Dua tahun, tiga bulan, dan empat belas hari.
Arina tidak menghitungnya dengan jari, tapi dengan detak jantung yang sabar. Selama itu, ia menjadi pelabuhan yang lampunya tak pernah padam, menunggu kapal bernama Arya pulang dari perantauannya "mencari jati diri".
Arina menolak lamaran laki-laki lain, menutup telinga dari cibiran tetangga, dan menulikan diri dari ragu yang berbisik di kepalanya sendiri.
Hari ini, Arya pulang, tapi kapal itu tidak berlabuh. Ia hanya lewat, membunyikan klakson perpisahan, lalu bersandar di dermaga lain yang baru dibangun kemarin sore.
Di sebuah meja kafe sudut kota, di bawah lampu kuning yang temaram, Arya duduk di hadapannya. Tidak ada cincin di jari Arina, tapi ada undangan pernikahan berwarna emas di atas meja.
Nama Arya bersanding dengan nama wanita lain, wanita yang baru Arya kenal tiga bulan lalu.
"Kenapa?"
Suara Arina nyaris tak terdengar, tertahan di tenggorokan yang tercekat.
Arya menyesap kopinya dengan tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja menjatuhkan bom waktu di hati perempuan yang menunggunya ribuan jam.
"Karena kamu terlalu baik, rin," jawab Arya santai.
Arina mengerutkan kening. Air mata menggenang di pelupuknya, tapi ia menahannya sekuat tenaga. "Itu alasan paling bodoh yang pernah kudengar. Aku menunggumu, aku setia, dan kamu meninggalkanku karena aku... baik?"
Arya menatap mata Arina, tatapan yang dulu hangat kini sedingin es.
"Bukan begitu." Arya mendengus pelan, seolah Arina adalah anak kecil yang lambat paham. "Maksudku, kamu itu membosankan, Arin. Kamu seperti rumah yang pintunya selalu terbuka. Tidak ada tantangannya. Dua tahun kamu menunggu tanpa protes, tanpa marah... itu membuatmu terlihat... murah."
Napas Arina terhenti.
"Sementara dia..." Arya menunjuk nama di undangan itu dengan dagunya. "Dia menantang, dia tidak mau menungguku, dia membuatku ingin mengejarnya. Kamu? Kamu cuma patung yang berdiri di tempat yang sama. Laki-laki butuh petualangan, Arina, bukan pos satpam."
Kalimat itu menusuk lebih tajam dari belati. Pengorbanan, kesetiaan, dan doa-doa malam yang Arina rapalkan selama dua tahun, dianggap sampah hanya karena Arya merasa kurang tertantang.
Arina memejamkan mata sesaat, satu tetes air mata jatuh, tapi itu yang terakhir. Ia menarik napas panjang, mengumpulkan sisa-sisa harga diri yang berserakan di lantai kafe.
Ia tidak berteriak. Ia tidak melempar kopi ke wajah Arya, ia menatap Arya lekat-lekat, membuat laki-laki itu perlahan merasa tidak nyaman.
"Kamu pikir kesetiaan itu kelemahan, Arya?" suara Arina bergetar, namun tajam.
"Itu naif," sela Arya.
"Dengar." Arina memajukan tubuhnya. "Dua tahun aku menjaga hati bukan karena aku tidak laku. Bukan karena aku tidak punya pilihan, banyak yang mengetuk pintuku, tapi aku biarkan tertutup demi kamu. Kamu menyebutnya 'murah'? Kamu menyebut ketulusan sebagai 'kebosanan'?"
Arina berdiri perlahan, mengambil tasnya.
"Hati perempuan bukan mainan yang bisa kamu bongkar pasang sesuka egomu, Tuan. Hati bukan ruang tunggu bandara yang bisa kamu singgahi lalu kamu tinggalkan saat pesawatmu datang."
Arina menunjuk dada Arya.
"Kamu tidak memilih dia karena dia menantang. Kamu memilih dia karena kamu pengecut yang takut pada komitmen tulus, kamu takut pada seseorang yang mencintaimu apa adanya, karena jauh di lubuk hatimu, kamu tahu kamu tidak pantas mendapatkan cinta sehabis-habisan itu."
Arya terdiam, mulutnya sedikit terbuka, kehabisan kata-kata.
"Simpan undanganmu," kata Arina, ia berbalik badan. "Semoga istrimu nanti cukup 'menantang' saat dia sadar dia menikahi laki-laki yang tidak tahu cara menghargai manusia."
Arina tidak jadi pergi, saat matanya menatap undangan itu. Arina baru sadar, bahwa pernikahan Arya akan dilangsungkan dua Minggu lagi.
"Dua minggu?" tanya Arina, suaranya serak. Dia berbalik badan dan menatap Arya tajam. "Kamu baru mengenalnya tiga bulan, dan kalian menikah dua minggu lagi? Sementara aku? Dua tahun, Arya... dua tahun aku cuma jadi penonton di ruang tunggumu?"
Arya menghela napas panjang, tampak mulai jengah dengan drama ini. Ia menyandarkan punggung, melipat tangan di dada. Gestur seseorang yang merasa dirinya adalah korban yang sedang dihakimi.
"Itulah bedanya, Rin," jawab Arya dingin. "Dengan dia, aku merasa yakin. Klik! Langsung nyambung, waktu tidak menjamin kualitas hubungan. Kamu menunggu lama, ya terima kasih. Tapi cinta itu soal chemistry, bukan soal durasi. Jangan hitung-hitungan sama perasaan, kayak pedagang pasar saja."
Tangan Arina mengepal di atas meja hingga buku-bukunya memutih. "Pedagang pasar? Kamu bilang aku hitung-hitungan?"
Arina tertawa getir. Tawa yang terdengar seperti pecahan kaca.
"Dengar sini, Arya. Waktu ibumu sakit keras dan kamu tidak bisa pulang karena tiket pesawat mahal, siapa yang mentransfer uang tabungannya? Siapa yang menjagai ibumu di rumah sakit selama tiga malam tanpa tidur supaya kamu bisa fokus kerja? Itu aku!"
Mata Arina mulai basah, tapi tatapannya menyala. "Waktu itu kamu bilang, 'Tunggu aku sukses, Rin. Kamu wanita impianku.' Sekarang kamu sukses, dan kamu bilang aku pedagang pasar?"
Arya berdecak pelan, wajahnya datar tanpa rasa bersalah. "Dan itu masalahmu, Arina. Kamu terlalu... tersedia. Kamu terlalu ibu-ibu. Kamu melakukan semuanya tanpa diminta, itu membuatku sesak. Aku butuh pasangan, bukan asisten rumah tangga yang berkedok pacar."
Deg.
Jantung Arina serasa berhenti berdetak, pengabdiannya dianggap sebagai pekerjaan asisten, dan ketulusannya dianggap mencekik.
"Jadi..." Arina menahan isak tangis yang hendak meledak. "Jadi karena aku terlalu baik, kamu membuangku? Kalau aku jahat, kalau aku selingkuh, apa kamu akan lebih menghargaiku?"
"Mungkin," jawab Arya enteng. Matanya menatap lurus ke manik mata Arina, tajam dan menusuk. "Setidaknya kalau kamu jahat, kamu punya karakter. Selama dua tahun ini kamu cuma bayangan, Arina. Kamu cuma mengiyakan apa kataku. Kamu membosankan! Laki-laki itu pemburu. Kalau rusanya diam saja dan menyerahkan lehernya untuk disembelih, di mana seninya?"
Air mata Arina akhirnya tumpah. Bukan karena sedih, tapi karena rasa jijik yang luar biasa merayapi ulu hatinya. Ia menatap laki-laki di depannya seolah melihat monster asing.
"Kamu sakit, Arya," desis Arina.
"Aku realistis," bantah Arya cepat. "Dia... calon istriku ini—dia menuntutku. Dia marah kalau aku salah. Dia membuatku merasa hidup. Kamu? Kamu cuma... nyaman, dan nyaman itu jebakan. Aku tidak mau terjebak dengan wanita yang tidak punya ambisi selain melayaniku."
Arina menyeka air matanya kasar, cukup sudah. penghinaan ini sudah melampaui batas kemanusiaan, logika Arya adalah logika pengkhianat yang mencari pembenaran.
Arina mengambil undangan emas di meja itu. Ia tidak merobeknya, ia hanya menatap nama wanita itu dengan rasa kasihan.
"Kamu tahu, Arya?" suara Arina kini tenang. Sangat tenang hingga membuat bulu kuduk Arya sedikit meremang. "Aku berdoa untuk perempuan ini."
"Maksudmu?" Arya mengernyit.
"Aku berdoa semoga dia tidak pernah sakit hati. Semoga dia tidak pernah jatuh miskin, dan semoga dia tidak pernah menjadi 'terlalu baik' padamu."
Arina condong ke depan, menatap tepat ke dalam mata Arya yang angkuh.
"Karena detik di mana dia tulus mencintaimu, detik di mana dia berkorban untukmu... saat itulah kamu akan bosan dan membuangnya seperti sampah. Karena kamu tidak mencari cinta, Arya. Kamu mencari ego."
Arina berdiri, kali ini kakinya tegak.
"Kamu bilang hati bukan mainan? Salah," ucap Arina sambil menyampirkan tasnya. "Bagimu hati memang mainan. Tapi ingat satu hal, Tuan Penguasa..."
Arina menunjuk dada Arya dengan telunjuk gemetar.
"Mainan pun kalau dimainkan terlalu kasar, dia akan rusak. Dan hati yang kamu rusak ini... tidak akan pernah bisa kamu beli kembali, seberapa sukses pun kamu sekarang."
"Rin, jangan dramatis—"
"Selamat tinggal, Arya. Undangan ini simpan saja. Aku tidak butuh kertas mahal untuk melihat bangkai dari janji busukmu."
Tanpa menoleh lagi, Arina melangkah keluar pintu kafe, meninggalkan Arya yang terdiam kaku dengan kopi yang mulai kehilangan panasnya, sama seperti hati Arina yang kini membeku untuknya. Selamanya...
---