Nara selalu duduk di bangku dekat jendela kelas. Ia suka melihat hujan turun pelan, seolah setiap tetesnya membawa perasaan yang tak pernah ia ucapkan. Di bangku depan, ada Raka—siswa pendiam yang jarang bicara, tapi selalu memperhatikan.
Mereka tidak pernah benar-benar dekat. Hanya saling bertukar catatan saat pelajaran dan senyum kecil ketika mata mereka tak sengaja bertemu. Namun bagi Nara, hal-hal kecil itu terasa berarti.
Suatu hari, Nara lupa membawa buku. Tanpa diminta, Raka mendorong bukunya ke arah Nara.
“Pakai punyaku,” katanya singkat.
Sejak hari itu, Nara mulai menyadari sesuatu. Raka selalu ada—saat ia kesulitan memahami pelajaran, saat ia tampak lelah, bahkan saat ia diam. Perhatian Raka tidak pernah berlebihan, tapi selalu tepat.
Di akhir semester, hujan turun deras. Kelas hampir kosong. Raka berdiri di depan Nara, wajahnya gugup.
“Aku nggak pandai bicara,” katanya pelan, “tapi aku nyaman saat ada kamu.”
Nara tersenyum. Untuk pertama kalinya, hujan terasa hangat.
Kadang, cinta tidak perlu banyak kata. Cukup hadir, cukup peduli, dan cukup berani jujur di waktu yang tepat.