Suara teguran terdengar di meja makan, "Sani kalau makan itu di habiskan!" Perintah telak membuat gadis bernama Sani cemberut terpaksa memakan sisa buliran nasi.
"Rasanya perut aku hampir meledak." Lirih Sani sambil mengelus perut ratanya.
Meja makan yang berisi tiga orang itu cukup ramai mempermasalahkan nasib nasi di sisi piring yang seperti memohon untuk dimakan.
Keesokan harinya lagi-lagi hal ini terjadi lagi, teguran dari sang Ibu juga keluhan Sani yang kekenyangan.
"Makannya kamu itu kalau ngambil nasi jangan kebanyakan! Kalau kekenyangan sayang nanti mubazir."
"Iya deh iya nanti aku ngambil nasinya sesendok."
Mendengar jawaban Sani, kakaknya hanya bisa menepuk jidat, Sani itu anak bungsu dan dia cenderung manja dan sering merajuk.
Rumah kecil yang berisi dua kamar ini hanya diisi tiga orang, dan tiga tiganya perempuan semuanya. Sani si anak bungsu yang manja dan cengeng, Dini kakak Sani yang punggungnya sekuat baja, juga Rini ibu dari Dini dan Sani setiap hari mulutnya tidak berhenti menasihati Sani agar tidak membuang-buang nasi.
Entah hari keberapa kejadian serupa akan terjadi tetapi Sani cepat memotong omelan ibunya, "kenapa sih) Bu marah marah terus, cuman sedikit kok yang kebuang. "
"Nanti nasi nya nangis! "
Sani tertawa mendengar ucapan ibunya, "ibu ada ada saja, masa nasi bisa nangis."
Ibunya tidak menjelaskan ia sudah menyerah untuk mengomeli Sani perihal nasi, sementara Dini hanya geleng-geleng kepala.
Hari ini Sani berangkat sekolah diantar Dini, hujan yang terus turun sedari tadi membuat mereka berdua memakai jas hujan"de uang jajan kamu masih ada?" Sani menggeleng setelah melihat sarang Laba-laba di sakunya.
"Nanti pulang kerja kakak jemput! Kamu jangan keluyuran. "
Belum sempat bel istirahat berbunyi Sani dikejutkan oleh telepon dari kakaknya.
Kebetulan Sani sedang jam kosong, entah kenapa para guru kalang kabut seperti ada sesuatu hal penting.
Dengan suara gemetar kakaknya menyuruh Sani untuk menghampirinya di gerbang sekolah. Perasaan Sani saat ini seperti es campur membuat kakinya yang beralas sepatu itu berlari menuju gerbang.
Selama perjalanan hanya suara jangkrik yang terdengar dengan degup jantung yang bertalu-talu.
"Lari- lari... " Suara jeritan itu memfokuskan pandangan mereka pada satu arah, air yang selama ini menjadi sahabat mulai mengamuk menggulung apapun yang ia lewati.
Setetes dua tetes "Ibu... " Lirih Sani. Dini tidak sempat melirik Sani ia langsung bertindak memutar arah laju motornya, hingga menyisakan suara air yang menabrak tembok tembok rumah.
Kejadiannya sangat tiba tiba, curah hujan yang tinggi serta luapan air yang tidak dapat di prediksi, kejadian itu sudah dua hari yang lalu. Dini memeluk Sani yang tampak tidak ceria, "ada kabar ka?" Gelengan kepala Dini membuat Sani tambah murung.
"Mbak Dini sini! Kita makan dulu, ajak juga adiknya. "
Langkah mereka berdua rapuh malah hampir roboh seperti rumah rumah desa yang hanya sisa puing puing tanpa kehidupan.
"Sepertinya kita harus ke kota, untuk ngambil bantuan beras! " Suara yang memecah keheningan.
Sudah dua hari Dini dan Sani masih memakai pakaian yang sama saat air meluluhlantakkan tempat tinggal mereka. "Sani kamu mau ikut kaka ke kota? Siapa tahu ada kabar tentang ibu dari tim SAR. "
Sani tidak menyangka ia menatap nanar lingkungan sekitar yang dulu indah kini hanya terlihat lumpur serta kayu besar yang entah dari mana asalnya.
Tidak ada tawa tidak ada permainan petak umpat, Anak-anak mencoba membersihkan diri di tengah sungai yang penuh gelondongan kayu yang bahkan tingginya melampaui mereka.
Mata Sani kini melihat jembatan yang dulu menjulang kokoh kini menyisakan kekosongan dengan kepingan beton yang berserakan di bawah jembatan.
Mereka berjalan kaki hingga berjam-jam melewati perjalanan terjal dengan jalan rusak dan jembatan tidak layak pakai. Tas mereka kini beri sekantung beras perorang, entah kenapa hatinya teriris mengingat ucapan ibu.
"Benar ya kata ibu jangan membuang-buang nasi, bahkan kini untuk ngambil beras pun kita harus berjuang dulu. " Lirih Sani sedikit berbisik.
"Maksud ibu arti dari nanti nasinya nangis itu bukan nasinya yang nangis, tapi kakak dan ibu yang banting tulang demi membeli beras, kalau di buang-buang ya kakak dan ibu yang nangis karena capek kerja, bukan nasinya. " Ucap Dini sembari bercanda namun ucapan kakaknya ada benarnya juga, apa yang Sani makan adalah jeri paya kakaknya dan ibunya kalau ia tidak bersyukur sama saja tidak menghargai perjuangan mereka.
Langit mendung lagi menggambarkan hati Sani, ia khawatir setiap jam, menit, hingga detik yang telah terlewat membuat pikirannya penuh oleh sang Ibu.
Keesokan harinya di depan puing puing bangunan seolah ada api yang membara, Dini ingin meluapkan semua kekecewaannya, dibawah reruntuhan rumah akhirnya ibunya ditemukan, namun emosinya bergejolak saat seorang ahli medis berkata kemungkinan perkiraan henti jantung saat tengah malam tadi.
Andai saja bantuan cepat datang, andai waktu berhenti sebentar, andai ia menemani ibunya dirumah, andai... Dini hanya bisa berandai-andai namun takdir berkata lain, rumah kecil yang dulu penuh tawa kebersamaan ibunya hancur diterpa air yang penuh kayu gelondongan.
Siapa yang bisa ia salahkan? Takdir? Atau seseorang dibalik potongan kayu yang jadi bencana?
"Ibu pasti kedinginan, hampir tiga hari ibu bertahan. " Sani menunduk diatas gelondongan kayu, Hari-hari nya pasti akan sepi, tidak ada lagi ibu yang mengomel, tidak ada lagi obrolan tentang tangisan nasi, yang ada hanya jerit tangis Sani dan Dini diatas hamparan kayu yang berserakan.