Di sebuah kamar, beberapa kertas tampak berserakan di atas meja bahkan sampai di atas ranjang. Beberapa juga tergeletak begitu saja di atas lantai. Seorang gadis tengah serius dengan pena dan kertas kosongnya. Namun lagi-lagi, dia merobek kertas itu dan mengempaskannya ke sembarang arah.
“Ck. Kenapa dari tadi nih otak nggak bisa mikir? Padahal tadi sore ide udah ada. Tapi begitu di bikin sketsa, tiba-tiba buntu,” gerutu gadis itu sembari menjambak-jambak kecil rambutnya.
Ting.
Sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. Gadis itu melirik ponsel di sampingnya dan terlihatlah siapa yang mengirim pesan. Matanya sontak terbelalak dan segera membuka pesan tersebut.
Bu Dewi [Ira, sudah sampai mana sketsanya? Saya mau lihat. Boleh difoto sekarang dan kirimkan pada saya?]
Gadis bernama Ira itu menggigit bibirnya. Matanya memandang ke sekeliling kamarnya. Kamar yang tadinya rapi bahkan sudah berantakan lagi oleh kertas-kertas yang dia buat sendiri.
“Duh, gimana ini? Ish… Kenapa aku bisa lupa sih kalau dua hari lagi sketsa nya harus selesai dibuat agar Bu Dewi mempekerjakan aku di butiknya?”
Tak ingin membuat calon atasannya itu menunggu, Ira memutuskan untuk jujur. Tak lupa dia mengambil foto suasana kamarnya yang berantakan itu dan mengirimkannya pada Bu Dewi.
Ira [Maaf, Bu. Ini saya sedang usahakan. Saya akan berusaha sebelum deadline, saya sudah menyerahkan sketsanya pada Ibu. ]
Tak lama kemudian, terlihatlah balasan pesan dari Bu Dewi.
Bu Dewi [Hmm.. Selamat bekerja, Ira. Semoga saya puas dengan pekerjaan kamu nanti.]
Ira menghela napas pelan. Menegakkan tubuh, mengambil pena dan kertas baru. Dia bertekad akan segera menyelesaikan tugas dari Bu Dewi.
Namun, baru membuat goresan awal, ponselnya kembali berdering. Ira mengambil ponselnya dan tertera nama Evi di layar. Mengembus napas kesal karena pekerjaannya terganggu, Ira segera mengangkatnya.
“Halo. Apa lagi sekarang?!” tanya Ira tanpa basa-basi. Nadanya pun ketus.
Evi di ujung sambungan terkejut karena tiba-tiba dibentak sang kakak. Namun, dia dengan cepat tersenyum dan mengatakan apa tujuannya menelepon agar Ira tak semakin kesal.
“Ha-halo, Kak. Aku nelpon karena mau nanya kapan Kakak pulang? Mamah nanyain Kakak terus. Telpon dari Mamah juga nggak pernah Kakak angkat. Mau sampai kapan Kakak benci sama kami?” tanya Evi dengan nada lirih dan hati-hati.
Ira memutar bola matanya malas. “Aku lagi sibuk banget. Belum ada waktu buat pulang. Kamu aja yang pulang. Kamu kan anak kesayangan beliau,” ucapnya sarkas.
“Tapi Mamah kangennya sama Kakak. Udah dua tahun loh Kakak nggak pulang. Aku tahu Kakak cuma alasan sibuk. Apa aku ke kosan Kakak? Aku mau main ya, boleh?”
“Nggak! Aku sibuk sekali. Udah ya. Aku banyak pekerjaan. Kalau Mamah nanya kapan aku pulang, kamu karang aja alasannya. Terserah.”
Tanpa menanti jawaban Evi, Ira mematikan telepon bahkan ponselnya sekalian. Tangannya mencengkram erat pena yang dipegangnya. Dia benci situasi ini.
Tak ingin larut dalam permasalahannya, Ira kembali melanjutkan pekerjaan. Dia tak peduli dengan perasaan Evi, apalagi Ibunya. Dia hanya peduli dengan perasaannya sendiri.
Dua hari kemudian, tepat jam sembilan pagi, Ira sudah berada di butik Bu Dewi dengan membawa sketsa yang berhasil diselesaikannya dengan susah payah.
“Bagaimana, Ira? Sudah selesai tugas dari saya?” tanya Bu Dewi setelah Ira masuk ke dalam ruangannya.
“Sudah, Bu,” angguk Ira lalu mengeluarkan kertas sketsa dan meletakkannya di atas meja kerja Bu Dewi.
Bu Dewi mengambil dan mengamatinya dengan saksama. Memperhatikan setiap detail, dan terlihat manggut-manggut sambil tersenyum.
“Ini bagus, Ira. Saya suka. Sudah saya duga, kamu memang pandai di bidang ini. Maka dari itu, kamu boleh bekerja di butik saya mulai hari ini,” ucap Bu Dewi tersenyum puas dengan hasil sketsa yang dibuat Ira.
Ira tersenyum lebar. “Beneran, Bu?” tanyanya tak percaya.
Bu Dewi mengangguk. “Iya. Kamu bisa langsung kerja di sini. Sekarang kamu bisa menemui Bu Nina untuk masalah kontrak kerjanya.”
Ira mengangguk dan tersenyum senang. “Kalau begitu saya permisi, Bu. Terima kasih atas kepercayaan Ibu,” ucapnya.
Bu Dewi mengangguk. “Semoga kamu bisa bekerja dengan baik disini.”
Ira mengangguk cepat. Mengangguk sekali lagi, dia keluar dari ruangan Bu Dewi. Akhirnya dia bisa bekerja di salah satu butik impiannya sejak merantau ke kota ini. Ira terus tersenyum lebar dan inilah senyum lebar pertamanya sejak dua tahun lalu.
Satu bulan kemudian.
Evi yang sedang berada di dalam bus bersama teman-temannya, tiba-tiba mendadak mendapat telepon dari Mira, adik Ibunya yang tinggal bersama sang Ibu di kampung.
“Mamahmu sakit, Vi. Dia terkena tekanan darah tinggi dan jatuh di jalan tadi. Sekarang Mamahmu ada di rumah sakit. Ini Bibi menemaninya. Kata dokter, Mamahmu terkena stroke ringan sehingga kakinya sulit digerakkan. Kamu sama Ira bisa pulang? Mamahmu nanyain kalian berdua terus. Makanya Bibi nelpon kamu. Tolong kabarin Kakakmu juga ya.”
Evi mematung. Matanya berkaca-kaca. Teman satu bangku dengannya di bus menoleh heran dan terkejut.
“Ya ampun, Vi. Kamu kenapa nangis?” tanya sang sahabat saat melihat Evi menangis tanpa suara.
Evi menoleh. “Mamahku.. Mamahku masuk rumah sakit, Ga,” ucapnya terisak.
Ega terbelalak. “Ya Tuhan. Terus gimana sekarang keadaannya?” tanya Ega prihatin dengar kabar itu.
“Ga, apa aku bisa pulang sekarang?” tanya Evi tanpa menjawab pertanyaan Ega.
Ega menggeleng. “Gimana cara kamu pulang? Kita ada di daerah pegunungan. Kamu bisa turun dari bus ini, tapi gimana kamu bisa pulang kampung dari sini?”
Evi menunduk. Dia tahu dia tak bisa pulang walau ingin. Jika saja kabar itu sampai sebelum dia berangkat liburan bersama teman-teman satu pabriknya, pasti Evi tanpa pikir panjang akan segera pulang ke kampung halamannya untuk bertemu sang Ibu. Namun sekarang dia tak bisa memaksakan keinginannya karena memang kondisinya yang tak bisa dipaksa.
Ega mengusap pundak Evi. Dia tahu bagaimana perasaan Evi, tapi dia juga tak tahu harus bagaimana menghibur Evi yang sedang bersedih.
Sesampainya di Villa, Evi ijin pada Ega ke halaman belakang Villa. Dia ingin menelepon sang kakak dan memberitahukan kabar Ibu mereka.
Di ruangan khusus untuk membuat sketsa di butik, Ira tengah serius menyelesaikan detail sketsanya untuk minggu ini. Butik ini memang selalu mempunyai baju baru setiap minggunya. Itulah sebabnya Ira dituntut untuk membuat sketsa baju baru untuk minggu selanjutnya.
Begitu selesai, Ira menegakkan tubuh dan mengamati kertas sketsanya dengan saksama. Jika dia puas, maka dia akan membuat design-nya di laptop lalu mengirimkannya pada Bu Dewi.
Ponsel di atas meja kerjanya berbunyi. Dengan masih melihat sketsa barunya itu, Ira langsung menerima panggilan yang masuk ke dalam ponselnya.
“Halo,” sapanya.
“Halo, Kak.”
Ira menjauhkan ponselnya dan membaca nama yang tertera di layar saat mendengar suara yang tak asing. Dia mengembuskan napas pelan dan kembali meletakkan ponsel di telinganya.
“Apa lagi sekarang? Nggak bosen nelpon nanya kapan pulang mulu? Aku aja bosen jawabnya loh,” ucapnya sarkas dan menyandarkan punggungnya di kursi.
Ira mengernyit saat terdengar suara isakan di ujung sambungan. Evi masih belum bersuara, hingga membuat Ira khawatir.
“Halo, Vi? Kamu baik-baik aja? Kamu nangis?” tanya Ira menegakkan tubuh. Walaupun kesal, tapi bagaimanapun juga Evi adalah adik satu-satunya dan ia pun merantau juga ke kota sebelah.
“Kak, Mamah masuk rumah sakit.”
Deg!
Ira terbelalak. Tubuhnya mematung.
“Mamah kena stroke ringan setelah jatuh di jalan. Tadi, Bibi nelpon aku. Mamah minta kita pulang, Kak. Tapi… tapi, aku nggak bisa. Aku lagi ada di Villa pegunungan. Waktu Bibi nelpon, aku udah mau sampai. Aku.. a-aku.. nggak bisa pulang sekarang, Kak.”
Isakan Evi masih terdengar. Ira masih mencoba mencerna semua kalimat sang adik. Ibunya masuk rumah sakit dan terkena stroke ringan?
“Kak, apa Kakak masih belum bisa pulang? Aku mohon, Kak. Pulanglah sekarang. Mamah pasti ingin ketemu Kakak. Apalagi di situasi sulit seperti ini.”
Tanpa sadar Ira menitikkan air matanya. Setetes. Namun dia cepat menghapusnya. Dengan suara sedikit bergetar, dia menjawab. “Harusnya kamu yang pulang dan rawat beliau. Kamu anak kesayangannya. Kehadiranku nggak penting.”
Evi langsung menghentikan tangisannya begitu mendengar jawaban sang kakak. “Bisa berhenti nyebut aku anak kesayangan nggak sih, Kak?! Mamah cuma ingin ketemu kita! Terutama kamu! Bisa nggak sih, kamu simpati dikit sama keadaan Mamah?!” pekik Evi. Dia sedang bersedih. Dia mencoba bicara baik-baik dengan Ira, tapi sang kakak justru memantik emosinya.
Ira tersenyum getir. “Aku disini kerja. Bukan lagi liburan kayak kamu. Aku nggak bisa pulang karena pekerjaanku menumpuk. Daripada kamu nyuruh aku pulang, kenapa nggak kamu sendiri aja yang pulang? Yang nggak bersimpati disini siapa? Aku atau kamu? Aku yang nggak bisa pulang karena aku kerja atau kamu yang nggak bisa pulang karena lagi liburan, hah?” tanyanya sarkas.
Evi terdiam. Tangannya terkepal menahan emosi. Tapi apa yang dikatakan Ira memang benar bukan? Dia tak bisa pulang karena dia tengah liburan. Tapi, bagaimana bisa menjelaskan pada Ira, bahwa dia pun ingin segera pulang sekarang juga, tapi kondisinya yang tak memungkinkan.
Ira tersenyum sinis saat tak mendapati jawaban Evi. “Dia cuma sayang sama kamu, Vi. Dan kita sama-sama tahu apa penyebabnya. Aku nggak bisa mentolerir alasannya. Jadi, jangan paksa aku. Aku nggak akan pulang sebelum luka di hatiku sembuh. Jika Bibi telpon lagi, bilang aja aku baru dapet kerja dan nggak bisa ijin dengan alasan apapun. Dan aku berdoa semoga Mamah bisa cepat sembuh.”
Tut!
Panggilan dimatikan sepihak oleh Ira. Evi kembali menangis. Kali ini dia bahkan sampai terduduk di rumput dan terisak. Ega yang melihatnya tak tega dan segera menghampiri sang sahabat. Dia memeluknya agar Evi merasa tenang.
Sementara itu, di tempat Ira bekerja, Ira terdiam. Menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan.
“Kata siapa kerja disini nggak bisa ijin dengan alasan apapun?”
Ira yang masih memegang ponselnya sontak mendongak dan terkejut saat mendapati atasannya ada di dalam ruangan dan tersenyum.
Ira sontak berdiri dan menunduk. Merasa bersalah karena sudah mengatakan hal yang tidak-tidak lewat telepon tadi pada adiknya.
“Maaf, Bu. Saya nggak bermaksud menyinggung Ibu. Saya.. saya hanya nggak pingin ijin saja, Bu. Saya baru satu bulan disini dan tak enak kalau minta ijin cuti sama Ibu,” ujar Ira menunduk takut.
Bu Dewi melangkah mendekati Ira. Tepat di seberang meja kerja Ira, Bu Dewi berhenti dan menatap karyawan barunya yang sangat berpotensi di butiknya itu.
“Saya juga minta maaf karena tak sengaja mendengar percakapanmu tadi di telepon. Pintu ruanganmu sedikit terbuka, jadi saya langsung masuk saja. Tak tahunya kamu lagi bicara penting di telepon.”
Ira mendongak, menatap Bu Dewi. “Tak apa, Bu. Ruangan ini milik butik ini dan Ibu pemiliknya. Jadi Ibu bisa bebas masuk kapan saja. Justru saya yang harusnya minta maaf karena saya sudah berkata yang tidak-tidak tentang peraturan butik ini.”
Bu Dewi menggeleng dan tersenyum. Dia duduk di kursi di seberang meja kerja Ira. “Sudahlah, lupakan itu. Jadi, kamu mau ambil cuti untuk menemui Ibumu yang sakit?”
Ira terbelalak. “Ibu mendengar semuanya?”
Bu Dewi tersenyum. “Tadi saya cuma dengar kalau kamu mendoakan Ibumu cepat sembuh. Itu artinya Ibumu sedang sakit ‘kan?”
Ira mengangguk pelan.
“Saya akan beri kamu ijin cuti, Ira. Temuilah Ibumu. Saya yakin, Ibumu pasti sangat ingin bersama anaknya saat lagi sakit begini.”
Ira menggeleng. “Beliau sudah ada yang merawat, Bu. Saya baru bekerja disini satu bulan. Tak mungkin saya minta ijin cuti. Apalagi kampung halaman saya jaraknya jauh dari sini.”
“Kamu ‘kan ijinnya untuk hal darurat. Ibumu sakit di kampung, ‘kan? Maka, saya akan berikan ijin. Tiga hari. Bagaimana?”
Ira terdiam sebentar, menimbang segala hal. Hingga akhirnya dia menggeleng tegas. “Tidak, Bu. Saya tak akan kemana-mana. Saya akan tetap bekerja dan menyelesaikan pekerjaan saya tepat waktu.”
Bu Dewi terkejut, namun dia tak bisa memaksa. Dia berdiri dan tersenyum. “Ya sudah. Tapi jika memang mendesak, ijin langsung sama saya ya. Jangan sungkan.”
Ira mengangguk. Bu Dewi pun melangkah keluar ruangan, menyisakan Ira dengan pikirannya yang kalut, bingung harus bagaimana. Pulang atau tetap disini.
Dua tahun lalu, Intan—Ibunya Ira dan Evi, membongkar masa lalunya. Itu semua dilakukan Intan agar hatinya merasa tenang. Dia mulai muak dengan omongan para tetangganya yang selalu mengadu domba kedua anaknya hingga bertengkar dengan cara membandingkan wajah dan tubuh keduanya yang seperti bukan kakak adik kandung. Ira dengan kulit sawo matangnya dan berperawakan pendek, dan Evi dengan kulit putihnya dan berperawakan tinggi. Perbedaan fisik yang begitu mencolok untuk ukuran kakak beradik kandung.
Awalnya Ira dan Evi tak menggubris omongan para tetangga mereka, hingga akhirnya Mira, adik sang Ibu pernah keceplosan bicara,“ Mamah kalian dulu merantau. Ira ikut sama Bapaknya. Merantau tiga tahun, Mamah kalian pulang dalam kondisi hamil Evi.”
Sontak saja ucapan Mira membuat Ira dan Evi yang sudah tumbuh dewasa bertanya-tanya tentang kebenaran itu pada sang Ibu. Setelah di desak kedua anaknya, akhirnya sang Ibu bercerita jika apa yang dikatakan Mira benar adanya. Sang Ibu mengaku jika dia diperkosa dan akhirnya memilih pulang dengan kondisi hamil. Hal itulah yang membuat Suryo, suaminya sakit-sakitan lalu meninggal dunia.
Ira dan Evi terkejut mengetahui fakta tersebut. Jika Evi terluka karena dia ternyata bukan anaknya Suryo, beda lagi dengan Ira yang terluka karena Ibunya menjadi penyebab sang ayah yang begitu menyayanginya meninggal dunia. Meninggalkan dia selama-lamanya. Ira masih ingat betul sedari kecil, dia ditinggal sang Ibu merantau bahkan disaat dia masih bayi. Dan saat usianya menginjak tujuh tahun, sang ayah meninggal karena sakit. Tentu saja Ira tak tahu penyebab sakit ayahnya karena dia masih kecil.
Kenyataan bahwa sang Ibu lah yang secara tak langsung menjadi penyebab ayahnya meninggal membuat luka di hati Ira dan menumbuhkan rasa benci. Dia juga baru mengetahui fakta bahwa ternyata pernikahan kedua orang tuanya adalah hasil perjodohan dimana Intan tak mencintai Suryo. Pantaslah Intan tak menyayangi Ira, buah hatinya bersama Suryo. Sejak Suryo meninggal, Intan pilih kasih kepada kedua anaknya. Ira diharuskan mengalah dengan alasan dia adalah seorang kakak yang harus mengalah pada adiknya. Ira tentu saja keberatan dan memberontak. Ira masih ingat betul bagaimana perlakuan Intan padanya. Intan memang tak pernah kasar, tapi perbedaan kasih sayang itu begitu kentara.
Ira yang memendam rasa bencinya, rasa sakitnya, akhirnya memutuskan untuk pergi dari rumah. Dia butuh pelarian. Dia tak sanggup melihat wajah Intan lagi. Begitupun dengan wajah Evi, sang adik. Ira bahkan ikut membenci Evi yang tak tahu apa-apa. Evi juga sama terkejutnya. Sama terlukanya. Tapi bedanya, dia sangat menyayangi Ibunya karena sejak bayi diasuh langsung oleh sang Ibu.
Dua tahun berlalu, Ira menghindar. Tak pernah menelepon ataupun kirim kabar pada Intan. Hatinya masih sangat membenci kenyataan itu. Walaupun begitu, Ira tetap menerima telepon dan membalas pesan Evi yang kini juga ikut merantau di kota sebelah. Ira hanya tak ingin melihat wajah Intan dan Evi.
Pukul sepuluh malam, Bu Dewi yang keluar dari ruangannya terkejut melihat pintu ruangan Ira terbuka dan lampunya masih menyala. Padahal semua karyawan sudah pulang sejak pukul delapan malam.
Bu Dewi melangkah ke ruangan Ira. Bu Dewi terbelalak melihat ruangannya yang berantakan oleh kertas-kertas sketsa dan lebih terkejut lagi saat melihat Ira duduk memegang pena, membuat garis tapi dengan wajah tertunduk. Isakan pelan terdengar samar di ruangan yang sepi itu.
Bu Dewi menghela napas perlahan dan masuk ke dalam ruangan setelah mengetuk pintu. Ira mendongak dan terkejut begitu melihat atasannya ada di dalam ruangannya.
Ira cepat menghapus air matanya dan mencoba tersenyum. “Maaf, Bu. Saya… Saya…,” engah Ira bingung karena tak menyangka Bu Dewi akan datang ke ruangannya tiba-tiba.
“Kenapa kamu belum pulang, Ra? Kamu mau nginep disini?” tanya Bu Dewi lembut.
Ira menatap Bu Dewi. “Apa boleh jika saya menginap disini, Bu? Saya bisa menyelesaikan sketsa saya. Nggak usah dihitung lembur, Bu karena saya memang nggak lagi lembur. Saya cuma ingin… disini,” ucapnya lirih di akhir kalimat.
Bu Dewi duduk di seberang meja kerja Ira dan menyandarkan punggungnya. “Kamu pasti kepikiran tentang kondisi Ibumu ya?”
Ira menggeleng cepat. “Tidak, Bu. Ibu saya sudah ada yang merawat dan menjaganya. Saya tak mengkhawatirkannya.”
Bu Dewi menatap Ira dengan senyum teduhnya. “Saya tidak tahu apa yang terjadi di keluargamu. Tapi sejak saya tak sengaja mendengar percakapanmu di telepon tadi siang, saya tahu bahwa kamu hanya mencoba denial. Kamu sebenarnya khawatir, tapi kamu selalu menyangkalnya.”
Ira menunduk, terdiam. Bu Dewi kembali melanjutkan. “Apa dengan menjauh dari Ibumu, kamu merasa tenang disini, Ira?” tanyanya membuat Ira sontak mendongak, menatap Bu Dewi.
“Maksudnya?”
Bu Dewi tersenyum. “Saya tahu kamu anak yang baik, Ira. Kamu bahkan menolong saya padahal kita tak saling mengenal. Entah apa yang terjadi dalam keluargamu, tapi saya lihat kamu begitu rapuh. Kamu selalu menyangkal apa yang kamu rasakan. Berhentilah berlari, Ra. Karena sejauh apapun kamu berlari, kamu tetap akan pulang. Kamu tetap akan kembali ke rumahmu sendiri cepat atau lambat. Ini bukan artian pulang yang sebenarnya. Tapi pulang dalam artian kamu memaafkan semuanya. Kamu berdamai dengan dirimu sendiri. Memeluk semua rasa benci dan sakit di hatimu. Ini semua bukan untuk orang lain, tapi untuk dirimu sendiri. Kamu berhak mendapat kedamaian dalam hidup.”
Ira diam mendengarkan semua kalimat menyentuh dari atasannya. Bu Dewi pun melanjutkan. “Sakit rasanya sebagai Ibu jika dibenci anaknya. Terlepas apapun kesalahannya, tapi seorang Ibu tak kan pernah bisa membalas membenci anaknya. Seorang Ibu akan selalu merindukan anak-anaknya. Walau mungkin tak terucap dalam hati, tapi seorang Ibu akan selalu mencintai dan mengharap anak-anaknya kembali ke dalam pelukannya. Mereka rela membiarkan anaknya pergi merantau jauh untuk menggapai cita-citanya, tapi mereka berharap bahwa mereka lah tempat mereka pulang setelah lelah merantau. Mereka berharap mereka menjadi rumah ternyaman bagi anak-anaknya.”
Ira menunduk dan kembali terisak pelan. Semua kalimat Bu Dewi.. kalimat itu membuka hatinya. Maka dia pun mendongak. “Jadi, saya harus pulang?”
Bu Dewi tersenyum. “Berpikirlah sejenak. Haruskah kamu pulang atau tidak, semua keputusan ada di tanganmu. Jika kamu nyaman disini, jauh dari orang tuamu, maka tinggallah. Tapi jika kamu tetap merasa sesak walau sudah menjauh dari mereka, itu artinya kamu masih dalam pelarian, Ra. Kamu bisa berlari sejauh kamu bisa. Tapi, suatu saat nanti, kamu pasti akan pulang.”
Bu Dewi berdiri. “Hubungi saya jika kamu sudah tahu apa keputusanmu. Masalah ijin, itu gampang. Saya pemilik butik ini dan kamu karyawan saya,” kekehnya lalu berjalan keluar ruangan.
Ira mengembuskan napas sekali. Beranjak berdiri dan membereskan ruangannya, setelah itu Ira keluar dari butik. Dia tak ingin mengambil keputusan apapun di saat hatinya masih belum baik-baik saja. Dia akan memikirkan semua yang dikatakan atasannya tadi.
***
“Mbak, ayo makan,” ucap Mira seraya mengulurkan sendok yang berisi bubur ke dekat bibir sang kakak.
Intan meliriknya sekilas dan menggeleng. “Aku belum lapar, Mir. Letakkan saja makanannya di atas meja. Tanganku masih sehat. Jika aku lapar, aku akan makan sendiri.”
Mira menghela napas dan meletakkan sendok beserta semangkuk bubur buatannya ke atas meja.
“Apa sudah ada kabar Evi dan Ira kapan pulang?” tanya Intan menoleh pada Mira.
Mira menggeleng lesu. “Evi tak bisa pulang. Sementara Ira… dia tak ada kabar.”
Intan menatap kosong ke jendela. Dadanya terasa sesak. Dia menyesal karena karena sudah membongkar aibnya. Seharusnya aib itu disimpan rapat-rapat saja jika karenanya, Ira dan Evi jadi menjaga jarak dan tak akrab seperti dulu.
“Maafin aku, Mbak. Kalau saja aku nggak keceplosan bicara, pasti keadaannya nggak kayak sekarang,” ucap Mira merasa bersalah.
Intan menggeleng. “Semuanya sudah terjadi, Mir. Walaupun aku juga merasa menyesal karena sudah mengatakan yang sebenarnya pada mereka. Mereka terluka. Harusnya aku sebagai Ibu bisa menjadi pelindung mereka, menjadi tempat ternyaman bagi mereka, penghibur kala mereka bersedih. Tapi lihatlah aku sekarang, Mir. Justru aku lah penyebab mereka menangis, penyebab mereka terluka dan hancur. Aku tak memikirkan bagaimana nanti ke depannya tanpa mereka. Aku siap jika harus mati sendirian. Tapi bagaimana dengan mereka, Mir? Kemana mereka akan pulang jika rumah mereka sendiri penyebab mereka pergi? Kemana mereka akan berlindung di kala rumah mereka sendiri, hujan air mata tak tertampung lagi? Kemana mereka akan berkeluh kesah, Mir? Kemana?” Intan menangis. Air mata bahkan terus menetes sejak dia masuk rumah sakit sampai sekarang saat dia sudah berada di rumah.
Evi memang masih menghubunginya untuk bertanya kabar dan mengkhawatirkannya. Tapi Ira… Anak pertamanya itu bahkan sekalipun tak menanyakan kabarnya sejak pergi dari rumah dua tahun lalu.
Apakah Intan membenci Ira? Tentu saja tidak. Wajar jika Ira membencinya karena dialah penyebab ayah kesayangannya meninggal dunia secara tak sengaja. Dia juga sadar telah membedakan kasih sayang diantara kedua anaknya. Intan berpikir, Ira sudah mendapat kasih sayang dari Suryo. Sedangkan, Evi.. Suryo tak sedikitpun memberi kasih sayangnya pada Evi karena Evi bukanlah anak kandungnya. Itulah sebabnya Intan lebih menyayangi Evi, karena Evi tak mendapat kasih sayang seorang ayah.
Tapi kini dia sadar, karena perlakuannya, Ira jadi menjauh darinya. Apalagi setelah tahu kenyataan yang sebenarnya. Intan ikhlas jika memang Ira tak kan pernah lagi menganggapnya sebagai Ibu.
“Mah..”
Intan dan Mira sontak menoleh saat mendengar suara seorang perempuan. Keduanya melebarkan mata, terkejut. Terlebih Intan yang langsung menangis haru melihat siapa yang datang.
“Ira,” ucap Intan lirih.
Ira tersenyum sendu dan melangkah perlahan mendekati ranjang Ibunya. Dia duduk di pinggir ranjang sambil terus menatap Ibunya. Matanya sudah berkaca-kaca sejak melihat sang Ibu dan mendengar semua perkataan Ibunya tadi. Tanpa ragu lagi, Intan langsung memeluk putri sulung yang sangat di rindukannya. Intan menangis dan memeluk erat. Ira membalas pelukan Ibunya tak kalah erat. Tiba-tiba saja semua rasa sesak di dada yang selama ini di rasakannya menguap begitu saja kala berada di dalam pelukan sang Ibu.
Mira yang melihat itu ikut menangis. Seolah mengerti, Mira beranjak berdiri dan melangkah keluar kamar. Memberi waktu untuk keduanya saling melepas rindu setelah permasalahan berat menimpa keluarga mereka.
“Kamu pulang, Ira? Kamu beneran pulang kan, Nak?” tanya Intan melepas pelukannya dan menyentuh wajah Ira.
Ira mengangguk. Dia menyeka air matanya. “Disini rumahku, Mah. Bukankah begitu?”
Intan mengangguk dan kembali memeluk Ira. Dia merasa sangat bahagia. Sekian menit berpelukan dengan penuh haru, Intan melepaskannya dan memegang tangan putrinya.
“Kamu masih menganggap Mamah sebagai rumahmu?” tanya Intan menatap penuh haru wajah Ira.
Ira mengangguk. Dia tersenyum hangat. “Sudah cukup aku berlari, Mah. Aku pikir aku akan tenang setelah jauh dari Mamah. Tapi ternyata, setiap hari, setiap waktu, hatiku tak tenang. Dadaku sesak entah kenapa. Dan kini aku tahu jawabannya, Mah. Aku tahu kemana harus pulang. Dan tempat ternyamanku ternyata adalah pelukanmu, Mah. Mau kemanapun aku pergi, aku akan tetap kembali pulang. Karena aku sudah menemukan rumah dalam diriku. Yaitu Mamah. Pelukan Mamah adalah rumahku yang paling nyaman. Bagaimana bisa aku tak melihat kasih sayang Mamah selama ini? Bagaimana bisa kasih sayang Mamah tertutupi dengan kenyataan yang sudah berlalu lama?”
Ira menghela napas dan menyeka air matanya, lalu melanjutkan. “Aku memang sempat membenci Mamah. Tapi kini aku sadar. Mau sampai kapan aku membenci Mamah padahal aku tahu kalau aku hanya punya Mamah dan Evi di dunia ini. Kebencianku tak akan membuat Ayah hidup kembali. Dan ku rasa, mungkin inilah takdir yang terbaik untuk keluarga kita. Karena seandainya Ayah tetap hidup, mungkin aku tak akan mau mengenal Mamah dan Evi.”
Intan mengangguk dan meraih wajah putrinya. Mencium keningnya dan berucap. “Terima kasih sudah memaafkan Mamah. Mamah bahkan sudah ikhlas jika kamu membenci Mamah selamanya. Karena Mamah sadar kesalahan Mamah sudah sangat fatal.”
Ira menggeleng. “Tapi aku nggak bisa benci sama Mamah karena rasa sayangku melebihi rasa benciku pada Mamah.”
Intan memeluk putrinya lagi. Kini hatinya merasa lega. Ira telah kembali ke dalam pelukannya. Begitupun Ira. Hatinya juga sangat lega. Bahkan kebencian yang dulu dirasakannya, kini telah sirna. Dia telah ikhlas menerima takdirnya. Dia telah menemukan rumah dalam dirinya. Dan dia tak akan lagi mempermasalahkan kejadian masa lalu Ibunya. Terutama Evi. Evi tetap akan menjadi adiknya sampai kapanpun.
“Sayang sekali, Evi tak ada disini. Jika—“ Ucapan Intan terpotong saat mendengar suara lain.
“Aku pulang!”
Intan menoleh ke arah pintu dan terkejut saat melihat Evi ada disana. Evi melangkah riang ke ranjang sang Ibu dan memeluknya.
“Evi… Kamu... Katanya nggak bisa pulang?” tanya Intan masih terkejut dengan kedatangan Evi yang tiba-tiba.
Evi melirik sang kakak dan tersenyum penuh makna. “Sengaja bikin kejutan buat Mamah. Aku pulang sama Kak Ira kok,” ucapnya riang.
Intan menatap Ira dan Evi bergantian. Ira tersenyum dan mengelus lengan Ibunya. “Kami emang sengaja pulang bareng, Mah. Biar Mamah senang dan semangat buat sembuh.”
Intan tersenyum. Air matanya kembali turun dan memeluk kedua putrinya erat. “Terima kasih, anak-anakku. Mamah sayang kalian.”
Ketiganya pun berpelukan dengan diiringi suara tangis. Namun kali ini bukan tangis yang menyesakkan. Tapi tangis yang melegakan hati. Tangis kebahagiaan. Ketiganya berjanji akan saling menguatkan satu sama lain karena mereka keluarga. Dan kini Ira semakin yakin bahwa keputusannya untuk pulang ke kampung halamannya bertemu sang Ibu, adalah keputusan yang benar. Dia kembali pulang ke rumah ternyamannya. Dia sudah menemukan arti dari menemukan rumah dalam diri. Sejauh apapun ia pergi, ia tetap akan pulang. Pulang pada Ibunya, keluarganya.
Selesai.