Sinar matahari pagi menerobos celah jendela kelas XII IPA 2, memantul di atas meja-meja kayu yang usang, menciptakan jejak-jejak debu yang menari.
Di salah satu sudut, Rian memandangi coretan-coretan kapur di papan tulis yang menguraikan rumus-rumus fisika.
Tapi pikirannya melayang jauh, bukan pada hukum Newton, melainkan pada tagihan listrik yang menumpuk di rumahnya.
"Rian, melamun lagi? Mikirin rumus atau tagihan warung Ibu?"
Siska, sahabatnya yang cerewet namun perhatian, menyenggol pelan lengannya.
Rian tersenyum tipis.
"Dua-duanya, Sis. Berat ya jadi anak sulung?"
Bima, yang duduk di sebelahnya, menimpali, "Kalau berat, minta bantuan kita lah, Yan. Kita kan tim," sambil mengacungkan kepalan tangan.
Rian menghela napas.
"Makasih, Bim. Tapi ini urusan keluarga. Nanti saja, aku cari jalan sendiri."
Sejak Ayahnya sakit dan tidak bisa lagi berjualan keliling, beban Rian bertambah.
Dia harus membagi waktu antara sekolah, les privat tambahan untuk membantu adiknya, dan pekerjaan paruh waktu sebagai kurir antar makanan.
Sekolah adalah pelariannya, tempat ia bisa menjadi Rian yang biasa, bukan Rian yang cemas.
Namun, biaya sekolah yang semakin tinggi menjadi momok.
Bel istirahat berbunyi.Siska dan Bima menarik Rian ke kantin.
"Kita tahu kamu anak kuat, Yan.
Tapi jangan pendam sendiri," kata Siska sambil menyodorkan roti isi.
"Pernah kepikiran ikut lomba menulis cerpen tingkat kota? Hadiahnya lumayan, bisa buat bayar uang sekolah."
Rian menggeleng.
"Aku tidak sehebat itu, Sis. Menulis itu cuma hobi, bukan keahlian."
"Hobi yang bisa jadi penyelamat," Bima menyahut.
"Lagipula, Bu Guru Mira juga bilang karyamu punya potensi."
Bu Guru Mira adalah guru Bahasa Indonesia yang dikenal visioner.
Beliau sering mendorong murid-muridnya untuk tidak hanya pintar di kelas, tapi juga kreatif di luar.
Malam itu, Rian membuka laptop tuanya.
Aroma buku-buku lama di kamarnya terasa menenangkan.
Dia ingat pesan Bu Mira, "Tulis apa yang kamu rasakan, Rian. Jujur, maka akan sampai."
Dengan inspirasi dari kegelisahannya dan kehangatan persahabatan, Rian mulai mengetik.
Ceritanya mengalir, tentang seorang anak yang harus mengorbankan mimpinya demi keluarga, tentang perjuangan di tengah keterbatasan.
Seminggu berlalu.
Rian menyelesaikan cerpennya yang berjudul "Bayang-Bayang di Sudut Kelas".
Ia mengirimkannya ke panitia lomba tanpa banyak berharap.
Di sekolah, ketegangan tak terhindarkan.
Nilai-nilai ulangan susulan harus segera dibayar.Rian mulai berpikir untuk mengambil cuti sementara.
"Tidak, Yan. Kamu tidak akan cuti!"
Siska bersikeras.
"Percaya sama aku, hasilnya akan datang."
Hari pengumuman lomba tiba.
Di tengah pelajaran sejarah yang membosankan, ponsel Rian bergetar.
Pesan dari nomor tak dikenal.
“Selamat! Cerpen Anda, 'Bayang-Bayang di Sudut Kelas', terpilih sebagai Juara I Lomba Menulis Cerpen Tingkat Kota. Hadiah uang tunai dan beasiswa pendidikan akan diserahkan pada acara puncak.”
Jantung Rian berdebar kencang.
Dia membaca pesan itu berulang kali.
Siska dan Bima yang melihat wajah pucatnya segera menoleh.
"Ada apa, Yan?"tanya Bima.
Rian tak mampu bicara, hanya menunjukkan ponselnya.
"YA AMPUN, RIAN! KAMU JUARA SATU!"
teriak Siska, memeluknya erat.
Bima ikut bersorak.
Kegembiraan itu menular.
Seluruh kelas bersorak, bahkan Bu Guru Mira tersenyum bangga dari mejanya.
Selesai.....