Dunia Nisa runtuh bukan karena ledakan besar, melainkan karena selembar kertas kecil yang jatuh dari saku jaket suaminya. Sore itu, ia hanya berniat mencari kunci motor di saku jaket Adit yang tergantung di balik pintu kamar. Namun, jemarinya justru menyentuh sesuatu yang garing dan tipis. Kertas itu terlipat dengan presisi yang menyakitkan, seolah-olah sengaja disimpan sebagai kenang-kenangan atau mungkin sebuah kecerobohan yang direncanakan oleh semesta.
Ia membukanya pelan. Nama hotel itu asing, sebuah tempat butik di sudut kota yang terkenal dengan keremangannya. Tanggalnya baru kemarin, saat Adit bilang ia harus lembur hingga larut malam. Di bagian bawah struk, tertulis satu nama dengan tulisan tangan yang rapi: Ines.
Nama itu terasa seperti racun yang merambat di pembuluh darah Nisa. Nama bisa berarti apa saja. Nama kucing, nama sandi Wi-Fi, atau dalam skenario terburuk, nama perempuan yang telah mencuri binar di mata suaminya. Sejak beberapa bulan terakhir, Nisa merasakan perubahan suhu di rumah mereka. Dapur terasa lebih dingin, dan tawa Adit yang dulu sering pecah di sela-sela denting piring kini hanya mampir sebentar sebelum menghilang di balik pintu ruang kerja.
Nisa mengenal Adit lebih dari ia mengenal dirinya sendiri. Ia tahu kapan suaminya benar-benar lelah dan kapan ia hanya sedang membangun tembok. Kini, kebohongan itu telah memiliki nama.
Pencariannya membawa Nisa ke sebuah profil di media sosial. Ines bukan sekadar nama tanpa wajah. Ia adalah seorang penulis esai yang sedang naik daun. Foto-fotonya memancarkan aura melankolis yang terukur. Kemeja putih yang sedikit longgar, rambut diikat asal, dan tatapan mata yang seolah bisa menembus kulit pembacanya. Kutipan-kutipannya tentang cinta yang tidak pulang dan lelaki yang memilih diam beredar luas di internet, dipuja oleh mereka yang merasa kesepian.
Membaca tulisan Ines membuat Nisa merasa mual. Ada ironi yang tajam di sana. Ines menulis tentang luka seolah-olah ia adalah korban tunggal di dunia ini, padahal dialah yang sedang memegang pisau untuk menyayat rumah tangga orang lain.
Sore yang mendung itu, Nisa berdiri di depan sebuah rumah kecil dengan tanaman merambat di pagarnya. Udara terasa berat, seakan langit sedang menahan napas sebelum menumpahkan tangisnya. Ketika pintu terbuka, seorang perempuan muncul. Wajahnya sama dengan di foto, namun terlihat lebih rapuh dalam balutan cahaya sore yang redup.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Ines. Suaranya lembut, seperti barisan kalimat dalam bukunya.
"Ada," jawab Nisa. Ia tidak berteriak. Suaranya justru terdengar sangat tenang, dan itulah yang membuatnya terdengar mematikan. "Kamu tidur dengan suami saya."
Hening yang menyakitkan menyusul. Ines tidak membantah. Ia tidak tertawa meremehkan. Perempuan itu justru menelan ludah dan mundur setengah langkah, membiarkan pintu terbuka lebih lebar sebagai tanda menyerah. "Silakan masuk."
Di dalam, rumah itu beraroma kopi dan kertas lama. Naskah-naskah tertempel di dinding seperti doa-doa yang gagal dikirim ke surga. Mereka duduk berhadapan di sebuah meja kayu kecil. Di antara mereka, ada kehadiran Adit yang tak kasatmata namun mendominasi ruangan.
"Kamu tahu dia sudah menikah," Nisa memulai, matanya menatap tajam ke arah Ines.
"Saya tahu," Ines menjawab pelan, jemarinya gelisah memainkan ujung taplak meja.
"Dan kamu tetap melakukannya? Kamu membangun kariermu di atas narasi kejujuran dan luka, tapi kamu sendiri yang menciptakan luka itu?"
Ines mengangkat wajahnya. Ada kilatan defensif di matanya. "Adit datang pada saya sebagai orang yang kesepian, Nisa. Dia bilang, di rumah dia hanya menjadi sebuah fungsi. Seorang suami yang harus kuat, yang harus menyediakan segalanya. Di sini, bersamaku, dia bisa menjadi manusia. Dia bisa tertawa."
Nisa tersenyum pahit. "Jadi, ini caramu membenarkan diri? Menganggap bahwa tawa yang kau curi adalah sebuah misi penyelamatan? Kamu tidak tahu apa-apa tentang apa yang kami bangun selama sepuluh tahun. Kamu hanya tahu dia dalam versi semalam di hotel."
"Saya mencintainya," bisik Ines, suaranya gemetar.
"Cinta?" Nisa tertawa pendek, suara yang terdengar asing di telinganya sendiri. "Cinta tidak bersembunyi di saku jaket dalam bentuk struk hotel. Itu namanya pencurian. Kamu takut kehilangan lelaki yang bukan milikmu, Ines. Sementara saya? Saya sedang berjuang agar tidak kehilangan martabat saya sendiri."
Nisa berdiri, merasa bahwa ruang itu terlalu sempit untuk dua perempuan yang mencintai lelaki yang sama dengan cara yang berbeda. Ia mengambil ponselnya, menunjukkannya di atas meja. "Saya punya bukti. Saya bisa menghancurkan reputasimu yang dibangun dengan kata-kata indah itu dalam sekejap."
Wajah Ines memucat pasi. Ia hampir berlutut, matanya memohon. "Tolong, jangan. Saya takut kehilangan dia."
Melihat ketakutan itu, kemarahan Nisa tiba-tiba surut, digantikan oleh rasa lelah yang luar biasa. Ia melihat seorang perempuan yang malang, yang menggantungkan kebahagiaannya pada lelaki yang bahkan tidak berani jujur pada istrinya sendiri.
"Saya tidak akan melaporkanmu hari ini," kata Nisa sambil melangkah menuju pintu. Hujan mulai turun di luar, membasahi bumi dengan kasar. "Bukan karena saya baik. Tapi karena saya ingin pulang dan melihat apakah suami saya masih layak untuk diperjuangkan. Saya ingin melihat apakah tawa yang kau maksud itu masih bisa kembali ke alamat yang benar."
Nisa berhenti di ambang pintu, menoleh sedikit. "Dan satu saran untuk tulisanmu berikutnya. Cobalah menulis tentang keberanian untuk mundur. Tentang bagaimana rasanya berhenti menjadi benalu di hidup orang lain. Itu cerita yang jauh lebih jujur."
Nisa pergi menembus hujan, membiarkan air menghapus sisa-sisa aroma rumah itu dari kulitnya. Di rumah, ia menemukan Adit duduk diam di ruang tamu yang gelap. Televisi mati. Tak ada kata-kata. Mereka hanya saling tatap dalam keheningan yang menyesakkan. Sebuah akhir, atau mungkin sebuah awal yang menyakitkan, sedang menunggu untuk ditulis.
Di meja kerjanya, Ines membuka laptop. Cahaya layar menerangi wajahnya yang basah. Ia menghapus draf puisinya tentang kerinduan, lalu mulai mengetik judul baru: Perempuan yang Membawa Hujan.
Ia menyadari satu hal. Kadang, kebenaran yang paling tajam tidak ditemukan dalam pelukan rahasia, melainkan dalam tatapan mata seorang istri yang memilih untuk tetap berdiri tegak saat dunianya dihancurkan.