Tring~~
Langkah kaki terdengar mendekat setelah bel pintu kafe itu berdering, Langkah kaki yang pelan dan tenang.
Pemuda itu lagi... Pemuda yang tampan, mata biru bagaikan langit yang cerah dengan titik awan tepat di tengah pupilnya. Rambut pirangnya sedikit menutupi kedua matanya dengan gaya ala boyband K-Pop.
Terkadang, jantungku selalu berdebar tak karuan. Bukan karena takut, dan aku tidak tahu rasa semacam apa itu.
Sosoknya yang selalu datang dengan senyuman yang mempesona, membuat dunia sekitar bercahaya bersama dirinya yang seperti bunga matahari di siang hari.
"Na— Nana! Natala!"
Aku tergugah, mataku membelalak ketika wajahnya terlalu dekat. Sontak aku langsung mundur kebelakang.
"Ri— Rio! Ya ampun mengagetkan saja!" Ujar Natala.
wajahnya selain imut karena terkejut, pipinya pun tampak bersemu merah, tangannya menepuk nepuk dadanya yang berdegup kencang.
"Ya ampun Natala, kamu kenapa? Kok wajah kamu merah begitu, sakit kah?" Tanya Rio sambil meraih tangan Natala dan menariknya dekat meski tersekat meja pesanan di antara mereka.
"A— Aku baik baik saja kok~ hanya sedang melamun saja tadi" jawab Natala sembari tersenyum.
"Begitu, ya. Melamun apa sampai di panggil berkali-kali tidak sadar?" Tanya Rio lagi, tangannya menyangga dagunya di atas meja. Mata birunya menatap Natala dengan penuh harap.
"Tidak ada kok, mau pesan apa hari ini?" Ketus Natala mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
Rio tersenyum meski tidak di jawab, ia sudah tahu jawabannya. Hanya saja, sangat menyenangkan baginya untuk menggoda gadis itu.
"Yang seperti biasa dong" Natala mengangguk antusias dan langsung membuatkan coffee Cappucino yang selalu di pesan oleh Rio.
Secangkir coffee Cappucino hangat dengan hiasan topping heart-aesthetic siap. Dengan pelan, Natala mengantar dan menaruh kopi itu di tempat biasa Rio duduk.
Dan seperti biasa, setelah itu Rio akan tersenyum lalu berkata "Terima kasih Nana yang manis" Lalu mereka tertawa tanpa alasan apapun... Selalu.
Sudah dua tahun dari sejak pertama kali mereka bertemu. Rio awalnya datang untuk mengerjakan tugas sekolah, atau terkadang saat sedang bosan. Memang berbeda dari pemuda pada umumnya. Ia lebih suka menyendiri, seolah sudah nyaman dengan kehidupannya yang tenang.
Namun semua itu berubah saat ia melihat gadis yang selalu ia perhatikan setiap hari, dan perlahan sosok itu menyangkut di hatinya.
Ya, Natala.
Gadis yang kalem, namun bisa juga ceria. Meski awalnya hanya sapa menyapa, saat kenyamanan tumbuh dari sebuah kesamaan, jadilah mereka sahabat dalam waktu singkat dan Perlahan benih cinta di dalam hati mereka mulai tumbuh.
Namun apakah mereka bisa menyampaikan perasaan semacam itu?
🌼~☕~🌼
Malam hari, Natala mengunci pintu kaca kafe sebelum berjalan berdampingan dengan Rio. Malam yang tenang dan sejuk, dibawah sinar lampu perkotaan yang sangat terang.
Namun kini suasana di antara mereka cukup hening. Langkah kaki yang tenang, deru nafas yang seirama juga sebar jantung yang tersembunyi jauh di dalam, tak tampak di luar.
Natala menghentikan langkahnya dan menatap Rio yang sedikit berjalan, lalu ikut berhenti. Rio menoleh dengan penasaran lalu berbalik, menatap Natala, wajahnya yang penasaran kini berubah tersenyum.
Detak jantung Natala semakin tak beraturan, wajahnya kembali bersemu sebelum ikut tersenyum. Namun ia tak mengambil langkah untuk maju.
Rio maju mendekati Natala, lalu sedikit membungkuk untuk menjajarkan wajahnya dengan gadis itu.
"Ada apa, apa kamu lelah setelah bekerja?" Tanya Rio.
Natala menggeleng sebelum memalingkan pandangannya. "Aku hanya ingin berhenti saja. Mengetes, apa kamu ikut berhenti atau tidak. Dan ternyata kamu berhenti." Ujar Natala sambil menyengir.
"PFT! HaHaHa! Natala, kamu kadang unik, ya. Benar-benar Natala yang kukenal" Kata Rio,
Namun semuanya sedikit berubah menjadi dalam. Tangan besarnya yang putih menyentuh pipi Natala dengan lembut.
Hangat ...
Mata biru Rio menatap lekat mata coklat milik Natala. Dan tatapan itu menyembunyikan sesuatu yang belum terucap, tapi terasa begitu kuat.
Angin berhembus pelan, mengibaskan rambut panjang Natala yang lembut, helai helainya panjang ringan.
"Kamu tahu Natala?" Rio membuka mulutnya, namun nadanya serak dan rendah. "Setiap kali aku melihat kamu, malam seperti ini jadi terasa lebih hangat dari siang"
Setelah sekian lama bersama, dua tahun penuh tawa, kebiasaan aneh, dan percakapan larut malam ... "Lelah rasanya terus memendam rasa ini, meskipun takut menghancurkan segalanya... aku harus mengatakannya"
"Aku mencintaimu, Natala"
Natala terdiam, matanya membulat sejenak sebelum senyum perlahan muncul di wajahnya.
"Aku juga mencintaimu, Rio" bisiknya, seolah itu adalah hal paling pasti di dunia.
Akhirnya setelah sekian lama saling menyembunyikan perasaan, Kami tidak lagi perlu berpura pura.
Malam itu menjadi saksi, bahwa cinta yang tumbuh diam diam... Kini tumbuh bebas, dan kami akhirnya bahagia.
...END...