Di kota kecil yang selalu basah oleh hujan, Arya belajar memahami dunia dengan caranya sendiri. Kota itu tidak istimewa—jalanannya sempit, bangunannya tua, dan langitnya sering kelabu. Namun bagi Arya, hujan adalah bahasa. Setiap tetesnya seperti kata yang jatuh perlahan, membentuk makna di dalam kepala.
Arya tidak pandai bicara. Ia sering salah memilih kata, sering terdiam saat seharusnya menjawab. Tapi ketika sendirian, di hadapan kertas kosong dan tinta hitam, dunia terasa jauh lebih jujur. Puisi adalah satu-satunya tempat di mana Arya tidak perlu berpura-pura berani.
Klub seni sekolah menjadi pelariannya. Ruangan itu kecil, dindingnya dipenuhi lukisan dan potongan puisi lama. Di sanalah Arya menghabiskan hampir setiap sore, duduk di pojok ruangan, menulis tentang hal-hal sederhana: hujan yang jatuh di atap seng, senja yang perlahan pudar, dan perasaan yang tidak pernah ia ucapkan pada siapa pun.
Hari itu berjalan seperti hari-hari lainnya. Hujan turun sejak pagi, membuat halaman sekolah licin dan dingin. Arya duduk di bangkunya, menulis puisi tentang suara hujan yang mengetuk jendela. Hingga tanpa ia sadari, seseorang masuk ke dalam ruangan klub seni.
Namanya Naya.
Arya tidak langsung menoleh. Ia hanya menyadari perubahan kecil di udara—seperti cahaya yang tiba-tiba lebih hangat. Ketika akhirnya ia mengangkat kepala, ia melihat seorang gadis berdiri di dekat rak lukisan, tersenyum sambil memperhatikan sekitar.
Naya memiliki senyum yang sederhana, tapi entah kenapa terasa berbeda. Senyum yang tidak dibuat-buat. Rambutnya diikat rendah, beberapa helai jatuh membingkai wajahnya. Ia terlihat seperti seseorang yang membawa matahari kecil ke dalam ruangan yang selalu tenang itu.
Sejak hari itu, Arya mulai menulis tentang sesuatu yang baru.
Bukan lagi hanya hujan atau senja, tapi tentang cara seseorang tertawa tanpa ragu. Tentang langkah ringan yang membuat ruangan terasa hidup. Tentang nama yang diam-diam mulai sering muncul di kepalanya.
Naya.
Namun Arya tetap Arya. Ia tidak mendekat. Ia hanya memperhatikan dari kejauhan, mencuri pandang sesekali, lalu kembali menunduk. Bagi Arya, memperhatikan saja sudah cukup. Berani berbicara adalah hal lain yang belum bisa ia lakukan.
Hari-hari berlalu. Klub seni menjadi tempat mereka sering berada di waktu yang sama. Naya suka membaca puisi orang lain. Ia sering tersenyum saat menemukan bait yang ia suka, kadang mengangguk kecil seolah mengerti isi hati penulisnya.
Suatu sore, Arya lupa membawa pulang salah satu puisinya. Kertas itu tertinggal di meja, terlipat rapi.
Dan Naya menemukannya.
“Ini kamu yang nulis?”
Suara itu membuat Arya terkejut. Ia mendongak dan melihat Naya berdiri di depannya, memegang kertas itu dengan hati-hati.
Wajah Arya memanas. Ia ingin mengangguk, tapi lehernya terasa kaku. Akhirnya ia hanya berkata pelan, “Iya.”
Naya membaca ulang puisi itu, lalu tersenyum.
“Indah,” katanya. “Kata-katanya sederhana, tapi rasanya… dekat.”
Satu kalimat itu lebih berarti dari apa pun yang pernah Arya dengar.
Sejak saat itu, jarak di antara mereka perlahan memudar. Tidak hilang sepenuhnya, tapi cukup dekat untuk saling menyapa. Naya sering duduk di dekat Arya, meminta ia membacakan puisinya. Kadang tentang hujan, kadang tentang hal-hal kecil yang tidak terpikirkan orang lain.
Arya mulai menulis lebih banyak. Lebih jujur. Lebih berani—setidaknya di atas kertas.
Hari demi hari, Arya menyadari sesuatu yang tidak bisa ia hindari: ia jatuh cinta.
Bukan cinta yang meledak-ledak, tapi cinta yang tumbuh pelan, seperti hujan yang meresap ke tanah. Cinta yang hadir dalam diam, dalam perhatian kecil, dalam puisi yang tak pernah ia berikan.
Namun Arya memilih menyimpan perasaan itu. Ia merasa kata-kata lisan terlalu kasar untuk perasaan selembut ini. Maka ia terus menulis, menuangkan segalanya ke dalam buku catatan cokelat yang selalu ia bawa.
Hingga suatu hari, Naya mulai jarang datang ke klub seni.
Awalnya Arya tidak curiga. Ia pikir Naya hanya sibuk. Tapi hari demi hari, bangku di sebelahnya tetap kosong. Senyum itu tidak lagi muncul di pintu.
Arya mulai merasa gelisah.
Ia bertanya pada teman-teman, hingga akhirnya mendengar kabar itu: Naya sakit. Cukup serius hingga harus dirawat.
Hati Arya terasa seperti diremas perlahan. Ada ketakutan yang tidak bisa ia jelaskan. Ketakutan kehilangan sesuatu yang bahkan belum sempat ia miliki sepenuhnya.
Beberapa hari kemudian, dengan keberanian yang terasa asing, Arya mengunjungi Naya di rumah sakit. Ia membawa sesuatu yang selama ini paling berharga baginya: buku puisinya.
Naya terlihat lebih pucat, tapi senyumnya masih sama.
“Kamu datang,” katanya pelan.
Arya mengangguk, duduk di sampingnya. Tangannya gemetar saat menyerahkan buku itu.
“Aku ingin kamu tahu,” katanya dengan suara hampir tak terdengar, “semua puisi di situ… tentang kamu.”
Naya terdiam. Matanya berkaca-kaca.
“Terima kasih, Arya,” katanya lembut. “Puisimu membuat aku merasa tidak sendirian.”
Mereka saling menggenggam tangan. Tidak ada janji besar, tidak ada kata cinta yang diucapkan. Tapi keheningan di antara mereka penuh makna.
Namun waktu tidak pernah menunggu siapa pun.
Kondisi Naya semakin memburuk. Arya hanya bisa menunggu, menulis, dan berharap. Hingga suatu hari, hujan turun lebih deras dari biasanya—dan Naya pergi.
Arya tidak menangis di depan siapa pun. Ia hanya kembali ke klub seni, duduk di pojok ruangan, dan menulis.
Karena bagi Arya, selama kata-kata masih mengalir,
Naya tidak benar-benar pergi.
Ia hidup di setiap bait,
di setiap hujan,
di setiap puisi
yang ditulis dengan cinta
yang terlambat terucap.
---