selalu menghina istri saya! Oke selama ini hanya saya dan istri saya yang dihina mereka. Tapi kali ini mereka sudah keterlaluan, mereka juga berani menghina anak saya! Mereka mengatakan bahwa anak saya itu anak haram Han! Ayah mana yang bisa tahan emosi mendengar hinaan tersebut?!" Murka Yudha.
"Kurang ajar mereka tuan! Baik, kalau begitu sekarang juga saya akan menghubungi pemimpin pabrik dan perusahaan. Saya nggak akan memberi ampun orang-orang yang nggak tau diri itu!" Tegas Rehan.
Kemudian Rehan lngsung menghubungi beberapa nomer orang yang dimaksud oleh Yudha.
"Sudah tuan, saya jamin nanti sore mereka akan menerima akibatnya" ucap Rehan setelah menelfon.
"Bagus, saya akan tunggu kabar selanjutnya" jawab Yudha.
Kemudian Yudha segera pergi meninggalkan tempat tersebut. Dia kembali ke rumahnya, namun sebelum pulang dia mampir ke sebuah toko kue. Yudha ingin membeli kue kesukaan anaknya. Dan Yudha juga membelikan makanan favorit sang istri setelah membeli kue.
Sampai di rumah Yudha disambut oleh suara riang sang anak yang langsung menghampirinya.
"Yeeey... Ayah udah pulang...!" Seru sang anak dengan gembira.
"Hahahaha... Iya sayang ayah udah pulang. Ini pesenan kamu, kue kesukaan kamu. Dan yang ini untuk istriku tercinta" ucap Yudha sambil memberikan dua kantong plastik yang sejak tadi di pegangannya.
"Apaan sih mas, kenapa aku juga dapat? Kan aku nggak pesan apa-apa" tanya sang istri sambil tersipu malu.
"Iya kamu memang nggak pesan apapun, tapi aku yang ingin membelikan untuk kamu. Apa aku salah sayang?" Jawab dan tanya Yudha.
"Terserah kamu aja deh, oh ya sebenarnya kamu dari mana mas tadi? Dan semua ini kan hanya ada di kota, apa kamu dari kota?" Tanya Vira penasaran.
"Kamu kok pinter banget sih nebaknya, iya sayang aku tadi memang habis dari kota" jawab Yudha sambil tersenyum.
"Ngapain kamu ke kota?" Tanya Vira penasaran namun dengan nada khawatir.
"Tenang saja sayang, aku ke kota hanya untuk menemui seseorang kok. Dia ingin memberikan aku kerjaan juga" jawab Yudha berbohong.
Dia belum bisa cerita pada sang istri tentang semuanya. Dia akan cerita semua jika sudah datang waktu yang tepat.
"Ooh... Gitu, ya udah kita makan yuk" ucap Vira sambil mengajak sang suami.
Mereka pun menikmati makanan yang di bawa Yudha bersama-sama.
Esok harinya di rumah kedua orang tua Vira ramai, semua saudara Vira telah berkumpul di sana. Mereka terlihat kebingungan dan sedih.
"Memang apa sih masalahnya, kenapa kalian tiba-tiba di pecat secara bersamaan?" Tanya pria paruh baya selaku kepala keluarga.
"Andi juga nggak tau pak! Tiba-tiba saja kepala pabrik memecat aku tanpa alasan!" Jawab pria bernama Andi yang ternyata kakak dari Vira.
"Iya pak, aku juga begitu. Padahal selama ini Harto nggak pernah melakukan kesalahan dalam bekerja" tambah pria bernama Harto adik Vira.
"Heni juga begitu pak, padahal Heni selalu berhati-hati dalam bekerja. Tapi tiba-tiba mereka pecat Heni, katanya itu perintah dari atasan. Bikin kesel saja kan?!" Tambah perempuan bernama Heni adik Vira yang paling kecil.
"Sepertinya ada orang yang iri melihat kalian sukses. Sehingga mereka melakukan berbagai cara agar kalian keluar dari pekerjaan itu" ucap pak Dani dengan wajah geram.
"Apa mungkin ini ulah mbak Vira pak? Kan kita selama ini sering banget menghina dia" ucap Heni tiba-tiba.
" Menurut aku kok nggak mungkin Hen, karena Vira itu hanya perempuan bodoh tamatan SMP. Mana mungkin dia bisa kenal orang penting seperti itu?" Jawab Harto.
"Iya, aku juga yakin dia nggak mungkin melakukan itu" tambah Andi.
"Mending kita coba tanya langsung saja sama dia. Siapa tau kita punya petunjuk setelah mendatangi perempuan bodoh itu!" Ucap ibu Vira yang bernama Yuni.
"Kalau begitu ayo kita ke rumah dia sekarang pak, Bu!" Ajak Andi dengan penuh semangat.
Tanpa berpikir panjang mereka pun segera menuju ke rumah Vira. Sampai di rumah Vira mereka langsung berteriak memanggi nama Vira dan suaminya tanpa sopan santun.
" Vira...! Yudha...! Buka pintunya!" Teriak Andi dengan penuh emosi.
" Vira...! Buka pintunya!" Tambah Heni.
BRAAAKKK...
BRAAAKKK...
"Astaghfirullah...! Ada apa sih mereka? Pagi-pagi udah bikin bikin ulah saja" gerutu Vira sambil tergopoh-gopoh menuju ke pintu rumahnya.
" Ngapain mereka datang pagi-pagi ya dek?" Tanya Yudha penasaran pada sang istri.
"Aku juga nggak tau mas, udah yuk kita semperin aja mereka" jawab Vira mengajak sang suami.
"Lah ini biang keroknya!" Seru Andi sambil menarik tangan Vira.
PLAAKK...
"Iya, kamu pasti yang membuat kita di pecat dari pekerjaan kita kan?!" Seru Heni sambil menampar Vira.
"Heh...! Jangan kurang ajar sama istri saya!" Bentak Yudha dengan penuh emosi.
Yudha menarik kebelakang tubuhnya, agar lebih aman.
"Apa kamu?! Kamu berani sama kita!" Bentak Heni sombong.
"Iya, memang kenapa kalau saya berani sama kalian?! Sudah cukup selama ini kita mengalah sama kalian!" Jawab Yudha tegas dengan tatapan mata tajam kearah Heni.
"Duh, Yudha kok berubah ya? Bukannya selama ini dia selalu mengalah dan menurut apa yang kita katakan. Tapi... Kenapa hari ini terlihat berbeda" lirih Heni yang mulai ketakutan melihat amarah Yudha.
"Ingat ya, kamu itu pria yatin piatu yang menumpang hidup sama Vira, jadi kamu nggak punya hak untuk melawan kita!" Tegas Andi.
BUGH...
BUGH...
Tanpa berpikir panjang lagi, Yudha langsung memukul Andi hingga babak belur.
"Aduh... Aduh Bu, tolong hentikan dia Bu!" Seru Andi mengadu pada Yuni sambil menahan kesakitan akibat di pukul Yudha.
"Heh! Yudha, berhenti memukuli anak saya! Kamu itu benar-benar menantu yang nggak tau diri! Berani sekali kamu! Dasar menantu miskin!" Bentak Yuni dengan wajah garang.
"Saya nggak akan memukul dia kalau dia bisa jaga diri! Dan jangan seenaknya saja menuduh saya dan istri saya! Anda sebagai ibu, harusnya bisa menengahi anak-anaknya! Bukan malah memperkeruh keadaan seperti!" Tegas Yudha.
Vira menatap wajah suaminya saat ini, dia merasa ada perubahan dari sang suami. Namun dia bersyukur, akhirnya sang suami bisa bersikap tegas.
"Ya Allah... Terimakasih atas perubahan sikap suamiku ini. Semoga kedepannya dia bisa terus bersikap tegas begini, agar aku dan Alika nggak selalu ditindas mereka" lirih Vira dalam hati sambil terus menatap wajah sang suami.
"Kita nggak menuduh dia! Tapi hanya dia yang nggak suka sama kita, dia iri melihat kesuksesan kita!" Jawab Heni.
"Kapan aku iri sama kalian? Bahkan dari dulu aku selalu mengalah untuk kalian. Aku nggak boleh lanjutin sekolah juga karena kalian!" Jawab Vira juga dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Kekecewaan begitu terlihat di wajah cantik Vira, namun hanya sang suami yang melihat itu. Yang lain memang selalu tak perduli pada Vira.
"Alah... Udah deh mbak, kamu nggak usah mengelak begitu. Kita tau kok semua kebusukan kamu! Siapa lagi kalau bukan kamu?" Ucap Heni lagi semakin memojokkan Vira.
"Kenapa kalian tega sekali menuduh saya seperti ini?! Yah, Bu, selama ini Vira nggak pernah meminta ataupun menuntut sama kalian. Tapi kenapa kalian terus seperti ini sama Vira? Apa sebenarnya Vira bukan anak kalian?!" Tanya Vira yang sudah menangis.
Yudha segera merangkul pundak sang istri, dia tau kalau sang istri saat ini sedang hancur.
"Sebenarnya Vira itu anak kalian atau bukan sih? Kenapa kalian selalu pilih kasih? Apa salah Vira?!" Lirih Vira yang ada di pelukan suaminya.
"Lancang sekali kamu! Berani meragukan saya!" Bentak Yuni sambil mengangkat tangannya ingin menampar Vira.
Namun segera di cekal oleh Yudha, Yudha sudah bisa menahan emosinya lagi.
"Cukup! Kalian itu benar-benar manusia yang nggak punya hati! Jika memang Vira itu anak kandung kamu kenapa kalian terus bersikap seperti ini?! Selalu tidak adil pada Vira?!" Bentak Yudha dengan penuh emosi dan menghempaskan tangan ibu mertuanya.
"Karena dia pantas mendapatkan perlakuan seperti itu! Karena dia nggak pernah berbakti pada keluarga!" Jawab Yuni lebih lantang dari Yudha.
"Iya, mbak Vira itu memang hanya bisa membuat malu keluarga kita!" Tambah Heni tegas.
"Benar itu!" Tambah Andi.
"Oke! Kalau kalian memang sudah nggak mau menganggap Vira. Mulai sekarang Vira akan saya ajak pergi dari desa ini! Supaya kalian nggak marah-marah lagi sama dia!" Tegas Yudha.
"Silahkan...! Siapa juga yang melarang kalian pergi?!" Jawab Heni.
"Iya sana bawa aja perempuan itu pergi!" Tambah Harto.
"Pergi saja sana, dan nggak usah kembali!!" Tegas Andi juga.
"Baik, jangan pernah menyesal setelah kita pergi" jawab Yudha.
Kemudian Yudha menelfon asistennya, yaitu Rehan untuk segera menjemputnya. Dia tidak ingin melihat sang istri terus di hina keluarganya. Sehingga Yudha langsung mengambil keputusan, untuk mengakhiri semuanya.
"Jemput saya! Saya tunggu lima menit, kamu harus datang ke rumah saya! Kalau nggak, mending kamu berhenti saja sekarang!" Tegas Yudha pada Rehan.
"Baik tuan, saya akan segera kesana!" Jawab Rehan tegas juga.
Yudha menutup panggilan telefon tersebut, kemudian dia menunggu asistennya datang. Dia menyuruh Vira untuk mengambil barang-barang berharga miliknya.
"Sayang sekarang juga kamu ambil surat-surat penting milik kita ya. Sambil menunggu asisten aku datang untuk menjemput kita" ucap Yudha memerintahkan sang istri.
Vira hanya menjawab dengan anggukan kepala, dia sebenarnya juga bingung dengan apa yang di katakan oleh suaminya. Namun dia percaya kalau sang tidak akan menjebak dirinya. Vira berjalan memasuki rumahnya, dia mengambil barang yang di katakan oleh suaminya. Tak lama kemudian Vira kembali ke teras rumahnya, dimana keluarganya berada saat ini.
"Mas aku udah ambil semua, terus apa yang harus aku lakukan selanjutnya?!" Ucap Vira.
"Kita tunggu asisten ku, dia sebentar lagi akan datang menjemput kita. Setelan dia datang, Maka kita akan pergi meninggalkkan desa ini. Dan meninggalkan orang-orang yang selalu menghina kamu" jawab Yudha.
"Alah...! Sok banget kamu! Paling juga cuma pura-pura!" Sindir Heni pada Yudha.
Setelah menunggu beberapa saat akhirnya Rehan datang juga. Dia datang bersama beberapa bodyguard Yudha. Total ada empat mobil mewah yang terparkir di depan rumah Yudha. Salah satu dari keempat mobil itu ada mobil yang paling mewah yang di kendarai oleh Rehan.
"Wah... Mobil siapa tuh, mewah banget?" Seru Heni takjub.
"Kok mobil-mobil mewah itu berhenti di depan rumah ini ya?" Tanya Andi bingung.
Rehan pun turun dari mobil mewah milik Yudha, dia segera menghampiri Yudha dan Vira. Kemudian menyapa mereka dengan sopan.
"It-itukan pak Rehan! CEO di perusahaan!" Seru Harto saat melihat Rehan turun dari mobil dan berjalan menghampiri Yudha.
"Selamat pagi tuan, nyonya! Maaf tuan saya terlambat" sapa Rehan sopan pada Yudha.
"Hah...! Tuan...!!" Seru keluarga Vira terkejut mendengar sapaan Rehan pada Yudha.
"Nggak apa-apa, mana kunci mobilnya? Saya akan bawa sendiri mobilnya. Sekalian jemput anak saya sekolah!" Tegas Yudha.
"Ini kunci mobilnya tuan silahkan " jawab Rehan sambil menyerahkan kunci mobil pada Yudha.
"Oke! Ayo sayang kita naik mobil, sekalian jemput Alika" ajak Yudha pada tang istri yang masih terkejut dengan semua yang terjadi pada dirinya.
"Iya mas" jawab Vira.
Yudha dan Vira pun berjalan menuju ke mobil yang paling mewah, namun keluarga Vira mencoba untuk menghentikannya.
"Eh tunggu...! Vira, maafin ibu ya. Selama ini ibu sudah salah sama kamu" ucap Yuni pada Vira.
Akan tetapi Yudha dan Vira tidak memperdulikan perkataan Yuni. Mereka terus berjalan menuju ke mobil. Mobil pun berjalan meninggalkan tempat tersebut. Sedangkan keluarga Vira masih terdiam dengan penuh penyesalan. Mereka tidak menyangka kalau selama ini orang yang mereka hina itu orang kaya.
"Berhenti...! Kalian tidak pantas untuk mengejar mobil itu!" Tegas Rehan pada Keluarga Vira.
"Pak Rehan tolong jelaskan, sebenarnya siapa Yudha itu?" Tanya Andi sopan pada Rehan.
"Kalian nggak perlu tau siapa tuan saya itu! Yang jelas beliau adalah orang yang tidak bisa kalian sentuh! Kalian sudah menyia-nyiakan kesempatan terbaik yang ada di depan mata kalian! Sekarang tuan saya sudah tidak mau lagi mengenal kalian! Jadi menyesal pun percuma!" Tegas Rehan.
Kemudian Rehan juga ikut pergi menyusul Yudha dan Vira bersama bodyguardnya. Dia tidak perduli teriakan penuh penyesalan dari keluarga Vira. Keluarga yang tidak pantas lagi di hargai, keluarga yang hanya memberikan Vira beban.
The end