Bel berdering, Markonah dan Zikri bergegas menuju kelas XI-2. Hari ini jadwalnya Informatika, mata pelajaran yang sangat dihindari Markonah. Namun, senyumnya merekah saat mendengar kabar guru Informatika berhalangan hadir. Jam kosong! Sorak sorai riang menggema di seantero kelas, kecuali Zikri.
Zikri, si kutu buku polos, justru menampilkan senyum tipis yang nyaris tak terlihat. Baginya, setiap pelajaran berharga, dan jam kosong adalah waktu yang terbuang sia-sia. Markonah yang hafal betul karakter Zikri hanya bisa menghela napas.
"Boris, tunggu sini ya," kata Markonah pada biawak kesayangannya. Boris mengangguk patuh, lalu melingkar di kaki Markonah. Tiba-tiba, Markonah merasa panggilan alam mendesak. "Zikri, aku ke toilet sebentar ya," pamitnya, meninggalkan Zikri dan Boris di kelas yang mulai riuh.
Saat itulah, suasana berubah drastis. Zikri, yang duduk seorang diri di bangkunya, mendadak menjadi pusat perhatian. Mata-mata nakal mulai mengamatinya. Bisik-bisik sinis terdengar semakin jelas.
"Eh, si Tengkorak sendirian," celetuk seorang siswa.
"Mumpung nggak ada Markonah, kerjain aja," timpal yang lain.
Tanpa Zikri sadari, para siswa laki-laki mulai mendekat. Mereka mengepungnya, memegang tangan dan kakinya. Zikri yang polos dan tidak berdaya hanya bisa meronta lemah.
"Lepasin! Kalian mau apa?" tanyanya dengan suara bergetar.
"Penasaran aja, beneran jadi berisi apa nggak badan lo sekarang," jawab seorang siswa sambil menyeringai. Tangannya mulai membuka kancing seragam Zikri satu per satu.
Zikri semakin panik. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia merasa malu, takut, dan tidak berdaya. Para siswa perempuan mengeluarkan ponsel mereka dan mulai merekam kejadian itu. Mereka berniat membuat video vlog untuk mengejek Zikri di sosmed.
Saat kancing terakhir hendak dilepas, Boris yang sedari tadi diam tiba-tiba bertindak. Ia melompat dengan gesit dan menggigit kaki para siswa yang memegangi Zikri. Ponsel-ponsel yang digunakan untuk merekam pun tak luput dari amukannya. Boris menghancurkannya dengan sabetan ekor dan cakaran.
"Krook! Krook!" Suara khas Boris menggelegar di seluruh kelas. Para siswa yang ketakutan berhamburan menjauh.
Di saat yang bersamaan, Markonah kembali ke kelas. Ia terkejut melihat pemandangan yang mengerikan di depannya. Zikri terduduk lemas dengan seragam yang berantakan, sementara Boris berdiri di depannya dengan posisi melindungi.
"Apa yang terjadi di sini?!" teriak Markonah dengan nada marah. Matanya memancarkan kemarahan yang membara.