Di sebuah desa kecil yang dikelilingi sawah hijau membentang, hiduplah seorang gadis bernama Lintang. Ia memiliki mata yang berbinar seperti bintang dan mimpi yang sebesar langit. Lintang ingin menjadi seorang penulis terkenal, menyihir dunia dengan kata-kata yang ia rangkai. Setiap hari, ia menyelinap ke perpustakaan desa, tenggelam dalam lautan buku, dan mencatat ide-ide yang berkelebat di benaknya dalam sebuah buku catatan usang.
Kekasih Lintang, Raka, adalah seorang pemuda desa yang sederhana. Ia bekerja sebagai petani, membantu orang tuanya menggarap sawah. Raka tidak terlalu mengerti dunia Lintang yang penuh dengan kata-kata dan imajinasi. Namun, ia sangat mencintai Lintang dan selalu mendukung impiannya.
Suatu hari, sebuah keajaiban terjadi. Lintang mengikuti sebuah lomba menulis cerpen tingkat nasional, dan ia berhasil meraih juara pertama. Cerpennya, yang berjudul "Senja di Desa Kita," berhasil memukau para juri dengan keindahan bahasa dan pesan yang mendalam.
Kemenangan itu membuka pintu bagi Lintang. Ia mendapatkan tawaran dari sebuah penerbit besar untuk menerbitkan novelnya. Lintang sangat senang dan terharu. Impiannya akhirnya akan menjadi kenyataan.
Namun, kebahagiaan Lintang tidaklah sempurna. Ia merasa khawatir dengan Raka. Ia takut jika Raka akan merasa minder dan cemburu dengan kesuksesannya. Ia takut jika Raka tidak akan bisa menerima dirinya yang akan segera menjadi seorang penulis terkenal.
"Raka, aku... aku akan menerbitkan novelku," kata Lintang dengan ragu, suatu sore saat mereka duduk di bawah pohon rindang di tepi sawah.
Raka menatap Lintang dengan tatapan lembut. "Aku tahu, Lintang. Aku sudah mendengar beritanya. Aku sangat bangga padamu," jawab Raka dengan senyum tulus.
Lintang merasa lega mendengar ucapan Raka. Namun, ia masih belum yakin. "Tapi... aku akan sering pergi ke kota. Aku akan bertemu dengan banyak orang baru. Aku takut jika kamu akan merasa kesepian," kata Lintang.
Raka menggenggam tangan Lintang dengan erat. "Aku mungkin akan merindukanmu, Lintang. Tapi aku tidak akan kesepian. Aku akan selalu ada di sini, menunggumu. Aku percaya padamu," kata Raka.
Lintang terharu mendengar ucapan Raka. Ia memeluk Raka erat. "Terima kasih, Raka. Kamu selalu mengerti aku," kata Lintang.
Lintang mulai mempersiapkan penerbitan novelnya. Ia sering pergi ke kota untuk bertemu dengan editor dan desainer buku. Ia juga mengikuti berbagai acara promosi dan wawancara.
Raka selalu mendukung Lintang dari jauh. Ia tidak pernah ikut campur dalam urusan karier Lintang. Ia hanya ingin Lintang bahagia dan sukses.
Namun, seiring dengan kesuksesan Lintang, Raka mulai merasa minder. Ia merasa tidak pantas untuk Lintang. Ia merasa bahwa Lintang telah jauh melampaui dirinya.
Suatu malam, Raka memberanikan diri untuk berbicara dengan Lintang. "Lintang, aku... aku merasa tidak pantas untukmu. Kamu sekarang sudah menjadi seorang penulis terkenal. Kamu pantas mendapatkan seseorang yang lebih baik dariku," kata Raka dengan suara bergetar.
Lintang terkejut mendengar ucapan Raka. Ia menggenggam tangan Raka dengan erat. "Apa yang kamu katakan, Raka? Kamu adalah orang yang paling penting dalam hidupku. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu," kata Lintang.
Raka menatap Lintang dengan tatapan tidak percaya. "Tapi... aku hanya seorang petani. Aku tidak bisa memberikan apa-apa kepadamu," kata Raka.
Lintang tersenyum lembut. "Kamu salah, Raka. Kamu telah memberikan segalanya kepadaku. Kamu telah memberikan cinta, dukungan, dan kepercayaanmu. Itu lebih dari cukup," kata Lintang.
Lintang mendekat dan memeluk Raka erat. "Aku mencintaimu, Raka. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu," bisik Lintang.
Raka membalas pelukan Lintang dengan erat. Ia merasa lega dan bahagia. Ia tahu bahwa cintanya dan Lintang adalah cinta yang sejati.
Novel Lintang akhirnya diterbitkan dan menjadi bestseller. Lintang menjadi seorang penulis terkenal. Namun, ia tidak pernah melupakan Raka. Ia selalu kembali ke desa, menemui Raka, dan menghabiskan waktu bersamanya.
Lintang membuktikan bahwa kesuksesan tidak akan merusak cinta sejati. Ia dan Raka tetap bersama, saling mencintai dan mendukung, hingga akhir hayat. Lintang adalah bintang di langit impian, dan Raka adalah bumi yang selalu menopangnya.