LINGSIR WENGI
Lingsir Wengi - Adalah waktu bergulirnya sang malam. Saatnya raga menempatkan diri pada peraduan. Jiwa berkelana tanpa halangan. Mungkinkah ia bisa kembali pada raga yang telah membumi?
_____
Sudah satu tahun aku tak pernah berkunjung ke sini. Kampung nenekku. Dulu saat masih SD aku selalu menginap di sini setiap liburan bulan puasa. Satu bulan penuh aku habiskan masa liburan bermain bersama teman-temanku.
Kami biasa bermain petak umpet di sekitar Mushola setiap habis Magrib. Atau berkejar-kejaran di sepanjang jalan berkerikil depan rumah. Kadang kami duduk manis di teras Mushola untuk bercerita hantu.
Hari ini, aku berkunjung kembali ke rumah nenekku. Aku sudah SMP, hanya beberapa hari aku akan berlibur di sini. Kegiatan Pondok Ramadhan di bulan puasa saat SMP membuat liburan tak lagi satu bulan penuh.
Nenekku masih sama seperti setahun yang lalu. Rambutnya masih hitam gradasi putih. Senyumnya masih meneduhkan hati. Dia duduk di bangku bilah bambu depan rumah melihat-lihat anak-anak yang bermain di depan Mushola seberang rumah.
Hari semakin malam. Aku pamit untuk ikut bermain bersama teman-teman yang lain. Nenek hanya terdiam. Pandangannya menerawang jauh. Aku maklum. Nenek sudah semakin tua. Aku berlalu tanpa menunggu persetujuannya.
Ikut berkumpul segerombolan anak di teras Mushola. Satu anak menjadi penjaga, berdiri menghadap dinding bercat hijau muda, dengan kedua mata tertutup. Menghitung maju, satu, dua, tiga, empat....
"Lima... enam... tujuh... delapan... sembilan... sepuluh...."
Di hitungan ke sepuluh dia membuka mata, berbalik, dan mulai mencari kami. Aku bersembunyi di balik pintu Mushola bercat hijau tua. Serasi sekali dengan dindingnya. Bajuku yang lusuh menempel ke dinding dan pintu. Seakan aku melesak masuk menembus dinding. Dia melewatiku, tapi tak melihatku. Aku menahan nafas agar tak ketahuan.
Lima belas menit berlalu. Mereka sudah berganti penjaga sebanyak tiga kali. Tapi mereka tak juga menemukanku. Aku sudah lelah bersembunyi. Saat aku keluar dari persembunyianku, seorang anak laki-laki yang lebih dewasa dari kami datang. Menyuruh kami pulang.
"Ini sudah malam. Cepat pulang. Apa kalian tidak tahu ini malam Jumat Kliwon. Masih berkeliaran di luar. Cepat masuk rumah sana!" usirnya.
Sekumpulan anak-anak itu terlihat ketakutan dengan ancaman si anak laki-laki. Aku pun. Ikut berhamburan pulang.
"Hey, tunggu..." teriakku pada dua orang anak perempuan yang menaiki sepeda. "Sendalmu tertukar!"
Kedua anak itu menoleh tapi tak berhenti. Aku berlari membawakan sendalnya. Mereka semakin cepat mengayuh sepeda.
Karena sudah lelah berlari, aku putuskan melayang saja mengejar mereka agar cepat tersusul.
___***___