Di sebuah gubuk tua yang sunyi, Layla duduk memeluk lututnya. Perutnya melilit hebat karena lapar yang tak tertahankan. Seulas senyum dingin muncul di wajahnya saat ia melihat sesosok Centaur melintas di kejauhan. Layla bangkit, lalu dengan tatapan tajam, ia mengarahkan tangannya ke udara. Percikan kilat biru keluar dari jemarinya, menyambar tubuh centaur itu hingga tersungkur lemas. Dengan tatapan tajam, Layla menjinakkan makhluk perkasa itu di bawah kendali sihir listriknya.
"Pergi ke pasar itu," perintah Layla dengan nada datar. "Bawa semua makanan yang bisa kau rampas, atau aku akan memanggang jantungmu."
Centaur itu berlari menuju keramaian pasar. Tak lama kemudian, ia kembali dengan tumpukan roti dan daging hasil curian. Layla makan dengan sangat lahap, Setelah kenyang, ia melemparkan sisa tulang dan potongan daging kecil kepada Centaur sebagai upah karena telah menjadi budaknya yang patuh.
Saat sedang membersihkan jemarinya , pendengaran Layla menangkap suara isak tangis Di balik sebuah pilar batu, ia melihat seorang anak laki-laki yang badannya gemetar karena kelaparan. Layla mendekat dengan langkah pelan.
"Siapa namamu?" tanya Layla.
Bocah itu mendongak, "Delta..." jawabnya pelan.
Layla menyodorkan sepotong daging besar yang masih tersisa. "Makanlah. Namaku Layla. Kalau kau ikut denganku, kau tak akan pernah kelaparan lagi."
Sejak hari itu, keduanya menjadi pengacau kecil yang meresahkan. Layla dengan kekuatan listriknya dan Delta dengan keberaniannya yang luar biasa sering merampok pasar bersama-sama, Delta yang pemberani selalu berdiri di baris depan, melindungi Layla dari setiap bahaya atau amukan warga yang mengejar mereka. Bagi Delta, Layla adalah penyelamatnya, dan bagi Layla, Delta adalah satu-satunya tameng yang ia miliki.