Ninda, seorang wanita yang cukup sukses dalam kariernya. Dia bekerja sebagai arsitek di sebuah perusahaan besar, dari luar, hidupnya tampak sempurna. Namun, meski dia menikmati karirnya yang gemilang, ada satu hal yang selalu membuatnya merasa kosong, dia belum menemukan cinta sejatinya. Kini, di saat usianya menginjak 28 tahun, usia yang sudah cukup matang untuk menikah, dia masih menyendiri.
Beberapa teman seprofesi atau di luar profesinya banyak yang mendekati, namun dia bergeming. Karena dia masih mengharapkan cinta seseorang di masa SMA-nya_Indra sang ketua OSIS.
Pagi itu, setiba di kantornya, dia mendapatkan sebuah undangan yang tergeletak di meja kerjanya. Ketika dia buka, ternyata sebuah undangan reuni SMA. Ninda masih menggenggam undangannya ketika Tika sahabatnya masuk ke ruangannya.
"Nin, itu undangan reuni yang diantarakan security kemarin sore.” Tika berkata sambil menatap sahabatnya.
"O iya, makasih ya Tik.” Ninda menjawab dengan senyum manisnya.
"Pastinya datang dong?”
"Gak tahu Tik, malu aku.”
"Lho, kamu cantik, sukses dalam kariermu, wanita mandiri juga, apa yang membuatmu malu?”
"Tapi aku belum nikah, perawan tua, Tik.”
"Gak tua-tua amat, masih kepala 2 kok.”
"Menjelang kepala 3, Tikaaaa.”
"Zaman sekarang itu belum terlalu tua kok. Lagian, kalau kamu ikut reuni, ada kesempatan dong ketemu dengan ketua OSISmu itu, siapa tuh, Indra? Bisa jadi dia jodohmu.”
"Hus, mungkin Indra udah menikah, Tik.”
"Baru kemungkinan, siapa tahu belum, ya kan? Pokoknya kamu harus datang. Titik.” Tika menyudahi perbincangannya seraya meninggalkan Ninda yang masih membolak balik undangan reuninya.
Ninda awalnya merasa sedikit cemas dan ragu, namun akhirnya memutuskan untuk hadir. Dia merasa itu kesempatan langka untuk kembali bertemu dengan teman-teman lama, dan mungkin, dengan Indra. Apalagi selama ini dia cukup menutup diri dari dunia luar, dia tidak pernah gabung dalam group aplikasi obrolan masa SMA-nya ataupun aktif bersosial media.
Hari H pun tiba. Reuni diadakan di sebuah hotel mewah di pusat kota, tempat yang nyaman dan elegan untuk berkumpul bersama setelah bertahun-tahun berpisah. Ninda tiba lebih awal, mengenakan gaun hitam yang simpel namun elegan, berusaha tampil percaya diri meski sedikit cemas.
Dia masuk ke dalam ruang acara dan mulai menyapa beberapa teman lama yang sudah hadir. Ada gelak tawa dan cerita yang mengingatkan Ninda pada masa-masa indah di SMA. Namun, ada satu sosok yang belum dia temukan, sosok yang sudah lama dia tunggu-tunggu, yaitu Indra.
Indra adalah teman sekelas Ninda di SMA, seorang Ketua OSIS yang penuh percaya diri, pintar, dan selalu menjadi pusat perhatian di sekolah. Meskipun mereka sering berada dalam satu kelompok belajar, hubungan mereka tidak lebih dari sekadar teman dekat. Namun, di balik kedekatan itu, Ninda merasakan sesuatu yang lebih dari sekadar persahabatan. Indra juga terlihat menunjukkan perhatian khusus kepada Ninda, meskipun tidak pernah ada kata-kata yang secara jelas menyatakan perasaan itu.
Namun, seperti banyak cerita cinta di masa remaja, hubungan mereka tidak pernah berkembang lebih jauh. Indra akhirnya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri setelah lulus SMA, sementara Ninda merantau ke luar kota untuk mengejar impiannya.
Meskipun ada percakapan panjang di malam terakhir mereka bersama, mereka tidak pernah mengungkapkan perasaan mereka satu sama lain. Ninda pun akhirnya melanjutkan hidupnya dan menemukan kesuksesan dalam kariernya. Namun, bayangan Indra selalu ada di hatinya, meskipun dia berusaha menepisnya.
Saat akhirnya Indra muncul, Ninda langsung mengenalinya meskipun sudah bertahun-tahun berlalu. Indra tampak lebih matang, dengan penampilan yang lebih dewasa dan penuh percaya diri. Namun, ada sesuatu dalam tatapan matanya yang masih sama, seolah-olah tidak ada waktu yang pernah memisahkan mereka. Jantung Ninda berdegup kencang ketika matanya bertemu dengan mata Indra. Untuk beberapa detik, waktu seolah berhenti. Indra pun tersenyum lebar ketika melihat Ninda dan langsung mendekatinya.
"Ninda? Wah, lama sekali nggak ketemu. Kamu tetap cantik seperti dulu." Ujar Indra dengan nada yang hangat dan ramah.
"Indra, kamu juga kelihatan jauh lebih keren sekarang."
Obrolan pun mengalir lancar di antara mereka. Ninda merasa canggung di awal, namun Indra selalu mampu membuat suasana menjadi lebih santai dan menyenangkan. Mereka tertawa bersama mengenang masa SMA yang lucu dan konyol, mulai dari tugas yang selalu mereka kerjakan bersama hingga kejadian-kejadian lainnya yang sulit untuk dilupakan. Ninda merasa seperti kembali ke masa-masa itu, ketika dia masih menjadi remaja yang penuh dengan impian dan harapan.
"By the way, kamu sendirian aja, Nin? Mana suamimu?”
"Duh, jangan ngeledek Ndra, aku masih single ni, belum laku.” Ninda menjawab dengan sedikit malu.
"Seriusan? Wanita secantik ini belum laku?”
"Iyaaa, cariin dong!”
"Wah, ada kesempatan ni.”
"Maksudnya?”
"Aku juga masih single Nin. Sempat sih menjalani hubungan, tetapi tidak berhasil. Mungkin aku terlalu fokus pada karier dan lupa untuk mencari cinta yang sebenarnya. Tapi, setelah bertemu kamu, aku menemukan cinta itu, karena memang semasa SMA aku sudah punya perhatian khusus padamu." Ujar Indra dengan serius.
"Ah yang bener?” Ninda menunduk berusaha menyembunyikan senyumnya yang manis.
"Ninda, aku tidak bisa menahan perasaan ini lagi. Aku tahu kita sudah lama berpisah, tapi aku merasa kamu adalah orang yang tepat untukku."
"Kamu yakin?”
"Ya, sejak dulu aku memang mengagumi dan menyukaimu.”
"Kenapa tidak pernah mengungkapkannya dulu?”
"Aku tidak punya keberanian untuk itu Nin, tapi sekarang, aku tidak mau melepaskanmu lagi.” Indra menatap bola mata Ninda.
"Aku juga merasakan hal yang sama, Ndra. Walaupun kita sudah lama tidak bertemu, rasanya seperti semuanya kembali seperti dulu. Aku merasa seolah-olah waktu tidak pernah memisahkan kita."
"Jadi deal ya, kita memiliki hubungan special kali ini. Calon suami istri” Indra menggoda Ninda. Ninda hanya tersenyum dan mengangguk malu-malu.
Ninda menyadari, meskipun waktu telah berubah, ada perasaan yang tidak pernah hilang dalam hatinya. Ketika berbicara dengan Indra, dia merasa seperti tidak ada jarak yang memisahkan mereka, seolah-olah cinta yang dulu sempat terpendam kembali bersemi.
Hari itu, mereka berdua meninggalkan reuni dengan perasaan yang jauh berbeda. Mereka menyadari bahwa cinta yang terpendam sejak lama itu kini telah menemukan jalannya. Reuni itu menjadi momen yang tak hanya menyatukan mereka dengan teman-teman lama, tetapi juga dengan cinta yang bersemi kembali, memberikan harapan baru bagi masa depan mereka bersama.