Di rumah itu, suara ketukan selalu datang tiga kali.
Tok.
Tok.
Tok.
Ibu sering bilang, “Kalau lebih dari tiga, jangan dibuka. Jangan dijawab. Jangan ngapa-ngapain.”
Aku nggak pernah nanya alasannya. Di desa kami, kebanyakan orang yang kebanyakan nanya biasanya malah ilang.
Malam itu hujan turun pelan, rapi banget, kayak ada yang ngetuk genteng satu-satu pakai jari.
Ayah udah lama meninggal. Ibu lagi tidur di kamar. Napasnya kedengeran berat dari lorong. Aku sendirian di ruang tengah, ditemani lampu kuning yang redup.
Terus ketukan itu datang.
Tok.
Tok.
Tok.
Aku langsung kaku.
Tiga. Pas.
Biasanya abis itu suara bakal hilang sendiri.
Tapi malam itu… nggak.
Ada jeda sebentar.
Lalu—
Tok.
Ketukan keempat.
Jantungku langsung kayak mau copot. Aku nutup mulut, nahan napas, nginget omongan Ibu. Jangan jawab. Jangan buka. Jangan nganggep itu ada.
Dari balik pintu, ada suara pelan.
“Dira… buka pintunya.”
Itu suara Ibu.
Aku langsung merinding. Nggak mungkin. Ibu ada di kamar. Aku masih bisa denger napasnya.
Suara itu ngomong lagi, lebih deket.
“Dira… ini Ibu.”
Tanganku gemeter. Aku mundur dikit.
Terus dari arah kamar, terdengar suara lain.
“Dira… jangan buka.”
Aku membeku.
Dua suara. Sama persis. Cara ngomongnya, nadanya, bahkan cara nyebut namaku.
Aku merem. Otakku pengin lari, tapi kakiku kayak nempel ke lantai.
Ketukan datang lagi. Tapi bukan dari pintu.
Tok.
Dari jendela.
Tok.
Dari dinding.
Tok.
Tiga ketukan sekaligus, dari segala arah. Kayak rumah ini hidup.
Lampu kedip-kedip.
Suara di balik pintu berubah.
“Nak… dingin di luar. Kamu tega banget sih?”
Nada itu sedih. Kayak ibu yang ditinggal anaknya.
Aku hampir nangis.
Dari lorong, suara Ibu yang asli kedengeran gemeter.
“Itu bukan aku. Jangan denger. Jangan liat mukanya.”
Mukanya?
Dari bawah pintu, muncul bayangan. Kakinya kebanyakan. Panjangnya nggak normal. Geraknya aneh, kayak lupa caranya jadi manusia.
“Kalau kamu nggak buka,” bisiknya, “aku bakal masuk sendiri.”
Ketukan kelima bunyi.
Bukan dari depan.
Dari belakangku.
Tok.
Napas panas nyentuh leherku. Baunya tanah basah campur bau busuk, kayak baju lama yang disimpen bareng rahasia.
Aku pelan-pelan nengok ke belakang.
Ada orang berdiri. Rambutnya panjang. Pake daster Ibu.
“Ibu…?” suaraku hampir nggak keluar.
Dia nengok.
Wajahnya kosong. Nggak ada mata. Nggak ada hidung. Cuma kulit pucet retak-retak, sama mulut yang senyumnya kebuka kelebaran.
“Akhirnya kamu jawab,” katanya.
Lampu langsung mati.
Dalam gelap, ketukan ada di mana-mana. Nggak keitung. Dari pintu, dinding, lantai, plafon. Suara manggil namaku pakai ribuan versi suara Ibu.
Aku teriak sekenceng-kencengnya.
Aku bangun di rumah sakit.
Perawatnya ngeliat aku kasihan.
“Kamu ditemuin pingsan di rumah. Ibumu udah meninggal seminggu lalu.”
Aku diem.
“Terus… yang ngomong sama aku semalem siapa?” tanyaku pelan.
Perawat itu berhenti gerak. Terus nutup tirai jendela pelan-pelan.
“Di desa ini,” katanya lirih, “kalau ada yang ngetuk lebih dari tiga kali… itu tandanya dia udah ada di dalem.”
Dari balik tirai—
Tok.
Tok.
Tok.
Tok.
Dan kali ini… aku udah jawab.