Saat menulis ini, aku sadar telah membuka kembali masa lalu. Ingatan itu masih terekam jelas di kepalaku. Aku bisa mengatakan bahwa apa yang aku tulis adalah sebuah aib. Tapi aku ingin berbagi kisah hidup yang tak kan pernah aku lupakan seumur hidupku. Kisah hidup yang mempengaruhi semua keputusan dalam hidupku saat ini. Kisah hidup yang membuatku terombang ambing tak tahu arah tujuan hingga kini.
Dimulai saat aku tak sengaja berkenalan dengannya, seorang pria yang usianya lebih muda dariku. Di awal perkenalan, dia menunjukkan sikap baiknya padaku. Segala perhatian dan kasih sayang yang tak pernah ku dapatkan sekalipun dari orang tuaku, ku dapatkan darinya.
Dia masih begitu muda. Tapi dia sangat dewasa dalam berpikir. Dia memahami kesepianku, memahami apa yang menjadi kebutuhanku. Dia bisa mengenaliku dengan sangat baik.
Dari perkenalan singkat yang sekaligus menjadi fase pendekatan, lambat laun, aku mulai terbuai.
Wajahnya yang tampan dan sikapnya yang manis membuatku terlena. Wanita mana yang tak akan terpikat dengan wajah tampan seorang pria apalagi pria itu menunjukkan ketertarikannya pada wanita itu?
Dan aku lah wanita itu. Dalam sekejap aku terbuai oleh pesonanya. Tak butuh waktu lama untuk dia memasuki hatiku dan menjadi prioritas dalam hidupku karena aku sendiri yang mengijinkannya.
Aku bukan wanita polos yang tengah merasakan cinta pertama pada seorang pria. Aku seorang wanita dewasa yang menganut gaya pacaran bebas.
Tak ada yang melarang. Tak ada yang kujadikan panutan. Aku dapat melakukan apapun yang ku mau tanpa berpikir ke depannya akan seperti apa.
Akulah yang membentuk diriku sendiri. Aku punya orang tua, tapi mereka tak peduli. Bahkan sekedar bertanya bagaimana kabarku pun tak pernah. Mereka sibuk bekerja dan melupakan bahwa anak mereka sudah menjadi seorang gadis yang beranjak dewasa.
Mereka tak tahu apa yang sudah ku lewati. Sedikit banyak, ketidakhadiran mereka dalam tumbuh kembangku sejauh ini merubahku yang dari gadis menjadi wanita bahkan sejak umurku belum masuk usia legal.
Apa aku menyesal?
Tidak. Aku melakukannya atas dasar suka sama suka.
Dan sejak saat itu, hidupku berubah total. Sering berganti pria dan melakukan hal yang dilaknat Tuhan berulang kali ke setiap pria yang berbeda.
Aku tak sembarangan. Aku hanya melakukannya pada pria yang aku sukai saja.
Dan hal itu kembali berulang dengannya. Aku bahkan tinggal satu atap dengannya layaknya suami istri.
Aku yang awalnya terbiasa melakukan apapun sendiri, tiba-tiba diminta berhenti. Dia ingin menjadi orang yang selalu ada untukku. Dia melayaniku, mengantar jemput ke tempat kerjaku, dan melakukan banyak hal denganku.
Dia ingin kehadirannya dimanfaatkan olehku. Tentu saja aku bahagia. Kemanapun bersamanya kecuali saat kerja. Dia bahkan sangat cemburu tatkala aku mengobrol dengan pria lain walau hanya sebatas teman saja. Bukankah cemburu itu tanda cinta?
Tak terasa, aku semakin bergantung padanya. Apapun yang aku mau, dia selalu menurutinya. Aku tak sadar jika ruang gerakku semakin terbatas. Yang ada dalam duniaku saat itu hanya dia. Aku tak bisa lagi menikmati waktuku sendiri. Aku tak lagi berkumpul dengan teman-temanku.
Namun aku bahagia bersamanya. Tak apa semua temanku menjauh asal dia ada disampingku, aku tak membutuhkan apa-apa lagi.
Orang tuaku tak mencariku dan percaya saja saat kukatakan kalau aku tinggal bersama teman di luar kota. Sangat mudah meminta ijin pada mereka karena memang tak sepeduli itu mereka padaku. Bahkan saat aku sakit pun, mereka tak pernah tahu.
Ada jarak yang terbentang luas diantara aku dan orang tuaku. Dan aku tak berniat sedikitpun mendekatkan jarak itu. Sejak kecil aku dididik untuk mandiri, melakukan segala hal sendirian dan tak bergantung pada orang lain.
Namun kedatangannya dalam hidupku merubah didikan orang tuaku. Ada orang yang selalu mencintaiku, mendengarkan keluh kesahku, bersedia menjadi sandaran kala aku lelah. Dialah pria itu.
Pria yang memintaku tinggal bersamanya. Hanya berdua. Tak perlu dibayangkan apa yang terjadi diantara pria dan wanita yang tinggal satu atap bersama. Apalagi kami sepasang kekasih yang saling mencintai.
Aku menyerahkan seluruh hidupku. Menyerahkan apa yang kumiliki padanya dengan suka rela. Dengan timbal balik dari perlakuannya yang begitu lembut padaku, aku rasa hal itu pantas dia dapatkan.
Kuserahkan jiwa dan ragaku padanya. Memenuhi apa yang ia inginkan termasuk keinginan seorang pria normal yang punya hasrat.
Aku sudah tak peduli lagi dengan yang lain. Aku percaya dia tak kan meninggalkanku. Dari sikapnya yang otoriter padaku dan selalu cemburu buta pada setiap pria yang dekat denganku, aku yakin bahwa ia benar-benar ingin menjadikanku pasangan hidupnya kelak.
Tahun berlalu hingga tak terasa tujuh tahun kami berhubungan. Aku masih begitu mencintainya. Tak ada yang berubah. Aku tetap memenuhi apa yang ia butuhkan. Aku selalu berada di rumah saat tak bekerja dan menunggunya pulang. Kupenuhi semua hasratnya layaknya seorang istri yang memberikan kewajibannya pada sang suami.
Aku melupakan satu hal. Begitu terlena dengan permainannya, secara tak sadar aku telah menjadi budak birahi untuknya. Ya. Budak birahi. Bukan seorang istri. Karena pada nyatanya, ia tak kunjung menikahiku walau kami sudah berpacaran selama tujuh tahun.
Ia selalu berjanji saat dirinya siap, ia akan menikahiku. Tapi kapan?
Tujuh tahun tak cukupkah membuatnya yakin bahwa aku bisa menjadi istri yang baik untuknya?
Aku mungkin wanita yang hina. Tapi aku juga ingin menikah dengan orang yang aku cintai dan juga mencintaiku.
Aku pikir ia mencintaiku hingga tak membiarkanku lepas dari sisinya. Ia selalu menginginkanku setiap saat. Ia bahkan tak membiarkanku pergi kemanapun tanpa dirinya. Bukankah itu tandanya ia tak ingin kehilanganku?
Tapi ternyata sesuatu menyadarkanku. Menyadari kesalahanku yang sudah terlambat itu. Menyadari kebodohanku yang mudah terbuai dengan segala kalimat manisnya.
Di suatu waktu, aku akhirnya mengetahui jika ia telah mempunyai wanita lain dalam hidupnya. Dengan aku yang masih ada disisinya, tinggal bersamanya selama tujuh tahun, ia juga memiliki wanita lain di luar rumah.
Aku melihatnya secara langsung saat mereka bercumbu dan bermesra. Saat itu juga aku tersadar. Bukan aku saja yang dia inginkan. Bukan ia yang belum siap menikahiku. Bukan ia yang mungkin merasa bosan berhubungan dengan satu wanita yang sama selama tujuh tahun. Bukan ia yang menyebabkan luka di hatiku.
Tapi aku.
Aku lah penyebab luka hatiku sendiri. Aku lah yang bodoh. Aku lah yang begitu mudah dan murahan terjebak dalam setiap untaian kalimat cinta palsu.
Aku lah yang membiarkan dia masuk ke dalam hidupku dan menjeratku di dalam sangkar yang ku kira istana kami. Ku pikir akulah ratunya dan dia rajanya.
Tapi tidak. Istana itu terlalu indah dalam khayalanku. Aku tidak tinggal di istana indah melainkan di sebuah penjara.
Penjara cinta yang dibuat oleh sang raja dengan segala kata-kata manisnya yang membuai. Penjara itu untuk mengurungku. Mengurung jiwa dan ragaku agar aku hanya mendengarkan ucapannya saja.
Mendengarkan kalimat cinta yang seolah tulus sebelum akhirnya menjadikanku tak lebih dari seorang budak seks yang ditawan olehnya.
Saat dia butuh, dia akan mendatangiku dan membuatku tak bisa menolak pesonanya. Dan saat dia bosan, maka ia akan pergi sendiri mencari budak yang lain.
Aku mulai tersadar saat adegan itu terulang di ingatan. Bukan aku yang diinginkannya. Aku tak lebih dari seorang wanita murahan yang dengan suka rela membagi tubuhku padanya selama tujuh tahun.
Dia telah memanipulasiku untuk mencapai tujuan pribadinya. Untuk memenuhi hasrat binatangnya.
Tidak. Aku tak bisa meneruskan ini. Aku tak bisa terus berada dalam penjara berkedok istana yang ia buat.
Aku pergi. Dengan luka menganga yang lebar, aku memutuskan segala hubunganku dengannya. Pikiranku buntu.
Tujuh tahun. Selama waktu itu, aku telah menghabiskannya dengan orang yang salah. Orang yang penuh dengan manipulasi.
Aku kembali pulang ke rumah. Aku kembali sendiri. Jangan harap ada pelukan dari orang tua setelah aku pergi selama tujuh tahun baru kembali. Mereka tetap tak peduli. Seperti biasa.
Kala malam tiba, aku merasa kesepian lagi setelah tujuh tahun. Selama tujuh tahun, aku bahagia dengannya. Setiap malam mendekap tubuhnya hingga pagi.
Dan kini aku hanya bisa memeluk diriku sendiri dalam kedinginan. Bukan dingin karena cuaca melainkan dingin di dalam hati. Di dalam sana, kembali gelap gulita. Tak ada cahaya karena cahaya itu sudah mati sejak aku melihatnya bersama wanita lain.
Aku memang sudah terbebas dari penjaranya. Atau lebih tepatnya aku tersadar dari kesalahanku sendiri. Tapi, apa yang telah ia perbuat selama tujuh tahun ini, tak bisa aku melupakannya.
Pribadiku telah terbentuk olehnya. Pribadi yang selalu merasa bergantung pada orang lain. Dan kini, aku kembali sendiri.
Ia masih terus menghubungiku saat tahu aku sudah pergi. Aku bahkan tak mengambil satu barangpun milikku di rumahnya. Aku terlalu muak dengan diriku sendiri jika kembali ke sana.
Aku muak dengan diriku sendiri yang begitu bodoh. Bisa-bisanya aku terjebak dalam permainannya. Ia benar-benar pemain yang handal. Ia bisa mempengaruhiku dan membuatku tunduk padanya. Aku telah dibutakan oleh cinta dan pesonanya.
Dan sejak saat itu, sejak aku memutuskan meninggalkannya, pribadiku kembali berubah. Aku menjadi wanita yang dingin. Pandanganku pada setiap pria juga berubah.
Jika dulu aku selalu terpesona dan luluh jika dihadapkan pada seorang pria yang berparas tampan, maka sekarang aku hanya sekedar menatap tanpa mengagumi lagi.
Hatiku terasa mati. Tak lagi merasakan apapun. Didalam sana rasanya kebas. Mati rasa.
Keinginan menikah itu masih ada tapi aku tak ingin berkenalan dan kembali beradaptasi dengan pria lainnya lagi.
Aku sudah terlalu lelah. Berkenalan, pendekatan, pacaran, melakukan hubungan suami istri, lalu putus. Terus saja seperti itu.
Mungkin inilah hukuman untukku dari Tuhan karena aku melakukan hal laknat yang Tuhan benci. Hatiku dibuat mati rasa. Aku bahkan tak punya tujuan hidup lagi. Seperti apa jalan takdirku ke depannya, aku tak tahu.
Aku lelah. Sangat lelah. Tapi aku tak ingin menyerah. Jauh di dalam lubuk hatiku, sehina apapun diriku, aku masih berharap Tuhan akan berbaik hati mengirimkan seorang jodoh yang mampu menerimaku dengan tulus. Menerima diriku yang tak sempurna ini dan menerima semua masa lalu burukku.
Aku tahu aku sudah tersesat jauh dari jalur yang benar. Tapi aku ingin kembali. Aku ingin kembali ke jalur yang diridhoi Tuhan. Aku tak ingin tersesat semakin dalam ke hutan yang penuh dengan maksiat.
Tapi aku tak tahu apa aku sanggup melangkah lagi, kembali ke jalan yang benar. Aku bahkan selalu memercayai semua perkataan orang. Aku memang sedang berusaha untuk bangkit berdiri. Tapi, aku tak tahu apakah setiap orang yang kutemui berhati tulus atau tidak.
Aku bahkan tak bisa mengambil keputusan dalam hidupku sendiri. Semua itu gara-gara kebodohanku dan pria itu selama tujuh tahun.
Aku hanya melanjutkan hidup. Aku tak mengenali diriku sendiri. Hidupku terkekang dalam penjara tujuh tahunnya. Tak ada kesempatan untukku menghirup udara bebas tanpanya. Dan bodohnya, aku menganggap hal itu adalah sebuah cinta. Cinta yang besar darinya untukku.
Sekarang aku tak bisa mengambil keputusan lagi dalam hidupku. Semua keputusanku berujung penyesalan untuk diriku sendiri.
Apa bahagia itu tak ada lagi untukku?
Apa masa depanku tak kumiliki lagi?
Apa aku masih bisa berharap ada lelaki yang tulus menerima dan mencintaiku dengan tulus?
Apa aku akan mendapatkan kesempatan bahagia selayaknya para perempuan diluar sana yang telah menemukan jodohnya?
Hah. Permintaanku tak ada lagi. Aku manusia penuh dosa dan aku sangat menyadarinya. Aku tak pantas meminta apapun lagi setelah aku menghancurkan diriku sendiri.
Kini rasanya aku sudah tak ingin membela diri lagi. Semua omongan orang-orang itu, tanggapan mereka terhadapku, aku tak kan menyangkalnya lagi.
Ku biarkan mereka berbicara apa saja tentangku. Sungguh aku tak ingin peduli lagi. Aku akan mencari bahagiaku sendiri tak peduli itu dengan jalan yang baik atau buruk.
Penyesalan tetap ada, tapi aku tak ingin terlalu larut di dalamnya. Aku akan membiarkan diri tetap terombang-ambing dalam segala hal entah sampai kapan.
Mungkin esok ada cahaya datang dan menarikku kesana. Hingga saat itu tiba, biarkan aku bebas dan bahagia dengan caraku sendiri. Jika aku terus tersesat, semoga Tuhan berbaik hati mengirimkan seseorang untuk membimbingku ke jalan yang di ridhoi-Nya. Aku akan selalu menunggu cahaya itu datang.
Inilah cara yang kupilih untuk berdamai dengan diriku sendiri. Walau cara yang kupilih salah, tapi hanya dengan itu aku bisa bertahan untuk tak mengakhiri hidup.
Selesai.
“Cerita ini terinspirasi dari seorang perempuan yang hingga kini masih terus berharap akan datangnya sebuah cinta tulus tanpa melihat masa lalu kelamnya. Kita tidak boleh menghakimi siapapun. Semua orang punya hak yang sama untuk bahagia dengan caranya dan punya hak mendapat kebaikan Tuhan. Terus semangat dan ketahuilah aku ada bersamamu. Terima kasih telah memercayakanku untuk menulis ulang kisah nyatamu. Semoga para perempuan yang mungkin berada di posisimu saat ini segera disadarkan. Tidak ada pria baik yang merusak perempuan yang dicintainya. Seorang pria yang benar baik dan tulus akan selalu menjaga si perempuan apapun caranya dan apapun godaannya.”