Masa SMA bagi sebagian orang adalah tentang tumpukan buku dan ujian akhir yang menghantui. Namun bagiku, masa ini adalah tentang koridor sekolah yang pengap, aroma gorengan di kantin, dan sebuah nama yang entah bagaimana bisa melekat erat pada hariku layaknya noda tinta di seragam putih.
Aku Zia. Hari-hariku biasanya dihabiskan bersama empat sahabat karibku: Rani, Tiara, dan Ayu. Kami adalah tipe siswi yang lebih suka memojokkan diri di pojok kantin, tertawa hingga tersedak es teh, tanpa ingin menjadi pusat perhatian. Namun, takdir kelas 11 berkata lain.
Semuanya bermula dari sebuah gim ponsel. Karena sering bermain bersama David, sebuah rumor liar menyebar lebih cepat dari pengumuman libur sekolah. Dari kelas 11 IPA 1 hingga IPA 3, namaku dan David selalu disandingkan dalam satu kalimat yang sama.
Setiap kali aku melewati koridor, siulan dan sorakan "cie" selalu mengiringi langkahku. Aku risih. Bagiku, David hanyalah teman mabar. Tidak lebih. Karena jengah, aku memilih membangun tembok tinggi; aku menjauh dari David demi ketenangan batinku.
Namun, saat memasuki kelas 12 IPA 2, aku nyaris pingsan saat melihat daftar absensi. Rani, Tiara, dan Ayu ada di sana. Tapi, nama David juga tertulis dengan tinta hitam yang seolah mengejekku. Benar saja, satu kelas seakan bersekongkol untuk menjadikanku bahan candaan abadi.
Hingga suatu ketika, fokus massa beralih.
Entah sejak kapan, sosok Rafael mulai masuk ke dalam radarku. Rafael itu berbeda. Dia bukan tipe pendiam seperti David. Dia adalah "pengganggu" profesional.
Jika aku sedang serius berkutat dengan tugas, dia pasti akan datang, entah itu menyenggol sikuku, menyembunyikan kotak pensilku, atau sekadar melontarkan komentar konyol yang membuatku ingin melemparnya dengan kamus bahasa Inggris.
Ketegangan di kelas 12 tidak hanya soal cinta-cintaan, tapi juga soal faksi. Kelompok kami yang kini berkembang menjadi delapan orang—tambah Laila, Sekar, Alfia, dan Rahma—sedang dalam masa "perang dingin" dengan kelompok Kina yang beranggotakan enam orang. Masalah sepele yang dibesar-besarkan membuat kami tidak saling sapa.
Puncaknya terjadi pada jam pelajaran Bahasa Inggris. Suasana kelas sangat hening, hanya suara gesekan kertas dan napas berat siswa yang sibuk mencari arti kata. Rafael, David, dan Rafka adalah tiga serangkai yang entah bagaimana memiliki otak encer. Mereka bertiga sudah menyelesaikan tugas dan mendapatkan nilai sempurna: 100.
Kina, dengan langkah angkuh, mendekati meja Rafael. "El, lihat jawaban dong," pintanya tanpa basa-basi.
Rafael hanya melirik malas. "Enggak. Kerjain sendiri," jawabnya singkat, padat, dan membuat Kina berlalu dengan wajah merah padam karena kesal.
Sekar yang melihat kejadian itu menyikut lenganku. "Zi, coba kamu yang minta. Pasti dikasih."
Aku melotot. "Gila ya? Kina aja ditolak, apalagi aku!"
Tapi Laila meyakinkanku dengan tatapan penuh arti. Dengan perasaan was-was, aku melangkah menuju meja "The Big Three" itu. Saat aku sampai, mereka bertiga langsung berhenti bicara dan menatapku dengan seringai yang tak bisa kujelaskan.
"Mau apa kamu, Zia?" tanya Rafael dengan nada menggoda yang khas.
"Lihat jawabannya dong, Fa," bisikku pelan, siap-siap jika dia akan menertawakanku.
Namun, di luar dugaan, Rafael menarik kertas tugasnya dan menyodorkannya padaku. "Nih, ambil aja."
Sontak, seisi kelas—terutama kelompok Kina—melongo. Suasana mendadak riuh dengan bisik-bisik tak sedap. "Kok dia dikasih? Pilih kasih banget!" protes salah satu teman Kina.
Rafael tidak tinggal diam. Ia bersandar di kursinya dengan santai dan membalas, "Kan ini tugas aku. Terserah aku dong mau kasih ke siapa. Masalah?"
Sejak detik itu, rumor baru lahir. Aldo, salah satu teman lelaki di kelompok Kina, menyebarkan isu bahwa aku dan Rafael resmi berpacaran. Berita itu meledak.
Satu angkatan tiba-tiba tahu namaku. Mengapa? Karena Rafael adalah bintang sekolah yang gerak-geriknya selalu dipantau.
Pernah suatu hari setelah pelajaran olahraga dengan kelas 12 IPA 6, aku sedang mengantre gorengan bersama Ayu dan teman-teman. Tiba-tiba, seorang siswi populer bernama Dinda mendekati Ayu.
"Yu, yang namanya Zia itu yang mana sih? Katanya dia ceweknya Rafael ya?" tanya Dinda tanpa tedeng aling-aling.
Jantungku hampir copot. Aku menyenggol lengan Ayu sekuat tenaga, memberi kode "jangan bilang itu aku".
Ayu yang panik hanya menjawab gagap, "Eh... Zia... Zia di kelas!"
Aku langsung menarik teman-temanku untuk lari menjauh sebelum Dinda menyadari bahwa gadis dengan wajah merah padam di samping Ayu adalah orang yang dia cari.
Sialnya, esok hari saat aku melewati kelas IPA 6, Dinda dan gerombolannya sudah duduk di depan kelas.
"Zia! Rafaelnya mana?" seru mereka kompak. Aku tidak menoleh. Aku berlari secepat mungkin menuju kelasku, mengabaikan tawa yang pecah di belakangku.
Sampai Hari-hari terakhir di SMA seharusnya menjadi masa yang tenang. Saat pembagian rapot tiba, aku sudah berbaikan dengan Kina. Kami sedang duduk santai di depan kelas saat seorang ibu-ibu dengan penampilan modis dan menggendong anak kecil datang mendekat.
"Permisi, benar ini kelas 12 IPA 2?" tanyanya lembut.
"Iya, Bu, benar," jawab kami serempak.
Ibu itu tersenyum ramah. "Kenal yang namanya Zia? Soalnya anak Ibu sering banget cerita tentang dia di rumah."
Duniaku serasa berhenti berputar. Badanku kaku. Rani, dengan sifat polosnya, bertanya, "Emang anak Ibu siapa?"
"Anak saya Rafael," jawab Ibu itu dengan bangga.
Rasanya ada petir di siang bolong. Kina sudah membuka mulut untuk menunjukku, tapi aku segera memotongnya dengan suara gemetar. "Oh... Zia... Zia lagi ke kantin, Bu! Nggih, Bu, tadi dia ke sana!" kataku sambil melotot tajam ke arah teman-temanku.
Teman-temanku yang paham langsung menahan tawa dan mengangguk cepat. "Iya Bu, ke kantin!"
Begitu Ibu Rafael masuk ke ruang kelas, teman-temanku langsung meledak dalam tawa dan godaan yang lebih parah dari biasanya. Wajahku? Jangan ditanya. Mungkin sudah semerah kepiting rebus.
Aku yang tak sanggup lagi menahan malu langsung lari menuju kantin, mencoba mendinginkan wajah yang terasa terbakar.
Ternyata, kisah cinta SMA itu tidak selalu tentang pernyataan romantis di bawah pohon. Kadang, ia terselip di antara ejekan teman, bantuan tugas bahasa Inggris, hingga pengakuan tak terduga dari seorang Ibu di hari terakhir sekolah. Dan bagi Zia, nama Rafael akan selalu menjadi bab paling berisik sekaligus paling manis dalam buku memorinya.