Hujan deras mengguyur kota seperti cambuk langit yang murka, menyapu jalanan basah yang mengilap di bawah cahaya neon yang berkedip-kedip.
Di tengah derasnya air yang tak kenal ampun, sebuah Rolls-Royce Phantom hitam meluncur pelan, klaksonnya menggema bagai perintah seorang raja. Pintu belakang terbuka, dan Dominic Lucien Draven melangkah keluar—sosok tinggi dan tegap dalam setelan Armani hitam yang seketika basah kuyup, mantel panjangnya mengepak ditiup angin pagi.
Dominic berjalan cepat. Sepatu kulitnya mencipratkan genangan air. Napasnya tetap tenang meski badai mengamuk. Di belakangnya, para anak buah berdiri siaga—jas gelap, wajah tanpa ekspresi, tangan tersembunyi di balik mantel. Mereka adalah bayangan, tembok hidup yang melindungi sang raja dari peluru dan pengkhianatan.
Namun pagi ini, Dominic Lucien Draven tidak membutuhkan perlindungan dari dunia luar.Yang ia hadapi adalah sesuatu yang jauh lebih mematikan.
Ia berhenti tepat di bawah guyuran hujan, menengadah sedikit, membiarkan air menelusuri rahangnya yang tegas. Lalu, dengan suara rendah yang tenggelam di antara gemuruh badai, Dominic mulai berbicara—bukan kepada siapa pun, dan kepada segalanya.
“Cinta,” bisiknya,
“adalah musim yang tak pernah diizinkan menetap di hidupku.” Suara itu lirih, namun berat, seakan tiap suku kata lahir dari reruntuhan dada. “Aku menjaganya dalam diam, seperti menyimpan bunga di medan perang—indah, namun selalu ditakdirkan hancur sebelum mekar.”
Anak buah di belakangnya membatu. Dunia seolah berhenti mendengar selain kata-katanya. “Ada dua jiwa yang saling mengenal terlalu dalam,” lanjutnya ,“hingga semesta pun cemburu. Maka takdir memisahkan mereka, bukan karena cinta kurang kuat—melainkan karena ia terlalu suci untuk dunia yang kotor.”
Ia mengepalkan tangan, hujan menetes dari jemarinya seperti detik yang mati. “Aku mencintainya dengan cara yang paling kejam:membiarkannya pergi, agar ia tak ikut terkubur bersama dosa-dosaku.”
Di saat Dominic masih tenggelam dalam puisinya—
hujan, takdir, cinta tragis, dan segala penderitaan eksistensial yang biasanya hanya dipahami oleh dirinya sendiri— tiba-tiba BRAKK ! Sebuah bayangan melesat dari samping dengan kecepatan roket kehabisan bensin dan langsung menabrak tubuh Dominic.“—agar aku bisa mencintainya tanpa harus kehilang—WOI!”
Kalimat itu masih menggantung, tapi dia sudah terjengkang.
SPLASH.
Setelan Armani hitamnya kini resmi berubah status menjadi limited edition basah kuyup. Wanita itu berhenti sepersekian detik. Rambutnya acak-acakan, napasnya ngos-ngosan, wajahnya panik seperti habis dikejar utang seumur hidup.
Dominic Lucien Draven—pria yang namanya bisa membuat dewan direksi gemetar dan musuhnya menggali liang kubur sendiri—terjungkal ke belakang dan jatuh terduduk tepat di genangan air yang paling dalam dan paling tidak beretika.
Hujan seolah tertawa. Setelan Armani hitam yang nilainya bisa membeli satu mobil kini menempel ke tubuhnya seperti kain lap bekas cuci piring. Mantel panjangnya mengambang sebentar sebelum menempel manja ke aspal. Waktu berhenti.
Anak buahnya membeku.Sopirnya membuka mulut, menutup lagi, lalu pura-pura menatap langit. Lampu neon berkedip seakan ikut bingung harus bereaksi bagaimana.Wanita yang menabraknya ikut berhenti, wajahnya pucat, napasnya terengah. Rambut basahnya menempel ke pipi, matanya membulat melihat pria yang kini… duduk basah di depannya.
“Maaf! Maaf, maaf, maaf!” katanya beruntun seperti membaca disclaimer iklan. Dominic mendongak perlahan. Air hujan menetes dari rambutnya, alisnya berkerut, pikirannya masih berusaha mencerna fakta pahit ini.“…Aku sedang berbicara dengan semesta,” katanya datar.
Wanita itu berkedip. Jelas tidak mengerti. Jelas tidak punya waktu. “Beneran maaf!” katanya lagi lalu kembali menoleh ke depan. Tanpa penjelasan, tanpa pamit, ia langsung berlari lagi.
“HEI—” Dominic refleks mengulurkan tangan.Terlambat. Yang tertinggal hanya suara langkah terburu-buru, hujan yang makin deras, dan Dominic yang masih… duduk. Hening....
Sangat hening. Salah satu anak buahnya akhirnya memberanikan diri. “…Bos?”
Dominic menatap genangan air di sekelilingnya. Menghela napas panjang. Lalu berkata pelan, sangat pelan, seolah takut kenyataan ini pecah jika suaranya terlalu keras.
“Aku baru saja ditabrak… oleh manusia.”
Anak buahnya mengangguk hati-hati. “Iya, Bos. Dengan niat dan kecepatan penuh.”
Dominic berdiri perlahan. Air mengalir dari jasnya seperti air terjun kecil. Ia menepuk-nepuk mantelnya, lalu berhenti, sadar itu percuma.
Ia menatap ke arah wanita itu menghilang.Entah kenapa, di kepalanya muncul satu nama.“Lunara,” gumamnya. Anak buahnya refleks mencatat di ponsel. “Bos, itu nama target?” Dominic mengerling tajam. “Tidak. Itu… firasat bodoh.”
Ia menoleh ke arah gedung Draven Enterprises, lalu kembali menatap arah pelarian wanita itu.Hujan semakin deras. Takdir semakin tidak sopan.“…Kejar,” katanya akhirnya.Anak buahnya kaget.
“Karena dia menabrak Bos?”
Dominic berjalan maju, wajahnya kembali dingin, meski sepatu mahalnya berbunyi ceklek-ceklek penuh air.“Karena,” katanya tanpa menoleh, “tidak setiap hari aku dijatuhkan secara harfiah oleh seseorang lalu dibiarkan begitu saja.”
Dominic akhirnya masuk ke dalam gedung Draven Enterprises dengan langkah panjang, dingin, dan jelas belum ikhlas.
Lantai marmer mengilap memantulkan bayangannya: CEO paling ditakuti di grup bisnis internasional… dengan ujung celana sedikit menempel dan sepatu yang berbunyi ceklek—ceklek setiap melangkah. Beberapa karyawan yang berpapasan pura-pura sibuk, berpura-pura tidak melihat bahwa atasan tertinggi mereka baru saja dikalahkan hujan dan seorang wanita misterius.
Di dalam lift privat, Dominic berdiri tegak. Anak buahnya menyerahkan handuk kecil.“Tuan, mungkin—”
“Tidak,” potong Dominic dingin. “Biarkan. Ini pengingat.”
“Pengingat apa, Bos?”.tanya anak buahnya dengan heran.“…bahwa hari ini dimulai dengan buruk.” ucap Dominic datar.
Lift terbuka di lantai tertinggi. Ruang rapat eksekutif sudah menunggu, panjang, luas, dinding kaca menghadap kota, meja hitam mengilap dengan kursi kulit mahal. Beberapa CEO grup afiliasi sudah duduk di sana: wajah-wajah berpengaruh yang terbiasa memerintah negara kecil, pasar gelap, dan neraca keuangan global.
Suasana langsung menegang saat Dominic masuk.Ia menarik kursi utama dan duduk tanpa basa-basi. Menyilangkan tangan. Tatapannya dingin seperti biasa—seolah jasnya tidak basah, seolah tidak ada insiden memalukan lima belas menit lalu.
“Baik,” katanya datar. “Kita mulai.”
Salah satu CEO berdehem. “Sebelum itu… apakah Anda baik-baik saja, Dominic? Anda tampak… basah."
Semua mata tertuju padanya. Dominic menoleh perlahan. Senyumnya tipis. Berbahaya. “Ini hujan,” katanya singkat. “Fenomena alam. Tidak relevan dengan rapat.” Tidak ada yang berani bertanya lagi.
Presentasi dimulai. Grafik keuntungan naik. Jalur distribusi gelap diperluas. Aliansi baru dibahas. Dominic berbicara tegas, memotong, mengoreksi, dan menekan lawan bicaranya seperti biasa—sempurna, kejam, terkendali.
Namun…di sela-sela rapat,
BRAAK!!
Pintu ruang rapat terbuka dengan suara dramatis yang sama sekali tidak sebanding dengan situasi bisnis kelas dunia di dalamnya. Semua kepala refleks menoleh bersamaan. Di ambang pintu berdiri seorang wanita basah kuyup, rambut berantakan, dada naik turun seperti habis dikejar rentenir lintas dimensi. Tangannya bertumpu di kusen pintu, wajahnya pucat, napasnya putus-putus.
“Permisi… maaf… saya—”
ia berhenti sebentar untuk mengambil oksigen hidupnya sendiri, “—kayaknya salah masuk gedung.”