Hujan turun pelan di jendela kamar Selfa. Tetesannya menetes lambat, hampir ritmis, dan entah kenapa, itu membuatnya merasa tenang. Sepi rumahnya malam ini terasa familiar—bukan menakutkan, tapi aman.
Selfa menatap buku catatannya. Pena di tangannya berhenti sejenak, lalu dia menulis:
"Mama, aku kangen. Aku takut, tapi aku baik-baik saja."
Tulisan itu seperti napas, cara Selfa mengekspresikan diri tanpa harus bicara. Sejak Mama meninggal, percakapan tidak pernah menjadi hal yang mudah. Orang-orang di sekitarnya selalu bergerak terlalu cepat, tertawa terlalu keras, atau berkata sesuatu yang tidak ia mengerti. Selfa belajar menutup diri. Diam. Menjadi bayangan yang tidak menarik perhatian, tapi tetap ada.
Dia ingat malam itu, malam ketika dunia yang ia kenal runtuh. Hujan deras di luar, sirine ambulans, dan suara ayah yang panik. Mama memeluknya, tersenyum lembut, memanggil namanya, memastikan ia merasa aman. “Nak, jangan takut. Mama selalu ada di hatimu.” Tapi malam itu adalah malam terakhir ia melihat Mama. Semua terjadi terlalu cepat. Sirine, tangis, dan kebingungan ayah yang terburu-buru meninggalkannya di kamar. Sejak saat itu, Selfa belajar menahan rasa takutnya sendiri, belajar untuk diam, karena dunia tidak menunggu anak yang rapuh.
Sekolah adalah dunia lain yang membuatnya semakin menutup diri. Suara tawa teman-temannya terdengar jauh, bahkan saat mereka duduk tepat di sebelahnya. Selfa selalu memilih pojok kelas, selalu membawa buku catatan, dan selalu menemukan kenyamanan dalam menulis. Kata-kata itu adalah sahabat yang memahami, tempat dia menyimpan rindu pada Mama, rasa takut, dan kepedihan yang tidak bisa diucapkan.
Hari itu, guru seni meminta mereka menulis tentang kenangan bahagia. Selfa menatap kertas kosong, ragu. Kenangan bahagia apa yang tersisa? Dia menutup mata, dan wajah Mama muncul—senyumnya yang hangat, aroma masakan yang memenuhi rumah, suara lembut memanggil namanya. Dengan perlahan, Selfa menulis di buku catatannya, tentang rumah kecil mereka, tentang Mama yang selalu membuatnya merasa aman, tentang suara tawa yang kini hanya bisa ia dengar di ingatan.
Hujan berhenti di luar, tapi Selfa tetap duduk di kursinya, menatap tulisan yang mulai terbentuk. Detik-detik yang terasa sepi ini, baginya, lebih berharga daripada kebisingan dunia luar. Dunia mungkin tak peduli, tapi di sini, di kata-kata yang ia tulis, ia bisa menjaga perasaan sendiri.
Malam itu, saat rumah kosong, Selfa menyalakan lampu meja, membuka buku catatannya, dan menulis panjang lebar tentang hari-hari yang ia lalui. Tentang teman yang hanya dia perhatikan dari jauh, tentang kelas yang terlalu ramai, tentang setiap tetes hujan yang terasa seperti pelukan Mama. Sepi yang dia bawa bukan kutukan; itu adalah perisai yang membuatnya tetap bertahan.
Flashback lain muncul. Ia masih kecil, bermain di halaman rumah saat Mama memanggilnya dari dapur. Aroma sup hangat dan roti yang baru dipanggang memenuhi udara. “Selfa, waktunya makan, sayang,” suara Mama lembut, menenangkan, penuh cinta. Selfa berlari ke dapur, merasa aman, merasa dicintai. Dia ingat bagaimana Mama selalu tahu cara membuat semua terasa lebih ringan, bagaimana dia tersenyum walau lelah, bagaimana tangan Mama selalu cukup untuk memeluk dan menenangkan. Semua itu kini tinggal kenangan, tapi kenangan itu tetap hidup dalam setiap detik yang ia jalani.
Selfa menulis lagi di buku catatannya, tentang rasa kehilangan yang membekas. Tentang rasa takut dekat dengan orang lain karena takut kehilangan lagi. Tentang bagaimana dunia ini bisa keras dan tidak menunggu. Tapi dia juga menulis tentang kekuatannya sendiri—bahwa ia masih ada, masih bertahan, masih menulis.
Di hari-hari biasa, Selfa berjalan pelan di jalanan yang ramai, selalu mencoba menghindari keramaian yang membuatnya lelah. Tapi ada sesuatu yang berubah ketika dia melihat anak-anak kecil bermain di taman. Mereka berteriak, berlari, dan tertawa. Selfa menatap mereka sejenak, dan ada rasa hangat di dadanya. Sesuatu yang mirip dengan apa yang ia rasakan saat Mama masih ada—perasaan aman, meski hanya sebentar.
Dia duduk di bangku taman, membuka buku catatannya, menulis tentang perasaan itu. Tentang harapan kecil yang ia simpan sendiri, tentang rasa nyaman yang muncul di antara kesendirian. Dunia mungkin terlalu bising, tapi Selfa menemukan ketenangan dalam cara hidupnya sendiri—tidak perlu menjadi seperti orang lain, tidak perlu mengikuti arus. Dia belajar bahwa sepi yang dibawa bukan untuk dijauhi, tapi untuk dihargai.
---
Pagi itu, Selfa berjalan pelan ke sekolah. Jalanan basah bekas hujan semalam, aroma tanah dan daun basah memenuhi udara. Ia suka pagi seperti ini, tenang, sepi, dan belum terlalu banyak orang di jalan. Di antara hiruk-pikuk yang akan datang, Selfa merasa punya ritme sendiri, berbeda dari dunia yang terburu-buru.
Di kelas, teman-teman mulai masuk, ngobrol, tertawa, tapi Selfa tetap duduk di pojok. Ia membuka buku catatannya, menulis beberapa kata yang muncul di pikirannya. Bukan soal pelajaran, tapi tentang malam kemarin, hujan yang turun, dan wajah Mama yang muncul di ingatan.
Flashback muncul lagi, seperti yang selalu terjadi: Selfa kecil duduk di dapur, tangan Mama memegang tangannya, memeluknya sebelum tidur. “Nak, tidur yang nyenyak, mama di sini,” suara lembut yang membuat hati Selfa terasa hangat. Tapi kenangan itu selalu diikuti rasa sakit—setelah itu, ia hanya punya ayah yang sibuk dan rumah yang sepi.
Di sekolah, guru Bahasa Indonesia meminta mereka bercerita tentang pengalaman berkesan. Selfa menunduk, pena masih di tangan, tapi ia tidak mengangkat suara. Ia menulis di buku catatan pribadinya, tentang bagaimana rasanya kehilangan Mama, tentang hari-hari yang terasa sepi, tentang rasa takut untuk terlalu dekat dengan orang lain. Kata-kata itu menempel di halaman, menenangkan, sekaligus mengingatkan luka yang tidak hilang.
Saat istirahat, beberapa teman mendekatinya. Mereka bicara soal tugas kelompok, tapi Selfa hanya tersenyum tipis dan kembali menulis. Teman-temannya tidak tahu mengapa ia jarang bicara. Mereka mengira ia pemalu, tapi Selfa tahu alasannya lebih rumit. Ia belajar menjaga diri, menyimpan perasaan, dan mencintai dunia dari jarak yang aman.
Di sore hari, Selfa pulang dan melewati taman yang sama seperti kemarin. Anak-anak kecil masih bermain, berteriak riang. Selfa berhenti sebentar, menatap mereka dari jauh. Sesuatu di hatinya terasa hangat—perasaan yang dulu hanya muncul ketika Mama ada di dekatnya. Ia membuka buku catatannya lagi, menulis:
"Hidup terus berjalan, bahkan ketika Mama sudah tiada. Aku akan baik-baik saja, meski sepi ini selalu menemaniku."
Di rumah, ayah masih sibuk di kantor, seperti biasanya. Selfa menyiapkan teh hangat untuk dirinya sendiri, duduk di meja dekat jendela, menatap hujan yang mulai turun lagi. Buku catatan di depan, pena di tangan, dan rasa sepi yang ia bawa menjadi teman yang paling setia. Ia menulis panjang lebar tentang harapan-harapan kecilnya, tentang ketakutan yang diam-diam masih menghantuinya, dan tentang Mama yang selalu ada di hatinya.
Malam itu, Selfa menatap foto Mama di meja samping tempat tidur. Senyum Mama selalu terlihat nyata, meski foto itu hanya diam. Selfa tersenyum tipis, meneteskan sedikit air mata, tapi tidak lama. Ia menutup mata, menarik napas dalam-dalam, dan menulis:
"Aku akan belajar tersenyum lagi, Mama. Aku akan bertahan."
Sepi yang dibawa Selfa bukan lagi kutukan. Itu adalah cara ia bertahan, cara ia mencintai dunia dari jarak aman, cara ia tetap merasa dekat dengan Mama. Dan malam itu, di antara tumpukan buku catatan dan hujan yang menetes di jendela, Selfa merasa sedikit lebih ringan.
---
Pagi itu, Selfa berjalan ke sekolah dengan langkah pelan seperti biasa. Angin membawa aroma tanah basah, menyentuh wajahnya, dan membuatnya merasa sedikit hidup. Di kelas, teman-teman sudah ramai. Mereka tertawa, bersenda, saling bercakap tentang tugas dan gosip terbaru. Selfa tetap di pojok, membuka buku catatan, menulis beberapa kalimat pendek tentang hujan dan kenangan Mama.
Tapi hari ini ada sesuatu yang berbeda. Seorang teman, Rina, duduk di sebelahnya. “Selfa, ikut kelompokku untuk tugas prakarya, ya?” katanya ramah. Selfa menatap Rina, menimbang, tapi hanya menggeleng pelan. Kata-kata itu keluar dari mulutnya, tapi hatinya ingin bilang lebih. Ia menunduk dan menulis di buku catatannya:
"Aku ingin ikut, tapi aku takut kalau nanti mengecewakan mereka."
Rina tersenyum, seolah mengerti, dan berkata ringan, “Nggak apa-apa, aku ngerti kok.” Itu pertama kalinya Selfa merasa ada teman yang tidak menuntutnya bicara terlalu banyak, tapi tetap mengajaknya masuk. Hati Selfa terasa hangat, walau sekejap.
Sepulang sekolah, Selfa melewati taman yang sama. Anak-anak bermain seperti biasa, tapi kini ia melihat seorang anak jatuh dari sepeda. Instingnya muncul—dia berlari membantu, walau tetap pelan, walau tidak terlalu dekat. Anak itu menatapnya dengan mata besar dan berterima kasih. Selfa tersenyum tipis. Ia merasa ada sesuatu yang berbeda: melakukan hal kecil untuk orang lain, walau hanya sebentar, memberi rasa lega di dadanya.
Malamnya, Selfa duduk di meja belajarnya, membuka buku catatan, dan menulis tentang perasaan hari itu. Tentang Rina yang tidak menuntutnya bicara banyak, tentang anak kecil di taman, tentang rasa hangat yang muncul dari hal-hal sederhana. Ia menulis panjang lebar, menumpahkan emosi yang selama ini hanya ia simpan.
Flashback muncul lagi. Selfa kecil duduk di pangkuan Mama, mendengarkan cerita sebelum tidur. “Nak, dunia ini besar, tapi Mama selalu di sini. Kamu kuat, dan kamu bisa bertahan,” kata Mama lembut. Selfa kecil merasa aman, merasa dicintai, merasa bahwa apapun yang terjadi, Mama akan selalu menjadi pelindungnya. Kenangan itu membuat Selfa dewasa selalu mencari keamanan dalam kesepiannya sendiri, karena dunia nyata seringkali keras dan tidak peduli.
Selfa menulis: "Mama, aku ingin bisa sekuat kamu, walau aku masih takut."
Hari-hari berikutnya, Selfa mulai sedikit membuka diri. Tidak banyak, tapi ia mulai menoleh ke teman-teman, mulai tersenyum tipis ketika Rina menyapanya, dan kadang menjawab pertanyaan guru. Ia masih introvert, masih membawa sepi yang menjadi perisai, tapi perlahan ia belajar bahwa dunia tidak selalu menakutkan. Ada ruang kecil untuk rasa aman, ada orang yang tidak menilai terlalu keras.
Di rumah, ayah masih sibuk dengan pekerjaannya. Selfa menyiapkan teh hangat untuk dirinya sendiri, duduk di dekat jendela, menatap hujan yang mulai turun lagi. Ia menulis tentang semua yang terjadi hari ini—tentang keberanian kecilnya, tentang teman yang membuatnya merasa diterima, tentang kenangan Mama yang selalu menjadi sumber kekuatan.
Malam itu, Selfa menatap foto Mama di meja samping tempat tidur. Senyum Mama tampak nyata, lembut, dan menenangkan. Selfa tersenyum tipis, meneteskan sedikit air mata, tapi tidak lama. Ia menutup mata, menarik napas dalam-dalam, dan menulis:
"Aku akan belajar bertahan, Mama. Aku akan mencoba membuka diri, sedikit demi sedikit. Sepi ini akan tetap ada, tapi aku tidak sendirian."
Di antara tumpukan buku catatan dan hujan yang menetes di jendela, Selfa merasa sedikit lebih ringan. Sepi yang ia bawa bukan lagi beban, tapi teman yang membantunya memahami dunia, memahami dirinya sendiri, dan memahami rasa kehilangan yang tak pernah hilang.
---
Beberapa hari kemudian, di sekolah, guru Bahasa Indonesia memberikan tugas presentasi tentang pengalaman pribadi. Selfa merasakan jantungnya berdetak kencang. Ia tidak terbiasa berbicara di depan banyak orang. Di kelas, teman-temannya mulai berbisik-bisik, saling tersenyum, menunggu giliran mereka.
Selfa menunduk, tangan menggenggam buku catatan. Hatinya ingin menolak, ingin tetap duduk di pojok, tapi ada rasa kecil di dadanya yang mengatakan: “Coba saja. Tidak apa-apa.” Ia menarik napas panjang, lalu menulis beberapa kata di buku catatannya:
"Aku takut, tapi aku ingin mencoba."
Saat namanya dipanggil, Selfa berdiri dengan langkah pelan. Suara di kelas seperti jauh, dan pandangan matanya tertuju ke lantai. Tapi kemudian ia melihat Rina tersenyum, memberikan anggukan kecil. Itu memberinya keberanian, sekecil apapun.
Selfa mulai berbicara, suaranya lirih. Ia menceritakan kenangan masa kecilnya bersama Mama, bagaimana kehilangan Mama membuatnya menarik diri dari dunia, bagaimana sepi menjadi teman yang selalu ada. Beberapa teman menatapnya dengan perhatian, bukan ejekan. Hatinya sedikit lega. Ia merasa, mungkin, dunia ini tidak selalu menakutkan.
Setelah presentasi selesai, guru tersenyum dan berkata, “Selfa, itu luar biasa. Terima kasih sudah berbagi.” Kata-kata itu seperti cahaya kecil yang menerangi rasa takut yang lama terkubur. Selfa menunduk, tersenyum tipis, dan kembali ke tempat duduknya. Sepi tetap ada, tapi kini terasa lebih ringan.
Sepulang sekolah, Selfa melewati taman. Hujan sore baru saja berhenti. Ia melihat seorang anak kecil menangis karena sepeda rusak. Instingnya muncul lagi—tanpa banyak bicara, ia membantu anak itu memperbaiki sepeda. Anak itu tersenyum, berterima kasih, dan berlari kembali ke teman-temannya. Selfa menatap mereka dari jauh, tersenyum tipis. Ada perasaan hangat yang muncul dari hal kecil ini.
Di rumah, Selfa duduk di meja belajar, menulis di buku catatannya. Ia menulis tentang keberanian kecil hari ini, tentang ketakutan yang ia hadapi, tentang Mama yang selalu ada di hatinya.
Flashback muncul: Selfa kecil duduk di pangkuan Mama, mendengarkan cerita sebelum tidur. “Nak, kamu kuat, dan kamu bisa bertahan,” suara Mama lembut menenangkan. Kenangan itu selalu memberinya kekuatan, meski Mama sudah tiada.
Selfa menulis lagi: “Aku ingin sekuat Mama, walau aku masih takut. Aku ingin mencoba membuka diri, walau pelan-pelan.”
Hari-hari berikutnya, Selfa mulai melakukan hal-hal kecil yang dulu sulit: menanggapi sapaan teman, ikut diskusi kelompok, dan bahkan tersenyum tanpa alasan tertentu. Sepi yang ia bawa tetap ada, tapi kini menjadi teman yang membimbing, bukan tembok penghalang.
Suatu sore, ayah menaruh foto lama Mama di meja makan. Selfa menatapnya, tersenyum tipis, lalu duduk di sampingnya. “Aku merindukan Mama,” bisiknya pelan, hanya untuk dirinya sendiri. Ia tahu ayah mendengar, tapi tidak bertanya. Kadang, keheningan itu lebih mengerti daripada kata-kata.
Malam itu, Selfa menulis panjang di buku catatannya. Ia menulis tentang hari-hari yang telah ia lalui, tentang keberanian kecil yang muncul, tentang kenangan Mama yang selalu memberi pelindung. Sepi yang dibawa selama bertahun-tahun kini terasa lebih ramah, bukan musuh. Ia belajar bahwa kehilangan bukan untuk dihindari, tapi untuk diterima, dan dari sana ia bisa menemukan kekuatan.
Di antara tumpukan buku catatan dan hujan yang menetes di jendela, Selfa tersenyum. Sepi yang ia bawa bukan lagi beban. Ia merasa sedikit lebih ringan, sedikit lebih berani, dan sedikit lebih dekat dengan Mama, walau hanya di ingatan dan kata-kata yang ia tulis.
---
Hari-hari berikutnya terasa berbeda bagi Selfa. Masih ada sepi yang menemaninya, tapi kini sepi itu bukan lagi tembok penghalang. Ia belajar bahwa dunia tidak selalu kejam, dan kadang, ada orang yang benar-benar mau memahami tanpa menuntut banyak.
Di sekolah, Rina tetap menjadi teman yang mengerti. Mereka duduk bersama di kantin, berbagi cemilan, berbicara tentang hal-hal kecil. Selfa masih tidak banyak bicara, tapi ia tersenyum lebih leluasa. Ia menyadari, membuka sedikit diri tidak membuatnya kehilangan kekuatannya. Sepi yang dibawa justru membuat momen kecil ini terasa lebih berharga.
Suatu sore, Selfa duduk di bangku taman dekat rumah. Hujan baru saja reda. Ia menatap langit yang mulai cerah, udara segar menyentuh wajahnya. Pena dan buku catatan ada di tangan, seperti biasanya. Ia menulis:
"Mama, aku baik-baik saja sekarang. Aku belajar bahwa kehilangan tidak selalu menyakitkan, tapi juga mengajarkan aku menjadi kuat."
Flashback muncul, tapi kali ini berbeda. Ia kembali mengingat Mama, bukan hanya rasa sakit karena kehilangan, tapi semua tawa, semua pelukan, semua malam yang hangat. Selfa tersenyum tipis, menutup mata sejenak, dan merasakan kehangatan itu masih hidup di dalam hatinya.
Hari itu, di sekolah, guru seni memberikan tugas tambahan: menulis surat untuk seseorang yang sangat berarti. Selfa menulis surat panjang untuk Mama. Ia menumpahkan semua perasaan, semua rindu, semua keberanian kecil yang ia temukan. Surat itu menjadi simbol penerimaan diri, sekaligus pengakuan bahwa luka masa lalu tidak lagi menghalangi dirinya untuk hidup.
Malamnya, Selfa menaruh surat itu di meja samping foto Mama. “Ini untuk Mama,” bisiknya. Ia tersenyum, menatap foto itu lama. Hatinya terasa ringan, lega, dan damai. Sepi yang dibawa selama bertahun-tahun kini terasa seperti pelukan hangat—teman yang setia, bukan tembok penghalang.
Di rumah, ayah memperhatikannya dari jauh. Ia tahu Selfa mulai berubah. Tidak banyak yang dikatakan, tapi ada kehangatan dalam senyum ayah yang jarang muncul. Selfa merasa hubungan mereka juga perlahan membaik. Sepi yang dibawa Selfa tidak lagi memisahkannya dari dunia, tapi justru membantunya memilih momen yang tepat untuk membuka diri.
Beberapa minggu kemudian, Selfa berjalan pulang dari sekolah sambil tersenyum tipis. Angin sore menyentuh wajahnya, daun-daun bergoyang pelan. Ia melihat anak-anak bermain, seperti dulu, tapi kali ini ia tidak hanya menonton dari jauh. Ia tersenyum pada mereka, dan seorang anak kecil membalasnya. Selfa merasakan kehangatan sederhana yang dulu hanya ia rasakan saat Mama masih ada.
Di kamar, Selfa duduk di dekat jendela, menulis di buku catatannya satu kata terakhir:
"Aku siap."
Siap menghadapi dunia luar, dengan sepi yang selalu menemaninya, dengan kenangan Mama yang selalu memberi kekuatan, dan dengan dirinya sendiri yang perlahan belajar membuka hati.
Hujan turun lagi, pelan. Selfa menatapnya, tersenyum, dan menutup buku catatannya. Sepi yang dibawa kini bukan lagi beban, tapi teman. Teman yang membimbingnya menemukan kekuatan, cinta, dan ketenangan.
Dan malam itu, di kamar yang hangat, Selfa tertidur dengan damai, membawa sepi, membawa kenangan, dan membawa harapan baru yang perlahan tumbuh.