Hari ini, kudapati diriku dipuja-puja karena berhasil meraih mimpi Ku yang dianggep tidak bermakna kata orang-orang.
Sedari dulu aku selalu bermimpi untuk menjadi sukarelawan bagi anak-anak penyandang disabilitas.
"Mengapa Anda bisa berpikiran untuk menjadi sukarelawan, mbak Nana?" Ucap salah satu wartawan sembari mengarahkan mic ke depan wajahku.
Bukan tanpa sebab mimpi ini timbul dalam pikiranku.
7 Agustus 2005
Ibuku yang berusia sepuh hamil
Namun, kata dokter kemungkinan anak yang di dalam kandungannya akan cacat dikarenakan usia Ibu ku bukan usia yang produktif untuk melahirkan.
Kabar tersebut membuat keluarga kami terpuruk, Aku yang masih berusia 7 tahun tidak mengerti apa-apa dan mengira bahwa kelahiran adikku adalah sesuatu yang membawa pengaruh buruk terhadap keluargaku.
Sejak saat itu, keluargaku memutuskan untuk mengaborsi janin di dalam kandungan ibuku, segala cara telah mereka cobakan ke ibuku, mengonsumsi nanas muda, pil penggugur kandungan, memukul perut ibu. Namun, janin tersebut tetap bertahan sehingga membuat mereka pasrah dan memilih membiarkannya saja.
Bukan tanpa sebab mereka melakukan itu, apabila anak itu terlahir ke dunia, maka yang ia rasakan hanyalah penderitaan akibat kekurangannya, Ibuku sayang dengan janinnya, di sisi lain ia merasa tak mampu menjaga anak itu dari kejahatan dunia.
"Ibu, apa adik itu orang jahat?" Ucapku menatap ke perut ibu yang kian membesar.
"Tidak, sayang. Tapi ibu takut apabila ia akan menyesal bila terlahir ke dunia" Ucap Ibuku yang tidak ku mengerti. Tapi ku putuskan untuk berpura-pura mengerti, tidak menanyakan lebih lanjut mengenai hal itu.
Pada akhirnya, adikku terlahir ke dunia, dan seperti yang diduga, Ia tidak bisa mendengar dan berbicara. Ia diberi nama Liona
Pada mulanya, aku tidak mengerti mengapa dia seperti itu, karena yang ku tahu, semua manusia bisa mendengar dan berbicara.
Alhasil, aku sering mengolok-ngoloknya sejak balita yang berakhir dengan aku mendapati teguran dari kedua orang tua ku.
Ayah dan Ibu selalu mengutamakan kebutuhan adikku, memanjakannya serta memperhatikannya ketimbang diriku. Hal Itu membuatku timbul rasa iri dan dengki, sehingga aku selalu mengisengi adikku dan membuatnya menangis.
Kini umurku menginjak 13 tahun, dan adikku 6 tahun. Ia dimasukkan di sekolah yang sama denganku. Sebelum bersekolah, dari jauh Hari Ibu dan ayah mewanti-wanti diriku untuk menjaga adikku dan melindunginya ketika bersekolah.
Akan tetapi, hal tersebut tidak Ku hiraukan karena aku menganggap itu berlebihan dan dampak dari mereka yang terlalu sayang dengan adikku, mereka saja tidak memperhatikan diriku.
Aku selalu menjaga jarak dari adikku, sehingga selalu ku lihat ia bermain sendirian dengan mainan yang bertumpuk-tumpuk. Adapun ketika ia mencoba nendekati Ku yang sedang bermain dengan teman-teman, aku tanpa empati langsung mengusirnya karna menganggap dia menganggu dan akan mengacaukan permainan kami.
Akan tetapi, tanpa ku sadari, adikku selalu diejek oleh teman-temannya di sekolah dan dirundung karena kekurangannya itu, adapun guru di sekolah kami hanya diam tanpa berniat menindak lanjutinya, seolah perundungan tersebut tak pernah terjadi.
"Nana, bukannya itu adikmu, ya? Tapi kenapa dia nampak seperti ingin menangis?" Ucap Jay, teman bermainku sembari menunjuk ke arah Adikku.
Segera setelah ia mengucapkan hal tersebut, aku mengalihkan pandanganku ke arah Jari tangannya, ku lihat adikku, Liona. Sedang meringkuk di bangku sekolah dengan seragam yang kotor, ia merunduk memeluk dirinya sendiri dan kulihat tubuhnya gemetaran.
Tanpa pikir panjang, aku langsung meninggalkan Jay dan menuju ke arah Liona, dan tanpa banyak bertanya, aku segera memapahnya pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, kata-kata bentakan dan makian keluar dari mulut ibuku. Kulihat Ibu menangis sembari memeluk Liona, sedangkan ayahku sibuk bergulat dengan telfonnya, mungkin sedang menelfon kepala sekolah.
"Sudah kubilang dia adikmu! Harusnya sebagai seorang kakak kamu menjaga dan melindunginya di sekolah, tapi sekarang apa yang terjadi hah?" Ucap ibu yang sontak membuatku tersadar dari lamunanku.
Bentakan Ibu membuat ku menangis terisak-isak. Namun, tanpa diduga uluran tangan kecil mengusap-usap punggungku. Yang ketika kulihat, adikku yang melakukannya.
Sejak hari itu, aku selalu melindungi Liona di mana pun dan kapanpun itu, aku juga mempelajari bahasa isyarat danmemberi perhatian ekstra untuk menjaganya, bermain dengannya dan meninggalkan tugas-tugasku. Bagiku, Ia lebih penting dari apapun di dunia ini.
Sedangkan kedua orang tuaku? Mereka memilih untuk bercerai karena Ayahku tak sanggup memiliki anak seperti Liona. Hal itu membuat ibuku mulai membenci kehadiran Liona, yang cacat katanya.
Tetapi tidak apa, Aku akan tetap melindungi adik kecilku. Aku janji dan janji itu bersifat selamanya sampai maut memisahkan kami.
Pada suatu malam, aku mengajak Liona untuk keluar melihat pemandangan yang Indah. Setelah Ibu tertidur, aku mulai membawanya ke luar rumah.
Melihat ke arah langit yang penuh bintang dan kunang-kunang, berbaring di rerumputan sembari bercanda ria.
Kedua tangannya mengenggam erat tapi lembur kedua tanganku, bibirnya membentuk senyuman kecil. Lalu ia mengarahkan pada dada, tempat jantungnya berdetak, lalu menunjuk ke arahku. Walaupun ia tidak bisa berbicara, aku tahu, itu caranya untuk mengatakan bahwa Ia menyayangi ku.
Pada waktu itu Aku berharap kebahagiaan akan selalu menyertai kami berdua. Yang tanpa Ku sadari, kebersamaanku dengannya hanya bersifat semu.
10 Maret 2015,
Dia pergi meninggalkan dunia.
Tidak ada penyakit.
Ia memilih untuk melenyapkan dirinya sendir.i
Di sebuah catatan buku harian yang Ia tulis, Ia menulis segala curahan hati yang selama ini ia pendam. Betapa bagaimana ia merasa diabaikan olehku, perhatian berlebihan oleh ayah dan Ibu. Dan ketika disayang olehku, malah ayah dan Ibu yang tidak menginginkannya, malah keberadaannya menghancurkan hubungan ayah dan Ibu. Ia tahu Ia berbeda dari yang lain sehingga menyebabkan ia berpikir bahwa keberadaannya menyusahkan orang di sekitarnya.
Aku tak kuasa menahan tangis ketika membaca catatan, Aku tidak Tahu bahwa selama ini begitu banyak hal yang ingin ia ungkapkan. Namun, ia memilih memendam semuanya sehingga menumpuk yang hanya membuat dirinya semakin sakit dan sakit walau bukan secara fisik.
Sejak saat itu, aku memutuskan mimpiku dan bertekad untuk meraihnya, yakni mimpi untuk merawat orang-orang yang senasib dengan adikku. Setidaknya, aku tidak ingin mereka memilih Jalan yang sama seperti Liona.
"Begitulah kisah dari awal mula mimpiku terbentuk" Ucapku sembari memberikan mic di tanganku ke arah wartawan tadi
Ternyata, kisah yang ku ceritakan berhasil membuat semua orang yang berada di studio menangis terisak-isak. Hatiku sedikit pilu Jika mengingat itu semua, tapi aku memilih untuk tidak menangis Karena telah berdamai dengan masa lalu.
Walaupun raga dan jiwanya telah tiada, Liona akan selalu ada di hatiku, selamanya.