Hari itu aku hanya mampu berdiri mematung tanpa mampu berucap sepatah katapun, menatap laki-laki yang sudah menjadi suamiku, namun semenjak beberapa bulan yang lalu dia mulai berubah dan perubahan itu setiap ku pertanyakan akan berakhir pertengkaran. Meski airmata ini terus mengalir tanpa mau berhenti, namun pikiranku melayang entah kemana. Hanya tangan kananku yang bergerak pelan mengusap perutku dimana didalamnya berada segumpal darah yang sebentar lagi akan berubah dan tumbuh menjadi sosok kecil yang mengisi rahimku. Dan yang lebih miris lagi, keberadaannya belum diketahui siapapun termasuk laki-laki yang tengah duduk tenang di atas ranjang berhadapan denganku yang tak lain adalah Fabian ayah dari janin yang berada dalam rahimku.
Rencananya dihari yang sama aku akan memberinya kejutan dengan mendatanginya ke kantor, dan memberikan bukti garis dua sebuah alat tes kehamilan. Namun kembali lagi rencana hanya tinggal rencana sebaik-baiknya manusia hanya pemilik rencana dan yang memiliki kuasa mengatur kehidupan hanya Yang Maha Kuasa, Allah.
_________
Kisah ini berawal saat aku ditinggal Umroh oleh kedua orang tuaku dan juga adikku dititipkan sementara untuk tinggal bersama nenek selama kepergian orang tuaku ke Tanah suci yaitu dua minggu karena waktu liburku berbeda dengan adikku.
"Oma... Om Bian kemana? Kok tumben belum pulang? Biasanya aku bangun tidur sore tadi sudah di rumah, sekarang sudah malam kok belum pulang."
"Enggak tahu nak, daritadi sudah beberapa kali Oma telepon tapi enggak di jawab. Coba kamu yang telepon siapa tahu langsung dijawab." Ucap Oma dengan raut khawatirnya membuat siapapun yang melihat termasuk aku, seketika tidak tega. Dan sejujurnya bukan hanya Oma yang khawatir karena akupun merasakan hal yang sama, dari pertama kedatanganku kerumah ini dari dua hari yang lalu belum pernah om Bian pulang telat.
"Nak.. Bisa kan telepon om mu?" Suara Oma memecah lamunanku, setengah tergagap aku mengangguk. "Bisa Oma, sebentar aku ambil hpku dulu dikamar." Tanpa menunggu jawaban Oma aku langsung pergi meninggalkan meja makan mempercepat langkahku meniti undakan tangga supaya cepat sampai dikamarku, bekas kamar papa yang bersebelahan dengan kamar om Bian.
Aku geser layar ponselku mencari nama om Bian, tak butuh waktu lama namanya muncul dan langsung ku panggil. Dering pertama langsung nyambung namun tak ada jawaban, akupun kembali mematikan panggilanku dan mengulang untuk kedua kali memanggilnya. "Om angkat om! Lagi ngapain sih?" Gumamku menggerutu. Hingga beberapa saat menunggu panggilanku tak kunjung diangkatnya, akhirnya aku kembali memutusnya namun saat aku hendak kembali menghubunginya tiba-tiba ada panggilan masuk ke nomorku dengan nama 'om Bian' yang tertera di layar.
"Iya om... Om lagi dimana kenapa belum pulang?" Tanyaku meluncur begitu saja sebab mendengar suara riuh musik yang berdentum memekakkan telinga.
"Git..." Suara nya terputus namun telepon kami masih tersambung, tak lama kemudian sebuah suara menyadarkanku.
"Halo... Ini siapa nya Bian?"
"Saya keponakannya, om Bian kenapa? dimana?" Tanyaku dengan panik, pikiranku tak karuan apa ini harus di adukan sama Oma? tidak, nanti Oma kepikiran.
"Bian ma-buk, kalau bisa tolong jemput ke sini apartemen xx. Jalan saja sekarang nanti gue sharelok." Ucap suara laki-laki di seberang sana membuyarkan racauanku. Tanpa menyahut aku pun bangkit keluar dari kamar tanpa mengganti piyama ku yang hanya ditutupi cardigan.
"Omaa! aku keluar dulu ya, ternyata om Bian baru selesai lembur, dia ngajak aku ke pasar malam. Oma enggak usah nunggu kami istirahat saja duluan." Seruku berdusta demi menenangkan Oma, dan benar saja.
Oma seketika menggelengkan kepala, "Sama siapa kesananya?"
"Sama sopir." Jawabku sembari mencium tangannya.
"Pulangnya jangan larut-larut!"
"Iya" Aku keluar dari pintu utama mencari keberadaan sopirku, dan sebelum berangkat aku terlebih dulu briefing dia supaya menutup mulut dengan apa yang dilihatnya nanti tentang om Bian. Karena bukan hanya Oma yang akan marah melihat om Bian ma-buk, tapi papa juga pasti marah.
Tak sampai 20 menit dari sejak turun dari rumah Oma tadi akhirnya sampai di sebuah apartemen yang baru kali ini aku datangi, aku menghubungi nomor om Bian lagi memberitahu kalau aku sudah di basement.
Tak sampai sepuluh menit pintu lift terbuka setelah sebelumnya mereka memintaku untuk naik menjemputnya sampai tempat, namun aku tidak cukup berani kesana aku takut melihat sesuatu yang belum pantas aku lihat mengingat suara-suara bising yang kudengar di telepon tadi.
"Mobilnya mau sekalian dibawa atau di tinggal disini saja?" Tanya seseorang yang membopong tubuh om Bian yang diperkirakan umurnya tak beda jauh dengan om ku itu.
Suaranya menggema membuatku tergagap, "Bi.. biarin disini saja om, biar om Bian yang ambil besok." Ucapku seraya membuka pintu, dengan susah payah aku membantunya mengangkat kaki om Bian yang terkulai.
"Jalan pak..." Ucapku pada pak Didi sopirku.
"Iya non... Mau langsung pulang? atau sebaiknya Den Bian suruh istirahat dulu saja, kalau tidak nanti ibu syok dan khawatir. Dan takutnya ibu laporan pada tuan Wisnu."
Deg.
Aku baru sadar, kenapa tidak kepikiran kesana sedari tadi? untung saja pak Didi pintar, mungkin kalau sama Oma aku bisa berkelit tapi papa? argh papa orangnya terlalu pintar dan tegas.
"Baiknya gimana pak?" Aku menatap pak Didi bingung, begitupun dengan pak Didi yang hanya diam namun kedua alisnya saling bertautan terlihat tengah berpikir keras.
"Gimana kalau den Bian kita bawa lagi saja ke kantor biar istirahat disana saja nanti bapak temenin, non pulang sendiri tidak apa-apa kan? nanti bilang sama ibu kalau Den Bian menginap di kantor ditemenin bapak. Kalau kita bawa ke hotel dan non ikut takutnya jadi fitnah." Tutur pak Didi sambil menatapku meminta persetujuan dan aku langsung menganggukinya.
"Iya pak, kita ke kantor saja. Tapi gimana nanti sekuriti lihat kondisi om Bian seperti ini?"
"Nanti non bawa den Bian duluan naik, bapak ajak ngobrol sekuriti setelah aman nanti bapak susul ke atas."
"Siap pak, terimakasih banyak ya, maaf sudah merepotkan dan mengganggu waktu istirahat bapak." Ucapku sungkan yang langsung dijawab gelengan oleh pak Didi.
Fabian Askara namanya, dan aku memanggilnya om Bian. Dia adik tiri papa, putra bawaan dari perempuan yang dinikahi opa belasan tahun lalu yaitu paruh baya yang ku panggil Oma sekarang, Oma Nuriah.
Meskipun mereka hadir terbilang baru dalam keluarga kami, keluarga besar papaku. Namun baik papa, mama, apalagi aku begitu menyayangi mereka terlebih aku yang sedari kecil mendapati kasih sayang nenek dari sosok beliau.
Kata papa, Oma orang baik tidak pernah ingin menguasai apapun tentang harta opa yang sudah bergelimang dari sejak dulu pernikahan pertamanya dengan ibu kandung papa. Oma Nuri adalah istri dari almarhum pak Johan sekretaris opa yang meninggal karena kecelakaan saat sedang ikut touring 18 tahun lalu saat om Bian masih berusia 11 tahun.
"Non, bapak antar sampai lift ya! habis itu bapak turun ke depan mau ke pos." Suara pak Didi membuyarkan lamunanku.
"Iya pak."
Seperti yang diarahkan pak Didi, sesampainya di depan lift gedung perusahaan milik papa tempat om Bian bekerja dan memiliki kuasa juga dibawah kepemimpinan papa, dengan susah payah aku membopong tubuh tegapnya memasuki lift menuju lantai paling atas tempat ruangannya berada. Sedangkan pak Didi secepat kilat menghampiri sekuriti sebelum curiga kami membawa om Bian dengan keadaan mabuk yang entah disebabkan apa, dan itu masih menjadi pertanyaan sebab setahuku om Bian bukan pemuda yang bebas bergaul dengan dunia malam dan alkohol. Dia sangat menjaga kepercayaan papa dengan menjaga sikap dan pergaulannya.
Malam itu menjadi awal kedekatan kami dalam artian intim antara sepasang manusia dewasa berbeda jenis, hingga akhirnya perasaanku yang selama ini ku pendam padanya aku ungkapin lewat sikap. Dia yang secara usia jauh lebih matang dariku dengan perbedaan usia kami yang terpaut 8 tahun tentunya membuat Dia langsung paham bahwa aku menyukainya. Om Bian tampan, matang, dan punya karir cemerlang atas kepercayaan papa yang diberikan padanya. Sedangkan aku hanya seorang mahasiswi semester 6 yang terbilang masih tabu dalam hal asmara, sebab dari semasa remaja yang baru mengenal cinta yang lebih populer dengan sebutan cinta mo-nyet hatiku sudah jatuh padanya.
Hari berlalu berganti bulan, akhirnya hubungan kami pun tercium oleh papa. Entah papa yang terlalu peka dan banyak mata-mata atau kami terutama aku yang terlalu ekspresif di setiap membahas, mendengar dan menyebut namanya.
Hingga suatu malam saat dimana aku tengah bercanda dengan adikku Gio, papa memanggilku ke ruang kerjanya.
"Gita, papa mau nanya tapi tolong kamu jawab dengan jujur nak. Ada hubungan apa kamu dengan om Bian?" Tanya papa langsung tanpa basa-basi membuatku seketika terdiam menggigit bibir, entah harus darimana menjelaskannya.
"Kamu dengar papa kan kak?" Ucapnya lagi memastikan. dan aku langsung mengangguk dan berucap. "Iya pa, dengar. Aku dan om Bian...."
"Dari kapan?" Ucap papa cepat memotong kalimatku seakan tidak ingin mendengar alasan dan elakanku.
"Katakann dari kapan?"
"Da-- ri saat papa dan mama juga Gio Umroh." Ucapku pelan dan terbata.
"Kamu tahu kan kak? kamu itu harapan, permata papa. Putri papa satu-satunya, setiap apapun yang menyangkut tentangmu, hidup dan masa depanmu papa ingin yang terbaik termasuk pasanganmu nanti." Tutur papa panjang lebar diakhiri helaan napas, sedangkan aku masih menunduk karena tahu papa belum selesai bicara.
Dan benar saja papa kembali berucap. "Papa juga menyayangi Fabian, papa sudah anggap dia seperti adik kandung papa sendiri. Tapi bukan berarti papa setuju dan menerima dia sebagai suamimu dan menantu papa. Lagi pula usiamu baru 21 kuliah pun belum tamat, mau dibawa kemana masa depanmu?"
"Tapi aku mencintai om Bian pa, dan aku enggak mau yang lain! aku janji akan menyelesaikan kuliahku dengan baik seperti harapan papa dan mama, tapi tolong restui kami."
"Tidak bisa!"
"Pa.... Kenapa papa jahat? padahal papa juga tahu cinta tak bisa dipaksakan? apa karena om Bian lebih miskin dari kita?" Tanyaku sambil menangis dan tak kusangka itu membuat papa marah.
"Gita!! kamu masih kecil! belum paham apa itu cinta, dicintai dan mencintai! hidup tidak cukup dengan cinta, papa tidak pernah memandang status orang selagi dia baik yang papa inginkan kamu mendapatkan laki-laki yang cintanya lebih besar dari kamu, paham! Dan mulai saat ini, kamu tidak boleh keluar rumah selain kuliah dan itu akan di antar jemput sopir. Dan kalau kamu berusaha membohongi papa bersekongkol dengan sopir, maka papa tidak akan segan memecatnya."
"Papa jahat!" Teriakku meraung sambil melempar vas bunga ke arah pintu yang dilewati papa.
Hari-hari silih berganti hingga dua Minggu berlalu semenjak malam itu dimana papa menentang hubunganku dengan om Bian dan selama itu pula aku mengurung diri, bolos kuliah dan sering mogok makan tapi komunikasi dengan om Bian tetap lancar. Namun tubuhku kian lemah karena kurangnya asupan ke dalam tubuh, bahkan mama tiap hari nangis dan membujukku tapi akupun tetap dengan keinginanku untuk tidak makan. Apa artinya hidup kalau untuk bahagia saja di batasi, hingga akhirnya suatu malam papa memanggil om Bian yang kemudian datang dengan di temani Oma yang langsung menangis saat masuk kedalam kamarku dan meminta maaf sama mama.
"Nak maafin ibu karena baru tahu semua ini dari Wisnu." Ucap Oma yang masih berpelukan sama mama, setelah beberapa saat mereka saling menguatkan Oma beralih padaku. "Gita, kesayangan Oma. Makanlah nak! kamu mogok makan tidak akan menyelesaikan masalah yang ada hanya menambah masalah karena merusak badan. Bagaimana orang lain termasuk pasanganmu kelak mau mencintaimu sedangkan kamu sendiri tidak mencintai tubuhmu sendiri. Makanlah, urusan kalian biar kami orang tua yang bicarakan." Ucap Oma lembut sembari beralih mengambil piring yang sudah dipenuhi makanan kesukaanku yang dibawa dari rumahnya.
Setelah pertemuan itu dengan kemarahan papa yang meledak-ledak sama om Bian, dan berlanjut dengan perdebatan panjang akhirnya dengan berat hati papa memberikan restunya pada kami dengan syarat aku harus tetap kuliah, akupun langsung menyanggupinya karena mau sebucin apapun aku sama om Bian aku sadar pendidikan tetaplah penting dan di atas segalanya.
Pesta pun di gelar, meski tidak mewah apabila dibandingkan dengan standar kekayaan papa tapi itu tidak mengurangi kebahagiaan kami, justru aku sangat bahagia merasa dunia ini hanya milikku. Mendapatkan laki-laki yang selama ini ku cintai dari sejak awal aku mengenal cinta dan mendapatkan mertua yang bahkan menyayangiku melebihi sayangnya pada om Bian yang notabene anak kandungnya sendiri.
Kebahagiaan tak sampai disitu, papa yang awalnya menentang hubungan kami. Namun semuanya berubah setelah om Bian resmi menjadi suamiku, papa memberinya jabatan tinggi di perusahaan dengan mengangkatnya jadi CEO supaya om Bian bisa memberiku hidup yang lebih layak dan setara.
Bulan silih berganti kami menjalani biduk rumah tangga seperti halnya pasangan lainnya dengan kesibukan masing-masing, aku sibuk kuliah dan om Bian sibuk bekerja dengan jabatannya yang sekarang dan tentunya dengan aktifitas yang padat.
Awalnya, meski kami sama-sama sibuk tetapi komunikasi tetap lancar. Dimanapun masing-masing dari kami berada selalu saling mengabari, namun lama-kelamaan om Bian mulai berubah. Banyak pesanku yang sering terabaikan, telepon yang banyak tak terjawab dan berakhir pada tanya saat kami berada di rumah dan itu pun tidak mendapatkan jawaban yang pasti tapi aku tidak mempermasalahkannya mengingat dia bukan lagi staf biasa melainkan seorang CEO. Yang penting dia masih menjaga hati dan setia, itu masih ku pegang teguh sebab dia dalam memperlakukan ku sebagai istri di atas ran-jang tidak ada yang berubah. Hanya saja tidak sesering dulu karena lebih sering pulang larut saat aku sudah tertidur.
Hingga suatu pagi di akhir pekan, dia ijin mau ke kantor karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan sebelum hari Senin. Padahal sejak dua hari lalu aku merasakan tubuhku tidak baik-baik saja dan aku memintanya untuk tetap dirumah menemaniku, tapi permintaanku seperti dianggap angin lalu. Dia tetap pergi dengan janji sore sudah dirumah, akupun hanya diam termangu dengan airmata yang tiba-tiba merembes entah kenapa hati ini tiba-tiba perih padahal itu hal biasa dan kantor masih berada dalam jangkauanku.
Saat ku larut dengan pikiran yang entah kemana, tiba-tiba aku merasakan perutku mual hebat hingga tak bisa lagi di tahan. Setengah melompat aku turun dari ranjang berlari menuju wastafel, disitu aku muntah sampai seluruh isi perut yang masuk saat sarapan tadi tak tersisa. Rasanya lemas sekali, di sisa-sisa tenaga setengah merangkak aku menuju ranjang dan menekan interkom menghubungi art di dapur meminta minuman hangat.
"Non kenapa sampai pucat begini? mbok hubungi ibu sama nyonya ya! sekarang non baring dulu biar si mbok pijit dulu." Ucap si mbok dengan raut khawatir, aku sama sekali tak menyahut sebab setiap kali mulutku terbuka rasa mual itu kembali datang.
"Badan non juga demam, kayaknya non masuk angin atau..." Ucapan si mbok terhenti membuatku penasaran.
"Atau apa mbok?" tanyaku memiringkan wajah ke samping.
"Atau jangan-jangan si non i-si."
Deg! aku terdiam mengingat-ingat jadwal tamu bulananku yang biasa datang setiap tanggal tujuh, otakku mulai ngeblank tak mengingat hari ini tanggal berapa membuatku menanyakannya pada si mbok.
"Sekarang tanggal 18 non."
"Tanggal 18?" Ucapku membeo, 'Ya Allah apa benar aku hamil? tapi tidak mungkin karena selama ini suamiku selalu memakai kon-trasepsi meski pernah beberapa kali terlewat saat dia pulang kerja tengah malam dan membangunkan ku untuk melayani has-ratnya yang meledak-ledak. Tapi itu tidak mungkin langsung jadi'
"Kayaknya masuk angin mbok, soalnya aku selama ini pake kon-trasepsi." Sangkal bibirku tegas padahal dalam hati gamang.
Setelah beberapa menit merasakan pijitan si mbok dan tubuhku mulai membaik aku memutuskan untuk pergi ke apotik dan setelah dari apotik aku berencana menyusul suamiku ke kantor. Kalau memang aku positif hamil akan ku jadikan itu kejutan buat suamiku yang mungkin akan menjadi obat lelahnya.
"Mbok, aku mau keluar dulu ada penting."
"Lho! non mau kemana? kan lagi sakit." Ucap si mbok khawatir.
"Aku enggak sakit mbok cuma masuk angin dan sekarang udah enakan, aku pergi dulu ya." pamitku setelah memakai Hoodie dan merapikan penampilanku dan sedikit memoleskan blush-on untuk menutupi wajahku yang terlihat pucat karena memang kondisi perutku belum membaik. Hanya saja aku paling tidak suka menunggu dalam penasaran, terlebih ini menyangkut masa depan yang harus ku jaga.
Aku berdiri mematung, kedua mataku menatap benda bergaris dua di tanganku yang bergetar hebat. "Positif, aku hamil!" Ucapku bergetar, tanpa terasa air mataku perlahan mengalir, meski bingung sebab kuliahku masih harus menempuh 4 semester lagi namun jauh dilubuk hatiku aku bahagia. Buah cintaku dan om Bian telah tumbuh di rahimku.
"Sehat-sehat sayang... Sabar dulu ya habis ini kita kasih kejutan papi, dan besok baru Oma, opa dan eyang." Lirihku sembari mengusap perut, aku menyeka air mata kemudian keluar dari toilet apotek menuju parkiran hendak ke kantor suamiku.
"Non Gita..."
"Pak! suami saya ada di kantor kan?"
"Ada non, tapi sedang menerima tamu dan tadi pesan sama saya supaya tidak mengijinkan siapapun masuk katanya tamu penting."
"Laki-laki perempuan?"
"Mm... Itu, non sebaiknya non tunggu saja mungkin sebentar lagi pak Bian selesai."
Tanpa menghiraukan ucapan sekuriti aku melajukan mobilku melewatinya, tamu sepenting apa sampai tidak boleh di ganggu sedangkan aku ini istrinya, dan ini perusahaan milik papa.
Aku ayunkan terus kaki ku setelah keluar dari lift melewati lorong sepi karena memang ini weekend, tapi saat tinggal beberapa langkah untuk sampai di pintu ruangan suamiku, sebuah suara mendayu memanggil nama suamiku tertangkap pendengaranku.
Deg!
Tamu, teman bisnis apa harus memanggil suamiku penuh nikmat dan gairah? tak ingin menduga-duga ku percepat langkahku hingga sampai di depan pintu kokoh yang tidak tertutup rapat, perlahan aku mendorong nya bersamaan dengan erangan panjang yang keluar dari bibir suamiku yang tengah menindih tubuh perempuan di atas sofa.
Aku berdiri mematung dengan pikiran kosong bahkan bibir pun tak bisa ku gerakkan, hanya bisa berteriak dalam hati ..... Bukan katanya, tapi aku melihat dengan mata kepalaku sendiri suami yang ku cintai dengan segenap jiwa ragaku tengah mengatur napas di atas tubuh perempuan lain, didalam gedung milik papaku, di dalam ruangan yang membesarkan namanya, untuk menyetarakan status kami.
Perlahan tanganku yang bergetar mengusap perut rataku, di sisa-sisa kesadaran yang hampir menguap aku memundurkan tubuh melewati pintu kokoh menyeret langkah dengan terseok-seok. Namun nahas perut yang tadi sudah tak merasakan mual tiba-tiba bergejolak hingga membuatku tak bisa lagi menahan dan akhirnya aku muntah di depan lift.
"Gitaa! kamu kenapa, ngapain di sini?" Seru suamiku tergopoh sembari memakai kaos yang tadi dilepasnya dan berserakan di bawah sofa, dan membuat perutku semakin mual hebat.
"Git! Gita sayang, kamu kenapa? kamu baru datang kan?" ayo kita ke pantry?" Ajaknya sembari merengkuh tubuhku namun dengan cepat aku menepisnya.
"Lepasin! jangan sentuh aku dengan tangan kotormu!" bentak ku akhirnya meledak. Aku berdiri dan menekan tombol lift meninggalkannya yang berdiri mematung.
"Kamu ini kenapa? bicaralah jangan kekanakan!" Ucap Suamiku setelah beberapa jam kepulangannya dari kantor dengan aku yang masih menangis.
"Jangan tanya aku kenapa tapi tanyakan pada dirimu sendiri aku kenapa seperti ini? apa aku harus ketawa dan baik-baik saja saat melihatmu menja-mah perempuan lain di kantor orang tuaku? siapa dia? kenapa kamu jahat padaku? apa kurangku?" Tanyaku setengah menjerit berharap bisa mengurangi rasa sakit di dada ini. Dan itu membuat raut wajahnya seketika berubah.
"Katakan! siapa dia Fabian?"
"Dia Sonia, kekasihku dulu."
"Jadi... Selama ini?"
"Iya, saat kita bersama dan aku menikahi mu dia di luar negeri melanjutkan kuliahnya. Maafkan aku, aku tidak berniat menyembunyikan ini hanya aja tidak ada kesempatan untuk bercerita. Dan tidak mungkin aku tiba-tiba membahasnya. Dia kembali dari tiga bulan yang lalu, dan satu hal yang membuatku menyesal telah membohongimu, membohongi perasaan ini. Sonia dan aku sama-sama tidak bisa saling melupakan, dan salahku tidak memberitahunya kalau aku sudah menikahi mu."
"Kamu jahat Fabian! benar-benar jahat! aku mau kita bercerai dan kamu pergi dari rumahku sekarang juga!" Jeritku tanpa mempedulikan lagi seisi rumah.
Dia memelukku erat dan terus meminta maaf, namun aku takkan lagi tertipu. Sikapnya, sentuhannya dan segala kelembutan yang diberikannya padaku. Merupakan kebodohanku mempercayainya tanpa menyelidiki kenapa dia dulu tiba-tiba berubah padaku, ternyata aku hanya dijadikan pelarian saat ia kesepian ditinggal pergi oleh perempuan itu.
Keesokan paginya dengan mata sembab ku buka lemari dan kuambil semua pakaiannya lalu ku lempar tepat di depan wajahnya.
"Git, kamu tidak serius kan? kita tidak akan bercerai!"
"Aku serius, aku ingin kita bercerai."
"Maafkan aku, sekali lagi maafkan aku. Aku sudah berusaha jujur dan mengakui kesalahanku tapi kamu tidak menerimanya. Baiklah aku akan pergi tapi jika kamu tetap ingin kita pisah maka kamu saja yang urus semua, aku akan tetap menunggumu berubah pikiran. Aku sadar aku bukan laki-laki baik, cari lah laki-laki baik yang pantas untukmu."
Mendengar ucapan panjang kalimatnya, aku hanya berdiri mematung dengan kedua tangan yang masih memegang bajunya dengan air mata yang lagi-lagi kembali mengalir seakan tidak ada habisnya. Bagaimana bisa aku mencari dan membuka hati untuk laki-laki lain sementara seluruh rasaku sudah habis terbawa olehnya.