Malam itu, langit desa seolah tertutup kelambu hitam yang pekat. Angin berhembus pelan, membawa aroma tanah basah dan wangi kembang kamboja yang entah datang dari mana. Di bawah temaram lampu jalan yang sesekali berkedip, sebelas orang anak kelas 6 SD tengah berkumpul.
Usia kami saat itu adalah usia di mana rasa penasaran jauh lebih besar daripada rasa takut. Ada aku (Kevin), Aldo, Fadil, Adit, Lena, Dea, Nita, Fajar, Amru, Nana, dan Tiar.
"Main petak umpet yuk! mumpung malam minggu," usul Aldo sambil menendang kaleng kosong.
Awalnya permainan berjalan normal. Aku sempat jadi penjaga di awal, dan suasana masih terasa aman karena kami hanya bermain di sekitar pelataran rumah warga yang terang. Gelak tawa masih terdengar renyah. Namun, waktu merayap cepat. Tanpa terasa, jam di pergelangan tanganku sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam.
Suasana mulai berubah. Udara terasa lebih dingin, dan suara jangkrik yang tadinya ramai tiba-tiba senyap. Saat itu, Amru kalah. Ia harus menjadi penjaga karena posisinya berhasil diketahui oleh Aldo.
"Awas ya kalian, kutangkap semua!" seru Amru sambil mulai menutup mata di pohon mangga besar yang menjadi 'benteng'.
Saat kami bersiap untuk berpencar, Fadil tiba-tiba mendekat. Wajahnya tampak sedikit pucat di bawah sinar bulan yang tipis. Ia membisikkan sesuatu dengan suara yang sangat lirih, hampir seperti desis angin.
"Yuh, ngumpetnya ngumpul semua aja... jadi satu kelompok. Jangan pencar, perasaanku nggak enak," bisik Fadil.
Anehnya, kami semua setuju. Biasanya kami berebut tempat paling tersembunyi secara mandiri, tapi malam itu, ada rasa dingin yang merayap di tengkuk kami masing-masing, memaksa kami untuk tetap berdekatan.
Tiar, yang biasanya paling diam, tiba-tiba memberi ide gila. "Gimana kalau kita ngumpet di sekitar sumur tua yang dipageri itu? Di sana gelap banget, Amru pasti nggak bakal berani nyari ke sana."
Mendengar itu, Lena langsung bergidik ngeri. "Yang bener aja! Ogah banget mah ngumpet di situ. Itu serem loh, Tiar! Banyak orang cerita kalau sumur itu ada penunggunya."
Dea menimpali dengan suara gemetar, "Iya bener, aku nggak mau. mending kalah daripada harus ke sana."
Adit, yang dikenal paling pemberani (atau mungkin paling sombong), tertawa mengejek. "Gitu aja takut! Katanya berani main malam-malam. Cemen!"
Nita yang merasa tertantang langsung membalas pedas, "Mana ada kita takut ya! Lu aja yang banyak omong. Ayo kalau mau ke sana, siapa takut?"
"Iya, huuu! Penakut!" ejek Nana ikut memanasi suasana.
Akhirnya, ego mengalahkan logika. Aku memimpin barisan di depan. Kami berjalan mengendap-endap menuju area sumur tua tersebut. Sumur itu terletak di pojok lahan kosong yang rimbun dengan pohon pisang dan rumpun bambu. Namun, ketakutan kami sedikit mereda saat melihat sekitar enam langkah dari sumur itu, ada sebuah rumah kayu. Di terasnya, ada dua orang bapak-bapak yang sedang duduk santai sambil merokok dan mengobrol.
"Aman, ada orang gede," bisik Lena lega.
Kami pun mulai mengatur posisi. Agar benar-benar tersembunyi dan tidak menimbulkan suara gaduh, kami berbaris memanjang seperti gerbong kereta, berjongkok rendah di balik pagar tembok rendah dekat sumur.
Posisinya adalah: Aku di paling depan sebagai lokomotif, diikuti Nita, Lena, Nana, Dea, Aldo, Adit, Fajar, Fadil, dan terakhir Tiar sebagai ekor barisan. Kami saling memegang pundak atau baju teman di depan agar tidak terpisah dalam kegelapan.
Dari kejauhan, sayup-sayup kami mendengar suara Amru yang frustrasi.
"Sial! Mereka ke mana sih? Ngumpet kok niat banget, masa nggak ada satu pun!" teriak Amru. Suara langkah kakinya terdengar berlari ke sana kemari, menjauh lalu mendekat, namun ia tak kunjung berani masuk ke area gelap dekat sumur.
Waktu berlalu. 10 menit... 20 menit... sampai 30 menit kami menunggu dalam keheningan yang menyesakkan. Kaki kami mulai kesemutan, tapi tak ada yang berani bersuara. Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam lewat sedikit.
Tiba-tiba, Nita yang berada tepat di belakangku menyentuh pundakku dengan keras. Aku menoleh sedikit, tapi dia sedang menatap ke arah belakang, ke arah barisan teman-teman kami.
Nita melihat sesuatu yang janggal. Matanya tertuju pada bagian paling belakang, di belakang Tiar. Di sana, di balik keremangan, ia melihat sebuah kaki. Bukan kaki anak kecil. Kaki itu berukuran sangat besar, berbulu lebat, dan warnanya hitam legam seperti arang.
"Vin... Vin..." bisik Nita pelan sekali.
"Apa sih? Diem, nanti ketahuan Amru," jawabku ketus tanpa menoleh.
"Vin, itu kaki siapa di belakang Tiar?"
Aku terdiam. Jantungku berdegup kencang. Aku tak berani menoleh jauh ke belakang.
Nita yang masih penasaran kemudian berbisik pada Lena di belakangnya. "Len, itu belakang Tiar kaki siapa?"
Lena pun memberanikan diri melongok ke arah bawah, ke arah kaki-kaki yang berbaris. Seketika wajah Lena pucat pasi. Ia hampir berteriak namun segera membekap mulutnya sendiri. Ia kembali menghadap ke depan dan berbisik ke telinga Nita dengan suara bergetar.
"Nit... ayo hitung kakinya. Harusnya kalau kita bersepuluh, ada sepuluh pasang kaki..."
Mereka berdua mulai menghitung dalam hati, menatap deretan kaki yang berjongkok di kegelapan.
Satu... dua... tiga... sembilan... sepuluh...
Dan di sana, tepat di belakang kaki Tiar yang mungil, terdapat sepasang kaki kesebelas. Besar, kokoh, dan tampak sangat mengerikan.
Nita menyenggol punggungku lagi. "Vin, ada sebelas orang. Ada sebelas pasang kaki!"
Aku langsung menoleh ke belakang dengan cepat. Darahku seolah berhenti mengalir. Benar. Ada kaki tambahan yang tidak seharusnya ada di sana. Aku segera menyadari bahaya ini.
"Oper pesan ini ke belakang," bisikku pada Nita. "Bilang ke semuanya, hitungan ketiga, lari sekencang-kencangnya ke arah Amru. Jangan menoleh."
Nita membisikkan pesan itu ke Lena. Lena ke Nana. Nana ke Dea. Terus berlanjut ke Aldo, Adit, Fajar, Fadil, hingga sampai ke Tiar yang berada di posisi paling belakang.
Saat pesan itu sampai ke Tiar, anak itu hampir pingsan. Dia merasa ada hawa panas yang meniup tengkuknya sejak tadi. Kami semua saling bertatap-tatapan dalam kegelapan. Kesombongan Adit tadi hilang entah ke mana, wajahnya kini pucat seperti mayat.
Rasa penasaran yang maut membuat kami melakukan kesalahan fatal: Kami semua secara serempak mendongak ke atas untuk melihat siapa "peserta kesebelas" itu.
Di sana, berdiri tegak melampaui tinggi pagar, bahkan kepalanya hampir sejajar dengan genteng rumah di dekatnya, sesosok makhluk raksasa. Badannya hitam pekat dipenuhi bulu kasar. Matanya merah menyala seperti bara api yang ditiup angin, menatap kami dengan tatapan lapar. Itu adalah Genderuwo.
"AKKKHHHH!!! SETAAANN!!!"
Teriakan kami pecah membelah keheningan malam. Kami bersepuluh lari kocar-kacir, tidak lagi peduli dengan formasi kereta. Kami berlari sekuat tenaga, melompati pagar, menabrak semak-semak, hanya ingin menjauh dari sumur itu.
Bapak-bapak yang tadi sedang asyik merokok pun tersentak kaget. Saat mereka menoleh ke arah sumur untuk melihat apa yang membuat anak-anak itu berteriak, mereka pun melihat sosok hitam tinggi besar itu sedang berdiri tegak di bawah pohon.
"Astaga! Lari!" teriak salah satu bapak.
Suasana menjadi chaos. Salah satu bapak langsung lari masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu rapat-rapat, sementara temannya yang lain langsung melompat ke atas motor dan memacu kendaraannya tanpa sempat memakai helm.
Kami semua berlari menuju lapangan tempat Amru berada. Amru yang tadinya bingung melihat kami lari tunggang-langgang, ikut ketakutan.
"Eh, kenapa kalian?! Kok lari?!" teriak Amru bingung.
Fajar yang sampai duluan langsung jatuh tersungkur, napasnya memburu. "Di... di sumur... ada... ada gede banget!"
Kami saling menyambung cerita dengan suara yang masih gemetar dan putus-putus. Keberanian kami sudah habis tak bersisa. Malam yang tadinya kami kira akan menjadi malam permainan yang seru, berubah menjadi trauma yang tak terlupakan.
Tanpa dikomando lagi, kami semua langsung bergegas pulang ke rumah masing-masing. Aku berlari masuk ke kamar, menyelimuti seluruh tubuhku meski udara malam itu sangat panas. Bayangan sepasang kaki hitam besar dan mata merah di dekat sumur itu terus terbayang setiap kali aku memejamkan mata.
Sejak malam itu, kami tidak pernah lagi bermain petak umpet lewat pukul sembilan malam. Dan sumur tua itu tetap berdiri di sana, membisu, menyimpan rahasia tentang siapa sebenarnya yang menjadi "orang kesebelas" dalam permainan kami malam itu.