Di SMA Nusantara—sebuah sekolah swasta elit yang biaya SPP per bulannya setara dengan gaji manajer menengah—Sania adalah sebuah "anomali". Di sekolah itu, lorong-lorongnya dipenuhi oleh siswi yang seragamnya sengaja dikecilkan, bibir yang dipulas lipstik mahal, dan aroma parfum kelas dunia yang semerbak.
Namanya Sania Permata. Gadis itu selalu mengenakan seragam yang ukurannya pas—tidak ketat, tidak pula longgar. Kacamata berbingkai hitam tebal selalu bertengger di hidungnya. Rambutnya dikepang rapi tanpa sehelai pun yang dibiarkan liar. Tas punggungnya berat berisi buku-buku tebal, bukan alat make-up atau rokok elektrik yang disembunyikan.
"Sania! Masuk selokan mana hari ini? Kenapa bajumu rapi sekali seperti mau melamar jadi PNS?" ledek Diandra, pemimpin geng yang paling berpengaruh di sekolah.
Diandra berdiri dengan kaki menyilang, tangannya memegang ponsel keluaran terbaru. Di belakangnya, Citra dan Bella tertawa cekikikan. Mereka bertiga adalah "penguasa" pergaulan. Sepulang sekolah bagi mereka adalah waktu untuk nongkrong di kafe, mencoba klub malam dengan KTP palsu, atau keluyuran dengan pacar-pacar mereka yang mengendarai mobil mewah.
"Aku mau ke perpustakaan, Di. Ada tugas biologi yang belum selesai," jawab Sania tenang.
"Biologi? Duh, Sania... biologi itu enaknya dipraktekkan, bukan dibaca!" celetuk Citra yang disambut tawa pecah teman-temannya. "Sekali-kali ikut kita ke club yuk nanti malam? Ada pesta di rumah Rendy. Biar wajahmu yang 'biasa saja' itu ketularan aura gaul. Siapa tahu ada cowok yang kasihan terus ngajak kamu kenalan."
"Maaf, aku harus pulang. Ayah sudah jemput, dan malam ini ada pengajian di rumah," jawab Sania halus.
"Pengajian lagi? Hidupmu cuma sekolah, rumah, doa. Cupu banget sih kamu! Dasar culun, nggak asik!" Diandra mencibir sambil mengibaskan rambutnya yang dicat cokelat terang.
Sania tidak membalas. Ia terus berjalan menuju perpustakaan. Ia teringat pesan ibunya di rumah, "Nduk, jangan kau tukar masa depanmu dengan kesenangan yang hanya sekejap." Sania memegang teguh itu. Baginya, pendidikan adalah cara ia membalas budi orang tuanya, sementara klub malam hanyalah tempat membuang waktu yang tak akan pernah kembali.
LIMA TAHUN KEMUDIAN
Waktu berlalu seperti deru angin. SMA Nusantara kini hanya tinggal kenangan di dalam ijazah. Lima tahun telah mengubah banyak hal. Dunia yang dulu dianggap begitu indah oleh geng Diandra, kini mulai menunjukkan wajah aslinya.
Di sebuah kafe kecil di sudut kota, Diandra duduk dengan wajah yang tampak jauh lebih tua dari usia dua puluh tiga tahunnya. Lingkaran hitam di bawah matanya tak lagi bisa ditutupi oleh foundation tebal. Diandra baru saja di-PHK dari pekerjaan administrasinya karena sering bolos akibat masalah kesehatan.
Citra duduk di hadapannya, tampak kuyu. Mereka sedang menunggu Bella.
"Kamu sudah dengar kabar Bella?" tanya Citra pelan.
Diandra menyalakan rokoknya, jemarinya sedikit gemetar. "Terakhir aku dengar dia harus putus kuliah karena hamil. Sekarang dia tinggal di rumah kontrakan sempit di pinggiran. Rendy, suaminya, kemarin masuk berita karena kasus narkoba."
Citra menghela napas panjang, lalu menunjukkan pergelangan tangannya yang memiliki bekas luka sayatan lama—sisa dari depresi saat ia diputuskan pacarnya dulu setelah memberikan segalanya. "Aku juga tidak jauh beda, Di. Gara-gara dulu terlalu sering minum, ginjalku bermasalah. Uang orang tuaku habis buat pengobatan. Sekarang aku cuma bisa kerja serabutan untuk bayar cicilan obat."
Diandra terdiam. Ia menatap pantulan wajahnya di layar ponsel. Kecantikan yang dulu ia banggakan saat SMA kini memudar, berganti dengan gurat kelelahan dan rasa sesal yang tidak bisa ia katakan.
"Minggu depan ada reuni angkatan kita di Hotel Grand Palace. Kamu datang?" tanya Citra.
"Entahlah. Aku dengar Sania bakal datang," ujar Diandra singkat.
Malam reuni itu tiba. Ballroom hotel berbintang lima itu gemerlap dengan cahaya lampu kristal. Diandra, Citra, dan Bella berdiri di sudut ruangan. Mereka mengenakan pakaian terbaik yang mereka miliki, namun tetap saja mereka merasa minder melihat teman-teman mereka yang kini tampak lebih segar dan sukses.
Tiba-tiba, pintu aula terbuka. Suasana mendadak senyap.
Seorang wanita melangkah masuk. Ia mengenakan gaun panjang berwarna biru dongker yang elegan dan sangat sopan. Hijabnya tertata rapi, membingkai wajahnya yang bersih tanpa riasan berlebihan. Kulitnya tampak sehat dan bercahaya—jauh berbeda dengan kulit kusam Diandra akibat rokok dan kurang tidur.
Itu Sania.
Namun, bukan hanya penampilan Sania yang membuat semua orang terpana. Di sampingnya, seorang pria tampan dengan setelan jas rapi menggandeng tangannya dengan penuh hormat. Pria itu memiliki perawakan tegap, wajah yang bersih, dan tatapan mata yang sangat teduh.
"Siapa pria itu?" bisik Citra tak percaya.
"Itu... itu Dokter Adrian. Pemilik jaringan rumah sakit swasta yang sering muncul di berita bisnis," gumam Bella takjub.
Sania berjalan melewati kerumunan dan berhenti tepat di depan Diandra dkk. Ia tersenyum tulus, sama sekali tidak ada dendam di matanya.
"Halo Diandra, Citra, Bella. Apa kabar kalian?" sapa Sania lembut.
"S-Sania? Ini beneran kamu?" Diandra bertanya dengan suara tercekat.
"Iya, ini aku. Kenalkan, ini suamiku, Adrian," Sania memperkenalkan suaminya. Adrian tersenyum ramah dan mengangguk sopan pada mereka.
"Sania ini dulu teman sekelasku yang paling rajin, Mas. Dia yang selalu dapat peringkat satu," ucap Sania sambil menatap suaminya dengan penuh kasih.
Adrian merangkul pundak Sania. "Oh ya? Pantas saja. Sekarang dia sedang sibuk mengurus yayasan beasiswa kami sambil menyelesaikan tesis spesialisnya."
Mendengar itu, Diandra terdiam. Ia teringat masa-masa SMA saat ia melempar bungkusan rokok ke meja Sania dan menertawakan kacamata tebalnya. Ia teringat saat ia menyebut Sania "culun" karena menolak diajak keluyuran malam.
"Kami duluan ya, ada kolega yang harus disapa. Senang bertemu kalian lagi," ucap Sania sebelum melangkah pergi bersama suaminya yang sangat mapan itu.
Diandra menatap punggung Sania yang menjauh. Ia melihat bagaimana Adrian menarikkan kursi untuk Sania, bagaimana mereka berdiskusi dengan tenang bersama para pengusaha dan dokter lainnya di meja utama.
Sania bukan beruntung. Sania adalah hasil dari buku-buku tebal yang ia baca saat Diandra sibuk di klub malam. Sania adalah hasil dari doa-doa di rumah saat Diandra sibuk keluyuran. Dan Sania adalah hasil dari penjagaan diri yang ketat, yang kini dibayar tunai dengan seorang suami yang memperlakukannya bak ratu.
Diandra menatap gelas minumannya yang sudah kosong. Ia teringat kontrakan sempitnya dan tumpukan tagihan yang menanti di rumah. Ia lalu melihat Sania yang sedang tertawa kecil sambil menggandeng tangan suaminya yang tampan.
Faktanya jelas malam itu. Sania yang dulu dianggap "kalah" dalam pergaulan, ternyata adalah satu-satunya orang yang memenangkan kehidupan. Diandra, Citra, dan Bella hanya bisa berdiri di sudut ruangan, memandangi masa depan yang tak pernah mereka persiapkan.