Pasar Beringin biasanya riuh oleh tawar-menawar, namun pagi itu suaranya digantikan oleh denting koin yang dipaksa keluar dari pundi-pundi kusam para pedagang. Tuan Argas berdiri di atas kudanya yang besar, memandang rendah pada seorang kakek penjual gerabah yang tersungkur.
"Pajak adalah jaminan keamanan," ujar Argas sambil memainkan kumis tebalnya. "Jika kau tak sanggup membayar, maka keamanan tulang rusukmu bukan lagi urusanku."
Seorang pengawal bertubuh raksasa mengangkat kaki botnya, siap menghancurkan tumpukan kendi milik si kakek. Namun, gerakannya terhenti. Bukan karena ia merasa iba, melainkan karena udara di sekitarnya mendadak menjadi sangat berat—seperti ada beban ribuan ton yang jatuh dari langit secara tak kasat mata.
Dari ujung lorong pasar yang berdebu, seorang perempuan berjalan perlahan.
Ia tidak mengenakan zirah emas atau jubah sutra. Pakaiannya hanyalah kain abu-abu lusuh yang sudah memudar warnanya, dengan sebuah caping lebar yang menutupi separuh wajahnya. Di punggungnya, terikat sebuah bungkusan panjang yang dibalut kain perca hitam. Langkah kakinya pelan, namun setiap kali sandal kayunya menyentuh tanah, riak debu di bawahnya seolah-olah menjauh karena takut.
"Berhenti!" teriak Argas, meskipun suaranya terdengar agak serak. "Siapa kau, orang asing?"
Perempuan itu berhenti tepat sepuluh langkah di depan kuda Argas. Ia tidak mendongak. Kesunyian yang ia bawa begitu pekat, hingga suara detak jantung para pengawal mulai terdengar cepat dan tidak beraturan.
"Dulu, tempat ini tidak berbau amis oleh ketamakan," suara perempuan itu rendah, parau, namun bergetar seperti dawai kecapi yang ditarik kencang. "Tanah ini pernah kutebus dengan darah yang lebih berharga daripada koin-koin kotor kalian."
"Bicara apa kau, nenek tua?!" Argas memberi isyarat pada lima pengawalnya. "Hancurkan dia!"
Kelima pria berotot itu menghunus pedang dan merangsek maju. Namun, saat mereka berada dalam jarak tiga meter, perempuan itu menggerakkan tangan kanannya ke balik bahu. Jempolnya menyentuh pangkal pedang yang tersembunyi di balik kain perca.
"Sring."
Hanya satu inci. Logam hitam kelam itu baru keluar satu inci dari sarungnya.
Detik itu juga, realitas seolah bergeser. Para pengawal yang sedang berlari tiba-tiba membeku. Mata mereka membelalak, pupil mereka mengecil karena teror yang luar biasa. Di mata batin mereka, pasar itu bukan lagi pasar, melainkan medan perang yang penuh dengan mayat, dan perempuan di depan mereka adalah raksasa yang berdiri di atas gunung tengkorak.
Tuan Argas jatuh dari kudanya. Bukan karena didorong, tapi karena otot-otot kakinya kehilangan daya untuk menopang ketakutan yang merayap di sumsum tulangnya. Ia merasa lehernya sedang dilingkari oleh kawat berduri yang siap menyentak jika ia berani bernapas lebih keras.
"Wajah itu..." bisik seorang pengawal yang paling tua, suaranya gemetar hebat hingga pedangnya jatuh berdenting ke tanah. "Cadar perca itu... Pedang hitam tanpa hulu... Kau adalah... Sang Bencana Berambut Putih?"
Perempuan itu mengangkat sedikit capingnya. Di bawah bayang-bayang bambu, sepasang mata seputih mutiara menatap mereka tanpa emosi. Itu adalah tatapan seseorang yang sudah bosan melihat kematian.
"Pergilah," ucapnya datar. "Atau inci berikutnya akan memaksa kalian melihat isi neraka tanpa perlu mati terlebih dahulu."
Pilihan yang bagus. Bagian ini akan memberikan kedalaman pada karakter "Nyi Ageng Seruni"—bahwa dia bukan sekadar pembunuh, melainkan sebuah kekuatan alam yang terpaksa bangkit kembali.
Tuan Argas dan para pengawalnya lari tunggang langgang, meninggalkan debu yang mengepul dan harga diri yang hancur di atas tanah pasar. Penduduk pasar masih terpaku, membeku di tempat masing-masing, seolah-olah jika mereka bergerak sedikit saja, hawa mematikan yang ditinggalkan perempuan itu akan menyayat kulit mereka.
Nyi Ageng Seruni menghela napas panjang. Ia mendorong kembali pedangnya ke dalam sarung hingga terdengar bunyi "klik" yang halus. Tekanan udara yang tadinya mencekik seketika mencair, berganti dengan angin sepoi-sepoi yang membawa aroma melati tua—aroma yang selalu mengikutinya.
Pikirannya melayang kembali ke tiga puluh tahun yang lalu.
Saat itu, ia bukan seorang perempuan tua dengan pakaian lusuh. Ia adalah badai.
Dulu, namanya adalah "Seruni", panglima tak kasat mata dari Kerajaan Langit Selatan. Ia dikenal bukan karena jumlah pasukan yang dipimpinnya, melainkan karena ia adalah orang yang dikirim ketika sebuah pasukan ribuan orang harus dihentikan oleh satu nyawa.
Ingatan itu menghantamnya: "Tragedi Lembah Tengkorak."
Kala itu, tujuh sekte hitam bersatu untuk menggulingkan tatanan dunia persilatan, membantai desa demi desa. Seruni berdiri di satu-satunya jalan masuk lembah. Rambutnya yang saat itu masih hitam legam berubah menjadi seputih salju hanya dalam satu malam—bukan karena usia, tapi karena ia menggunakan teknik terlarang *Raga Sukma Hitam* untuk memanggil seluruh hawa kematian di medan perang ke dalam tubuhnya.
Selama tiga hari tiga malam, tak ada yang bisa melewati lembah itu. Konon, ia bertarung begitu cepat hingga pedangnya tidak pernah terlihat keluar dari sarungnya secara utuh; musuh-musuhnya tewas hanya dengan melihat kilatan baja sepanjang satu inci.
Namun, harga yang harus dibayar sangat mahal. Kekuatan itu memakan jiwanya. Setelah perang berakhir, ia muak melihat darah. Ia mematahkan status kepahlawanannya, membakar panji-panjinya, dan menghilang ke dalam kabut pegunungan. Dunia mengiranya sudah mati, membusuk bersama ribuan nyawa yang ia cabut demi kedamaian yang rapuh.
"Nyi..." sebuah suara gemetar memutus lamunannya.
Seorang kakek penjual gerabah tadi memberanikan diri mendekat. Ia bersujud, dahinya menyentuh tanah yang tadi hampir diinjak oleh sepatu pengawal. "Tiga puluh tahun saya menunggu... Saya anak kecil yang Nyi selamatkan di Lembah Tengkorak dulu. Saya tidak menyangka akan melihat dewi pelindung kami kembali."
Seruni menatap tangan sang kakek yang kasar dan bergetar. Ia merasa perih. Ia menghilang untuk melupakan perang, namun dunia sepertinya tidak pernah berhenti menciptakan peperangan baru dalam bentuk penindasan.
"Aku bukan dewi, Pak Tua," jawab Seruni lirih, suaranya seperti gesekan daun kering. "Aku hanya sisa-sisa dari masa lalu yang seharusnya tetap terkubur."
Ia merapatkan kain perca yang membungkus pedangnya, lalu melangkah pergi menuju gerbang pasar. Namun, ia tahu, persembunyiannya telah berakhir. Satu inci pedang yang ia perlihatkan tadi telah mengirimkan "pesan" kepada para pendekar di seluruh negeri: "Sang Bencana Berambut Putih telah kembali."
Berita tentang kembalinya sang legenda menyebar lebih cepat daripada api di padang rumput kering. Hanya dalam hitungan hari, seorang pria dari masa lalu Seruni telah mencium aroma kematian yang familiar itu.
Malam itu, Seruni berkemah di bawah pohon beringin tua di pinggiran hutan. Api unggun kecil di depannya menari-nari, memantulkan bayangan capingnya yang lebar. Tiba-tiba, api itu padam bukan karena tiupan angin, melainkan karena suhu yang mendadak turun hingga membekukan embun di dedaunan.
"Tiga puluh tahun adalah waktu yang lama untuk bersembunyi di balik kain perca, Seruni."
Sebuah suara berat dan parau muncul dari balik kegelapan. Dari balik barisan pohon, melangkah keluar seorang pria tinggi dengan jubah merah darah yang menyapu tanah. Di pinggangnya tergantung dua bilah pedang pendek dengan gagang berbentuk taring serigala.
Ia adalah "Pangeran Gagak Hitam", satu-satunya pendekar yang berhasil selamat dari tebasan Seruni di Lembah Tengkorak, meski harus kehilangan lengan kirinya—yang kini digantikan oleh lengan besi hitam yang mengerikan.
"Kau seharusnya tetap mati di lembah itu, Gagak," sahut Seruni tanpa menoleh. Tangannya masih tenang memegang kayu kecil untuk mengaduk sisa bara api.
"Aku bertahan hidup hanya untuk satu tujuan," Gagak Hitam melangkah maju, lengan besinya berderit tajam. "Aku ingin membuktikan bahwa teknik "Satu Inci" milikmu itu hanyalah trik murahan yang bisa dikalahkan oleh kebencian yang murni."
Gagak Hitam menarik kedua pedangnya. Aura merah membara menyelimuti tubuhnya, kontras dengan aura dingin kelam milik Seruni. Tanah di sekitar pria itu retak karena tekanan tenaga dalam yang meledak-ledak.
"Kau masih sama seperti dulu," Seruni berdiri perlahan. Ia tidak mengambil posisi kuda-kuda. Ia hanya berdiri tegak, membiarkan rambut putihnya terurai ditiup angin malam. "Masih memelihara nafsu yang akan memakan dirimu sendiri."
"Cukup bicaranya! Keluarkan pedangmu sepenuhnya, Seruni! Jangan hanya satu inci! Aku ingin melihat seluruh isi neraka yang kau janjikan!"
Gagak Hitam menerjang. Ia bergerak seperti kilat merah, kedua pedangnya menyilang untuk memenggal leher Seruni. Kecepatannya mampu membelah udara hingga menimbulkan suara ledakan kecil.
"Sring."
Dunia seakan berhenti berputar.
Seruni tidak menghindar. Ia hanya menggeser kakinya satu senti ke samping. Jempol kanannya mendorong pelindung pedang hitamnya. Kali ini, ia menariknya "dua inci".
Goncangan yang terjadi jauh lebih dahsyat daripada di pasar. Pohon beringin di belakang mereka seketika luruh daunnya. Gagak Hitam terhenti di udara, hanya beberapa senti dari wajah Seruni. Wajah pria itu membiru, matanya melotot seolah melihat sesuatu yang begitu mengerikan di balik celah pedang Seruni hingga akal sehatnya nyaris putus.
"Dua inci..." bisik Seruni di telinga Gagak Hitam, "adalah untuk mereka yang tidak tahu cara menghargai nyawa pemberianku."
Gagak Hitam terpental ke belakang, dadanya sesak bukan karena luka fisik, tapi karena jantungnya dipaksa berhenti berdetak selama beberapa detik oleh tekanan mental Seruni. Ia jatuh terduduk, gemetar hebat.
"Pergilah, Gagak. Jika aku menarik tiga inci, bahkan jiwamu tidak akan menemukan jalan menuju akhirat."
Seruni kembali duduk di depan baranya, seolah baru saja mengusir seekor lalat. Namun, ia tahu ini baru permulaan. Musuh-musuh lain, yang lebih kuat dan lebih haus darah, pasti sedang dalam perjalanan.
Ini adalah akhir yang epik—sebuah puncak dari legenda yang menolak untuk tunduk. Seruni memilih untuk memikul beban dunia sendirian, memastikan bahwa kegelapan tidak akan pernah melewati garis yang ia buat.
Babak Terakhir: Gerbang Kehampaan
Kabar kekalahan memalukan Pangeran Gagak Hitam menjadi genderang perang bagi "Aliansi Tujuh Sekte Hitam". Mereka tahu, selama "Bencana Berambut Putih" masih bernapas, tirani mereka tidak akan pernah kokoh. Malam itu, di lereng bukit curam yang menuju desa terakhir, ribuan obor tampak merayap seperti ular api.
Tujuh pemimpin sekte, masing-masing dengan kesaktian yang mampu meruntuhkan benteng, berdiri di barisan depan. Di hadapan mereka, hanya ada satu jalur sempit. Dan di tengah jalur itu, duduk seorang perempuan tua di atas sebuah batu datar.
"Seruni!" teriak pemimpin Sekte Kalajengking Merah. "Malam ini, rambut putihmu akan berubah menjadi merah oleh darahmu sendiri! Kau hanya satu orang, sementara kami adalah samudera!"
Seruni berdiri. Ia tidak mengenakan capingnya lagi. Rambut putihnya yang panjang berkibar tertiup angin kencang, berkilau di bawah cahaya bulan sabit. Ia melepas kain perca yang membungkus pedangnya, menjatuhkannya ke tanah.
"Samudera?" bisik Seruni, suaranya terdengar jelas melampaui suara ribuan prajurit. "Bahkan samudera akan kering jika menantang matahari."
Ia tidak lagi menarik pedangnya satu atau dua inci. Seruni menggenggam gagang pedang hitamnya dengan kedua tangan.
"Kalian meminta aku mengeluarkan seluruh isi neraka," suaranya mendalam, berubah menjadi gema yang menggetarkan bumi. "Maka, inilah persembahan terakhirku bagi dunia yang tak pernah belajar."
"Tiga Inci." Langit di atas bukit mendadak tertutup awan hitam pekat. Petir menyambar tanpa suara guntur. Ribuan prajurit di barisan depan langsung tumbang, bukan karena tebasan, tapi karena jantung mereka berhenti berdetak akibat tekanan udara yang berubah menjadi hampa.
"Enam Inci." Logam hitam pedang itu kini terlihat jelas. Cahayanya bukan memantulkan sinar bulan, melainkan menyerapnya. Kegelapan total menyelimuti lereng bukit. Para pemimpin sekte berteriak, namun suara mereka hilang ditelan kesunyian yang mencekik. Mereka melihat bayangan Seruni berubah menjadi sesosok dewi raksasa dengan seribu tangan yang memegang rantai kematian.
"Satu Hunyaman Penuh."
Untuk pertama kalinya dalam tiga puluh tahun, Seruni menarik pedangnya keluar sepenuhnya dari sarungnya.
"BUM!"
Bukan suara benturan logam, melainkan suara realitas yang pecah. Sebuah ledakan energi murni berwarna putih keperakan menyapu lereng bukit seperti tsunami. Cahaya itu begitu menyilaukan hingga ribuan obor lawan padam seketika.
Saat cahaya memudar, kesunyian yang absolut kembali merajai bukit itu.
Tidak ada lagi ribuan prajurit. Tidak ada lagi pemimpin sekte yang sombong. Yang tersisa hanyalah ribuan senjata yang patah dan baju zirah yang kosong, seolah-olah pemiliknya telah menguap menjadi debu.
Seruni berdiri di tengah kawah besar yang tercipta. Ia perlahan memasukkan kembali pedangnya ke dalam sarung. "Klik."
Rambutnya kini benar-benar putih bersih, memudar hingga hampir transparan. Tubuhnya terasa seringan bulu. Ia menoleh ke arah desa di bawah bukit, memastikan tidak ada satu pun warga yang terluka oleh badai tenaga dalamnya tadi.
Ia telah menghabiskan seluruh sisa energi hidupnya dalam satu serangan terakhir.
Dengan langkah yang goyah namun tenang, Seruni berjalan menuju puncak bukit yang paling tinggi, menjauh dari peradaban manusia. Ia duduk bersila menghadap matahari terbit yang mulai menyembul di ufuk timur.
Saat cahaya matahari pertama menyentuh kulitnya, sosok Nyi Ageng Seruni perlahan-lahan hancur menjadi butiran cahaya perak, terbang terbawa angin pagi. Ia tidak meninggalkan mayat, tidak meninggalkan pusara. Ia hanya meninggalkan sebuah legenda tentang seorang pendekar perempuan yang begitu menakutkan, hingga maut pun segan untuk menjemputnya secara paksa.
Dunia kembali damai, bukan karena kebaikan para penguasa, tapi karena mereka tahu—di suatu tempat di antara hembusan angin, sang Bencana Berambut Putih masih mengawasi mereka.
~TAMAT~