Bagi I Putu Gede Abhirama, hidup adalah tentang garis yang naik tajam. Seperti puncak-puncak Siwa di Prambanan yang gagah membelah langit, Putu percaya bahwa cinta harus dirayakan dengan gemuruh gamelan, warna-warni sesajen, dan aroma dupa yang membakar udara. Ia adalah putra Bali yang dibesarkan dalam filosofi Bhakti—pengabdian total yang tak kenal kompromi. Baginya, mencintai adalah membangun kuil dalam hati, tempat di mana doa-doa diucapkan dengan suara lantang dan bunga-bunga kamboja disebar di setiap sudut ingatan.
Di sisi lain, Siddharta Wijaya Lim adalah antitesis dari segala keramaian itu. Nama depannya diambil dari sang pencerah, dan nama belakangnya adalah jangkar pada silsilah leluhur Tionghoa yang menyeberangi samudera. Bagi Siddharta, hidup adalah tentang pelepasan. Seperti stupa-stupa Borobudur yang membulat tenang, ia percaya bahwa cinta adalah tentang Sunyata—kekosongan yang penuh, sebuah jalan tengah yang teduh di mana keinginan dipadamkan agar ketenangan bisa bersemi. Ia lebih suka mencintai dalam diam, seperti lumut yang tumbuh di sela batu andesit; tak terlihat, namun mencengkeram kuat.
Mereka bertemu pertama kali pada tahun 2021, di tengah debu restorasi relief yang terkikis zaman. Putu adalah arsitek konservasi yang bertugas menjaga keutuhan struktur, sementara Siddharta adalah fotografer dokumenter yang ditugaskan merekam setiap retakan kecil. Di bawah terik matahari Jawa Tengah yang memanggang pelataran candi, mereka menemukan bahwa meski doa mereka diucapkan dalam bahasa yang berbeda, air mata dan tawa mereka memiliki rasa yang sama. Pertemuan itu bukan sekadar urusan profesional; itu adalah tabrakan antara dua semesta yang selama ini hanya saling memandang dari kejauhan.
Februari 2026 datang dengan sisa-sisa hujan yang enggan beranjak dari Yogyakarta. Putu berdiri di pelataran Prambanan, menatap candi Hindu terbesar itu yang tampak seperti siluet raksasa di bawah langit kelabu yang melankolis. Di pergelangan tangannya, benang Tridatu—merah, putih, hitam—mulai memudar warnanya, sama seperti harapannya yang kian menipis diterjang realita. Telepon di sakunya bergetar, membawa pesan singkat dari Siddharta yang sedang berada di Magelang. Sebuah pesan yang hanya terdiri dari beberapa baris kata, namun mampu meruntuhkan benteng pertahanan Putu: "Aku di stupa induk. Kabutnya tebal sekali, Putu. Seolah-olah dunia ingin kita menghilang di dalamnya."
Putu segera memacu motornya menembus jalanan Klaten. Jarak tiga puluh kilometer antara Prambanan dan Borobudur tidak pernah terasa sejauh ini. Baginya, aspal yang ia lalui bukan sekadar jalan raya, melainkan jurang teologis dan tradisi yang lebih dalam dari Samudera Hindia. Sesampainya di Borobudur, ia berlari menaiki anak tangga batu yang licin karena lumut dan sisa hujan. Ia menemukan Siddharta sedang duduk bersila di tingkat tertinggi, menatap hamparan Bukit Menoreh yang tertutup uap air. Siddharta tampak begitu menyatu dengan kesunyian, seolah ia sudah siap untuk dilepaskan dari ikatan duniawi.
Suasana menjadi sangat berat saat Putu duduk di sampingnya. "Keluargaku sudah menyiapkan hari baik untuk pernikahan di Besakih, Sid," buka Putu tanpa basa-basi, suaranya pecah bersaing dengan deru angin pegunungan. "Ibu tidak akan merestui jika tidak ada upacara Mepandes. Mereka ingin garis keturunan kami tetap murni dalam lingkaran Panca Yadnya. Ayahku mengancam akan menghapus namaku dari silsilah keluarga jika aku bersikeras membawamu ke rumah."
Siddharta menoleh pelan, menatap Putu dengan mata yang sembab namun tenang. "Dan Ayahku sudah memesan tempat di vihara keluarga di Semarang. Beliau ingin aku membawa menantu yang bisa bersujud di depan meja abu leluhur Lim. Beliau bilang, Buddha dan Hindu memang bersaudara dalam sejarah, tapi mereka tidak bisa berbagi atap dalam kartu keluarga yang sama. Kita ini mustahil, Putu. Kita adalah dua monumen agung yang dipisahkan oleh jarak dan dogma. Jika kita dipaksa menyatu, salah satu dari kita harus hancur menjadi puing."
Putu menggenggam tangan Siddharta, merasakan dinginnya kulit yang terpapar udara Magelang. "Bagaimana jika kita lari? Kita bisa ke luar negeri, ke tempat di mana tak ada yang peduli pada kasta atau marga." Namun Siddharta hanya menggeleng lemah. Ia tahu bahwa melarikan diri hanya akan membuat mereka menjadi hantu yang terus dikejar rasa bersalah. Cinta yang dibangun di atas reruntuhan restu orang tua adalah cinta yang akan selalu berdarah di setiap langkahnya. Mereka adalah representasi dari Prambanan dan Borobudur; keduanya indah, keduanya agung, namun keduanya ditakdirkan untuk berdiri di bukit yang berbeda.
Sore itu, di bawah gerimis yang kian menderu, mereka membuat keputusan paling menyakitkan dalam hidup mereka. Mereka sepakat untuk berhenti berjuang. Putu melepaskan gelang Tridatu-nya dan melingkarkannya ke pergelangan tangan Siddharta sebagai tanda bahwa sebagian jiwanya akan selalu tertinggal di sana. Sebagai gantinya, Siddharta memberikan seuntai tasbih kayu cendana yang harumnya selalu mengingatkan Putu pada ketenangan vihara. Mereka berpelukan untuk terakhir kalinya, sebuah pelukan yang mencoba menyatukan dua keyakinan yang selama berabad-abad hanya bisa berdampingan tanpa pernah bersentuhan.
"Setiap kali kau melihat puncak Prambanan dari kejauhan, ingatlah bahwa ada seseorang di stupa Borobudur yang sedang mendoakan keselamatanmu," bisik Putu sebelum akhirnya ia berbalik dan menuruni tangga candi sendirian. Ia berjalan ke arah timur, menuju matahari yang tenggelam di balik bayang-bayang tajam candi Siwa. Sementara itu, Siddharta tetap diam di tempatnya, membiarkan kabut menelan sosoknya yang perlahan menghilang dalam keheningan stupa.
Tahun 2026 berakhir dengan kembang api yang meledak riuh di langit Yogyakarta, menerangi jalanan Malioboro dan alun-alun. Di Bali, Putu berdiri di balkon rumahnya dengan pakaian adat lengkap, bersiap untuk ritual pernikahannya dengan gadis pilihan keluarganya. Di tangannya, ia memutar-mutar tasbih cendana milik Siddharta, mencium aromanya yang mulai samar. Di saat yang bersamaan, di Semarang, Siddharta berdiri di depan meja abu leluhurnya, mengenakan jas rapi untuk prosesi pertunangannya. Di pergelangan tangannya, benang Tridatu yang sudah usang masih melingkar, sebuah rahasia yang ia sembunyikan di balik lengan kemejanya. Mereka telah kembali ke dunia mereka masing-masing, menjadi pilar yang kokoh bagi tradisi keluarga, namun di dalamnya, mereka hanyalah reruntuhan yang sunyi. Cinta mereka telah menjadi monumen purba; indah untuk dikenang, namun terlalu rapuh untuk dihuni di masa depan.
Kini, setiap kali wisatawan berkunjung ke Jawa Tengah dan mengagumi kemegahan Prambanan lalu berpindah ke ketenangan Borobudur, mereka tidak akan pernah tahu bahwa di antara dua batu andesit itu, pernah ada sepasang doa yang mencoba menyatu namun akhirnya dipisahkan oleh takdir yang lebih keras dari batu candi itu sendiri.