Aku hanyalah pendatang baru
Masih canggung melangkah di dunia yang tak punya tanah, tak berlangit, tapi dipenuhi suara, kata, dan bayangan manusia.
Aku datang tanpa nama besar,
tanpa reputasi,
tanpa tahu aturan tak tertulis yang katanya lebih tajam dari hukum mana pun.
Yang kutahu, aku hanya membawa rasa ingin tahu… dan sedikit harap untuk dimengerti.
Di dunia nyata, aku terbiasa melihat mata saat berbicara.
Di sini, aku hanya melihat huruf.
Namun anehnya, huruf-huruf itu bisa melukai lebih dalam dari tatapan sinis,
atau menghangatkan lebih lama dari sebuah senyuman.
Sebagai pendatang baru, aku sering salah langkah.
Salah kata.
Salah waktu.
Aku tak tahu mana bercanda, mana sindiran.
Mana keakraban, mana batas yang seharusnya tak kulewati.
Aku belajar bahwa di dunia virtual,
orang bisa menjadi siapa saja.
Baik malaikat maupun bayangan gelap,
kadang dalam satu akun yang sama.
Ada yang menyambut dengan ramah,
mengajariku tanpa merendahkan,
mengoreksi tanpa menyakiti.
Dari mereka, aku belajar bahwa kebaikan tak pernah kehilangan rumahnya,
bahkan di dunia yang tak nyata.
Namun ada pula yang memandangku hanya sebagai angka,
sebagai objek hiburan,
atau sekadar nama yang bisa dilupakan setelah layar ditutup.
Saat itu aku mengerti,
bahwa tak semua tempat aman untuk membuka hati.
Aku sempat ingin pergi.
Merasa dunia ini terlalu bising untuk jiwa yang masih belajar berdiri.
Terlalu cepat untuk langkah yang masih gemetar.
Tapi aku bertahan.
Bukan karena aku kuat,
melainkan karena aku percaya:
setiap pendatang baru berhak diberi waktu untuk tumbuh.
Perlahan aku mulai memahami iramanya.
Kapan harus bicara,
kapan harus diam.
Kapan memberi,
dan kapan menjaga diri.
Aku belajar bahwa identitas di dunia virtual bukan tentang seberapa keras suara kita,
tapi seberapa jujur kita pada diri sendiri.
Bukan tentang popularitas,
melainkan tentang nilai yang kita pegang saat tak ada yang melihat.
Kini aku masih pendatang baru.
Masih belajar.
Masih sering salah.
Namun aku tak lagi takut.
Karena aku tahu,
menjadi baru bukanlah kelemahan—
ia adalah awal dari keberanian.
Dan jika suatu hari namaku dikenal,
aku ingin dikenang bukan karena keramaian yang kubuat,
melainkan karena sikap yang kutinggalkan.
Sebab di dunia virtual ini,
yang paling nyata bukanlah layar,
melainkan jejak hati yang kita pilih untuk tinggalkan.