01.30 malam di salah satu smp terkenal di jakarta selatan. Seharusnya pada saat malam, tidak ada lagi siswa yang berkeliaran di smp ini apa lagi tertidur pulas
Namun tidak untuk jumat malam sabtu ini. Sekolah smp cendana sedang melaksanakan LDKS untuk melatih para siswa yang terpilih untuk menjadi osis di sekolahan tersebut
Beberapa dari mereka sangat bergembira ketika lulus seleksi, bahkan sangat amat senang. Tapi senyuman selebar gerbang sekolah itu redup ketika latihan dasar kepemimpinan sekolah di adakan. LDKS ini terbilang cukup ekstrem, dari tadi sore.mereka sudah di paksa melakukan kegiatan untuk melatih kedisiplinan, yang terbilang sangat jauh dari kata LDKS dengan standar
Ldks ini sangat ketat, mulai dari baju, perlengkapan, bau badan, kerapihan,tata makan, BAHKAN CARA TERSENYUM!!
ini semua karena ketua osis yang sangat tegas itu. Entah karena ia sangat perfeksionis atau memang ingin menjalin adik kelas nya yang malang
Noormen Magnus
Ketua osis, selama 1 periode ia menjabat. Tidak ada yang berani membantah nya, bukan karena ia galak, tapi karena ia benar. Begitupula dengan pembina osis yang selalu setuju dengan perkataan magnus
Dan LDKS ini, ia merencanakan hal aneh untuk melatih kedisiplinan adik kelasnya atau hanya ingin membuat adkel nya kesulitan dari tadi sore sampai malam ini
Tidak sedikit peserta yang menangis dari total 60 siswa yang ikut LDKS, namun kini mereka sudah tertidur lelah dan sebagai tidak bisa tidur karena memikirkan apa yang akan di lakukan panitia osis selanjutnya
Peserta tersakiti, panitia menyakiti
Setidaknya nya beberapa tertidur lelah sampai..
CTEENG CTENGG!!!!
suara besi yang di pukul ke tiang bendera membuat suara besi beradu kencang. cukup untuk membuat peserta terbangun bahkan warga yang tinggal di dekat sana
"WOE BANGUN GAKK LO SEMUA!!",teriak salah satu panitia atau osis kelas 9 yang akan segera purna. raki, sambil menendang pintu kelas yang berisi beberapa siswa yang masih tertidur
Sontak beberapa siswa terbangun. beberapa dari mereka pucat, karena tidak terbiasa dibangunkan seperti ini
"Anjirr laah, baru merem guwe",bisik peserta perempuan kelas 7. Pie aiira, kepada temannya yang sudah melotot melawan kantuk di sebelah nya lana velin
"Lo pikir guwe tidur?, gw coba ngehalu samping gw jeno aja malah ngeliatnya kak raki",balas lana dengan senyum pahit
Seluruh peserta di kumpulan di lapangan ke dua, tepat di bawah pohon beringin yang gelap gulita tanpa penerangan.
Pie dan lana berbaris depan belakang sesuai kelompok mereka. Sementara panitia dengan rambut rapih, padahal baru bangun tidur, Kak fathi. Menjelaskan tentang rute pos pos yang akan mereka lalui
"Aduuuehh, ngantuk..",celetuk slah satu siswa yang terlihat masih loyo
"SIAPA TADI YANG BERANI NGOMONG??".bentak fathi dengan nada yang dibuat kencang, padahal dirinya sendiri juga terlihat mengantuk
Sontak seluruh peserta terdiam..
***
Terakhir, rekan kak fathi menyuruh mereka untuk menutup mata menggunakan kain basah yang aga amis
"Iwh bau anjir", bisik pie ke lana
"Jangan jangan enni,darah",sahut lana dengan wajah pucat
"ini aer ikan bego",balas pie dengan datar. Ia tidak terlalu percaya dengan hal gaib, jadi jerit malam ini tidak terlalu horor baginya
Dan satu demi satu barisan perkelompok pergi ke rute lainya, sementara kelompok pie dan lana adalah kelompok 6 dari 6 kelompok
***
(Skip saat pos ke 5)
Kelompok ke 6 yang di ketuai amar kelas 8, sebagai bendahara osis yang baru. Masuk ke pos ke 5 di belakang sekolah, taman kepala sekolah. Terdapat tanaman bahkan kolam ikan yang aga luas
"apa pasworld nya?", tanya salah satu guru yang berjaga di pos itu sambil menyimprat kan air dari botol kepada masing masing siswa yang menutup mata nya
Begitu pula dgn pie, untungnya dia memakai kacamata. Jadi air itu tidak sepenuhnya masuk ke mata nya, melainkan ke mulutnya
(Pfttt,..ASIN!)
entah lah, sepertinya itu air garam..atau air kolam ikan yang tepat berada di samping guru tersebut
Guru tersebut adalah guru olahraga. pak apit, di temani salah satu panitia kelas 9, Yomen.
"Pasworld nya yomenn jelek pak",seru kelompok 6 secara berbarengan.
"Lolololoh?, kok malah ngatain saya??",potong kak yomen dengan seringai
Tampak tak ada jawaban dari kelompok pie, semuanya membisu
"HEH, KALO ORANG NGOMONG DI TANGGEPIN. BISU KALIAN?",tegus pak apit dengan tegas
"Di suruh panitia pos sebelumnya pak",ucap amar selaku ketua kelompok dengan grogi
"DAN KALIAN MAU?, ITU TERMASUK PENGHINAAN LOH?",balas yomen
Sekali lagi..semuanya terdiam, dan langsung di sambut tatapan tajam oleh pak apit
"Kami disuruh kak",ucap amar lagi dan lagi. Hanya dia yang berani bicara..sementara lainya terdiam membisu
"Terus kalo panitia nyuruh kalian terjun ke jurang kalian ikutin gitu?",potong pak apit dengan nada sarkas
Sekali lagi semuanya senyap..
"Ck, ini pada gak punya mulut apa?.",celetuk kak yomen dari belakang pak apit
"Udah kalian kerjain aja tugas kartu ini, kalo sudah selesai baru kalian boleh lanjut ke pos selanjutnya",tanggap pak apit
"Kalo belum kelar, ga boleh lanjut sampe pagi", sambung nya
Dengan hati yang aga lega selepas pertanyaan dari kak yomen dan pak apit dari passworld yang aga nyeleneh dari panitia pos sebelumnya. Kami dengan cepat menyelesaikan kartu dengan menyamakan angka serta nomernya, permainan ini di sebut sudoku
(cari aja sendiri sudoku itu apa)
Tapi saat kelompok 6 hendak melakukan langkah terakhir untuk menyelesaikan tugas tersebut tiba Tiba
CTINGGGGG!!!!!
ARGHHHHHH!!!!
suara besi beradu dan teriakan mengeram salah satu peserta yang tidak asing di telinga pie mengelegar ke seluruh sekolah, tampak nya suara itu berasal dari lapangan utama. Tempat pos selanjutnya
Pos yang di panitiai 3 orang Paling di takut di osis
Noormen magnus, ketua osis
Karis Ibrahim, bph osis
Mia maharani, ketua mpk
"Nah kan, dari tadi kedengeran banyak jeritan tuh dari pos 6",seru pak apit yang dari setadi duduk di batu besar. Kini nada nya menjadi lebih santai sama seperti biasanya saat beliau mengajar
Sepertinya nada suara nya yang ditingkatkan 1 oktaf dari biasanya, hanyalah tekanan untuk para peserta agar mereka merasa terintimidasi. Padahal aslinya ia menahan gelak tawa saat melihat wajah anak murid nya yang pucat
"Magnus ama karis mah kalo ldks berasa nge ospek mahasiswa, tahun kemaren aja pas berani banget ama panitia(alumni)",balas yomen kepada pak apit. Suara nya jelas sehingga bisa terdengar oleh kelompok 6 yang sedang melanjutkan sudoku tersebut
"Sudah selesai pak",sahut amar dengan jelas
"Nah bagus, sekarang kalian bisa lanjut ke pos selanjutnya nya",balas pak apit yang tampak ragu melanjutkan kalimatnya
"Passworld nya magnus sok iye",sambung pak apit dengan senyum miring
Sontak beberapa kelas 8 yang sudah berpengalaman ldks bersama kelas 9 satu tahun lalu, aga gelisah.yakin nih? salah ngomong dikit pasti langsung di tampol, batin hampir seluruh anggota kell 6
Entah lah sama hal nya dengan hantu, pie tidak terlalu memikirkan hal itu karena ia belum tahu seberapa seram nya magnus jika ia marah. saat ini dia hanya ingin ldks ini selesai dan tidur dengan nyenyak di kamarnya
Kelompok 6 berjalan menuju pos selanjutnya dengan langkah pelan, d jalan setapak yang pekat
"JANGANN MATII YAA GAISS, SEMANGATT!!",teriak kak yomen dari belakang pos. Sama seperti pak apit, sikap galaknya hanya formalitas sebagai panitia ldks
"IYAAA KAKKK, MAKASIIII"
Teriak balas seluruh anggota kelompok 6 dengan hati yang aga lega
***
Saat di perjalanan, pie Melihat ke barisan depan. Wajah teman teman sekelompok nya tampak gemetar bahkan lana sudah bersiap menuliskan surat wasiat
"Woe guys santai aja kaless, paling dia cuma kaya kak yomen doangk. Buat formalitas panitia",ucap pie memulai percakapan di tengah gelap gulita
Sontak seluruh anggota menoleh ke arah pie dengan tatapan aneh
"Ih pie..kamu belom tau kak magnus kali marah gimanaaa",sahut amar, bibir lelaki itu tampak gemetar
"Yaialah-"
"PI, dengerin kita aja udah",potong salah satu perempuan berkerudung kelas 8.
Sebelum kami meninggalkan pos 5. Pak apit menyuruh kami meneriakin passworld "magnus sok iye", di sepanjang jalan. Saat mengatakan itu. Pak apit tampak tersenyum sadis, sementara kak yomen hanya menggeleng kecil
"MAGNUS SOK IYE"⁶×
begitu kah kata yang kelompok pie teriak sepanjang jalan..sangat kencang sampai kelompok 5 yang masih ada di pos 6 menoleh ke arah kelompok pie dengan tatapan heran
Begitu kelompok 5 pergi, kelompok 6 maju dengan wajah yang gelap..kecuali pie
Kedatangan mereka disambut oleh tatapan melotot kak karis, dan tatapan sinis kak Mia. Sementara kak magnus yang duduk di kursi kayu hanya dia memperhatikan gerak gerik mereka, yang membuat suasana semakin mencekam
"TADI NGOMONG APA KALIAN??",Teriak karis dengan wajah nya yang keras
"Berani berani nya kaliannn, ngatai ketua osis. Raih prestasi aja belom udah macem macemm",sambung kak Mia sambil menyenggol bahu salah satu anggota yang membuat siswa Malang itu tersungkur
"WOII JAWABB!!!",teriak karis dengan suara yang menggelegar
"Magnus sok iye kak..",jawab ammar dengan pelan
"APA??JAWAB YANG KENCENGG DONG!!",sambung kak Mia
"MAGNUS SO IYE KAK!",jawab seluruh anggota dengan lantang
"LLAH BERANI MEREKA-",Blum sempat menyelesaikan perkataan nya. Karis sudah di suruh diam oleh magnus dengan pelan
"Shuut shut,karis udah diem jangan pake tenaga ah. Bocah bocah ingusan doang ini",suara magnus tenang. Tapi cukup membuat bulu kuduk seluruh anggota berdiri
Magnus berdiri sejajar dengan Mia dan karis..tinggi badannya yang lebih tinggi dari orang yang ada di sana membuat kelompok 6 semakin terintimidasi
(Tinggi badannya 174 cm btw)
"Passworld nya apa?",tanya magnus dengan pelan
Tidak ada jawaban, seluruh anggota diam membisu
Tidak ada yang berani menjawab
"SAYA TANYA, PASSWORLD NYA APA?",gentak magnus tanpa mengeluarkan ekpresi
"Magnus SOK IYE"
Suara itu muncul dari barisan belakang
Yang membuat seluruh anggota menoleh bahkan panitia karena kalimat"sok iye", yang di kencangkan dengan sengaja
"Siapa yang ngomong tadi?, maju",seru Mia dengan tangan yang dilipat
Langkah kecil keluar dari barisan maju. Pie yang ukuran tubuh nya jauh lebih pendek dari magnus dengan petantang pententeng maju tepat di depan magnus
"Ohhhh inii, kecil kecil tapi melawan kamu yaa??",sambung Mia sambil maju mentoel toel pipi pie
"Iya kak kenapa?, saya salah?, kan itu pasworld nya",jawab pie datar menatap Mia
"Berani banget kamu ngatain kak magnus sok iye",sahut karis maju kedepan pie
Mia: gak ada takut takut nya nih bocah
Pie: kenapa harus takut kak?, takutkan cuma harus ke tuhan sama ortu..kalian tuhan memang nya?
sontak seluruh anggota berteriak dalam bisu..bisa bisanya pie berkata begitu, kepada 3 orang yang paling ditakuti di sekolah
Ammar yang melihat pie di sudut kan, maju sejajar dengan pie sebagai ketua kelompok
"Maaf kak, dia anak kls 7 jadi belum tau apa apa",ucap ammar dengan sopan
"Lloh kak?, kok minta maaf..",sahut pie
"DIAM KAMU!",tegus karis
"Kalian, tega biarin anggota kelompok kalian di sudutin gini?",tanya mia ke anggota lain dengan sarkas
"Kalian memang gak punya hati, hukuman Kalian.. lari mengelilingi lapangan 50 kali, jangan ada yang berhenti atau melambat. Kalau melambat ulang dari awal",ucap magnus dengan datar kepada anggota kelompok
"TAPI KAK..",teriak salah satu anggota berniat protes
"Tidak ada tapi tapi, jika kalian masing ingin disini, ikuti peraturan disini",potong magnus dengan lebih tegas
Kelompok 6 tidak bisa mengelak.. kini mereka semua harus mengelilingi lapangan luas itu sebanyak 50 kali dengan udara yang masih dingin dan gelap
(Skip saat sudah mengelilingi lapangan)
Tampak seluruh anggota terduduk lemas, sementara panitia tertawa puas
"Gitu doangk kemampuan kalian?, baru muterin lapangan 50 kali aja udah capek",cibir Mia
"Lemah," cibir Mia lagi sambil menuangkan air mineral dingin tepat di depan wajah mereka yang sedang terengah
engah, namun ia meminumnya sendiri.
"Gimana mau jaga nama baik sekolah kalau lari segitu aja udah kayak mau mati?"
Magnus berjalan perlahan di antara barisan siswa yang terduduk lemas.
Sepatu pantofelnya yang mengkilap beradu dengan aspal, menciptakan bunyi ketukan yang ritmis dan mengancam. Ia berhenti tepat di depan Ammar dan Ara yang tampak paling bertanggung jawab atas kelompok itu.
"Ammar, Ara," panggil Magnus. Suaranya rendah tapi berwibawa. "Kalian pemimpin di kelompok ini. Tapi saya lihat, kalian gagal mengontrol 'mulut' anggota kalian."
Tatapan Magnus beralih ke arah Pie yang masih duduk dengan muka lempeng tanpa rasa bersalah, meski keringat membasahi dahinya.
"Ara," Magnus menatap wakil ketua kelompok 6 itu. "Sebagai sesama perempuan, menurut kamu, sikap anggota kamu ini sopan tidak?"
Ara menelan ludah. "Siap, tidak kak. Tapi kami hanya menjalankan perintah pos sebelumnya."
"Oh, jadi kalau disuruh mati, kalian mau?" Karis menimpali dengan nada tinggi. "Itu alasan klasik! Mana integritas kalian?!"
Magnus mengangkat tangannya, memberi kode agar Karis tenang. Ia kemudian tersenyum tipis sebuah senyuman yang lebih mirip seringai predator.
"Oke, karena kalian merasa 'hanya menjalankan perintah', sekarang saya kasih perintah baru. Karena Pie tadi bilang saya 'sok iye' dan bilang kami bukan Tuhan..."
Magnus berjongkok di depan Pie, menatap mata gadis kelas 7 itu dalam-dalam. "...maka malam ini, kelompok 6 akan saya beri tugas khusus untuk membuktikan seberapa 'sakti' kalian tanpa bantuan Tuhan atau panitia."
"Karis, ambilkan ember berisi sisa air cuci piring dari kantin," perintah Magnus.
Karis tertawa jahat dan segera berlari melaksanakan tugas. Tak lama, sebuah ember besar berisi air keruh, berminyak, dan berbau sisa makanan basi diletakkan di tengah-tengah kelompok 6.
"Tugas kalian simpel," Magnus berdiri kembali, merapikan jas osisnya.
"Pindahkan semua air ini menggunakan sendok teh ke dalam botol minum kosong yang ada di ujung lapangan sana. Satu per satu, estafet. Kalau ada satu tetes saja yang tumpah ke tanah..."
"Ulang dari awal?" celetuk Pie memotong pembicaraan.
Suasana langsung hening. Ammar menyenggol lengan Pie dengan panik, wajahnya pucat pasi.
Magnus tertawa kecil, suara tawa yang kering.
"Pintar. Tapi bukan cuma ulang dari awal. Kalau tumpah, satu kelompok harus push-up 20 kali, baru boleh lanjut mindahin air lagi. Dan ingat, Ara dan Ammar yang harus memastikan tidak ada satu tetes pun yang jatuh. Kalau gagal, jabatan kalian di organisasi nanti... saya pertimbangkan lagi."
"Kak, itu nggak masuk akal! Ini sudah jam 2 pagi!" protes Ara dengan suara gemetar.
"Di dunia nyata, banyak hal yang nggak masuk akal, Ra," sahut Magnus dingin. "Ayo mulai. Karis, Mia, awasi tiap tetesnya. Jangan kasih kendor."
Kelompok 6 mulai bergerak dengan sisa tenaga yang ada. Ammar memegang sendok dengan tangan gemetar, sementara Ara mencoba menyemangati teman-temannya yang mulai menangis dalam diam.
Pie, yang berada di barisan tengah, menerima sendok berisi air bau itu dari temannya.
Saat ia hendak mengoper ke orang di depannya, Karis sengaja berteriak tepat di telinganya.
"WEY! CEPETAN!"
Tangan ara goyang. Setetes air jatuh ke tanah.
"STOP! Tumpah!" teriak Mia dengan nada girang. "Semuanya posisi push-up! Sekarang!"
Di bawah pohon beringin yang gelap, kelompok 6 terpaksa melakukan push-up di atas aspal yang kasar. Magnus berdiri di sana, memperhatikan mereka sambil melirik jam tangannya.
"Baru satu tetes, Pie," bisik Magnus saat melewati Pie yang sedang berjuang melakukan push-up. "Masih ada sisa 5 liter lagi di ember itu. Masih berani bilang saya 'sok iye'?"
Pie mendongak, matanya merah karena mengantuk dan marah, tapi mulutnya tetap tidak mau kalah. "Baru segini doang kak? Kirain mau disuruh nyelam di kolam ikan tadi."
Magnus menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke arah Mia.
"Mia, sepertinya ide Pie bagus. Setelah ini selesai, bawa mereka ke kolam ikan Pak Apit. Kita lihat apa mereka masih bisa bicara sombong setelah berenang dengan ikan gurame jam 3 pagi."
Ammar dan Ara hampir pingsan mendengarnya. Mereka menatap Pie dengan tatapan "Tolong diam atau kita semua mati di sini!"
Magnus tertawa kecil, setidaknya nya dia masih punya hati nurani. Untuk membiarkan adik kelas nya lulus jurit malam
"Haha, kalian lucu juga ya?",ucap magnus dengan nada yang 180 derajat berbeda dari sebelumnya
"Okeh..karena saya masih punya hati, kalian boleh balik ke aula dan tidur"
"Bilang makasi ke pie tuh, kalo dia gak ceplas ceplos. Trus kalian diem aja bakal lebih serem..kaya kelompok 3",sahut Mia dengan santai
Karis hanya diam. melihat waktu di jam tangannya masing masing pos hanya berwaktu 30 menit. sementara waktu mereka memakan waktu 45 menit. Ia tahu bahwa pembina pasti akan memarahi mereka karena memberi hukuman yang nyeleneh
Kelompok 6 langsung baris dan memberi salam sebelum pergi
Skipp saat balik
Matahari siang Jakarta Selatan bersinar terik, seolah ingin menghapus hawa dingin mencekam dari LDKS semalam. Di parkiran SMP Cendana, suasana sudah jauh lebih cair. Para siswa yang tadi malam menangis, kini sudah tampak segar setelah mandi dan berganti seragam olahraga bersih.
Pie Aiira berdiri di dekat gerbang dengan wajah yang masih ditekuk 180 derajat. Meski sudah mandi, rasa kesal pada kakak kelasnya terutama pada sosok ketua panitia itu
masih menumpuk di ubun-ubun.
Tak lama, sebuah mobil SUV hitam berhenti tepat di depannya. Seorang pria turun dengan kemeja rapi yang lengannya digulung hingga siku. Dia adalah Revan, ayah Pie. Wajahnya yang awet muda seringkali membuat orang salah sangka kalau dia masih kakak tertua mereka.
"Gimana LDKS nya, Tuan Putri? Sukses jadi calon pemimpin?" tanya Revan sambil tersenyum lebar, menyambut anak perempuannya.
Pie tidak membalas senyuman itu. Ia langsung cemberut maksimal. "Sukses bikin Pie mau pindah sekolah, Yah!"
Revan tertawa kecil. "Loh, kenapa? Seru kan?"
"Seru dari mana?! Itu si Magnus!" Pie menunjuk dengan jempolnya ke arah gedung sekolah di mana para panitia masih berkumpul.
"Dia jahat banget, Yah! Masa Pie sama temen-temen disuruh lari 50 kali, terus disuruh mindahin air bekas cuci piring pake sendok teh jam 2 pagi! Terus terakhirnya disuruh masuk kolam ikan!"
Revan mengangkat alisnya, mencoba menahan tawa. "Wah, abang kamu totalitas banget ya kalau jadi ketua?"
"Bukan totalitas, itu mah dendam pribadi karena di rumah Pie sering ngabisin sosisnya!" dumal Pie.
Tepat saat itu, Magnus berjalan keluar dari lobi sekolah menuju parkiran bersama Karis dan Mia. Wajah Magnus masih tampak lempeng dan berwibawa, sangat kontras dengan Pie yang sudah seperti bom waktu.
"Oh, Ayah udah jemput?" sapa Magnus dengan nada sopan dan tenang saat sampai di depan mobil.
Revan menepuk bahu anak laki-lakinya itu. "Hebat kamu ya, Mag. Adek sendiri sampe mau lapor komnas anak katanya."
Magnus melirik Pie dengan senyum miring yang sangat menyebalkan senyum yang sama seperti saat ia menghukum kelompok 6 semalam.
"Dia harus belajar disiplin, Yah. Di organisasi nggak ada sistem 'adek ketua'. Semuanya sama di mata hukum."
"Hukum mata lo peyang!" umpat Pie pelan tapi terdengar.
"Tuh, Yah. Mulutnya perlu disekolahin lagi kan?" sahut Magnus santai sambil hendak masuk ke pintu depan mobil.
Tapi Magnus lupa satu hal: Pie Aiira bukan tipe orang yang membiarkan dendamnya dibawa pulang tanpa pembalasan.
CTAK!!
"ARGHHHH!!" Magnus spontan memegang kaki kanannya dan meloncat-loncat kecil.
Pie baru saja melayangkan tendangan telak menggunakan sepatu ketsnya tepat ke tulang kering Magnus.
Tenaganya tidak main-main, seolah seluruh rasa kantuk dan lelah semalam disatukan dalam satu serangan itu.
"PIE! Sakit, bego!" bentak Magnus, wajah kerennya langsung hilang berganti ekspresi menahan nyeri yang luar biasa.
"Rasain! Itu buat air kolam ikan semalem!" seru Pie sambil cepat-cepat masuk ke kursi belakang mobil dan mengunci pintunya. "Yah, ayo jalan! Tinggalin aja dia di sini, biar dia pulang jalan kaki pake 'kedisiplinan'-nya!"
Revan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan kedua anaknya. Ia menatap Magnus yang masih meringis sambil mengusap tulang keringnya yang pasti bakal memar biru itu.
"Lagian kamu, Mag... kalau jail jangan kebangetan sama adek sendiri," ujar Revan santai sambil masuk ke kursi kemudi. "Ayo masuk, keburu makin bengkak itu kaki."
Magnus masuk ke mobil dengan tertatih-tatih, sambil terus melemparkan tatapan tajam ke arah Pie lewat kaca spion tengah. Pie? Dia hanya menjulurkan lidahnya dengan puas, lalu memasang earphone seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
"Awas lo ya, di rumah piring lo gue kasih garem," ancam Magnus ketus.
"Coba aja, nanti Ayah yang aku aduin lagi!" balas Pie telak.
Selesai.