Disebuah rumah kayu kecil yang hampir runtuh, seorang laki-laki menatap langit-langit rumahnya. Ia merenung, tak lama, ia menatap ke arah seorang anak perempuan berusia sekitar lima tahun yang tengah tertidur.
Luna axanthèria adalah nama anak itu, luna merupakan anak dari orion axanthèria. Luna terbangun dari tidurnya.
Beberapa saat setelah itu.
KRRK
KRRK
Suara perut luna berbunyi keras, ia menatap ayahnya dengan mata yang lemas. “Ayah, luna lapar” gumamnya pelan.
Orion mendekatinya, ia tersenyum lembut pada luna. “Luna, kamu tahu? Menurut legenda, jika seseorang lapar, kemudian dia menari, rasa lapar itu akan hilang, tahu”
Luna tersenyum kecil, matanya berbinar binar, kemudian ia berdiri dan menatap ayahnya dengan penuh harap.
“Coba luna ikuti gerakan ayah, oke?” Titahnya dengan lembut.
Luna mengangguk, kemudian orion mulai menari pelan dan diikuti oleh luna.
Orion tersenyum kecil pada luna sembari terus menari. Di dalam hati orion, ia bergumam pelan:
Wajar Luna lapar, dia belum makan selama tujuh hari ini. Negara ini sudah hancur, para bangsawan keparat itu hanya memberikan kami rakyat jelata makanan selama dua minggu sekali. Dalam situasi ini, kami tidak memiliki jalan untuk keluar.
Luna tertawa kecil sembari menari pelan bersama orion. “Ayah, meskipun tariannya aneh, tapi rasa lapar luna sedikit berkurang.”
Kerajaan cahaya, satu satunya negara yang masih menganut sistem feodal di dunia ini, dan satu satunya negara yang sangat tertutup dari dunia luar. Disaat negara negara lain sudah meninggalkan sistem feodal dan terbuka dari negara lain. Hanya kerajaan cahaya yang berbeda.
Kerajaan cahaya membagi wilayahnya menjadi dua distrik, yaitu distrik para bangsawan yang disebut “heaven” dan distrik rakyat jelata disebut “hell”.
Disisi lain di distrik heaven — di sebuah rumah bangsawan yang mewah.
Para bangsawan tengah berpesta, mereka menari bersama sembari membuang buang makanan mereka dengan riang gembira.
Di Luar rumah itu, kerajaan cahaya tepatnya di distrik heaven, gedung gedung pencakar langit dimana dimana, mobil mobil terbang saling lewat di langit langit.
Para robot manusia tengah berpatroli seperti biasanya.
Kembali ke distrik hell.
Distrik hell, dimana tempat barang barang rongsokan di buang oleh para bangsawan. Sekaligus tempat rakyat jelaya hidup sengsara.
Di sebuah tempat, orion duduk bersama banyak orang. Orion saat ini tengah berdiskusi untuk merencanakan kudeta pada para bangsawan.
“Ingat, para bangsawan disana menyebut diri mereka sebagai ‘laniakea’ jika kalian tidak menyebut mereka dengan sebutan itu. Kalian akan dibunuh” ucap orion dengan tegas.
Para rakyat jelata lainnya tertawa saat orion berkata demikian. “Hahaha! Lucu kau ini, kita akan saling bunuh tahu! Kau berkata seperti itu?” Ucap mereka sembari tertawa.
Mereka semua mengangguk pelan. Kemudian, orion menjelaskan rencananya kepada mereka.
“Dengan kata lain, saat barang rongsokan itu dibuang, pintu dinding yang memisahkan dua distrik akan terbuka. Lalu, itu membuka kesempatan bagi kita untuk masuk” ucap orion kembali.
Setelah itu, orang orang bubar. Rencananya akan dilaksanakan lusa nanti. Hari ini, adalah hari dimana makanan diberikan kepada rakyat jelata.
Orion membawa beberapa hamburger yang sedikit aneh warnanya. Ia pulang ke rumahnya untuk memberikan makanan pada luna.
Orion memberikan makanan itu pada luna, saat luna menerimanya, dia sangat senang matanya berbinar-binar akan hal itu.
“Meskipun rasanya aneh. Tapi, perut luna terisi!” Ucap luna dengan bahagia.
Orion hanya tersenyum kecil pada anaknya. Lusa kemudian, hari ini. Tepatnya dimalam hari, adalah hari dimana orion bersama rakyat jelata akan melakukan kudeta.
“Seraphinë… tunggu aku, akan kuselamatkan dirimu juga” gumam orion pelan.
Para robot yang bertugas untuk membuang barang rongsokan membuka pintu besar yang menghalangi dua distrik itu.
Dengan hati hati, para rakyat jelata bersama orion berhasil menyusup ke distrik heaven. Namun, di hadapan mereka para robot petarung berjajar siap tempur bersama salah satu dari “laniakea”.
Pintu besar tertutup seiring berjalannya waktu, para rakyat jelata tak bisa kabur kembali. Namun, para rakyat jelata tak gentar sama sekali.
Tiga hari sebelumnya — distrik heaven.
Kemudian, di sebuah taman sepi… tiba tiba seorang pria muncul, dia adalah salah satu laniakea yang berjajar bersama robot tempur tiga hari kemudian. Dia adalah…
“Rivia de luminaria” salah satu dari laniakea dan dari keluarga ‘luminaria’.
Dia memakai jas mewah, dengan helm putih di kepalanya. Kemudian, salah satu robot pesuruh mendekatinya.
“Tiga hari kemudian, akan terjadi kudeta kecil kecilan dari orang orang sampah dari distrik hell” ucapnya pelan.
Dia membuka helm putihnya dengan pelan. Kemudian, rambut pirang terlihat basah akibat keringat.
“Panggilkan seraphinë kesini. Katakanlah pada laniakea lainnya, masalah ini akan ku selesaikan sendiri” titahnya dengan tegas.
Robot itu pergi dengan cepat. Rivia hanya mengendus kesal, kemudian dia bergumam dalam hatinya:
Apanya yang kudeta? Kalian hanyalah sisa sisa sampah, seharusnya kalian bersyukur tidak kami musnahkan. Kalian pikir kalian akan menang jika melawan kami? Jangan bodoh, kamilah yang membawa dunia ini maju ke seribu tahun kedepan dengan teknologi dan sains kami, negara negara lain bergantung pada teknologi kami, meskipun negara kami tertutup.
Selang beberapa saat, seraphinë datang dan mendekati rivia dengan anggun, ia memakai baju pelayan yang sedikit besar.
“Anda memanggil saya, tuan laniakea rivia?” Tanya seraphinë dengan lembut.
Rivia mengangguk pelan, kemudian dia menatap seraphinë dengan tatapan tegas.
“Tiga hari kemudian, suamimu dan sampah lainnya akan melakukan kudeta” tegasnya.
“Oh… ada anak kecil berambut abu juga sepertimu bersembunyi di antara sampah sampah itu” tegasnya kembali.
Seraphinë tertegun saat mendengarnya. “Eh? Orion… lalu Luna? Kenapa?,” teriaknya “kenapa mereka melakukan itu!?” Tanyanya dengan panik
Seraphinë mendekati rivia dengan panik. “Kumohon, jangan melakukan apapun pada keluargaku!” Ucapnya sembari menangis.
Rivia tak menjawabnya, ia pergi meninggalkan seraphinë tanpa berkata-kata apapun.
Kembali saat ini — distrik heaven.
Para robot tempur yang dipimpin oleh rivia siap menyerang para rakyat jelata dengan senjatanya. Orion terkejut, kemudian dia bertanya tegas.
“Kenapa, seolah-olah kau tahu bahwa akan terjadi seperti ini, laniakea!”
“Karena aku menggunakan helm yang disebut ‘bhavishya’ untuk melihat apa yang akan terjadi dimasa depan” jawab santai rivia.
Kemudian, rivia tertawa keras dan para rakyat jelata serta orion juga terkejut, kemudian rivia kembali bicara.
“Kalian hanyalah sampah yang menang jumlah, meskipun jumlah kalian mungkin lebih seribu. Tapi, pasukan robot ini akan membunuh kalian, meskipun hanya seratus unit” tegasnya.
“Hari ini 15 januari tahun 5481 kalender kerajaan cahaya. Ini adalah akhir dari kalian!” Teriak rivia.
Kemudian perang tak terelakkan. Para rakyat jelata yang menggunakan senjata yang dibuat dari barang bekas melawan seratus unit robot canggih dengan senjatanya.
Satu demi satu para rakyat jelata yang berjumlah sekitar seribu lebih terbunuh dengan mudah oleh para robot.
Pertarungan yang terjadi disekitar dinding penghalang dua distrik itu berlangsung tidak seimbang, rivia hanya mengamati dibelakang sambil tersenyum.
Disisi lain, luna, dia berada jauh dibelakang sangat dekat dengan pintu keluar–masuk distrik sembari ketakutan melihat apa yang terjadi.
Lalu, seseorang menarik tangan luna dan memeluknya dengan erat. Luna terkejut, namun kemudian dia menatap orang itu, dan itu adalah…
“Ibu!” Teriak luna.
Luna menangis dan memeluk ibunya. “Ibu.. luna lelah ibu” gumamnya pelan.
Seraphinë axanthèria adalah ibu kandung luna sekaligus istri dari orion. Seraphinë diculik dan dipaksa bekerja oleh rivia dua tahun silam.
“Apa yang luna lakukan disini… disini berbahaya, ikuti ibu” ucapnya dengan cemas.
Luna mengangguk, air matanya keluar. Kemudian dia pergi membawa luna ketempat yang lebih aman.
Beberapa jam kemudian, perang itu selesai, para rakyat jelata meninggal, darah berceceran dimana-mana, dan orion terkapar di tanah dengan luka di tubuhnya.
Rivia mendekatinya bersama para robot dan menatap orion dengan jijik. Orion hanya mengendus kesal dengan nafas terengah-engah.
“Kenapa kau begitu naif?” Tanya rivia.
“Demi apa kau melakukan ini? Kebebasan? Kekuasaan? Kekuatan?” Tanyanya kembali.
Orion mencoba berdiri, namun tak berhasil, lalu dia menatap rivia dengan muka penuh darah dan luka.
“Kebebasan!” Teriak orion.
Rivia tertawa kecil. “Kebebasan bisa kau dapatkan setelah kau mati, sampah” jawabnya.
Rivia berjongkok dan lebih dekat ke arah telinga orion.
“Orion, kau tahu makanan yang selalu kami para laniakea berikan itu apa?” Tanyanya dengan santai.
“Itu adalah… makanan yang dibuat dari daging, organ, dan kulit manusia yang dimasak semirip mungkin dengan makanan sungguhan” jawabnya sambil tertawa.
Orion terkejut saat mendengarnya, ia tak bisa berkata apapun selama beberapa saat. “Jangan jangan itu adalah… orang orang dari distrik hell yang para bangsawan culik untuk diperbudak… kalian!!” Teriak orion dengan marah.
Rivia hanya tersenyum saat. Kemudian dia tertawa kembali. Lalu orion kembali berbicara.
“Kenapa kalian begitu jahat pada kami rakyat jelata?! Apa salah kami?” Tanya orion dengan marah.
“Tidak ada, kalian tidak melakukan kesalahan. Kejahatan kami para laniakea hanyalah kebencian yang turun temurun, tidak ada alasan lainnya” jawabnya dengan santai.
“Aku melakukan ini hanya karena aku adalah laniakea, bukan karena aku benar benar benci pada kalian. Ini pertama kalinya aku melakukan seperti ini pada rakyat jelata. Saat ini, aku ingin melakukan ini, jadi kulakukan” ucap rivia.
Rivia berdiri dan mengarahkan pistolnya kepada tepat di kepala orion. Kemudian, saat rivia hendak menembaknya, seraphinë berteriak dari belakang rivia.
“TUNGGU!”
Seraphinë dan luna berlari mendekati orion. Lalu, mereka terkejut melihat apa yang terjadi. Orion terkejut saat melihat seraphinë dan luna.
“Seraphinë? Syukurlah kau baik baik saja” ucapnya pelan.
“Ayah, kau kenapa?” Tanya luna dengan pelan.
Orion terkejut saat melihat ada luna disini. Kemudian dia bertanya padanya kenapa luna ada disini, luna hanya tersenyum kecil dan menjawab bawah dia mengikuti para rakyat jelata lainnya secara diam diam.
Seraphinë menangis, dia menatap rivia.
“Kalian para laniakea memaksa kami rakyat jelata untuk memiliki keluarga disaat kami makan saja kesusahan” ucapnya pelan
“Kalian tidak memperbolehkan kami bekerja dan mendapatkan uang, membiarkan kami kelaparan dan mati. Siklus itu terus berulang-ulang selama puluhan dekade. Apa yang sebenarnya kalian inginkan!” Teriak seraphinë.
Rivia menatap seraphinë dengan serius. Kemudian, dia berbalik dan menatap langit-langit.
“Jika kau ingin benar-benar tahu jawabannya adalah… bukan hanya kebencian yang diwariskan. Tapi, kami memiliki teknologi canggih dimana penderitaan manusia yang bersifat perasaan negatif, bisa dijadikan sumber kehidupan bagi kami para laniakea, selama penderitaannya berada di wilayah kerajaan cahaya tentunya” jawab rivia santai.
Seraphinë terkejut saat mendengarnya begitupun orion dan luna. Mereka hanya bisa terdiam saat mendengarnya.
Seraphinë mencoba untuk memukul rivia. Namun dia dihentikan oleh para robot di sekitarnya. Luna dan orion terkejut
Rivia menodongkan pistolnya ke arah seraphinë dengan santai.
“Baiklah, seraphinë, kau bebas sekarang, pergilah dan menderita bersama keluargamu yang tak berguna itu” ucap rivia.
Orion menggigit bibirnya dengan keras, kemudian dia menatap rivia.
“Tunggu!” Ucap orion.
“Bisakah… kau tetap membawa seraphinë… kemudian luna juga?” Tanya pelan orion.
Seraphinë dan luna terkejut dan memberontak. Namun para robot menghentikannya, mereka berdua menolaknya mentah-mentah.
“Orion, apa yang kau bicarakan? Bagaimana tentang janji kita?!” Teriak seraphinë.
“lupakan janji naif itu, seraphinë. Kita tidak memiliki jalan keluar, kau mengerti, kan?” Jawab orion.
Luna berteriak memanggil orion, seraphinë juga berteriak dan membantah apa yang orion katakankan.
“Baiklah, aku akan membawa seraphinë bersamaku. Tapi ada harganya” jawab rivia.
“Nyawamu adalah harganya” jawabnya kembali
Orion mengangguk pelan dan setuju. Namun seraphinë dan luna marah kepada orion. Kemudian, rivia menyuruh para robot untuk membawa seraphinë pergi ke rumah.
Para robot itu mengangguk dan segera membawa paksa seraphinë yang terus memberontak, luna hanya bisa diam dan menangis.
Beberapa saat kemudian. Rivia menatap luna dengan teliti.
“Aku tidak ingin membawanya” ucap rivia.
Orion terkejut dan menatap rivia dengan marah. Namun rivia sendiri tidak begitu peduli pada luna dan reaksi orion. Beberapa kali, orion memohon, namun jawaban tetap sama. Tidak.
“Baiklah jika begitu, bisakah kau juga mengakhiri penderitaan anakku juga?” Tanya orion.
DOR!!
Beberapa tembakan pistol rivia mengarah pada luna. Kemudian, luna tergeletak dan darah berceceran di sekitarnya. Luna meninggal dunia.
Orion yang tergeletak hanya diam dan menangis pelan. Kemudian, saat rivia hendak menembak orion berkata…
“Tunggu” katanya pelan.
Dia mengeluarkan sebuah surat kecil di sakunya. Dengan tergesa-gesa orion mengeluarkannya dan memberinya pada rivia.
“Surat untuk seraphinë. Bisakah disampaikan kepadanya?” Tanya orion.
Rivia mengambil dan mengangguk pelan. “Rakyat jelata mana yang bisa menulis?” Gumamnya pelan.
“Aku sudah memikirkan kemungkinan ini. Bisakah… kau memanipulasi seraphinë dimana dia tidak mengenali masa lalunya, terutama aku dan luna?” Tanya orion.
“Dasar penganut altruistis. Menjijikan” gumam rivia pelan.
DOR!!
Beberapa tembakan mengenai orion. “Memang itu yang mau kulakukan” katanya.
Kemudian rivia pergi diikuti para robot. Disisi lain orion yang sekarat mendekati luna yang sudah meninggal dan memeluknya.
Mata orion mulai kabur dan ingatan mulai hilang. Namun, dia mengingat lagi hal hal indah di hidupnya.
“Seraphinë… waktu itu kejam, ya? Dia mengambil semua yang kita miliki, pada akhirnya” gumam tak berdaya.
LIMA TAHUN YANG LALU — SAAT LUNA BARU LAHIR
Seraphinë pada saat itu baru saja melahirkan luna. Setelah beberapa saat kemudian, orion menggendongnya pelan.
“Namanya luna. Luna axanthèria” ucap orion pelan.
“Luna adalah nama lain dari bulan. Seraphinë, hidup kita bagaikan malam yang tak pernah berakhir, gelap dan dingin. Dengan adanya bulan, malam itu menjadi terang dan sedikit hangat” tegas orion
Seraphinë tersenyum bahagia. “Luna, ya? Nama yang bagus!” Ucapnya lembut.
Mereka tertawa dan tersenyum kecil dan hangat.
SAAT ORION DAN SERAPHINË BERUMUR 8 TAHUN.
Pada saat itu, sudah satu tahun dimana mereka berdua bertemu. Dulu, orion adalah orang yang agresif dan pemarah, semenjak bertemu dengan seraphinë, sikapnya mulai berubah.
Di bukit barang barang rongsokan tepatnya dimalam hari, mereka berdua duduk dan menatap langit malam.
“Lihatlah seraphinë! Itu rasi orion! Puncaknya yaitu bulan januari! Apalagi sekarang tanggal 15 Januari!” Teriak orion.
Seraphinë tersenyum kecil sembari menatap rasi orion. Kemudian, orion kembali bicara.
“Kau tahu? Bintang yang kita lihat saat ini adalah keadaan bintang di masa lalu!” Teriaknya.
Seraphinë terkejut saat mendengarnya. Kemudian orion kembali bicara.
“Jadi! Ayo kita buat janji pada sang bintang!”
Seraphinë mengangguk pelan, kemudian jari kelingking mereka saling melingkari dan menatap bintang bintang.
“Untuk diri kami di masa depan, kami akan terus bersama sampai tua dan maut yang memisahkan” ucap kami berdua.
Kemudian kami tersenyum dan tertawa kecil. Beberapa saat kemudian, seraphinë bertanya pada orion kenapa dia bisa tahu semua itu.
“Aku menemukan buku buku di rongsokan, lalu aku belajar membaca dan menulis. Kau, mau aku ajarkan?” Ucap orion pelan
Seraphinë tersenyum bahagia kemudian mengangguk pelan, hari hari mereka sering kali beraksi dengan tawa dan senyuman.
KEMBALI KE SAAT INI— DISTRIK HEAVEN.
Beberapa saat kemudian, akhirnya orion meninggal dunia dengan memeluk luna diperlukan. Para robot mulai membersihkan area sekitar dan hendak membuang mayat mereka.
Beberapa bulan setelah kejadian itu.
Di rumah besar milik laniakea keluarga ‘luminaria', dikamar besar seraphinë duduk dengan anggun. Tak lama, dia melihat kertas kecil di mejanya.
Seraphinë mengambil dan mulai membacanya. Surat itu berisi:
“Untukmu seraphinë, apakah kau baik baik saja? Aku harap begitu. Tolong baca surat dari orang yang gagal ini.
Mungkin, saat kau membaca surat ini aku sudah tidak ada dan kau juga sudah tidak mengingat siapa diriku.
Jujur, kebahagiaanmu diatas segalanya, bahagialah bersamanya, meski bukan bersamaku. Tidak masalah, kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku juga.
Seraphinë, aku mencintaimu sedalam bengkokan ruang waktu di sekitar lubang hitam. Dirimu yang seindah rasi orion di bulan januari itu, tidak akan pernah kulupakan. Serta matamu yang seindah nebula helix itu akan selalu ku ingat.
Seraphinë, maafkan aku karena tidak bisa menjaga cahaya bulan kita. Cahaya bulan itu membakar dirinya sendiri, jadi aku meredupkan cahaya itu.
Seraphinë, di kehidupan selanjutnya, ayo kita bersama kembali untuk menepati janji kita pada sang bintang.
Sampai jumpa di kehidupan selanjutnya. Seraphinë.”
— Orion
Setelah surat itu dibacakan oleh seraphinë, dia tiba tiba menangis. Kemudian, dia mengusapnya dan menatap surat itu.
“Orion itu… siapa? Kenapa dia tahu namaku? Apa maksudnya?” Gumamnya pelan.
Rivia bersandar di dinding luar kamar seraphinë sejak tadi, dia hanya diam dan tersenyum kecil. Pada akhirnya seraphinë tidak akan pernah tahu apa yang terjadi, dia sudah benar-benar melakukan segala sesuatu tentang dirinya, orion, luna dan janji pada sang bintang.