"Kamu ngep3t, ya?! Mana mungkin jualan es teler bisa kebeli rumah semahal ini dalam hitungan menit?!"
"Ma, istighfar!"
Suara berat Bapak akhirnya terdengar. Bapak buru-buru memegang bahu Ibuku, menarik tubuh istrinya mundur beberapa langkah menjauh dari Mas Ikbal. Cengkeraman tangan Bapak terlihat kuat.
"Malu, Bu. Ada temannya Farhan. Jangan bikin tontonan di kampung orang," bisik Bapak tegas.
Mas Farhan tampak sangat salah tingkah. Wajahnya yang tadi pucat kini merah padam karena malu. Ia buru-buru menghampiri temannya, menepuk bahu pria itu sambil tersenyum kaku, mencoba mengalihkan perhatian dari teriakan Ibu barusan.
"Sorry ya, Bro. Biasa, orang tua kaget. Maklum, namanya juga rezeki mendadak," ujar Mas Farhan dengan tawa yang dipaksakan.
Sementara itu, di belakang Bapak, ketiga kakak perempuanku saling merapat, seperti sekumpulan ular yang sedang mendesiskan racun. Wajah-wajah cantik itu kini dipenuhi kerutan curiga.
Aku bisa mendengar bisikan mereka karena posisiku tak jauh dari sana.
"Pasti pesvgihan," bisik Mbak Mimi,
"Atau pencvcian u4ng. Nggak logis, Ver. Liat aja bajunya kumel gitu, kaos oblong melar, tapi du1tnya miliaran? Mustahil kalau cuma dagang es teller."
Mbak Vera mengangguk cepat, wajahnya serius.
"Bener. Kita harus hati-hati. Jangan sampai kita ikut terseret kalau nanti dia ditangkap pol1si. Bahaya nih, Cha bisa jadi tvmbal kalau beneran pesugihan.
Aku memeluk diriku sendiri. Angin sore semakin kencang, menerbangkan ujung jilbabku. Aku menatap Mas Ikbal. Dia tidak membalas teriakan mama, tidak juga menoleh pada bisikan kakak-kakakku. Dia justru berjalan tenang menuju kursi taman di teras, duduk berhadapan dengan teman Mas Farhan dan Mas Farhan sendiri.
Mereka mulai membahas kelengkapan surat. Aku melihat Mas Ikbal bicara. Gesturnya tenang, punggungnya tegak. Cara dia mengangguk, cara dia menunjuk berkas, cara dia mendengarkan penjelasan soal notaris... itu bukan gestur penjual es teler yang biasa kulihat melayani pembeli di pinggir jalan.
Itu gestur orang yang paham bisnis. Itu gestur orang yang punya kuasa.
Aku merasa kerdil. Aku berdiri di sana, menatap laki-laki yang sudah seminggu ini tidur bersamaku, rupanya aku belum mengenal dia lebih dalam lagi.
Ada jarak yang tiba-tiba terbentang lebar di antara kami. Jarak yang bukan diukur dengan meter, tapi dengan rahasia.
Kenapa aku nggak tahu apa-apa?
Mas Ikbal sesekali menoleh ke arahku di sela obrolannya. Dia tersenyum singkat, senyum menenangkan yang biasa dia berikan kalau aku sedang capek. Tapi kali ini, aku hanya bisa membalasnya dengan tarikan bibir yang kaku. Senyumku hambar. Hati ini terlalu penuh dengan tanda tanya.
Perjalanan pulang ke rumah orang tua terasa sangat panjang dan menyiksa. Tidak ada yang bicara di dalam mobil. Kesunyian itu mencekik.
Sesampainya di rumah, Bapak langsung menggiring kami semua ke ruang tengah. Tidak ada yang boleh masuk kamar dulu atau pun pulang ke rumah masing-masing, semua kakakku sudah memiliki rumah, kecuali Mas Farhan dan istrinya yang tinggal bersama ibuku karena rumah ini pun sangat besar.
"Bal," panggil Bapak.
"Bapak bukan mau curiga sama menantu sendiri. Bapak percaya kamu anak baik. Tapi, biar nggak jadi f1tnah di keluarga kita, biar nggak ada bisik-bisik tetangga atau saudara, Bapak harus tanya."
"U4ng sebanyak itu... dari mana asalnya, Nak? Ibu kamu waswas, kakak-kakakmu curiga. Takutnya kamu ambil jalan pintas yang dimurkai Allah."
Semua mata kini tertuju pada Mas Ikbal. Jantungku berdegup kencang, menunggu jawaban yang akan keluar dari mulutnya. Tolong jangan bilang pesugihan, Mas. Tolong jangan bilang pinjol ilegal.
Mas Ikbal tersenyum tipis. Sangat sopan. Dia menatap Bapak dengan pandangan hormat.
"Itu tabvngan saya, Pak," jawabnya tenang. Suaranya tidak bergetar sedikit pun.
"Saya memang sudah lama n4bung. Niatnya buat b3li rumah dan masa depan istri saya. Alhamdulillah, rezekinya ada dan cukup."
Hanya itu? Tabungan?
Terdengar suara dengusan kasar dari arah Ibu.
"Tabung4n?" ulang Mbak Vera dengan nada mencemooh.
"Nabvng dari zaman Majapahit juga nggak bakal kumpul segitu kalau cuma jualan es, Bal. Jangan anggap kita ini bo..doh dong."
"Iya, nggak masuk akal," timpal Mbak Mimi.
Mas Ikbal tidak terpancing. Dia tetap diam, menatap Bapak.
"Sudah," potong Bapak tegas.
"Ikbal sudah jawab. Itu tabvngan. Kalau dia bilang begitu, ya kita harus percaya. Urusan dari mana detailnya, itu dapur rumah tangga dia sama Chaca. Yang penting dia sudah pastikan itu rezeki baik."
Ibu hendak protes, mulutnya sudah terbuka, tapi tatapan taj4m Bapak membuat nyali mama ciut. Sidang dibubarkan paksa oleh Bapak, meski aku tahu, di kepala mereka—dan di kepalaku—pertanyaan itu belum terjawab tuntas.
Malam semakin larut. Di dalam kamar tidurku yang dulu kutinggali sebelum menikah, suasana terasa sunyi.
Aku duduk di tepi kasur, memilin ujung sprei. Pikiranku kusut. Mas Ikbal baru saja selesai mandi. Dia masuk ke kamar dengan rambut basah, memakai kaos oblong putih yang lehernya sudah agak melar dan celana pendek santai. Penampilan yang sangat... biasa. Penampilan yang membuat siapa pun tidak akan percaya kalau dia baru saja mentransfer setengah miliar dalam sekali kedip.
Dia berjalan mendekatiku, lalu berjongkok di depan lututku. Dia mendongak, menatap wajahku yang murung. Tangannya meraih jari-jemariku yang dingin.
"Kamu takut?" tanyanya lembut.
"Jujur sama aku. Tolong jujur, Mas."
Aku meremas tangannya erat.
"Itu u4ng halal, kan? Mas nggak main dukvn kan? Mas nggak ikut sind1kat aneh-aneh kan? Aku... aku lebih rela hidup susah, tinggal di kontrakan sempit, daripada kita makan u4ng h4.ram. Aku takut, Mas."
Mas Ikbal tersenyum. Bukan senyum misterius seperti tadi sore, tapi senyum tulus yang hangat.
"Demi Tuhan. Itu u4ng halal. Seratus persen halal. Itu hasil keringatku sendiri. Hasil usaha yang aku kumpulin bertahun-tahun sebelum ketemu kamu."
Aku terdiam, mencari kebohongan di matanya, tapi tidak menemukannya.
"Kamu nggak percaya?" tanyanya lagi.
Dia melepaskan genggaman tangannya, lalu merogoh saku celana pendeknya. Dia mengeluarkan ponsel butut itu lagi. Ponsel yang layarnya retak di ujung kanan atas.
"Biar kamu tidur nyenyak," bisiknya.
Jempolnya bergerak lincah membuka aplikasi mobile banking. Kali ini dia tidak membuka menu transfer. Dia menekan menu 'Informasi Saldo', lalu menekan tombol mata kecil untuk membuka sensor nominalnya.
Ia menyodorkan layar ponsel itu tepat ke depan wajahku. Cahaya dari layar ponsel menjadi satu-satunya penerangan yang menyilaukan di antara wajah kami.
Mataku membelalak lebar, menatap angka itu. Aku menghitung jumlah nol-nya. Satu, dua, tiga... ada sembilan nol. Dan angka di depannya bukan satu.
Di layar itu tertulis jelas: Rp 10.450.000.000,00
Sepuluh miliar empat ratus lima puluh juta rupiah.
Aku mengangkat wajah, menatap Mas Ikbal dengan mulut terkunci rapat. Kehilangan kemampuan bicara, kehilangan kemampuan berpikir. Laki-laki di depanku ini, yang memakai kaos oblong melar seharga tiga puluh ribuan, memiliki uang sepuluh miliar di dalam saku celananya.
"Itu ... Du1t semua, Mas?"
Bersambung