Pada masa ketika gunung masih bisa berpindah tempat dan sungai belum memiliki nama, manusia hidup berdampingan dengan para penunggu alam. Mereka tidak menyebutnya dewa, sebab kata itu belum lahir. Mereka hanya tahu: ada sesuatu yang lebih tua dari api, lebih sabar dari batu, dan lebih setia daripada waktu itu sendiri.
Di sebuah lembah yang kini telah menjadi lautan pasir, berdiri sebuah desa kecil bernama Tanaraga. Desa itu dibangun mengelilingi sebuah batu raksasa yang menjulang seperti pilar patah dari langit. Batu itu disebut Batu Langkara,batu yang tidak pernah retak, tidak pernah berubah warna, dan tidak pernah berpindah, meski gempa dan banjir silih berganti menelan dunia.
Orang-orang Tanaraga percaya: selama Batu Langkara berdiri, langit tidak akan jatuh.
---
Setiap tujuh tahun sekali, desa Tanaraga mengadakan upacara Nyanyian Batu. Pada malam tanpa bulan, para tetua akan mengelilingi Batu Langkara, melantunkan syair tua dalam bahasa yang bahkan mereka sendiri tak lagi pahami. Anak-anak dilarang mendekat, orang sakit harus berdiam di rumah, dan api dipadamkan di seluruh desa.
Hanya suara manusia dan angin yang boleh ada.
Konon, pada malam itu, Batu Langkara akan “mendengar”.
Namun tak ada satu pun dari mereka yang benar-benar tahu apa artinya didengar oleh batu.
---
Aru adalah anak yang lahir pada malam Nyanyian Batu terakhir. Saat ibunya melahirkan, angin bertiup dari arah yang salah, dan Batu Langkara—untuk pertama kalinya—mengeluarkan bunyi. Bukan retakan, bukan gemuruh. Melainkan sebuah dengungan rendah, seperti napas panjang yang ditahan terlalu lama.
Para tetua saling berpandangan, namun tak satu pun berkata apa-apa.
Sejak kecil, Aru berbeda.
Ia bisa merasakan perubahan tanah sebelum hujan turun. Ia tahu kapan sungai akan meluap meski langit masih cerah. Dan ketika ia menyentuh Batu Langkara, ia mendengar sesuatu—bukan dengan telinga, melainkan dengan dada.
Seperti gema yang tersesat.
---
Pada usianya yang ketujuh belas, saat Nyanyian Batu kembali tiba, Tanaraga dilanda kegelisahan. Burung-burung pergi ke arah utara tanpa alasan. Tanah retak di ladang. Sumur-sumur mengering.
Para tetua memutuskan satu hal yang belum pernah dilakukan sebelumnya.
Aru harus ikut dalam upacara.
"Anak-anak tidak boleh," protes ibunya dengan suara bergetar.
Tetua tertua, seorang perempuan bernama Ina Rawa, menatap Aru lama sekali sebelum menjawab.
"Ia bukan anak lagi," katanya pelan. "Dan Batu memanggilnya."
---
Malam itu, desa Tanaraga gelap gulita.
Tak ada obor. Tak ada pelita. Tak ada doa selain syair tua.
Aru berdiri di hadapan Batu Langkara, telapak tangannya menempel pada permukaan dingin yang terasa hangat di baliknya. Para tetua mulai bernyanyi.
Suara mereka serak, patah-patah, namun ritmenya tetap terjaga. Angin berputar mengelilingi mereka, membawa debu dan aroma tanah kering.
Lalu—
batu itu menjawab.
Dengungan yang dulu hanya Aru rasakan kini terdengar oleh semua orang. Tanah bergetar pelan, seolah dunia sedang menarik napas.
Aru terjatuh ke dalam gelap.
---
Ia tidak bermimpi.
Ia berada di sebuah dataran luas, di mana langit menggantung rendah dan retak seperti kaca tua. Di hadapannya berdiri sosok raksasa dari batu dan cahaya—retakan di tubuhnya memancarkan sinar keemasan yang berdenyut lemah.
"Akhirnya," suara itu bergema tanpa mulut. "Keturunan pendengar."
"Siapa kau?" tanya Aru, meski suaranya nyaris tak keluar.
"Aku adalah yang mengikat langit pada tanah," jawab sosok itu. "Aku adalah Langkara sebelum aku menjadi batu."
Aru gemetar.
"Langit sedang jatuh," lanjut Langkara. "Dan aku melemah."
---
Langkara menjelaskan bahwa pada awal dunia, langit dan bumi terpisah oleh kesepakatan. Namun kesepakatan itu membutuhkan penjaga, pengorbanan yang abadi.
Langkara memilih menjadi batu.
Setiap nyanyian manusia menguatkannya, mengingatkan dunia akan janji lama. Namun manusia mulai lupa. Nyanyian berubah menjadi ritual kosong, syair dilafalkan tanpa makna.
"Kini hanya sedikit yang bisa mendengar," kata Langkara. "Dan kau salah satunya."
Aru menunduk.
"Apa yang harus kulakukan?"
Langkara terdiam lama.
"Menggantikan aku."
---
Ketika Aru terbangun, fajar menyingsing. Para tetua tergeletak lemah, seolah usia mereka dirampas semalam. Batu Langkara retak—retakan kecil, namun cukup untuk membuat seluruh desa menangis.
Ina Rawa menatap Aru dengan mata basah.
"Kau sudah mendengar," katanya, bukan bertanya.
Aru mengangguk.
Ia tidak langsung menjawab apa pun.
---
Hari-hari berikutnya dipenuhi pertanda. Langit tampak lebih rendah. Bintang-bintang redup. Gempa kecil terjadi hampir setiap malam.
Aru berjalan menyusuri desa, menyentuh dinding rumah, mendengarkan tawa anak-anak, menghirup aroma roti panggang.
Ia mencintai dunia ini.
Dan justru karena itu, keputusannya terasa seperti merobek dada sendiri.
---
Pada malam ketiga puluh setelah Nyanyian Batu, Aru berdiri kembali di hadapan Batu Langkara. Tak ada upacara. Tak ada syair.
Hanya ia dan batu yang sekarat.
Ia meletakkan kedua telapak tangannya.
"Aku takut," bisiknya.
Batu itu hangat.
"Aku juga dulu," jawab suara yang kini lemah. "Namun dunia layak bertahan."
Aru menarik napas panjang.
Dan melangkah.
---
Ketika matahari terbit keesokan harinya, Batu Langkara kembali utuh.
Lebih tinggi. Lebih terang. Lebih sunyi.
Desa Tanaraga selamat.
Namun seorang pemuda bernama Aru tidak pernah terlihat lagi.
---
Tahun-tahun berlalu. Tanaraga menjadi legenda. Lembah berubah menjadi pasir. Lautan datang dan pergi.
Namun Batu Langkara tetap berdiri.
Kadang, jika angin bertiup dari arah yang salah, orang-orang yang melintas akan mendengar dengungan rendah—seperti nyanyian yang ditahan.
Dan jika seseorang cukup peka, mereka akan merasakan satu hal yang aneh namun hangat:
bahwa dunia ini masih diikat oleh seseorang yang pernah mencintainya.
Dan memilih diam agar segalanya tetap hidup.
Tamat.