Danu selalu nunggu Rena di depan kelas XI IPA 2 setiap hari Rabu.
Bukan karena janjian, bukan juga karena disuruh. Udah kebiasaan aja.
Kadang Rena lama karena gurunya cerewet, kadang cepet karena jam kosong. Danu nggak pernah protes. Dia cuma berdiri sambil mainin strap tas, sesekali ngecek jam, sesekali ngelamun.
Begitu Rena keluar, ekspresinya selalu sama, lega.
“Maaf,” kata Rena hampir selalu.
Danu juga hampir selalu jawab, “Santai.”
Mereka pulang bareng. Jalan kaki. Lewat rute yang sama tiap minggu. Trotoar retak, pohon ketapang yang daunnya sering jatuh ke bahu, dan tukang gorengan yang suka nyetel lagu lawas.
Obrolan mereka ringan. Kadang penting, sering nggak.
“Hari ini capek?” tanya Danu.
“Lumayan. Fisika.”
“Turut berduka.”
Rena ketawa kecil. Danu senyum, puas.
Mereka nggak sering pegangan tangan. Nggak selalu duduk berdempetan. Tapi jarak di antara mereka selalu pas. Nggak terlalu dekat, nggak pernah jauh.
Kalau Rena lagi banyak pikiran, Danu yang mulai ngomong.
Kalau Danu lagi pendiam, Rena nggak maksa.
Ada satu hari hujan turun tiba-tiba. Mereka neduh di halte kecil yang catnya udah pudar. Rena basah di bagian ujung rambut. Danu ngeluarin jaket, tanpa banyak kata, langsung nutupin ke pundak Rena.
“Lu nanti kedinginan.”
“Lu nggak apa-apa?”
“Ntar gerak.”
Rena diem. Hujan jatuh pelan, suara motor lewat, dunia rasanya nggak buru-buru.
“Dan,” kata Rena pelan.
“Hm?”
“Kalau nanti kita sibuk sendiri-sendiri, lu masih mau pulang bareng nggak?”
Danu mikir sebentar. Bukan karena ragu, tapi karena pengen jawab yang jujur.
“Mau. Selama jalannya masih ada.”
Rena senyum. Bukan senyum lebay, bukan senyum drama. Cuma senyum orang yang hatinya tenang.
Hujan reda. Mereka lanjut jalan.
Sore itu nggak ada kejadian besar. Nggak ada pengakuan cinta, nggak ada momen yang bisa dipost ke mana-mana. Tapi di antara langkah kaki yang sejajar dan obrolan seadanya, ada rasa yang tumbuh pelan.
Rasa yang nggak ribut, tapi betah.
Dan mungkin, cinta remaja yang paling bikin iri bukan yang paling kelihatan, tapi yang paling konsisten.