Aku kira aku sudah cukup kuat.
Nyatanya tidak.
Seseorang mengirimkan fotomu—
kau tersenyum, berdiri di samping perempuan lain.
Aku tidak tahu siapa dia bagimu.
Dan aku terlalu pengecut untuk bertanya.
Sejak saat itu,
aku paham bahwa sebagian perasaan
memang tidak diciptakan untuk diperjuangkan,
melainkan untuk dikubur pelan-pelan.
Aku menyukaimu diam-diam,
selama bertahun-tahun yang bahkan
tidak pernah kamu sadari.
Aku membawa namamu ke mana pun aku pergi,
sampai dunia lain terasa tidak penting.
Hari ini aku berhenti berharap.
Bukan karena perasaanku habis,
tapi karena aku sudah kelelahan
menunggu seseorang yang tidak pernah menoleh.
Jika kau benar-benar bahagia,
biarlah aku yang mengalah.
Aku tidak ingin menjadi luka
di cerita hidupmu.
Aku akan pergi tanpa suara,
tanpa pengakuan,
tanpa pamit.
Namun satu hal yang tidak bisa kuhentikan—
kamu akan tetap hidup
di setiap kata yang kutulis.
Karena meski aku belajar melupakan,
kamu sudah terlanjur abadi dalam penulisanku.