Pagi itu tidak istimewa. Langit mendung seperti hari-hari sebelumnya, dan jalanan di depan rumah masih basah oleh hujan malam. Namun Dira tetap bangun lebih awal, seperti kebiasaan yang sudah ia jalani bertahun-tahun. Ia menyeduh teh hangat, membiarkan uapnya naik perlahan, lalu duduk di kursi kayu dekat jendela.
Jam dinding menunjukkan pukul enam lewat sepuluh.
Ia menunggu sesuatu, meski tidak tahu persis apa.
Dira tinggal sendiri di rumah kecil peninggalan ibunya, rumah dengan cat putih yang mulai kusam dan pagar besi yang berderit setiap kali dibuka. Rumah itu tidak besar, tapi penuh kenangan. Setiap sudutnya menyimpan suara, tawa, dan juga keheningan yang lama ia pelajari cara menerimanya.
Ketukan di pagar terdengar.
Pelan, ragu, seperti orang yang takut salah alamat.
Dira menoleh. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat.
Ia berdiri, membuka pintu, dan mendapati seorang laki-laki berdiri di luar pagar. Rambutnya sedikit lebih panjang dari terakhir kali Dira ingat, wajahnya lebih kurus, dan matanya… masih sama.
"Pagi," kata laki-laki itu.
Dira terdiam beberapa detik sebelum menjawab. "Pagi."
Nama itu muncul di kepalanya tanpa ia undang.
Raka.
Sudah enam tahun sejak terakhir kali mereka berdiri saling berhadapan seperti ini.
"Aku... boleh masuk?" tanya Raka, suaranya tidak setegas dulu.
Dira ragu sejenak, lalu membuka pagar. "Masuklah."
Mereka duduk di ruang tamu yang sederhana. Raka menatap sekeliling, seolah mencoba mengenali ulang tempat yang pernah ia kenal dengan sangat baik.
"Rumahnya tidak banyak berubah," katanya.
Dira tersenyum kecil. "Aku juga tidak."
Raka tertawa pelan, tapi tawanya cepat menghilang. Ada jarak yang tak kasatmata di antara mereka, jarak yang dibangun oleh waktu dan hal-hal yang tidak pernah diselesaikan.
"Kamu kelihatan baik," kata Raka.
"Kamu juga," jawab Dira, meski ia tahu itu tidak sepenuhnya benar.
Hening kembali menyelimuti ruangan.
Dira menuangkan teh untuk Raka, kebiasaan lama yang muncul begitu saja. Raka menerima cangkir itu dengan kedua tangan, seperti dulu.
"Kamu masih ingat aku tidak suka teh terlalu manis," kata Raka.
Dira mengangguk. "Aku ingat."
Dan itu bukan satu-satunya hal yang ia ingat.
Mereka pernah saling mencintai dengan cara yang sederhana. Tidak ada janji besar, tidak ada rencana jauh ke depan. Hanya dua orang yang merasa cukup dengan kehadiran satu sama lain. Sampai suatu hari, Raka memilih pergi.
" Aku dapat kabar dari Pak Darto," kata Raka akhirnya. "Katanya... ibumu sudah lama meninggal."
"Iya," jawab Dira. "Tiga tahun lalu."
Raka menunduk. "Maaf aku tidak datang."
"Kamu tidak tahu," kata Dira pelan.
"Tapi seandainya aku tahu pun, aku tidak yakin aku akan berani," ucap Raka jujur.
Dira menatapnya. Ada banyak hal yang ingin ia tanyakan, tapi semuanya terasa terlalu berat untuk diucapkan sekaligus.
"Kamu ke sini untuk apa?" tanya Dira.
Raka menghela napas. "Aku pulang."
"Kamu tinggal di sini lagi?"
"Iya. Pekerjaanku selesai. Tidak ada lagi alasan untuk terus pergi."
Dira tersenyum tipis. "Alasan atau pelarian?"
Raka terdiam. "Mungkin dua-duanya."
Mereka tidak membahas masa lalu hari itu. Tidak tentang pertengkaran terakhir mereka, tidak tentang kata-kata yang menyakiti, tidak tentang kepergian Raka tanpa penjelasan panjang. Mereka berbicara tentang hal-hal kecil, tentang cuaca, tentang tetangga lama yang sudah pindah, tentang warung kopi di ujung jalan yang kini tutup.
Namun di balik semua itu, ada sesuatu yang perlahan kembali hidup.
Hari-hari berikutnya, Raka sering datang. Kadang hanya untuk mengantar roti, kadang sekadar duduk di teras tanpa banyak bicara. Dira membiarkannya. Ia tidak ingin terburu-buru, tidak ingin mengulang kesalahan yang sama.
Suatu sore, hujan turun deras. Raka terjebak di rumah Dira, dan mereka duduk di ruang tengah dengan lampu redup.
"Kamu masih suka membaca?" tanya Raka.
"Masih," jawab Dira. "Walau sekarang lebih sering membaca ulang buku yang sama."
"Kenapa?"
"Karena aku sudah tahu akhirnya," kata Dira. "Dan itu membuatku tenang."
Raka tersenyum pahit. "Aku dulu selalu lari dari akhir cerita."
"Kamu lari dari banyak hal," kata Dira tanpa nada menyalahkan.
"Iya," Raka mengangguk. "Dan aku lelah."
Hujan di luar semakin keras. Dira memeluk lututnya, menatap jendela yang dipenuhi titik air.
"Aku tidak marah lagi," kata Dira tiba-tiba.
Raka menoleh cepat. "Tapi kamu juga tidak memaafkanku sepenuhnya."
Dira menghela napas. "Memaafkan itu proses. Sama seperti mencintai."
Raka terdiam lama. "Aku tidak datang untuk memintamu kembali."
"Lalu?"
"Aku datang karena aku ingin jujur. Dulu aku pergi karena takut. Takut tidak cukup baik, takut gagal, takut menjadi beban. Aku pikir dengan pergi, aku akan menemukan diriku sendiri."
"Dan apakah kamu menemukannya?" tanya Dira.
Raka tersenyum lelah. "Aku menemukan bahwa aku selalu membawa bayanganmu ke mana pun aku pergi."
Dira merasakan sesuatu menghangat di dadanya. Bukan rasa sakit, bukan juga euforia. Lebih seperti rasa pulang.
"Aku tidak tahu apakah aku bisa mencintaimu seperti dulu," kata Dira jujur.
"Aku juga tidak berharap itu," jawab Raka. "Aku hanya ingin kesempatan untuk berada di sini. Tanpa janji besar."
Malam itu, mereka tidak saling menyentuh. Tidak ada pelukan, tidak ada genggaman tangan. Tapi ada keheningan yang nyaman, sesuatu yang tidak pernah mereka miliki sebelumnya.
Hari berganti minggu.
Raka membantu memperbaiki pagar yang rusak, mengecat ulang tembok dapur, dan menemani Dira ke pasar setiap Minggu pagi. Mereka tertawa lebih sering, berbagi cerita kecil, dan belajar mengenal versi baru satu sama lain.
Suatu pagi, Dira menemukan Raka tertidur di sofa dengan buku di dadanya. Ia menatapnya lama, menyadari bahwa cinta tidak selalu datang dengan ledakan perasaan. Kadang ia datang seperti hujan kecil, perlahan, tapi mengisi tanah yang kering.
Raka terbangun dan mendapati Dira berdiri di depannya.
"Kamu menatapku seperti itu membuatku gugup," katanya.
Dira tersenyum. "Aku hanya berpikir."
"Pikirkan apa?"
"Bahwa mungkin kita tidak harus mengulang cerita lama," jawab Dira. "Kita bisa menulis yang baru."
Raka berdiri, kali ini lebih berani. "Aku ingin tinggal. Bukan hanya di rumah ini, tapi... di hidupmu. Kalau kamu mengizinkan."
Dira tidak langsung menjawab. Ia mendekat, lalu memeluk Raka dengan pelan. Pelukan yang hangat, dewasa, tanpa ketergesa-gesaan.
"Aku tidak menjanjikan akhir yang sempurna," kata Dira.
"Aku tidak membutuhkannya," jawab Raka. "Aku hanya ingin tempat pulang yang sama."
Di luar, matahari pagi akhirnya muncul, menembus awan mendung yang lama bertahan.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Dira merasa bahwa menunggu tidak selalu sia-sia.
Karena beberapa cinta memang harus pergi jauh, hanya untuk belajar cara pulang dengan benar.