"Tidak!"
Langkah kaki yang mulai melemah kini menuntunnya untuk berhenti. Hujan deras menemani nafasku yang sedikit tersengal. Aku berdiri tepat di bawah pohon rindang di tengah kota yang tidak begitu ramai.
"Reina kumohon ... Bisakah kita bicarakan?" Ujar pria yang terus mengikuti langkahku dari awal aku berlari.
Aku berbalik dan mataku melayang menatap mata coklatnya yang indah. Tampak pucat, wajah itu ... Terluka, dan yang lebih jelas... Rasa sakitnya yang terukir di setiap sudut wajah itu.
Bibirku terdiam, bukan karena malas. Namun entah kenapa ada getaran yang membuatku sulit untuk berucap. Seolah bibir ini terkunci rapat hingga tak bisa berkata-kata.
"Reina ..." Lirihnya.
Pria itu berjalan menghampiriku dengan langkahnya yang gemetar, langkahnya bergetar selah enggan melepasku pergi. Ia berhenti tepat di depanku. Sebelum suara lembutnya kembali terdengar.
"Reina... Aku tidak ingin pergi dari sisimu, aku ingin bersamamu... Reina, aku mencintaimu"
Hatiku terasa sakit layaknya sebuah pisau yang menusukku, membuat dadaku terasa sesak.
Allen, pemuda yang ku cintai, bagaimana bisa aku melepasmu setelah sekian lama kita bersama. Hari hari dimana kita membuat kenangan yang akan kita simpan selamanya. Namun aku juga tidak menyangka akan secepat ini kita berpisah.
"Allen ..." Bibirku mencoba berbicara. "Reina, bagaimana bisa kita berpisah? Meskipun aku harus menikah, jelas jelas aku hanya ingin menikah denganmu."
Ucapan itu... Aku tahu dia tulus ... Tapi, mau bagaimana lagi, aku harus menolaknya.
"Allen, dari awal hubungan Keta memang tidak pernah di dukung. Kamu juga tahu, kan..."
"Tapi Reina —"
"Cukup!"
Teriak Reina sembari menunduk. bukan kesal, tapi berusaha menahan tangisnya yang hampir saja pecah. Allen? Dia terkejut, ucapannya terputus namun ia masih terdiam.
Reina mengangkat kepalanya yang lagi tertunduk, matanya menatap mata Allen sembari tersenyum, Reina kini membuka suaranya lagi.
"Allen aku mengerti perasaanmu, aku mengerti keadaanmu, aku tahu terlalu banyak kenangan yang sulit dilupakan, bukan?" Ujar Reina lembut sebelum melanjutkan.
"Namun apakah kamu tidak merasakan bagaimana perasaanku? Kau akan hidup bersama seseorang yang bukan diriku"
Allen terdiam, Reina tahu kalau ia tak ingin menyakiti hati Allen yang tulus mencintainya. Namun ia tak punya pilihan lain.
"Lupakan aku... Allen"
Allen terkejut, jantungnya seakan berhenti berdetak dalam beberapa detik.
Kenapa, kanapa aku harus melupakanmu? Air mata kini menitik ke pipinya yang putih. Tidak tertahan lagi Allen terisak. Bibirnya gemetar, ia tak menyangka Reina akan mengatakan hal ini.
"Tidak bisa ... Reina, kenapa kau sejauh itu padaku? Apa ... Apa kau ingin membuang semua kenangan itu, Reina?"
Reina terdiam, mana bisa aku melupakanmu begitu saja, ini demi kebaikanmu juga demi ketenangan ku.
Aku tahu, Allen tidak mencintai wanita yang di jodohkan dengannya, tapi aku tahu, wanita itu mencintai Allen. Perlahan Aku yakin. karena Allen adalah pria yang tidak tahu cara mencintai, ia pasti bisa menerimanya.
"Kalau begitu ... Pelan pelan saja, Allen" kata Reina tersenyum.
Allen kembali menggigit bibirnya, seorang pemuda yang berada dalam kendali orang tuanya pasti sulit untuk meronta menuju kebebasannya.
Jika bisa, aku ingin membawamu berlari, pergi menjauh dari keramaian dunia, menuju dunia kita. Dimana hanya kita berdua saja.
Namun lamunan itu terlalu jauh, bukan? Seolah kau memang bukan di takdirkan untuku sedari awal.
Namun dunia akan selalu menjadi saksi.
Langkah kaki Reina semakin menjauh, hanya meninggalkan jejak kenangan salam rintik hujan penuh makna yang perlahan-lahan lenyap menjadi butiran air yang terus mengalir kebawah, lebih dalam lalu menghilang begitu saja.
Suara layar denyut jantung bersamaan dengan suara tepuk tangan yang ramai meski berbeda tempat. Reina sudah masa kritis dalam penyakitnya.
Membuatnya terbaring dan menjalankan perawatan. Meski Reina tahu usianya tidak lama, ia juga tahu sebelum denyut itu benar-benar berakhir, ia sudah memiliki kenangan indah yang bisa ia bawa selamanya.
Hari itu ...
Kau bersanding dengan wanita pilihan keluargamu.
Hari itu ...
Semua tersenyum kecuali aku yang menatap langit dari ranjang rumah sakit ini.
Tapi aku tetap berdoa agar kau bisa bahagia meski bukan denganku.
Karena mencintaimu ... Tidak harus memiliki.
Dan nanti jika ada suara angin menyapamu disana, itu aku, yang pamit, untuk terakhir kalinya.
Allen cintaku ... Selamat tinggal!
~END~
By lxvlyne