Nama ku Kelana. Aku suka warna biru. Aku suka semua warna biru. Biru muda, biru tua, biru langit, biru laut, biru seragam SMP, biru gorden di rumah dia, baju biru yang dia pakai, aku suka semua biru yang dia pakai. Ups, jadi bawa-bawa dia.
Hari ini hari sabtu, seperti biasa aku sedang menulis, duduk di samping jendela dalam kamarku, menunggu pulangnya senja mengantarkan ingatan dua tahun lalu saat aku tidak ingin melihat ada senja di luasnya langit. Aku memang egois, apa hak ku untuk tidak membiarkan senja pulang, sementara biru langit saja tidak keberatan untuk berbagi warna dengan senja.
*
Aku meneguk kopi dari cangkir keduaku. Katanya setiap kepulangan membutuhkan perayaan. Aku sedang merayakan kepulangan kenangan pada rumah bernama ingatan. Dua tahun lalu. Biar ku beritahu sesuatu padamu, jangan selalu menjawab pertanyaanya dengan serius, karena dia selalu punya jawabannya dan pasti kamu akan kalah dengannya.
“na, apakah mereka selalu terburu-buru ?”
Kursi Stasiun Kereta Api Bandung yang berada di depan loket 6, mbak-mbak berkecamata hitam dengan koper hijau yang berada di tengah-tengah kakinya, ibu-ibu kebingungan mencari loket dengan nomor antrian di tangannya, security ramah yang sibuk mondar-mandir seperti sedang gelisah memikirkan apakah anaknya sudah sampai dengan selamat dari sekolah, dan banyaknya orang-orang sibuk berpergian keluar masuk gerbong. Saya tidak tahu mereka yang dia maksud itu siapa, karena saat ia bertanya aku melihat sorot matanya berada di suatu titik - jam keberangkatan.
Raut mukanya serius. Lelaki menyebalkan ini sedang membuatku bingung. Setelah mataku berkeliling manyapu seisi pintu masuk kedatangan stasiun, sepertinya aku harus menjawab pertanyaannya dengan serius juga.
“iya, karena mereka terlalu banyak menyimpan mau dalam isi kepala”
“apa mereka bahagia?”
“mereka bahagia karena terburu-buru ?”
“bukan, mereka bahagia jika pulang”
“memangnya mereka akan pulang ?”
“memangnya mereka terburu-buru untuk pulang?”
Aku tahu ia tidak mau pulang hari itu. Tiket kereta api Bandung-Jakata masih berdiri tegak di himpit struk bekas belanjaan yang dibaliknya ada tulisan-tulisan dan puisi yang aku tulis, tapi tidak pernah ia baca. Kenapa tidak dibaca ? aku slalu bertanya padanya, setiap kami berbelanja di mini market langganan, struknya pasti ia berikan padaku seolah-olah ia memaksaku untuk terus menulis di situ. Ia tidak pernah menjawab pertanyaanku, yang itu.
“hati-hati ya”
“aku masih mau bersamamu, na”
“tapi kamu harus pulang, bukan ?”
“aku sedang tidak terburu-buru, na”
Benar. Ya, dugaan ku benar. Tapi aku tahu, dia di Bandung bukan untuk bersama ku, bukan, ntahlah hanya dia yang tahu. Jarum jam terus berputar mengelilingi langkah kakinya yang tidak mau beranjak dari kursi tunggu. Aku bisa merasakannya, Biru, tapi kamu harus pergi. Di sini bukan tempatmu. Ibu Kota sudah menjadi pilihanmu untuk menggapai angan dan ingin mu, bukan ?.
Minggu depan kita bertemu lagi, kan ? aku bertanya padanya yang sedang menggenggam tanganku, tatapannya tidak berubah. Masih pada titik yang sama – jam keberangkatan.
“beri kabar jika sudah sampai”
“beri aku waktu untuk berpikir, na”
“maksudmu ?”
“aku pergi, aku menunggu di dalam saja. Sudah hampir malam, nanti kamu nyasar”
Biru mengambil tas bawaannya lalu beranjak dari tempat duduk. Masih menggenggam tanganku. Aku tahu, akhirnya kita harus berpisah. Minggu depan kita bertemu lagi ? aku mengulang pertanyaan yang tidak ia jawab sebelumnya. Biru, mengecup keningku, lalu memelukku. Senyumannya menyebalkan. Biru, senyummu itu sama sekali tidak menjawab pertanyaan ku. Tapi aku tenang setelah melihatnya, kamu pasti akan baik-baik saja di sana. Itu sudah cukup bagiku.
**
Seperti biasa, saat dia memasuki gerbong, Biru tidak pernah menoleh kebelakang. Aku pernah bertanya, kenapa, dia bilang “aku tidak mau melihat penjaga tiket, nanti dia jatuh cinta padaku”. Jawabannya, bukan jawabannya yang serius. Ya, bisa jadi serius. Setiap pertanyaan yang aku beri, jarang sekali dia jawab dengan serius. Terlalu banyak yang aku tidak tahu tentangnya, begitu pun sebaliknya, banyak yang aku tahu tentangnya. Terutama soal matanya yang teduh, senyumannya yang membuatku tenang, wangi parfume yang ia pakai, makanan kesukaanya, coffe yang ia pesan.
Biru ku, sudah pergi. Di perjalanan pulang aku selalu memikirkan, apa yang Biru lakukan di dalam kereta. Ah, palingan dengar musik, nggak mungkin kan kalau ia menyempatkan untuk membaca tulisanku yang tersusun rapih di dompetnya. Karena, setiap aku melihat isi dompetnya saat ia memasukan struk berisi tulisanku, susunannya sama sekali tidak pernah berubah. Biru, menyebalkan. Aku tulis itu untukmu.
*
Sore itu, di pinggir kolam ikan. Setelah makan siang, setelah tak ada lagi kegiatan dihari sabtu. Setelah 2 bulan kita bertemu via video call. Aku menggunakan baju berwarna hitam, dan ia menggunakan baju biru tua dengan wangi yang khas. Aku suka wanginya. Wangi yang menempel lekat di ingatan dan di udara. Seolah-olah memberi kenangan, memberi nafas panjang disetiap kebersamaan.
“na, kamu tahu nggak kenapa warna langit itu biru ?” ucapnya, sambil menatap penuh penasaran dengan jawabanku.
“takdir ?” jawabku asal.
Dan aneh sekali hari itu ia membenarkan, biasanya jawaban ku selalu saja ia anggap salah, sekalipun jawaban aku benar.
“Iya benar jawabannya karna takdir na, tapi kalau kamu cari tahu yang sebenarnya, akan ada teori yang memastikan kenapa warna langit itu biru. Secara teori Matahari memancarkan cahaya putih ke bumi. Bumi dilindungi oleh atmosfer yang tersusun dari berbagai macam gas yang akan menyerap cahaya putih tadi, setiap warna memiliki panjang gelombang yang akan di tangkap mata kita, na. Jika gelombang tersebut panjang akan terlihat sebagai warna merah, oranye, dan kuning. Sedangkan panjang gelombang yang rendah dikenali oleh mata sebagai warna biru, ungu, dan hijau. Biru pemenangnya na, walaupun dia punya gelombang yang rendah dibanding warna lain, setelah itu biru juga harus berlomba dengan warna lain yang memiliki kesamaan, tapi semesta menakdirkan untuk beri warna biru pada langit”, ucapnya lembut.
Aku menatap wajahnya yang sedang berusaha menjelaskan, penjelasan soal perjuangan warna biru. Ia menggenggam erat tanganku di pangkuanya. Tatap matanya memberi salam yang tidak pernah kulihat sebelumnya, ada genangan yang hampir tumpah di sudut matanya.
Aku terdiam, suara burung bahkan suara gesekan ranting yang terdengar, pun ikut diam. Aku hanya bisa memastikan, bahwa angin sore itu cukup lembut. Mendukung kebersamaan agar tetap hangat oleh matahari sore yang mungkin akan pamit sebentar lagi.
Sepertinya kami punya satu pemikiran, seolah-olah kata “takdir” punya makna yang sama antara aku dengan nya, karena takdir tidak butuh alasan lain kenpa harus takdir jawabannya.
Kami punya takdir yang sama. Takdir kami bertemu untuk berpisah.
Dua tahun lalu kami saling melepas takdir untuk di genggam oleh masing-masing. Setelah pertemuan terakhir dengannya, sore itu. Saat senja hendak pulang, saat biru langit berubah gelap, saat aku harus melepas kepergian Biru.
Ia akan pergi ke tempat yang lebih jauh, yang tidak bisa dijangkau oleh kereta. Negara Kincir Angin menjadi pilihannya untuk melangkah merambah anggannya. Senyuman terakhirnya menjanjikan ia akan baik-baik saja. Biruku sedang mengejar langit yang entah sama-atau tidak dengan langitku.
Biru. Dia adalah biru. Biru yang aku punya. Meski dia sudah tidak bersamaku, tapi dia pernah menyematkan bahwa “takdir nya” ada di dalam hidupku, dia akan slalu ada. Dia adalah biru yang tidak pernah mengeluh, meski hujan, meski mendung, meski memiliki kekurangan dibanding warna lain. Dia tetap biru bagiku, bahkan anak-anak TK yang belum mengerti arti biru pada langit, akan tetap mewarnainya dengan biru.
Terimakasih untuk warna biru sebagai pemenang dari warna lain yang terkenang. Terimakasih takdirmu menjadi bagianku.
Sicerdas yang menyimpan sejuta makna, kita pasti bertemu di persimpangan jalan menuju rumah bernama ingatan.
Terimaksih, terimaksih untuk warnanya , terimakasih sudah ada.
Aku meneguk kopi ketigaku, sebagai perayaan karena sudah bertemu dalam ingatan.