Bagian I: Bengkel yang Terkutuk
Bengkel milik Pak Tua Bastian tidak berbau kayu atau cat seperti toko mainan pada umumnya. Tempat itu berbau karat tembaga, nanah yang mengering, dan sisa-sisa formalin yang gagal menutupi aroma pembusukan yang tajam. Di sana, lantai kayu selalu basah oleh cairan hitam yang tidak pernah kering, dan dindingnya dilapisi kulit yang teksturnya terlalu halus terlalu mirip dengan kulit manusia.
Arini berdiri di tengah ruangan, dikelilingi oleh ribuan mata kaca yang mengawasinya dari rak-rak gelap. Ia datang membawa rahasia yang membusuk. Setahun lalu, suaminya tewas dalam kecelakaan mobil setelah Arini memotong kabel remnya. Sejak itu, suara napas mendiang suaminya selalu terdengar di telinga Arini setiap kali ia memejamkan mata.
"Aku ingin dia diam, Bastian. Aku tidak ingin dia muncul dalam mimpiku lagi," bisik Arini. Matanya cekung, hitam karena berbulan-bulan tidak tidur.
Bastian, dengan jemari keriput yang penuh bekas tusuk jarum, menyeringai. "Boneka tidak bicara, Arini. Mereka hanya bergema. Kau ingin dia diam? Maka kau harus memberikan sesuatu yang bisa membuatnya kenyang. Keheningan butuh tumbal."
Bastian mulai bekerja. Ia menjahit sisa rambut dan kepingan kuku almarhum suami Arini ke dalam manekin porselen seukuran manusia. Arini membawa boneka itu pulang ke kamar yang menjadi saksi bisu kebenciannya.
Bagian II: Malam yang Berdarah
Pukul 03:00 pagi. Keheningan di kamar Arini meledak.
Arini terbangun karena suara krak... krak... krak... yang ritmis. Ia menyalakan lampu dan mendapati boneka porselen itu tidak lagi duduk di kursi. Ia merangkak di langit-langit, persendian porselennya terbalik, mengeluarkan cairan hitam kental yang menetes tepat ke dahi Arini. Cairan itu panas, membakar kulit seperti asam.
Arini ingin menjerit, tapi mulutnya kaku. Saat ia meraba wajahnya, ia merasakan benang kasar keluar dari pori-pori kulitnya Mulutnya sedang dijahit secara gaib dari dalam.
Boneka itu terjatuh ke atas tubuh Arini, beratnya seperti beton. Wajah porselennya yang retak mulai terkelupas, menunjukkan wajah asli suaminya yang sudah membusuk di bawah lapisan keramik. Bau busuk yang luar biasa menyeruak, memenuhi paru-paru Arini hingga ia tersedak.
Tangan boneka itu, yang berupa potongan jari asli yang disambung kawat, mulai menusuk mata Arini. Tidak ada darah
merah. Yang keluar adalah benang-benang hitam. Boneka itu mulai menjahit tubuhnya ke tubuh Arini. Kulit bertemu kulit, luka bertemu luka. Setiap tusukan jarum gaib itu menembus saraf Arini, mengirimkan rasa sakit yang melampaui kematian.
Bagian III: Anatomi Penderitaan
Keesokan harinya, Arini tidak terbangun di tempat tidurnya. Ia terbangun di atas meja bedah seng milik Bastian. Ia masih sadar, namun tubuhnya sudah menjadi satu dengan boneka porselen dan bangkai suaminya.
Bastian mengeluarkan gergaji tulang yang berkarat. "Porselen itu abadi, Arini, tapi dagingmu adalah sampah. Aku harus membuang bagian yang 'basah' agar kau bisa duduk manis di rakku selamanya."
Krak. Gergaji itu mulai mengunyah tulang bahu Arini. Bastian merogoh ke dalam rongga dada Arini yang terbuka, mengeluarkan jantungnya yang masih berdenyut, dan menggantinya dengan sebuah jam pasir berisi abu kremasi suaminya.
Lalu, bagian paling brutal dimulai: Bastian menuangkan porselen cair mendidih langsung ke dalam mulut Arini yang terbuka. Suara jaringan tenggorokan yang melepuh dan hangus terdengar mengerikan. Cairan itu mengeras seketika, mengunci lidah dan jeritan Arini di dalam penjara keramik yang permanen.
Bagian IV: Koleksi Baru
Arini kini adalah sebuah mahakarya porselen yang cantik dengan ekspresi wajah yang sedang menjerit abadi. Ia diletakkan di rak terdepan toko.
Seorang pelanggan pria dengan mata cekung yang haus akan kekerasan datang. "Saya ambil yang ini," ujar pria itu sambil menyentuh pipi Arini. "Istri saya dulu terlalu banyak bicara. Sekarang, saya hanya ingin keheningan."
Bastian membungkus Arini dengan kain beludru hitam. Dunia Arini menjadi gelap total saat ia dibawa masuk ke dalam bagasi mobil dan diletakkan di sebuah ruangan bawah tanah yang kedap suara.
Klek. Pria itu mengunci pintu.
"Nah, Sayang," bisik pria itu di kegelapan sambil mengeluarkan pisau bedah yang berkilau. "Aku punya koleksi jarum baru. Mari kita lihat, apakah boneka secantik kamu bisa mengeluarkan darah kalau aku tusuk di bagian yang benar?"
Di sudut ruangan itu, Arini mendengar suara gesekan halus dari puluhan boneka lain yang berdiri kaku. Arini sadar bahwa ia telah memasuki babak baru dalam nerakanya. Jam pasir di dalam dadanya berdetak, srek... srek... srek... setiap butir abu suaminya jatuh, mengikis sisa kewarasan yang ia miliki dalam kesadaran yang abadi.