(Suara deham berat ala podcast, terdengar bunyi korek api gas menyambar ujung rokok yang tidak terlihat, lalu asapnya ditiupkan pelan ke arah kamera yang agak miring.)
Oke, tes, satu, dua. Ini Acho di sini. Kalian tahu kan, profesi paling ngeri di negeri ini selain jadi kurir paket yang musti COD di kandang macan? Yak, bener. Guru honorer. Tapi ini bukan cerita sedih ala-ala film festival yang warnanya abu-abu suram terus endingnya mati kelaparan. Bukan. Ini cerita tentang Wira, kawan lama saya yang hidupnya bener-bener "agak laen" dari spektrum kemiskinan pada umumnya.
Wira ini kalau di sekolah penampilannya sangat meyakinkan sebagai orang susah. Seragam cokelatnya itu lho, warnanya sudah bukan cokelat pramuka lagi, tapi lebih ke warna teh celup yang sudah dicelup empat puluh kali. Pudar. Kerahnya sudah melungker kayak kerupuk kaleng kena angin. Sepatunya? Jangan tanya. Kalau dia jalan di lorong sekolah, suaranya bukan step-step gagah, tapi pletak-pletok karena sol bagian depannya sudah mangap kayak buaya muara lagi nunggu mangsa.
Gajinya? Tiga ratus ribu per bulan. Bayangkan. Di Jakarta, duit segitu cuma cukup buat bayar parkir motor sebulan sama beli promag dua dus. Tapi anehnya, Wira ini kalau istirahat di kantin, dia nggak pernah pesen teh tawar anget kayak guru-guru lain yang lagi nunggu sertifikasi cair. Dia pesennya kopi literan yang dipesan lewat ojek online, yang harganya satu cup bisa buat makan siang Bu Siti selama tiga hari.
"Wir, kamu itu sadar nggak sih? Gaji kamu itu cuma lewat doang kayak mantan. Kok gaya hidupmu kayak anak pemilik tambang nikel?" tegur Pak Bambang, Kepala Sekolah yang perutnya selalu balapan sama kancing kemejanya.
Wira cuma senyum tipis, tipe senyum misterius yang biasanya cuma dimiliki sama penjahat di film thriller atau orang yang baru dapet warisan. "Tenang, Pak. Rezeki itu kayak sinyal HP di basement, kadang ilang, tapi kalau kita naik dikit ke genteng, langsung full bar," jawabnya santai sambil nyeruput kopi mahal itu lewat sedotan ramah lingkungan yang harganya mungkin sepuluh ribu sendiri.
Rahasia Wira itu simpel: Dia adalah "Monster Algoritma". Di sekolah dia emang cuma guru honorer yang sering disuruh-suruh jagain gerbang, tapi di dunia maya, dia adalah sultan konten. Akun media sosialnya, @WiraGuruGokil, itu pengikutnya lebih banyak daripada jumlah penduduk satu kecamatan. Dia itu kreatifnya nggak masuk akal. Dia bisa bikin video penjelasan hukum fisika tentang gravitasi, tapi pakai peragaan dia jatuh dari pohon mangga sambil nenteng gorengan. Dan itu ditonton lima juta orang!
Suatu hari, suasana kantor guru mendadak geger. Ada kurir paket datang nenteng kotak kayu gede banget. Di atasnya ada tulisan "Fragile" sama logo YouTube yang mengkilap. Bu Siti yang lagi sibuk goreng bakwan langsung berhenti. Pak Bambang yang lagi ngupil langsung keselek.
"Wir, ini kiriman apa? Bom?" tanya Bu Siti curiga.
Wira dengan santainya ngebuka kotak itu pakai penggaris kayu panjang milik sekolah. Pas dibuka, jreeeeng! Golden Play Button warna emas mentereng mantulin cahaya matahari, bikin mata guru-guru di ruangan itu silau seketika.
"Ini cuma plakat apresiasi, Bu. Katanya sih karena saya sudah berhasil bikin sepuluh juta orang pinter tanpa harus ngerasain pahitnya bayar SPP," kata Wira sambil ngelap plakat itu pakai ujung seragamnya yang dekil.
Pak Bambang hampir pingsan. Dia baru sadar kalau guru honorer yang sering dia suruh benerin genteng bocor itu penghasilannya sebulan bisa buat beli gedung sekolah ini lengkap sama kantin-kantinnya.
"Wir... jadi selama ini, kamu itu kaya?" suara Pak Bambang bergetar, kayak suara knalpot motor bebek masuk gang sempit.
Wira ketawa ngakak. "Kaya itu relatif, Pak. Kalau menurut saldo ATM sih iya, tapi kalau menurut status kepegawaian, saya tetap honorer bapak yang paling setia. Lagian, saya bikin konten itu biar pendidikan kita nggak ngebosenin amat. Masa dari zaman Belanda sampai zaman AI, cara jelasin rumus luas lingkaran masih gitu-gitu aja? Saya mau bikin murid-murid saya ngerasa kalau sekolah itu lebih seru daripada nonton orang tawuran di live TikTok."
Puncak komedinya adalah pas Wira bikin konten "A Day in My Life: Edisi Gaji 300 Ribu". Dia syuting di depan ATM. Dia masukin kartu, terus layarnya muncul tulisan: Saldo Anda Tidak Cukup untuk Menarik Tunai. Dia akting nangis bombay di samping tempat sampah, padahal kamera yang rekam dia itu harganya seratus juta rupiah dan krunya ada tiga orang di balik pohon kamboja.
Video itu viral parah. Komentarnya sampai ratusan ribu. Ada yang kasihan, ada yang mau donasi, bahkan ada pejabat yang hampir mau ngirim bansos. Padahal setelah syuting selesai, Wira langsung ganti baju di dalem mobil Jeep Rubicon-nya yang diparkir jauh di belakang pasar, terus meluncur makan steak di hotel bintang lima.
Tapi itulah Wira. Dia nggak mau berhenti jadi guru honorer karena dia ngerasa "ruh" kontennya ada di sana. Dia butuh penderitaan administratif itu sebagai bahan bakar kreativitasnya. Dia pernah bilang ke saya sambil makan sate padang yang dagingnya dobel lima porsi: "Cho, kalau aku keluar dari sekolah itu dan jadi full-time selebgram, jiwaku bakal kering. Aku butuh omelan Pak Bambang dan bau minyak goreng Bu Siti buat tetep membumi. Tanpa mereka, aku cuma orang kaya gabut yang nggak punya cerita."
Jadi, sampai sekarang, Wira masih di sana. Tetap dengan sepatu mangapnya, tetap dengan gaji tiga ratus ribunya yang biasanya langsung dia kasih semua ke penjaga sekolah yang lebih butuh, dan tetap dengan iPhone terbaru di saku celananya yang bolong. Dia adalah bukti nyata kalau di negeri yang penuh komedi ini, nasib itu bisa kita pelintir lewat sudut pandang kamera yang pas.
Agak laen memang kawan saya satu itu. Tapi ya sudahlah, yang penting dia nggak pusing mikirin cicilan, malah algoritmanya yang pusing mikirin jadwal tayang konten dia selanjutnya.
(Acho matiin rokoknya ke asbak, berdiri, terus benerin posisi topinya sambil jalan keluar frame.)