Teriakan seseorang yang terburu-buru dari luar farmasi membuat Little ngacir sampai menabrak apa saja yang ada di sekitarnya. Benar-benar sangat menyebalkan berada di situasi seperti ini, selalu membuat Little jadi senam jantung dan olahraga mendadak. Terkadang, situasi seperti ini membuat emosinya tidak stabil, sesekali ngedumel tidak jelas. Ya, mau bagaimana lagi, profesi yang ia miliki saat ini, tidak bisa membuatnya mengeluh terus-terusan. Little pun tidak bisa menyalahkan setiap keadaan yang ada di Klinik. Sudah menjadi tugasnya, menjalankan dengan sebaik mungkin untuk pasien-pasiennya. Walaupun, setiap tulangnya seperti dipukuli ratusan palu. Demi pasien, ia rela melakukan apa pun.
Little berjalan cepat dari ruang belakang—tempat penyimpanan obat-obatan. Dua cairan infus, ia serahkan kepada perawat di depannya—tatanan bajunya tampak lebih amburadul darinya. Ia pun tertawa pelan. “Ya Allah, Mbak, udah kayak gembel kamu.”
“Gembelnya Klinik. Ya udah, saya ke UGD lagi ya, tiba-tiba digeruduk pasien. Kebetulan juga ada yang mau rawat inap.”
Tiba-tiba, dari belakang perawat tersebut, muncul perawat rawat inap. “Gembel dari mana ini?” Perawat laki-laki ini memperhatikan perawat UGD tersebut dari ujung kepala sampai ujung kaki lalu geleng-geleng.
“Ngapain kamu turun, Pak? Mau minta obat?” tanya perawat UGD ini, sedikit heran dengan temannya tersebut. Bukannya menjaga pasien di atas malah turun, kalau bukan untuk minta obat—apalagi.
Perawat laki-laki tersebut menatap Little dengan cepat, sampai melotot, dan kocaknya—mata Little refleks ikutan melotot, seolah seperti penyakit yang menular. “Ada apa? Kenapa melotot-melotot begitu?” tanya Little keheranan, matanya juga masih melotot.
“Kamu juga ngapain melotot?” Laki-laki ini bertanya balik, kedua mata masih melotot.
Perawat UGD pun sampai geleng-geleng dengan perilaku aneh mereka. Gara-gara mereka, sampai lupa harus segera ke UGD lagi. “Nggak beres emang kalian berdua. Lebih kasihan dari saya ternyata. Mending gembel, daripada gila.”
“Udah sana, Mbak. Jangan ributin kami lagi, keburu pasienmu kejang-kejang nanti.” Pandangan kedua mata Little masih tertuju pada laki-laki di depannya.
“Ya ini, juga mau balik ke UGD. Ya udah, duluan, akur-akur ya kalian berdua, jangan berantem.”
“Iya Mbak Di.”
Dian langsung lari memasuki UGD, tidak peduli dengan kelanjutan dua manusia tidak beres tadi. Maklumi saja lah, faktor Klinik diserang kumpulan pasien membuat mereka jadi stres mendadak.
“Mbak!” teriak Geo pada perempuan di depannya secara tiba-tiba.
“Oiy!” balas Little dengan sedikit teriak juga.
Geo menggeser tubuh Little dari hadapannya, ia langsung masuk begitu saja, tanpa berat kaki sama sekali. Laki-laki itu memasuki ruang penyimpanan obat-obatan sekaligus tempat untuk istirahat. Little pun menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal—keheranan.
“Mas Geo! Mau minta obat apa? Ada kertas permintaan obat nggak?” teriak Littel. Sebelum, ia menyusul laki-laki tersebut. Pintu ruangan ini, ia tutup dahulu.
Kebetulan, teman jaga Little hari ini masih berada di mushola, belum kembali juga. Sepertinya, teman Little, shalat sekaligus lanjut makan. Ya, Kliniknya memberikan peraturan, ketika makan harus bergantian. Agar ruangan tidak sepenuhnya kosong. Sebab, pasien tidak bisa diprediksi datangnya kapan.
Little pikir, teman perawatnya itu, turun ke bawah untuk mengambil obat. Nyatanya tidak seperti itu. Siapa sangka, laki-laki itu malah tiduran di meja racik. Dari gelagatnya, tampak kelelahan sekali laki-laki itu. Wajar juga kelelahan, karena seharian mengurusi pasien. Namun, Little perhatikan laki-laki itu, tampak lebih berat dari biasanya.
“Pasienmu apa banyak, Mas? Kok kayaknya, berat banget pundaknya.” Little mengambil kursi dan ia letakkan di depan meja racik—yang ditempati Geo.
“Berat banget, Sis. Sampai pengin—”
“Amit-amit jabang bayik!” Little mengetuk-ngetuk tangganya ke meja lalu ke dahi secara bergantian. “Bunuh diri itu perbuatan dosa yang sangat besar.”
Perkataan Little yang sangat ngawur bagi telinga Geo, membuatnya sampai menegakkan kepalanya lagi. Raut wajahnya itu tampak sangat lesu sekali, sampai membuat Little ingin tertawa saat itu juga, tetapi ia urungkan, hingga—hanya menampilkan senyum tipis dari bibirnya.
Geo mengetuk kening Little dengan pelan. “Mulutmu busuk banget, Lit. Takut banget, tiba-tiba malaikat lewat, terus memberikan pemikiran seperti itu ke saya. Amit-amit ya Tuhan. Gini-gini, saya juga belum bosan hidup, masih pengin menikmati makanan enak-enak yang belum saya cicipi.”
Little tertawa. Ternyata, apa yang ia pikirkan mengenai Geo tidak seperti itu. Lalu apa yang membuat laki-laki itu tampak lesu sekali. Bahkan sampai turun ke bawah dan tidur. Jika ingin tidur, ia pikir di ruang perawat juga masih ada tempat. Kenapa harus jauh-jauh, turun ke lantai dua. Senang sekali membuat kaki semakin nut-nutan.
“Kamu, apa nggak lagi jaga pasien di atas, Mas? Kok kamu tinggal? Memang nggak apa-apa? Gimana, nanti kalau tiba-tiba, ada pasien ngedrop.”
“Diam! Maimun.” Geo langsung meletakkan jari telunjuknya, tepat pada bibir perempuan di depanya ini. “Tidak boleh kamu mengatakan hal itu dalam situasi seperti ini. Pamali.”
Little menjauhkan jari Geo dari bibirnya sembari mengedipkan kedua matanya berulang kali. Apa yang diucapkan teman perawatnya itu, ada benarnya juga. Bagaimana kalau ucapannya terkabul, ini pasti juga akan membuatnya ngereog juga. Harus nubruk sana, nubruk sini, karena juga pasti berurusan dengannya lagi nanti. Dia tidak ingin menghadapi situasi itu dahulu, sekarang ia ingin merebahkan tubuh dahulu sebelum resep berdatangan lagi. Apalagi, dari pagi, ia selalu mendapatkan makian dari keluarga pasien yang tidak sabaran dengan lamanya penyiapan obat. Sangat menyebalkan sekali memang.
“Lelah saya, Sis. Butuh healing banget ini saya. Dari pagi wira-wiri kayak setrika panas, sampai gempor kakiku. Pumpung aman, saya mau leha-leha sebentar di sini. Di atas ngerasa nggak nyaman banget. Biarin Mbak Pinuk jaga sendirian di atas.” Geo langsung meletakkan keningnya di atas meja lagi dengan lesu. “Saya sangat mengantuk sekali, Mbak, belum tidur dari kemarin. Rasanya seperti mayat berjalan.”
Little terkekeh, ada rasa tidak tega pada dirinya. Sepertinya, keluhannya belum ada apa-apanya dibandingkan dengan teman perawatnya tersebut. Sebenarnya sama-sama lelah, hanya saja, ia tidak seberat apa yang dirasakan perawat. Baru saja, ia ingin berleha-leha juga, datanglah suara teriakan kembali dari arah depan ruang farmasi. Apakah temannya itu belum kembali juga sampai pasiennya berteriak seperti itu?
Bodo amat. Little langsung lari ke depan. Ruangan depan memang benar-benar tidak ada orang sama sekali. Baru tiba dan mengeluarkan satu kata, manusia entah dari mana datangnya, berteriak, memarahi Little. Suara itu sampai membuat Geo memiringkan kepalanya ke samping. Matanya membuka, mendengarkan ocehan manusia tersebut. Dia yakin, pasti pasien tersebut, marah mengenai obat lagi. Dia juga mendengar Little tengah menghubungi pihak UGD untuk mengkonfirmasi obatnya kembali.
“Pasti pasien baru. Hais, merusak waktu istirahatku saja.” Geo memejamkan mata kembali.
Baru juga Geo memejamkan kedua matanya, tiba-tiba suara pintu bergeser—penghubung ruang yang ia tempat—membangunkan Geo kembali. Dari balik pintu itu muncul Little dengan raut wajah memerah dan siap untuk meledakkan saat itu juga. Geo pun meletakkan kedua telapak tangannya di kedua daun telinganya—sangat erat serta memejamkan kedua matanya kembali.
“Akrgh! Lama-lama pasien blues saya. Dia pikir, pasien cuma hanya ada dia! Dia pikir resep nggak harus dikonsulkan ke dokter dulu? Dia pikir resep obat nggak dimasukkan ke komputer dulu? Dia pikir obat nggak disiapkan dulu? Tuhan, hambamu ini juga lelah, butuh tenang sejenak. Hamba tahu, ini sudah menjadi tugas profesi kami. Namun, kalau mendapatkan pasien yang masya Allah itu, bisa-bisa membuat hambaMu pasien blues.” Little menangis ala-ala, tidak mengeluarkan air mata sama sekali. Tetapi kedua tangannya mengusap pipinya, seolah mengeluarkan air mata. Padahal kering. Dramatis sekali, memang, manusia satu ini.
“Udah ngocehnya? Resepnya udah muncul kan? Udah siapin sono. Malah ngedramatis, mau dikepruk ulekan sama keluarga pasien kamu?” Laki-laki ini menatapnya dingin.
“Akhh.” Little memegang dadanya ala-ala dramatis lagi. “Tatapanmu sangat dingin sekali, Bro, sampai membuat tubuhku semakin menggigil.”
Apa-apaan ekspresi yang diberikan Little kepada Geo. Sangat menggelikan sekali, sampai membuat Geo mual. Ia rasa, otak temannya itu terbalik gara-gara menghadapi pasien-pasien yang tidak sabaran, sampai membuat Little seperti orang stroke. Geo tidak peduli dengan tingkah temannya itu, mau sampai salto pun, ia tidak peduli. Sekarang, ia hanya ingin tidur sebentar sebelum menghadapi huru-hara kembali. Kesehatan jiwanya lebih berharga ketimbang mengurusi teman yang sudah terbalik otaknya. Cuma dia sendiri yang bisa menyelesaikan keadaan dirinya sendiri, bukan orang lain.
Little segera mengambil obat-obatannya dari box dengan cepat. Setelah berteriak-teriak, akhirnya perempuan tersebut bisa tenang, hanya saja masih sedikit berisik. Perempuan itu bersenandung sembari menyiapkan obat-obatan yang ada diresep. Ya, kali ini tidak masalah bagi Geo, tidak akan membuat kepalanya sepusing tadi dan bisa tidur dengan nyeyak. Baru beberapa detik, Geo membatin baik mengenai temannya itu, tiba-tiba kursinya seperti ada yang menggeser-geser dengan paksa.
“Permisi. Numpang lewat, Bro.”
Suara Little kembali. Masih saja temannya itu mengganggu ketenangan Geo. Bahkan tidak ada rasa bersalah sama sekali, melakukan hal itu kepada Geo. Laki-laki ini pun sedikit memajukan kursinya ke depan dengan mata terpejam, tetapi suara hati ingin merantai tubuh perempuan tersebut, agar diam. Tetapi, jika ia rantai, bagaimana dengan pasien-pasiennya. Baru tenang sejenak, Geo mendengar suara box-box obat berjatuhan dari lantai. Ia masih diam, hingga pada akhirnya berteriak saat kursi yang Little injak jatuh ke lantai.
“Akrgh! Kesurupan kuda lumping saya lama-lama menghadapi Anda, wahai manusia konslet!” Geo berteriak kesal lalu menoleh. Detik itu juga ia terkejut dengan pemandangan di depan matanya. Suara tawa yang kian membesar keluar dari kerongkongan Geo. “Ngapa lu? Malah ngemper. Ngantuk apa gimana? Kalau ngantuk tidur, Bu.”
Little yang masih duduk di lantai, menatap sengit teman perawatnya itu. Bisa-bisanya dalam keadaan seperti ini ditertawakan oleh temannya itu. Padahal punggungnya hampir patah, gara-gara jatuh dari kursi, saat ingin mengambil box obat paling ujung dan nyelepit. Susah diambilnya.
“Oiy! Bukannya ditolongin, malah ketawa! Encok ini! Nggak peka banget jadi cowok. Minimal langsung bantu berdiri kek, nggak ada dedikasi perawat sama sekali. Anda lulusnya nyogok apa gimana sih? Kesel banget.”
“Enak aja kalau ngomong. Iya ini saya bantuin.” Geo bergegas membantu Little berdiri dengan pelan. “Kualat kan kamu, makanya kalau ada resep masuk jangan ngedumel. Apalagi ngatain pasien dari belakang, kayak tadi. Kalau bisa di depan orangnya langsung.”
Little menoyor wajah Geo dari samping. Memang tidak ada serius-seriusnya sama sekali ini orang sampai membuat Little kesal sampai mati. Padahal ia hampir luluh dengan wejangan teman perawatnya ini, malah mendengar endingnya seperti itu.
“Yang ada, saya dikepruki satu keluarga pasien. Bukan cuma satu orang. Kadang-kadang, emang kidding-kidding saranmu, Ge. Nggak ada yang bener sama sekali, malah makin stres saya.”