Aksara dan Aruna tumbuh di gang kecil di kota yang tak pernah terlalu ramai. Rumah mereka bersebelahan, hanya di pisahkan pagar kayu rapuh yang sering di lompati aksara setiap pagi hanya untuk menjemput Aruna ke sekolah.
Mereka seperti langit dan laut, berbeda tapi selalu dekat. Aruna kecil penuh tawa, suara cemprengnya sering terdengar sampai ujung jalan. Sedang aksara lebih tenang, banyak diam, tapi pandangannya tak pernah lepas dari gadis kecil di sebelah rumah itu.
"Aku bakal nikahin kamu kalau udah gede" ucap aksara saru siang di bawah pohon jambu belakang rumah. Aruna tertawa, giginya ompong dua. "Yakin kamu? Aku bisa jadi tinggi lho, lebih tinggi dari kamu" "yaudah, aku juga bakal tinggi, biar cocok"
Mereka berjanji, seperti anak anak pada umumnya. Tapi tidak tahu bahwa dunia tidak selalu menepati janji yang dibuat dengan polosnya.
🍁🍁🍁
Waktu berjalan. Hidup memisahkan mereka. Keluarga Aruna pindah. Mereka tumbuh masing masing di kota yang berbeda, hingga akhirnya dipertemukan lagi dalam sebuah reuni SMA bertahun tahun kemudian.
Aruna datang dengan rambut panjang dan senyuman dewasa. Aksara datang dengan mata yang lebih dingin dari dulu.
"Aruna..." "Hai aksara..."
Percakapan itu canggung, ada jeda yang panjang, bukan karena tak ada yang ingin dikatakan. Tapi terlalu banyak yang ingin di keluarkan hingga tak satupun bisa disampaikan.
Mereka pulang ke hidup masing-masing, tak ada yang kembali seperti dulu. Aksara punya kekasih, begitu juga Aruna. Mereka berpapasan kadang kadang di media sosial, tapi tak benar benar mendekat lagi.
Hingga suatu hari, orang tua mereka dalam keisengan khas orang tua zaman dulu, menjodohkan anak mereka. Mereka tidak tahu tentu saja. Nama tidak di sebutkan, hanya di beri waktu dan tempat pertemuan.
Beberapa hari sebelum pertemuan itu, Aksara tahu siapa pasangan yang di jodohkan dengan Aruna. Pria itu bernama Rehan, arsitek, tampan dan ... Terlalu sempurna.
Dan entah karena cemburu, atau karena hati yang belum sembuh, Aksara melakukan hal yang tak bisa ia tarik kembali.
Mobil Rehan mengalami kecelakaan saat hendak pergi ke tempat pertemuan.
Saat Aruna berlari ke lokasi kejadian, wajahnya penuh panik. Tapi yang ia lihat bukan hanya Rehan yang terkapar. Ada aksara, berdiri tak jauh dari sana, wajahnya pucat matanya kosong. Seolah ia sedang menunggu kejadian ini.
"Kenapa kamu disini?" Tanya Aruna.
Aksara tidak menjawab, tapi saat matanya menatap mata Aruna, tiba tiba semuanya menjadi terasa jelas. "Astaga ... Jangan bilang ini kamu, aksara"
Hening...
"Ya tuhan, apa yang kamu lakukan!" Dan sebelum Aruna bisa melangkah lebih jauh, sebelum dia bisa benar-benar memproses semuanya, sebuah mobil melesat terlalu cepat di tikungan yang sama.
Brak!
Tubuh Aruna terpental lebih dulu, Aksara menyusul, tubuhnya menghantam keras aspal, gelap ... Lalu sunyi.
Beberapa hari kemudian... Rumah sakit bau antiseptik dan suara monitor detak jantung menjadi latar hidup yang baru.
Aruna mengalami luka serius, tapi jantungnya baik baik saja. Aksara pendarahan hebat. Dokter berkata, dia hanya akan bertahan jika ada donor jantung. Dan waktu mereka... Tidak banyak.
Aruna mendengar dari balik tirai ruangan. Ia tak menangis, hanya menatap keluar jendela.
Langit hujan lagi... Seperti malam itu.
Tidak ada yang tahu pasti, kapan Aruna membuat keputusan. Tapi ketika dokter datang pagi itu, tubuhnya sudah di meja operasi, dan lembar surat yang dilipat rapih ada di saku bajunya.
🍁
Dan saat aksara siuman... Dunia terasa asing. Ia mendengar suara mesin, lalu suara perawat, lalu suara tangis dari lorong... Lalu hening. Sampai seseorang menyerahkan surat itu kepadanya.
Aksara membuka pelan ... Dan membaca.
Tangannya mulai gemetar, nafasnya pendek. Kata demi kata ... Menghantam seperti ombak yang kejam. Air mata jatuh satu satu, lalu menjadi isak. Dia memukul dadanya, jantung itu berdetak. Tapi bukan miliknya.
"Aruna ..." Bisiknya, tangisnya tak lagi tertahan "kenapa kamu ... Kenapa harus kamu ..." Dan dia menangis seperti anak kecil yang kehilangan rumah.
Dia hidup, tapi jiwanya tidak.
Beberapa Minggu setelahnya, Aksara duduk di depan jendela rumah sakit. Matahari terbit, tapi tak terasa hangat. Sama seperti setelah hari hari dimana Aruna pindah.
Ia memegangi surat Aruna, di baliknya, ia menuliskan sebuah kalimat.
"Kalau aku bisa memilih, aku ingin diriku ini mati bersamamu.
Kau pergi membawa jantungku, dan aku hidup bersama jantungmu."
Dan begitulah kisah aksara dan Aruna berakhir. Bukan dengan pelukan, bukan dengan bahagia...
Tapi dengan cinta yang sunyi, tetap berdetak di dada yang salah.
~END~
Story by:
Evelyne Lisha
Tittle by:
Valorierohse