Mentari pagi menyapa Zikri dengan siksaan. Tubuhnya remuk redam, hasil latihan paksa semalam. Dengan langkah gontai, ia menyeret diri ke sekolah. SMA Garuda, tempatnya menimba ilmu sekaligus menerima ejekan yang membuatnya ciut.
Sesampainya di lapangan, pemandangan kontras menyambutnya. Markonah, sang pacar yang tak pernah gagal membuatnya terpesona, tampak ceria bermain dengan Boris, biawak kesayangannya yang setia menemani. Di tengah keriangan itu, bayangan buruk mendekat. Sekelompok siswa, yang dikenal sebagai biang onar sekolah, menghampiri Zikri dengan tatapan meremehkan.
"Hei, Tengkorak! Sini lo!" teriak seorang dari mereka, namanya Jono, sambil mendorong bahu Zikri.
Zikri mencoba menghindar, tapi mereka mengepungnya. "Buka seragam lo! Penasaran gue, beneran jadi berisi apa enggak. Kemarin-kemarin kan cungkring banget," timpal yang lain, seorang berbadan tambun bernama Gendut, sambil menyeringai mengejek.
Zikri menolak mentah-mentah. Harga dirinya serasa diinjak-injak. Ia belum siap menunjukkan hasil latihannya yang masih jauh dari kata sempurna. Rasa malu dan tidak percaya diri menggerogoti keberaniannya.
"Nggak mau! Apa urusan kalian?" jawab Zikri dengan suara bergetar.
"Cieee, melawan sekarang? Biasanya juga diem aja," sahut Jono, semakin menjadi-jadi. "Ayolah, Zikri. Kita cuma mau lihat, kok. Siapa tahu aja lo sekarang udah jadi binaragawan dadakan."
Markonah, yang menyadari ada keributan, langsung berlari menghampiri Zikri. "Jangan ganggu Zikri!" bentaknya dengan suara lantang yang membuat semua orang terdiam.
Boris, yang setia berada di sisi Markonah, ikut menggertak dengan suara khasnya, "Krook! Krook!" Suara itu terdengar mengancam, membuat nyali para perundung sedikit menciut.
Para perundung itu terkejut melihat kedatangan Markonah. Mereka tahu betul, berurusan dengan Markonah sama dengan mencari masalah besar. Apalagi, ada Boris yang siap membela majikannya dengan segala cara.
"Santai, Markonah. Kita cuma bercanda," kata Jono mencoba meredakan suasana yang semakin panas.
"Bercanda?" Markonah menatap mereka dengan tatapan tajam setajam silet. "Bercanda kalian keterlaluan. Zikri nggak suka digituin. Sekarang, pergi dari sini sebelum aku Sikat Kalian Satu-satu!"
Para perundung itu akhirnya mundur perlahan, meninggalkan Zikri dan Markonah. Sebelum pergi, Gendut sempat berbisik, "Awas aja lo, Tengkorak. Lain kali nggak bakal selamat."
Zikri menatap Markonah dengan rasa terima kasih yang tak terhingga. "Makasih ya, sudah belain aku," ucapnya tulus.
Markonah tersenyum lembut. "Kamu pacarku. Sudah seharusnya aku melindungi kamu. Lagipula, aku nggak suka lihat ada yang berani macam-macam sama kamu."
Boris mengangguk-angguk, seolah setuju dengan perkataan Markonah. "Krook!"
Zikri merasa terharu. Ia tahu, Markonah selalu ada untuknya, dalam suka maupun duka. Ia tidak peduli dengan penampilannya yang kurus atau ototnya yang belum terbentuk. Markonah mencintainya apa adanya, dan itu sudah lebih dari cukup.
"Aku janji, aku akan jadi lebih kuat. Bukan cuma fisik, tapi juga mental. Aku nggak mau terus-terusan jadi orang yang lemah," kata Zikri dengan tekad membara di dalam hatinya.
Markonah tersenyum dan mengusap rambut Zikri dengan lembut. "Aku percaya sama kamu. Tapi ingat, Zikri, kamu nggak perlu berubah jadi orang lain demi siapa pun. Aku sayang kamu apa adanya."